My Secret Love

My Secret Love
Happy Ending part 1


__ADS_3

Terlihat seorang gadis terbaring cantik di atas ranjang berseprei putih, dia tidur, tapi bukan tidur seperti orang pada umumnya. Rambutnya yang terlihat agak panjang itu selalu terlihat rapi walaupun kedua mata gadis itu masih tertutup.


"Aku mohon kamu bangun, apa kamu ingin membuat aku marah dan kesal karena sikap diam kamu begini? Aku benaran marah sekarang." Tangan pria itu menggenggam tangan gadis yang sedang terbaring.


Beberapa orang berdiri di belakang pria itu dengan raut wajah sedih. Mereka di sana selalu menunggu kapan gadis cantik yang bak putri tidur itu segera bangun dari komanya.


"Kamu harus kuat, jangan lemah seperti ini. Yakinlah kalau dia akan segera membaik." Tangan wanita yang ada di belakangnya memegang pundak pria yang duduk di samping ranjang gadis yang tengah tertidur itu.


"Nak, dia akan baik-baik saja. Ayah sudah mencarikan dokter terbaik di sini untuknya merawatnya. Kata dokter itu keadaanya baik-baik saja, kita hanya menunggu waktu sampai dia membuka matanya."


"Sampai kapan, dia sudah seperti ini hampir 6 bulan, Yah. Bahkan di hari ulang tahunnya saat ini dia tidak membuka kedua matanya. Uni benar-benar membuatku kesal dan marah!" Aro wajahnya terlihat marah, tapi juga air matanya menetes.


"Aro, kamu jangan seperti ini. Uni akan sembuh dan rencana kamu yang ingin menikahinya akan terlaksana." Ara seolah ikut merasakan kesedihan saudara kembarnya itu."


"Aku ingin melamarnya di hari ulang tahunnya ini, tapi semua kenapa malah seperti ini?" Aro menundukkan kepalanya.


"Lamar saja dia sekarang. Siapa tau nanti Uni akan terbangun karena cinta tulus kamu, Aro."


Aro melihat bingung pada saudara kembarnya. "Iya, Aro, kamu kan selalu membawa cincin yang sudah kamu beli untuk melamar Uni. Kamu lamar saja Uni di sini disaksikan oleh kita semua."


"Iya, Nak." Nala memberi dukungan pada putranya.


Aro mengeluarkan kotak kecil berwarna hitam dan saat dia membukanya tampak cincin bermata berlian putih berbentuk bundar yang sangat cantik.


"Uni, di hari ulang tahun kamu ini, aku ingin sekali melamar kamu dan menjadikan kamu istriku. Apa kamu mau menerimanya?"


Uni diam saja karena memang dia belum sadar. "Uni, tolong jawab aku?" Perasaan Aro tidak karu-karuan.


"Dia pasti menerima kamu, Nak karena dia mencintai kamu."


Aro lalu menyematkan cincin ke jari manis Uni dan Aro mengecup kening Uni. Gadis cantik itu tidak merespon sama sekali.


"Aku yakin, Uni pasti akan menerimanya dan sangat senang mengetahui ada cincin pemberian kamu di jari manisnya," terang Ara.


Tidak lama seorang suster masuk dan memberitahu jika waktu berkunjung sudah habis. Mereka semua izin pergi kecuali Aro, dia ingin di sana menjaga Uni.

__ADS_1


"Aku akan mengantar kalian ke depan dan nanti mau ke kantin sebentar untuk membeli minuman hangat.


Mereka semua keluar dari ruangan Uni dirawat. Mereka tidak tau jika jari manis Uni yang tersemat cincin dari Aro bergerak perlahan-lahan.


Sampai di rumah. Mereka semua terkejut melihat ada Dean berdiri di depan pintu rumah Akira. Akira yang melihat tampak merasa tidak suka.


"Dean?" Ara tampak kaget dan takut jika nanti Dean akan mendapat masalah dengan ayahnya.


"Akira, jaga emosi kamu." Nala memegang dada suaminya.


"Kamu tenang saja." Akira berjalan mendekat ke arah Dean. Dua pria yang tingginya hampir sama itu saling bertatapan.


"Om, saya ke sini--."


"Sebaiknya kamu pulang karena aku dan keluargaku tidak menerima kamu, Dean," ucap Akira tegas.


"Ayah, Dean tidak jahat, dia juga tidak akan melukaiku."


"Siapa yang tau niat seseorang, Ara?"


"Ara! Ayah tau siapa Radit, dan pastinya kamu membawa sifat buruk ayah kamu itu. Lebih baik kamu pergi daripada kesabaranku habis!"


"Saya tidak akan pergi, Om. Saya mencintai Ara. Tolong, jangan samakan aku dengan ayahku. Aku tau ayahku dulu sudah berbuat buruk kepada mamanya Ara, tapi itu semua bukan salah saya. Saya tulus mencintai Ara dan saya tidak akan menyakiti Ara."


Akira mendekat dan mencengkeram baju Dean. Nala, nenek Anjani dan Ara yang melihatnya tampak ketakutan. "Ma," ucap Ara cemas.


"Akira, jangan menggunakan kekerasan, siapa tau Dean memang tidak akan berbuat buruk pada Ara. Jika dia ingin berbuat buruk, pasti dia tidak akan mengatakan tentang rencana ayahnya.


"Saya serius mencintai, Ara. Bahkan saya mau menikahi Ara."


"Apa?" Kedua mata Akira mendelik mendengar apa yang di katakan pemuda di depannya.


"Dean," Ara seolah tidak percaya.


"Iya, Ara. Aku mau menikahi kamu. Aku mencintai kamu dan aku tidak mau kehilangan kamu."

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan keluarga kamu?" tanya Ara.


"Aku tidak peduli jika mereka tidak menerimanya, aku sudah bahagia bisa bersama dengan seseorang yang aku cintai, yaitu kamu."


"Jangan bermimpi kamu menikahi putriku Ara dan membiarkan rencana keluarga kamu berjalan. Ara akan bersama orang lain yang tulus mencintainya tanpa niat jahat."


"Ayah, Dean sudah bicara sama Mas David waktu itu, dan dia mengatakan semuanya sama mas David. Mas David sudah bisa menerima jika aku dan Dean saling mencintai."


"Apa? Nak, apa kamu sudah memikirkan semuanya?" Akira melepaskan cengkeramannya.


"Yah, percayalah padaku. Aku tau tentang keputusan yang aku ambil. Aku bukannya tertutup oleh cintaku pada Dean, tapi aku melihat Dean memang tulus denganku, dan hanya dia yang bisa menjagaku."


"Oh Tuhan!"


"Sayang, kita percaya saja dengan apa yang menjadi keputusan Ara. Dean, tolong berjanjilah jika kamu bisa menjaga putri kami."


"Saya berjanji, Tante. Bahkan keluargaku tidak akan aku biarkan menyakiti Ara."


"Tentu saja kamu harus menjaga Ara karena kalau sampai terjadi apa-apa pada putriku. Kamu dan semua keluarga kamu, aku pastikan tidak akan bisa menghirup udara lagi." Akira berjalan pergi dari sana.


Nala mengangguk pada Ara, sedangkan nenek Anjani tampak bahagia melihat cucu perempuannya bahagia.


"Dean." Ara seketika memeluk pria yang dicintainya itu. Dean memeluk Ara dengan sangat erat.


"Aku berjanji akan menjaga kamu dan melindungi kamu, Ara."


"Iya, aku percaya sama kamu, Dean. Aku juga sangat mencintai kamu."


"Aku akan menikahi kamu, Ara. Apa kamu mau menerima lamaran pernikahanku?"


"Tentu saja aku mau, tapi aku mau menikah di hari Aro menikah dengan Uni. Apa kamu mau menunggu Uni sampai sadar?"


"Tentu saja. Aku akan menunggunya." Dean kembali memeluk Ara.


Di tempat lain di sebuah tempat seperti rehab. Terlihat seorang gadis sedang duduk termenung terdiam sendiri, dan pandangannya tampak kosong.

__ADS_1


__ADS_2