My Secret Love

My Secret Love
Bubur Kesukaan


__ADS_3

Uni bercerita jika dia di tolong oleh sebuah keluarga yang baik dan bekerja di rumahnya. Uni tidak malu walaupun dia bekerja sebagai pembantu di sana."


"Via, Via, kamu kenapa diam saja?" Uni tidak mendengar lagi suara sahabatnya itu.Tidak lama terdengar suara isak tangis dari seberang telepon. "Vi, kamu kenapa?" seketika Uni menjadi panik.


"Kenapa takdir kamu begini amat sih, Uni? Kenapa kamu yang dulu hidup berkecukupan menjadi seperti ini? Apalagi kamu juga seorang mahasiswi, tapi sekarang malah menjadi pembantu rumah tangga?"


"Ya ampun, Via! Kenapa kamu mempermasalahkan hal itu? Pembantu rumah tangga juga tidak ada salahnya. Lagian itu pekerjaan halal, kalau tidak bekerja aku mana bisa membiayai kuliahku?"


"Iya, juga, apalagi tante kamu seperti lintah darat sukanya meminta uang sama kamu, padahal sudah mendapat uang dari suaminya."


"Ya sudah kalau begitu, kelasku mau di mulai."

__ADS_1


"Uni, kapan-kapan kita ketemuan ya? Aku ingin mengobrol banyak sama kamu. Aku mau curhat soal Aro." terdengar kekehan dari Via.


"Oh iya, nanti kalau aku pas libur kerja, aku akan menghubungi kamu."


"Bye, Uni."


"Bye, Via." Uni menutup panggilan teleponnya dengan muka yang sedang berpikiran sesuatu. "Kenapa aku jadi merasa bersalah seperti ini sama Via? Aku seharusnya bercerita saja jika aku mengenal Aro bahkan aku bekerja di rumah Aro." Uni tampak bingung sampai menundukkan kepalanya di meja.


Hari itu kuliah berjalan dengan sangat lancar dan Uni pulangnya naik angkutan umum menuju ke rumah Nala. Akira sebenarnya menyuruh supir untuk menjemput Uni dan nanti Ara yang pulangnya agak sore karena ada pelajaran tambahan, tapi Uni tidak mau, dia lebih senang naik angkutan umum saja. Di rumah Uni melihat Ibu Nala barusan keluar dari kamar Aro dengan seorang wanita cantik dengan menggunakan seragam putih dan Uni tau jika itu pasti dokter keluarga mereka.


"Iya, Dok. Nanti resepnya akan segera aku belikan, terima kasih kalau begitu."

__ADS_1


"Sama-sama, aku pulang dulu." Nala mengantar dokter cantik itu menuju mobilnya.


Uni berjalan menuju dapur dan melihat nenek Anjani sedang membuat sesuatu. "Siang, Nek. Sini aku bantu nenek."


"Kamu barusan pulang sebaiknya taruh tas kamu dan ganti baju dulu lalu ke sini bantu nenek."


"Ya sudah kalau begitu saya akan ganti baju dulu, tapi nenek tunggu aku ya? Jangan mengerjakan semua sendiri." Anjani tersenyum mendengar ucapan Uni.


Beberapa menit kemudian Uni keluar dari dalam kamarnya dengan baju casualnya dan berjalan kembali ke arah dapur. Di sana ternyata ada juga ibu Nala yang tampak bingung.


"Aku bingung, Bi, mau membuat bubur apa buat Aro? Dia itu kan tidak suka makan bubur atau makanan yang agak lembek." Muka Nala di tekuk bingung.

__ADS_1


"Ibu Nala, bagaimana kalau aku saja yang membuatkan bubur untuk Aro. Aku kan sebenarnya pecinta bubur. Aku sering makan bubur dekat kampusku dan rasanya enak, kata penjualnya dia menggunakan resep warisan dari keluarganya, dan dia dengan senang hati malah mengatakan resepnya padaku."


"Dia mau memberitahu kamu resepnya? Apa tidak takut kalau nanti kamu buka warung bubur ayam seperti dia?" Nenek melihat heran.


__ADS_2