My Secret Love

My Secret Love
Kehidupan Nyata Uni


__ADS_3

Beberapa detik Uni menunggu panggilannya di angkat oleh Tantenya, tapi seperti yang uni duga dalam hati jika tantenya tidak akan di angkat oleh tantenya.


"Tidak diangkat, mungkin sudah tidur, lagian ini sudah malam." Gadis itu langsung mematikan ponselnya dan memasukkan ke dalam tasnya.


"Tante kamu kok bisa tidur? Padahal keponakan dia masih di luar tengah malam begini?"


"Mungkin tanteku sudah biasa karena aku memang sering pulang malam."


"Kalau kamu laki-laki wajar tante kamu tidak terlalu khawatir, tapi kamu wanita." Aro sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sudahlah! Tidak perlu dibahas, aku sudah biasa kok."


"Kamu memang tiap malam pulang jam segini? Kenapa tidak mengambil kerja di pagi hari, jadi tidak perlu pulang larut begini?"


"Aku pagi kuliah dan siang pulang kuliah aku bekerja di sana sampai malam," jelas Uni dengan menghabiskan sisa makanannya.


"Kamu kuliah?"


"Iya."


"Kuliah di mana? Semester berapa?"


"Kuliah di kampus Persada, dan aku sudah semester lima. Kamu juga, Kan? Karena kamu satu kuliah sama Via temanku."


"Via lagi? Aku benar-benar tidak ingat dengan teman kamu yang bernama Via."


"Via satu kelas sama kamu, dia anak yang baik, dan cantik. Dia teman yang paling baik yang aku miliki."


"Oh!" Aro hanya menjawab singkat.


"Kalau kamu kenal baik dengan Via, kamu pasti akan senang karena dia bisa menjadi teman yang sangat baik. Pacar juga," pada bagian itu Uni memelankan suaranya.


"Pacar?" Aro tersenyum aneh. "Aku tidak mau memikirkan tentang pacar lebih dulu, aku mau fokus menyelesaikan kuliahku dan bekerja di perusahaan ayahku."


"Enak sekali ya jadi kamu. Lulus kuliah langsung bisa bekerja di tempat yang lebih baik. Aku lulus kuliah mungkin akan tetap bekerja di cafe itu. Cari pekerjaan kan susah sekarang."

__ADS_1


"Kalau kamu memiliki kepandaian dan keterampilan yang bagus, kamu bisa bekerja di perusahaan besar. Apa kamu tidak mempunyai cita-cita itu?"


"Cita-cita sih ada, tapi tidak tau aku sampai tidak ini menyelesaikan kuliah aku nanti."


"Maksud kamu?"


"Ah! Tidak apa-apa. Eh! Jalanan sudah agak longgar!" seru Uni menunjuk ke arah depan melihat jalanan mulai tidak macet.


Aro kemudian kembali menjalankan mobilnya. Uni terdiam melihat Aro, dia tidak mungkin bercerita tentang biaya kuliah yang semakin mahal dan dia harus bekerja keras lagi untuk meneruskan kuliahnya itu. Kalaupun Uni putus kuliah, dia akan berusaha menerimanya. Mau bagaimana lagi.


Jalanan mulai lancar, mobil Aro tidak lama sampai di depan rumah Uni. "Rumah kamu sudah gelap seperti biasa." Aro melihat keadaan rumah Uni dari dalam mobil.


"Iya, ini sudah malam, jadi wajar kalau mereka sudah tidur. Aro, terima kasih sekali lagi sudah memberi aku tumpangan."


"Aku akan mengantar kamu masuk ke dalam dan menjelaskan pada tante kamu kenapa kamu pulang larut supaya kamu tidak kena marah."


"Apa? Tidak perlu, Aro. Aku bisa bicara sendiri dengan tanteku. Aku juga tidak akan terkena marah, kamu tenang saja." Uni mukanya langsung agak takut.


Bagaimana tidak takut, dia pasti dikira malah pacaran sama Aro.


"Kenapa wajah kamu ketakutan begitu?"


Uni segera melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil Aro. Uno berlari menuju pintu rumahnya karena memang hujan belum sepenuhnya redah.


"Aneh sekali dia? Mungkin takut dimarahi karena malam-malam pulang diantar laki-laki."


Aro melihat Uni sudah masuk rumahnya dan dia pergi dari sana. Uni yang sudah di dalam rumah mengintip dari balik tirai dan dia merasa lega melihat mobil Aro sudah pergi dari sana.


"Selamat," ucapnya lega. Dia berjalan menuju dapur untuk meletakkan box makanannya.


"Kamu sudah pulang?" suara seorang gadis yang seumuran dengan Uni berdiri di depan kulkas dengan segelas minuman di tangannya.


"Selli, kamu belum tidur?"


"Aku barusan selesai berbicara dengan kekasihku di telepon, lalu aku haus dan turun untuk mengambil minum. Kamu lembur lagi?"

__ADS_1


"Tadi tidak lembur hanya terkena macet karena hujan deras."


"Ya sudah! Aku mau tidur dulu, itu kamu cuci ya perlatan makan di wastafel, aku capek sekali hari ini habis jalan-jalan dengan pacaraku."


"Apa?" Kedua mata Uni melihat ke arah wastafel yang memang banyak piring dan gelas kotor lainnya. "Kenapa kamu tidak mau membantuku Sel? Aku juga lelah habis kuliah bekerja," ucapnya sedih.


"Membantu kamu? Apa kamu lupa? Kamu itu numpang di sini? Jadi kamu yang harus melakukan semua pekerjaan di sini! Satu lagi, sepertinya malam ini kamu harus tidur di sofa ruang tamu saja karena tadi aku ke kamar kamu dan atap kamu bocor, jadi kasur kamu basah semua." Gadis itu tertawa dengan senangnya dan pergi dari sana.


"Apa? Kasur aku basah?" Uni secepatnya berjalan menuju kamarnya dan benar saja dia meihat kasur, bantal, dan gulingnya basah semua. "Ya ampun! Kenapa bisa begini? Aku benar-benar lelah hari ini," Uni berjalan sempoyongan merasakan masih ada tugas lainnya yang malam ini belum dia selesaikan.


Uni menaruh tasnya dan mulai mencuci piring-piring yang kotor, dan memasukkan semua cucian pada mesin cuci, tak lupa juga sprei kasurnya. Dia juga menampung air dengan baskom di atas kasurnya. Sekitar jam tiga pagi lebih, Uni sudah bisa merebahkan tubuhnya pada Sofa di ruang tamu. Dia terlihat sangat capek.


"Jamnya cepat sekali, aku juga belum memasak makanan untuk sarapan pagi." Uni yang sudah tidak kuat akhirnya menutup kedua matanya karena mengantuk.


Pagi itu Uni di kejutkan oleh teriakan tantenya. "Uni! Jam berapa ini? Kamu belum membuat sarapan pagi!"


"Tante, aku minta maaf, aku barusan tidur tadi jam tiga pagi."


"Tante tidak peduli ya sama alasan kamu. Sekarang bangun dan buatkan sarapan pagi untuk tante dan Selli. Selli mau berangkat ke kampus."


"Kampus?" Uni baru sadar jika dia juga harus pergi ke kampus. Uni segera bangkit dari sofa dan menuju ke arah dapur, dia membuat masakan seadanya. Nasi goreng dan telur mata sapi siap dan dia hidangkan di atas meja makan. Uni kemudian masuk ke kamar mandi karena dia juga tidak mau terlambat pergi ke kampusnya.


"Uni, kamu ini bagaimana? Nasi goreng kamu asin sekali!"


"Hah, asin?" Uni mencobanya dan memang nasi gorengnya terasa sangat asin.


"Aku makan di kantin saja, Ma, kalau begitu. Aku bisa-bisa terlambat." Selli dengan muka kesalnya pamit pada mamanya.


"Ini uang buat kamu untuk naik mobil online supaya kamu tidak terlambat dan untuk makan di kantin."


"Terima kasih, Ma." Selli berjalan keluar.


"Tante, aku juga mau berangkat ke kampus dulu."


"Ya sudah sana berangkat."

__ADS_1


"Tante, uang untuk naik angkutan umumnya?" tanya Uni.


"Kamu pakai saja uang kamu kemarin pasti masih ada, dan kamu bawa saja nasi goreng asin kamu ini untuk bekal." Uni hanya terdiam di tempatnya.


__ADS_2