My Secret Love

My Secret Love
Cemburu Itu--?


__ADS_3

Marta dan Sifa saling berpandangan. Mereka tidak menyangka saja, Uni seorang gadis yang usianya sebaya dengan mereka mau bekerja. menjadi asisten rumah tangga di rumah seseorang, apalagi dia juga seorang mahasiswi. Dia tidak malu akan pekerjaan yang di lakukan.


"Enak sekali ya jadi kamu, Uni. Bisa bekerja di rumah Ara, bisa bertemu dengan Aro tiap hari, bahkan sampai bareng satu mobil."


"Kamu mau? Daftar saja jadi tukang kebunnya Ara. Ara, masih ada lowongan tukang kebun, kan? Ini si Sifa mau daftar."


Ara langsung terkekeh dengan kerasnya diikuti Marta. "Sayangnya di rumahku sudah tidak menerima tukang kebun karena sudah dikerjakan oleh Uni semua. Mamaku sudah percaya dengan apa yang Uni lakukan."


"Enak saja! Masak aku yang begini dijadikan tukang kebun? Aku masak saja tidak bisa, disuruh mengurus tanaman. Auto gugur semua itu tanaman milik emaknya Ara."


"Iya, dan langsung auto dicoret dari daftar list menantu." Mereka tertawa bersama kecuali si Aro.


"Aro kamu kenapa?"


"Aku tidak apa-apa, Ara," jawab Aro dengan tidak melihat saudaranya itu.


"Aro, kamu nanti malam ada acara tidak?"


"Kenapa?"


"Aku mau mengajak kamu jalan-jalan di taman Gold itu, kamu tau kan itu taman baru saja dibuka dan di sana suasananya sangat indah, sepertinya kamu butuh jalan-jalan, apalagi kata Ara kamu itu orangnya introver sekali."


"Ya Ampun! Ini anak to the point langsung." Marta melihat pada Sifa.


"Memangnya kenapa? Aku kan juga kenal Aro, aku juga mau dianggap Aro seperti saudara sendiri."


"Siapa juga yang mau mengangkat kamu jadi saudara?" Ara melihat aneh pada Sifa.


"Iya, aku salah bicara, jangan menganggap aku sebagai saudara yang ada aku gak bisa dekat sama Aro."


"Jam berapa kita pergi, Sifa?" tanya Aro sambil melihat Sifa dari pantulan kaca spion yang ada tepat di atas kepalanya. Aro juga sekilas bisa melihat Uni yang tidak sengaja meliriknya.


"Kamu serius mau menerima tawaran aku?" Sifa seolah tidak percaya.


"Benar kata kamu, aku mungkin butuh jalan-jalan, aku juga bosan di rumah. Tidak ada hal yang menarik."

__ADS_1


Jadi, hal kemarin malam itu dengan Uni bukan hal yang menarik bagi Aro? Uni hanya bisa duduk diam, dia juga tidak bisa melarang Aro untuk tidak pergi dengan Sifa, bukannya dia sudah mengatakan jika dirinya tidak suka diklaim Aro sebagai pacarnya.


"Kamu sakit ya, Aro?" Tangan Ara menempel pada dahi Aro guna memeriksa apakah saudaranya ini terkena demam mendadak.


"Lepaskan tangan kamu, Ara. Aku baik-baik saja."


"Aro nanti malam jam tujuh ya? Aku tunggu kamu di taman saja, kamu jangan lupa datang. nanti aku menunggu ternyata kamu tidak datang. Aku kayak orang ilang nanti jadinya." Sifa mengerucutkan bibirnya.


"Aku pasti datang."


Jujur saja ada rasa menyayat di hati Uni saat ini, tapi Uni berusaha tidak memperdulikannya. Siapa dia memangnya? Hubungan dia dan Aro hanya sebatas majikan dan pembantu, seperti yang di bilang tadi, tapi entah kenapa saat Aro menerima tawaran Sifa untuk jalan-jalan, hati Uni tampak kesal.


Aro mengantarkan satu persatu teman Ara, setelah itu dia mengantarkan Ara dan Uni. Mobil Aro berhenti tepat di depan teras rumahnya.


"Sudah sampai, kalian turun dulu."


"Loh! Apa kamu tidak ikut turun juga, Aro?"


"Bilang saja sama mama aku masih ada urusan lain di tempat lain. Kalian masuk dulu saja." Aro bahkan tidak melihat pada Uni.


Uni turun lebih dulu dan Ara masih di dalam mobil. "Kalian bertengkar?" tanya Ara penasaran karena melihat mereka dari tadi seolah ada yang aneh.


"Bertengkar kenapa? Memangnya aku dan Uni ada hal yang perlu di pertengkarkan? Sudah, kamu turun dulu aku tidak mau terlambat ke tempat temanku."


"Ya sudah, kamu hati-hati dan jangan berbuat hal yang tidak-tidak." Ara turun dari mobil dan menghampiri Uni yang dari tadi menunggunya di depan taman.


Aro melaju pergi dari sana. Uni yang melihatnya hanya bisa terdiam saja. "Ayo kita masuk, Ra."


Ara menahan tangan Uni. "Uni, sebenarnya kalian ini ada masalah apa? Kalian habis bertengkar, Kan?"


"Kami tidak ada masalah apa-apa."


"Jangan bohong, Uni? Aku tau sifat saudaraku kembarku itu. Aro tidak akan bersikap sangat dingin begitu sama kamu. Ya! Walaupun dia memang aslinya sangat dingin."


"Aku hanya bilang kalau hubungan kita di rumah hanya sebatas majikan dan pembantu, sedangkan di luar hanya sebagai teman biasa."

__ADS_1


"Pantas saja dia marah, dia kan tidak suka kamu selalu mengingatkan tentang kamu yang menjadi pembantu di sini dan dia majikannya. Dan juga kamu secara tidak langsung memutuskan hubungan pacaran kalian."


"Aku dan Aro tidak pacaran, Ara, dia sendiri yang mengklaim diriku kekasihnya, aku mau menolak, tapi rasanya seolah dia membuat aku tidak ada cela."


"Memangnya kamu tidak mencintai saudaraku itu?"


Deg!


Selalu pertanyaan ini yang di lontarkan pada Uni. Pertanyaan yang selalu membuat Uni tidak bisa menjawabnya.


Uni tidak menjawab, dia hanya menggelengkan perlahan kepalanya. "Kamu serius?"


"A-aku serius. Aku tidak ada perasaan apa-apa sama Aro."


"Lalu, keromantisan kalian kemarin malam itu, apa hanya Aro yang berharap sendiri? Kasihan sekali saudara kembarku itu."


"Tidak, Ara. Em! Maksud aku kemarin malam itu, aku mungkin khilaf saja terbawa suasana."


"Hem ... terserah kamu sajalah, Uni, aku juga tidak bisa memaksa perasaan seseorang karena cinta itu tumbuh dengan sendirinya tanpa paksaan, dan datang tiba-tiba menyentuh hati kita." Ara malah teringat kembali dengan ciuman yang tadi Dean berikan padanya. Apa itu juga cinta?


"Eh! Kalian ini kenapa malah ngobrol di taman begitu? Kalian sudah pulang dari tadi?"


"Mama, Iya, kita sudah pulang dari tadi dan kita sampai lupa masuk karena keasikan bicara di sini."


"Maaf, Ibu Nala. Kalau begitu aku akan segera masuk ke dalam rumah."


"Mama mau ke mana?"


"Mama mau ke supermarket yang ada di ujung jalan di sana. Mama mau membeli bahan masakan yang habis. Ayah kamu hari ini ingin di buatkan tumis daun pakis, dan ada bahan yang habis jadi mama mau membelinya. Semoga saja ada di supermarket sana."


"Ibu Nala, biar aku saja yang mencarinya."


"Tidak perlu kamu pasti capek, biar Ibu saja yang membelinya."


"Uni saja, Bu. Uni tidak capek, Kok." Uni meminta daftar bahan yang di beli dan sekalian uangnya. Akhirnya Nala memberikannya pada Uni dan Uni pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2