
Sementara kini di sisi Husna dan Azzam mereka sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.
“Mas, kapan kau akan mengajakku bertemu dengan mami dan papi? Aku ingin mengunjungi mereka.” ucap Husna tiba-tiba lalu dia menatap suami nya itu.
Azzam pun segera menoleh ke arah istri nya itu sekilas lalu kembali fokus menyetir, “Jika sekarang apa kau setuju?” tanya Azzam.
Husna yang mendengar ucapan suami nya itu pun tersenyum lalu mengangguk bersamaan, “Hum, aku mau mas. Sekarang saja. Mumpung week end dan kita juga punya banyak waktu.” balas Husna.
Azzam yang mendengar ucapan istri nya yang seperti nya sangat antusias itu pun tersenyum senang, “Ya sudah kalau begitu kita beli bunga dulu.” Ujar Azzam.
Husna pun mengangguk senang karena untuk pertama kali nya dia akan mengunjungi makam mertua nya itu. Memang dia sudah melihat foto mertua nya itu ketika masih hidup tapi dia juga sebagai menantu merasa gagal karena belum mengunjungi makam mertua nya itu.
Azzam dan Husna pun kini sudah berada di toko bunga. Mereka membeli dua buket bunga, “Mas, sewaktu mami masih hidup dia suka bunga apa?” tanya Husna penasaran.
“Dia menyukai semua bunga sayang. Tapi mami lebih suka bunga lily putih. Kalau papi dia lebih suka mawar putih. Mereka sama-sama menyukai putih karena kata nya itu melambangkan kesucian.” Jawab Azzam lembut.
Husna pun mengangguk tersenyum, “Hum, begitu ya. Bagus juga.” Ujar Husna.
“Kalau kamu suka bunga apa?” tanya Azzam.
“Aku suka semua nya tapi aku lebih suka bunga primrose. Semua jenis dan warna nya aku suka. Bunga primrose melambangkan cinta abadi.” Jawab Husna.
Azzam yang mendengar itu pun tersenyum sambil mengangguk-ngangguk, “Kalau mas suka bunga apa?” tanya Husna balik.
“Edelweish. Itu cantik dan langka bukan lalu di lindungi juga. Tidak bisa di ambil sembarangan.” Jawab Azzam lalu menerima dua buket bunga pesanan nya itu yang sudah selesai. Azzam pun membeli bunga tabur.
__ADS_1
“Edelweish? Kenapa aku merasa bahwa ada seseorang yang mengatakan itu kepadaku? Tapi kapan dan siapa dia?” batin Husna begitu mendengar suami nya itu mengatakan bunga kesukaan nya.
Azzam menatap istri nya yang terlihat melamun. Dia tersenyum melihat itu, “Kau sangat cantik saat sedang melamun Azarine.” Batin Azzam juga.
“Sudah, ayo kita pulang.” Ajak Azzam.
Husna pun tersadar dari lamunan nya itu, “Bunga nya mana?” tanya Husna.
“Sudah mas letakkan di mobil. Ayo!” ajak Azzam segera menggandeng tangan istri nya itu.
“Kok aku gak lihat mas meletakkan nya di mobil?” tanya Husna.
“Kamu sedang melamun sayang. Jadi kamu gak sadar. Ayo apa yang sedang kamu pikirkan sampai melupakan orang-orang di sekitarmu. Untung saja gak kesurupan.” Goda Azzam.
“Ish mas. Mas mau aku kesurupan?” tanya Husna sambil mengerucutkan bibir nya dan menatap suami nya itu dengan ekspresi kesal nya.
“Ck, berlebihan banget mas.” Ucap Husna lalu segera masuk ke mobil karena ucapan Azzam yang menurut nya terlalu berlebihan itu. Azzam yang melihat itu pun tersenyum saja.
***
Singkat cerita, kini mereka sudah tiba di pemakaman umum yang di rawat dan di jaga dengan baik oleh pengurus makam itu. Semua makam di sana terawat baik.
Husna dan Azzam pun segera turun dari mobil mereka, “Apa kita sudah tiba mas?” tanya Husna pada suami nya itu.
Azzam pun mengangguk lalu segera mengambil buket bunga dari dalam mobil dan tidak lupa juga bunga tabur.
__ADS_1
“Sini Husna bawakan satu?” pinta Husna.
Azzam pun segera memberikan buket bunga Lily itu kepada sang istri. Bunga kesukaan sang mami. setelah itu kedua nya pun segera menuju makam dengan berjalan beriringan.
Petugas makam yang langsung mengenali Azzam pun segera mendekat. Azzam memang sering mengunjungi makam kedua orang tua nya itu sebulan sekali atau kalau dia sangat sibuk maka dua bulan sekali dan selalu saja membawa makanan atau meninggalkan sesuatu kepada para penjaga makam itu. Azzam juga memang akrab dengan mereka sehingga Azzam sudah sangat di kenal oleh para penjaga makam itu.
“Ee’eeh nak Azzam! Mau mengunjungi orang tua Nak Azzam lagi? Bukan kah baru ke sini dua minggu lalu?” ucap penjaga makam itu mengingat-ngingat. Yah, memang Azzam datang ke makam orang tua nya itu saat akan menikahi Husna malam itu. Dia masih menyempatkan datang ke makam kedua orang tua nya untuk meminta restu kepada kedua orang tua nya itu untuk menikah.
Azzam pun tersenyum lalu mengangguk, “Iya benar pak. Saya memang datang ke sini dua minggu lalu. Saat itu saya datang untuk meminta restu menikah kini saya datang dengan istri saya. Kenalkan pak ini istri saya.” ucap Azzam memperkenalkan Husna itu kepada penjaga makam.
“Neng Husna kan?” tanya penjaga itu yang mengenali wajah Husna.
Husna pun kaget karena penjaga makam itu mengenali nya sementara dia tidak ingat sama sekali penjaga makam itu. Husna pun mengangguk walaupun dia bingung, “Iya benar pak. Bapak kenal saya?” tanya Husna lembut.
Penjaga makam itu mengangguk, “Yah, saya beberapa kali pernah bertemu dengan anda neng. Tapi mungkin anda lupa. Sudah lah. Ayo masuk saja nak Azzam, neng Husna.” Ucap penjaga makam itu mempersilahkan Azzam dan Husna untuk segera mengunjungi makam saja.
Azzam dan Husna pun mengangguk walau Husna sendiri masih menyimpan rasa penasaran dalam pikiran nya itu. Di mana dia pernah bertemu dengan bapak itu dia tidak ingat sama sekali.
Sementara penjaga makam itu tersenyum, “Ternyata memang takdir kalian sudah di tulis sejak itu.” batin penjaga makam itu.
“Apa kamu memikirkan apa yang di katakan penjaga makam itu sayang?” tanya Azzam saat istri nya itu hanya diam saja.
Husna pun menoleh menatap suami nya lalu kemudian dia mengangguk, “Aku bingung dan penasaran dengan ucapan nya itu mas. Dia mengenalku dan tahu namaku. Dia juga mengatakan pernah bertemu denganku sebelum nya. Tapi aku sama sekali tidak ingat di mana aku pernah bertemu dengan nya. Aku bingung.” Jawab Husna.
“Sudah, gak perlu di pikirkan. Mungkin saja kamu memang pernah bertemu dengan penjaga makam itu saat masih kecil. Jadi memorimu belum cukup untuk menyimpan ingatan itu. Lebih baik kita sekarang ayo ke makam mami dan papi.” Ucap Azzam menenangkan rasa penasaran istri nya itu.
__ADS_1
Husna pun mengangguk mencoba membenarkan pendapat suami nya itu, “Mungkin saja.” gumam Husna lirih.