My Secret Love

My Secret Love
Jam Tangan


__ADS_3

Kedua orang yang duduk di belakang itu hanya melihat malas. Uni membuang mukanya dan memilih melihat ke arah luar jendela, dan Ara malah lebih ingin muntah melihat mereka.


Tidak lama mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan dan mereka berempat turun. Ara memeluk pundak Uni dan mengajaknya berjalan berdua. Sedangkan Aro malah menyelonong sendirian.


"Hem ... dia itu benar-benar pangeran es, katanya kita pura-pura pacaran. Lah! Kenapa dia tidak ada romantisnya? Masak aku disuruh jalan sendirian kek anak ilang?" Sifa ngedumel kesal.


Dia berlari mengejar Aro dan setelah dekat Sifa langsung menarik tangan Aro.


"Sifa! Kamu jangan mengagetkan begitu! Ada apa?"


"Ada apa? Kamu lupa kalau kita mau pura-pura akting mesra? Lantas kenapa kamu meninggalkan aku dan berjalan sendirian?"


Ara dan Uni yang jalan di depan seketika menoleh ke belakang melihat mereka berdua. "Kalian ini kenapa?" tanya Ara.


Sifa langsung memberikan senyuman palsunya. "Tidak apa-apa, Ara. Kita sedang berdebat tentang barang apa yang aku inginkan." Tangan Sifa memeluk lengan tangan Aro. Uni yang melihatnya benar-benar ada rasa sakit yang menyayatnya.


"Kalian kalau mau pergi saja ke toko aksesoris atau baju di sana, aku sama Uni mau ke toko jam tangan dulu."


"Aku akan ikut kalian saja, bagaimanapun aku harus mengawasi kalian berdua. Tidak mungkin aku membiarkan kalian berdua berjalan sendirian."


Mereka akhirnya masuk ke dalam toko yang menjual banyak sekali jam tangan. Mereka melihat-lihat semua aneka koleksi jam tangan di sana.


"Uni, aku bingung sekarang harus beli jam tangan yang mana?"


"Cie ... cie! Kamu bingung mau milih jam tangan untuk calon suami biar dia suka ya?" Uni malah menggoda Ara.


"Ih! Uni! Kenapa malah bicara begitu?" Muka Ara di tekuk.


"Kamu takut nanti mas David kamu tidak cocok sama jam tangan pemberian kamu, Kan?"


"Bukannya begitu. Aku yakin jika mas David itu pasti menyukai semua pemberian aku. Hanya saja aku ingin memberinya yang terbaik soalnya dia sangat baik selama ini sama aku. dia selalu memberikan apa yang aku inginkan tanpa aku minta. Dia seolah-olah ingin membuat aku bahagia, Uni," ucapnya sekarang dengan nada lirih.


"Hei! Kenapa malah sedih begini?"

__ADS_1


"Aku benar-benar bingung. Kamu tau tentang perasaanku yang sebenarnya, Kan? Aku kan sudah pernah cerita sama kamu."


"Iya, aku tau, soal Dean juga, Kan? Kamu jangan terlalu berpikir, biarlah semua berjalan seperti apa adanya. Ikuti saja apa kata hati kamu, biarkan dia nanti yang menuntunnya."


"Aku tidak mau menyakiti hati mas David, tapi aku tidak memiliki perasaan lebih dari sekadar sahabat dengannya. Malah pada Dean saat ciuman pertama itu aku mengira dia mencintaiku seperti aku memiliki perasaan sama pada dia, tapi ternyata--."


"Mencintaikan tidak harus memikili, Ara." Uni melihat pada Aro dan Via yang sibuk melihat-lihat jam di etalase. "Siapa tau kamu tidak memiliki perasaan cinta pada mas David, tapi akhirnya dia jodoh terbaik buat kamu."


"Iya, juga sih!"


"Ya sudah! Sekarang kamu pilih saja jam tangan yang sesuai dengan mas David itu dan aku akan membantu kamu."


Mereka berdua melihat-lihat kembali dan akhirnya pilihan mereka jatuh pada jam tangan berwarna hitam dengan model sporty karena mas David orang yang sangat aktif, malah keaktifan.


Uni berjalan-jalan sendiri menunggu Ara yang masih antri menyelesaikan pembayaran. "Aro, jam tangan ini bagus sekali, kamu serius mau memberikan buat aku?"


"Tentu saja, Sifa. Aku akan membelikan buat kamu dan kamu pasti cocok memakainya." Uni tidak sengaja melihat kemesraan mereka di sana.


Uni memilih pergi dari sana dan memilih melihat-lihat saja pada jam tangan yang tidak bisa di belinya itu karena rata-rata di sana harganya jutaan.


"Mba, mau melihatnya?" tanya pelayan toko itu.


"Em ... tidak, Mba. Aku cukup senang melihat dari sini saja, lagian aku tidak ada maksud untuk membeli jam tangan itu."


"Kalau cuma melihat-lihat tidak apa-apa, Mba." Pelayan itu mengeluarkan jam tangan yang di kagumi oleh Uni. Uni tersenyum dan hanya melihatinya, dia takut untuk menyentuhnya.


"Memang sangat bagus."


"Pilihan, Mba, memang sangat tepat, jam ini baru saja datang kemarin malam dan ini memang banyak disukai oleh beberapa wanita karena desainnya yang sangat simple namun menawan."


"Terima kasih saya sudah dibolehkan melihat lebih dekat."


"Tolong kemas itu juga, aku akan mengambil jam tangan itu," suara Aro tiba-tiba ada di sana.

__ADS_1


Uni agak kaget melihat hal itu. "Aro?"


"Tolong sama yang di sana sekali." Pelayan toko itu mengambil jam tangan itu dan membawanya ke kasir untuk menyiapkan notanya.


"Jam tangan itu memang bagus, cocok sekali buat Sifa."


"Itu buat kamu, Uni," ucap Aro tegas.


"Apa? Buat aku? Tapi aku tidak benar-benar menginginkan jam tangan itu, Aro. Aku hanya ingin melihatnya saja dan aku cukup puas."


"Kamu menginginkannya, tapi sekali lagi kamu berusaha menutupinya."


"Aro, itu jam tangan mahal, kalaupun aku menginginkannya aku juga tidak pantas memakainya."


"Kalau kamu tidak mau memakainya, kamu boleh membuangnya." Aro berjalan pergj dari sana.


Uni yang melihatnya tampak tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia benar-benar bingung dengan sikap Aro. Dia sudah punya Sifa, tapi kenapa dia masih juga memperhatikan dirinya? Uni tidak mau dianggap sebagai gadis yang tidak tau dirii.


"Uni, aku sudah selesai. Kita pukang sekarang atau masih mau jalan-jalan?" tanya Ara.


"A-aku terserah sama kamu saja."


"Uni, ini jam tangan kamu." Sifa memberikan paper bag sedang berwarna coklat dan itu pasti jam tangan milik Uni yang dibelikan oleh Aro.


"Aro membelikan kamu jangan tangan, Uni? Wah! Dia tau sekali jika jam tangan kamu yang biasa kamu pakai rusak akibat jatuh di dalam bak cucian karena kamu lupa melepasnya."


"Sifa, aku minta maaf, sebenarnya aku tidak bermaksud meminta Aro membelikannya, tapi Aro sendiri yang tiba-tiba membelikannya."


"Ahahahah! Kamu tenang saja, aku tidak apa-apa, Kok. Kamu kira aku akan cemburu sama kamu karena Aro membelikan jam tangan itu? Kamu salah, aku malah senang Aro itu sangat baik. Dia kekasihku yang sangat baik." Sifa malah memeluk lengan tangan Aro dan menyandarkan kepalanya juga.


Uni yang melihatnya jantungnya berdetak tidak teratur karena mencoba menguatkan sesuatu yang ada di dalam hatinya.


"Kalau begitu sekarang kita makan saja. Aku sangat lapar." Aro berjalan dengan bergandengan tangan dengan Sifa. Uni dan Ara hanya melihatnya dan mengikuti dari belakang

__ADS_1


"


__ADS_2