My Secret Love

My Secret Love
Backstreet lagi


__ADS_3

Nala dan Akira makan siang bersama di ruangan Akira. Akira sangat senang melihat Nala lahap makannya dan bayinya juga tidak rewel.


"Kamu jangan khawatir, Silvia tidak akan membuat kamu merasa takut jika aku akan diambil olehnya. Aku hanya milik kamu, Sayang."


"Aku tidak takut, aku sudah kebal akan hal itu. Kalau kamu mau menyakitiku lagi, aku tidak masalah, aku sudah kuat."


"Tidak ada yang akan menyakiti kamu, dan aku bukan orang bodoh yang akan tertarik dengan wanita lain dan meninggalkan istriku yang aku cintai ini." Akira mengusap pipi Nala.


"Hem ...! Aku kadang kesal sama diriku sendiri. Kenapa aku begitu tidak bisa membenci kamu, padahal kamu berkali-kali menyakiti aku."


"Itu karena kamu sangat mencintaiku, apalagi ada bayiku di perut kamu, kamu tidak akan bisa lepas dariku."


"Tapi aku jatuh cinta pada orang yang salah. Pria dengan sejutan pesona, sehingga banyak sekali wanita yang menyukainya."


"Tapi aku hanya menyukaimu, Sayang. Nala, kita ke dokter ya? Kamu mau, Kan?"


Nala langsung melirik ke arah suaminya. Lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Jauh, aku malas, lagian bulan depan saja kita ke sana setelah dari acara pernikahan Rara dan Reno.


"Apa? Lama sekali." Muka Akira lemas.


'sukurin, biar dia menahannya dulu, lagipula hubungan kita juga belum benar-benar membaik, kenapa dia mau meminta haknya?'


Tidak lama jam makan siang selesai, Nala segera membereskan semuanya dan kembali ke pantry sebelum lainnya datang.


"Nala, kamu dari mana?" tanya salah satu temannya yang baru tiba di pantry.


"Aku habis membersihkan ruangan Pak Akira."


"Ya ampun! Kamu jam istirahat malah di suruh membersihkan ruangan pak Akira? Benar-benar keterlaluan."


"Tadi dia sedang mencari beberapa berkasnya, jadi aku di minta tolong sebenarnya untuk mencarikan berkas yang dia cari karena dia juga kan baru memimpin di sini."


"Tapi, Nala, apa dia tidak tau kalau kamu hamil dan tidak boleh kecapekan, apalagi makan terlambat?"


"Padahal aku kira pak Akira baik loh, dia sangat peduli dengan karyawannya, tapi kenapa dia sama kamu malah begitu?" sahut teman satunya.


"Pak Akira baik, kok. Dia malah pas makan siang menyuruhku beristirahat di ruangannya dan membelikan makan siang, aku makan siang di sana, setelah itu aku membantunya lagi."

__ADS_1


"Benaran itu, Nala?"


"Iya, dia baik." Nala harus membuat cerita seperti itu agar mereka tidak salah paham lagi. Mengira Akira jahat.


"Oh jadi dia baik sebenarnya, tapi kenapa di tidak menyuruh yang lainnya saja, kan bisa dia menyuruh yang lainnya?"


"Apa pak Akira suka sama kamu ya, Nala?" bahu Nala di senggol oleh temannya.


"Kamu jangan berpikiran seperti itu. Aku sudah menikah, dan jangan membuat gosip aneh-aneh. Kasihan nanti pak Akira, dia malah di cap jelek. Lagipula pak Akira seorang atasan, tidak mungkin dia menyukai office girl seperti aku."


"Iya, ini, kenapa kamu malah membuat gosip yang tidak-tidak? Sudah! Kita lanjut kerja lagi saja."


Waktu berlalu berganti sore, semua karyawan sudah pulang, seperti biasa Akira menunggu semua karyawannya pulang agar dia bisa pulang bersama dengan Nala.


"Silvia, kamu belum pulang?" Akira melihat Silvia masih ada di meja kerjanya.


"Pak Akira, saya masih ada sedikit pekerjaan, jadi mau saya selesaikan dulu pekerjaan saya."


"Kamu pulanglah, tidak perlu lembur. Aku tidak suka melihat karyawan aku kerja lembur karena hal itu tidak baik untuk kesehatannya, apalagi kantor ini tempatnya agak jauh dari hotel kamu menginap."


"Iya, Pak."


"Nala," panggil Akira.


"Mba Silvi, Mba baru pulang juga." Nala sengaja menyapa Silvi agar Akira tau di belakangnya ada Silvi."


"Iya, kamu sendiri kok belum pulang? Kamu lembur juga?"


"Saya masih menunggu Seno."


"Siapa? Suami kamu?"


"Dia sudah seperti saudara bagiku, Silvi."


"Nala, ini sudah sangat malam, mungkin Seno tidak datang menjemput kamu, sebaiknya kamu pulang saja denganku. Kamu sedang hamil jangan berdiri kelamaan di sini."


"Jadi kamu sedang hamil, Nala? Lalu mana suami kamu? Kenapa dia tidak menjemput kamu?"

__ADS_1


Nalq tampak bingung dengan pertanyaan Silvia. "Suamiku sedang bekerja di luar kota, jadi aku tinggal dengan bibiku."


"Ya sudah, ayo kita pulang." Akira mendekati ke arah Nala dan memegang punggu Nala.


"Pak, apa saya juga boleh ikut pulang dengan Pak Akira? Pasti lama menunggu ojek teman saya yang biasa datang menjemput."


Akira terdiam sejenak. "Tidak apa-apa Pak Akira, ini kan juga sudah hampir malam."


"Ya sudah kamu masuk." Akira memperbolehkan karena Nala sudah mengizinkan Silvia ikut pulang bersama mereka."


"Terima kasih, Pak." Silvia tiba-tiba menyerobot masuk dan duduk di depan sebelah Akira.


"Silvia, apa bisa duduk di belakang saja menemani Nala. Aku tidak masalah jika terlihat seperti supir kalian."


"Oh, iya!" Silvia keluar dari mobil Akira dan berpindah tempatnya. Nala tersenyum kecil melihat hal itu.


Mobil akhirnya di jalankan oleh Akira. Di dalam Akira tampak duduk diam fokus mengemudi. Sedangkan Nala melihat ke arah luar jendela.


"Nala, kamu sudah lama tinggal di sini?" tanya Silvia.


"Barusan kok, Mba. Kalau Mba sendiri?"


"Aku mengenal tempat ini karena aku ditipu oleh kekasihku yang aku kira di baik dan akan bertanggung jawab menikahiku. Namun, dia hanya menginginkan tubuhku kemudian dia meninggalkan aku, dia hanya memberi beberapa uang untukku."


"Tega sekali."


"Aku masih ingin bertemu dengannya sebenarnya, aku ingin menanyakan apa maksudnya meninggalkan aku, padahal dia bilang jika dia sangat mencintaiku." Silvi menangis perlahan. Akira melihat dua wanita di belakangnya lewar kaca spion yang ada di atasnya.


"Sudah, jangan menangis lagi, Mba. Mba masih muda dan cantik, suatu hari nanti akan ada yang mencintai Mba dengan tulus." Nala mencoba menenangkannya.


"Aku bersyukur bertemu dengan orang seperti Pak Akira. Dia sangat baik dan mau membantuku. Kenapa aku dulu tidak di pertemukan duluan dengan Pak Akira, pasti hidupku tidak akan seperti ini."


Nala langsung melihat ke arah punggung suaminya yang seolah tidak peduli dengan semua cerita Silvia.


"Aku juga bukan orang yang sangat baik seperti pikiran kamu, Silvia. Kamu akan bertemu dengan orang yang lebih baik lagi dariku," Akira berbicara tanpa menoleh ke belakang.


"Iya, Pak, tapi istri Pak Akira pasti sangata bahagia mendapat suami yang seperti Pak Akira."

__ADS_1


"Aku mencintai istriku, dan aku akan bertanggung jawab dengan orang yang aku cintai." Akira melihat ke arah Nala lewat spion di depannya.


'tapi aku yakin walaupun kamu sangat mencintai istri kamu, kamu tidak akan bisa menolak pesona yang aku berikan.' Silvia. berkata dalam hati.


__ADS_2