
Malam itu di sebuah restoran cepat saji, terlihat seorang gadis dengan rambut keriting yang diikat ekor kuda sedang membersihkan meja
bekas para pengunjung yang makan di sana. Dia membawa beberapa gelas untuk dia bawa ke dalam.
“Ya Tuhan!” serunya kaget saat satu buah gelas terjatuh dan pecah, beberapa orang yang ada di sana terkejut melihat ke arahnya. “Kenapa
bisa jatuh?” ucapnya sedih.
Tidak lama berjalan seorang pria paruh baya dengan perut buncitnya dan kumis tebal menghampiri gadis itu. Dari mukanya dia terlihat marah melihat apa yang di lakukan oleh salah satu pegawainya itu.
“Kamu tidak bisa bekerja dengan baik, Ya?” tanyanya dengan suara ketus berdiri tepat di depan gadis yang sedang membungkuk membersihkan pecahan kaca.
“Pak.” Gadis itu mendongak melihat wajah seram bos pemilik tempat di mana dia bekerja.
Wajah seram pria paruh baya itu tampak lebih menakutkan lagi saat dia mendelikkan kedua matanya menatap gadis yang masih melihatnya dari bawah. “Kamu sudah dua kali ini memecahkan gelas di sini! Kamu itu sebenarnya bisa bekerja apa tidak? Mau aku potong lagi gaji kamu untuk mengganti gelas
ini?” bentaknya lagi. Orang-orang yang melihatnya tampak sangat kaget.
“Ma-maaf, Pak, mungkin Uni sedang kelelahan karena hari ini di kampusnya ada acara bazzar amal dan dia menjadi panitia dalam acara itu,”
jelas seorang gadis yang seumuran dengan gadis yang sedang dimarahi oleh pria paruh baya itu.
“Kamu pikir saya peduli? Saya tidak peduli dengan urusan kuliah kamu! Yang saya mau kamu bekerja dengan benar dan tidak membuat
kesalahan yang membuat saya rugi nantinya. Sekarang kamu bereskan semua ini dan gaji kamu bulan ini akan saya potong untuk mengganti gelas yang kamu pecahkan
ini.” Setelah mengatakan hal itu pria itu berjalan pergi dengan langkah kesalnya.
“Huft! Gajiku di potong lagi,” ucap gadis yang kena marah itu terdengar sedih.
Gadis yang membelanya tadi berjongkok membantu temannya untuk membersihkan pecahan gelas itu. “Sudah! Kamu sabar saja, Uni. Aku akan membantu kamu membereskan semua ini, dan kalau kamu butuh uang, kamu bisa meminjam uangku dulu nantinya.”
__ADS_1
“Terima kasih ya, Via, kamu sangat baik sekali selama ini denganku. Aku memang membutuhkan uang untu membeli buku, apalagi tante Mira juga pasti meminta uang bulanan padaku.”
“Sudah! Kamu jangan sedih, aku akan membantu kamu, kamu bisa memakai uangku dulu, nanti kalau kamu gajian lagi kamu bisa mengembalikannya.” Tangan lembut itu mengusap perlahan pada pundak gadis yang di panggil Uni itu.
Mereka berdua akhirnya saling membantu membersihkan pecahan gelas di lantai. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Gadis yang bernama Uni itu masih membersihkan meja-meja kotor yang ada di sana.
“Uni, kamu masih bekerja? Inikan sudah waktunya kamu bersiap-siap untuk pulang?” tanya Via yang melihat temannya masih memakai seragam berwarna orange dipadu dengan putih.
“Aku di suruh lembur sama Pak Jono, Via. Kamu pulang saja dulu, aku tidak apa-apa pulang sendiri.”
“Keterlaluan sekali itu Pak Jono! Gaji kamu sudah di potong, eh malah di suruh lembur membersihkan ini semua, padahal kan ini bukan waktunya kamu piket.”
“Ehem! Bilang apa kamu barusan? Mau saya potong juga gaji kamu dan menemani teman kamu ini lembur?” suara bariton tepat berada di
belakang Via.
Dengan gerakan patah-patah, leher Via menoleh ke arah belakangnya dan dia memberikan senyum kecutnya. “Eh ada Paka Jono?” Via tersenyum aneh yang dipaksakan.
“Tapi saya masih mau menunggu teman saya, Pak. Saya biasa pulang dengan Uni.”
“Pekerjaan Uni masih banyak di sini, jadi kamu tidak perlu menunggunya.”
“Via, kamu pulang saja. Aku nanti bisa pulang sendiri, kok.” Uni memberikan kode pada Via agar pergi saja dari sana, dan tidak perlu menunggunya lagi.
Via akhirnya memilih pergi dari sana dan Uni kembali melanjutkan tugasnya dengan beberapa teman lainnya yang memang hari ini ada piket. Tepat pukul setengah dua belas pekerjaan mereka selesai, Uni mengambil
bajunya pada loker yang ada di tempat kerjanya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju.
Uni sangat kaget saat bajunya ternyata jatuh dan basah. Dia mengambil bajunya dan melihat jika tidak hanya bajunya yang basah, tapi juga
celana panjangnya yang tadi dia gunakan di kampus.
__ADS_1
“Basah begini,” ucapnya sedih. “Aku ini kenapa sih hari ini? Kenapa aku ceroboh sekali? Sekarang aku pulangnya bagaimana?” Uni sedang berpikir sejenak.
Akhirnya dia memutuskan pulang dengan memakai seragam kerjanya saja dan menutupi bagian atasanya dengan jaket jeans yang dia bawa dan masih ada di dalam loker miliknya. Uni berjalan keluar dari dalam tempat kerjanya, dia berjalan agak jauh dari sana untuk mencari angkutan umum yang siapa tau masih
lewat dan bisa mengantarkan dia pulang.
Saat Uni berjalan di sebuah tempat yang agak gelap dia merasa diikuti oleh seseorang dari belakang, Uni segera mempercepat langkahnya
karena dia takut dengan orang yang mengikutinya dan benar saja jika tiba-tiba
orang yang mengikutinya tadi menarik tas yang di bawanya.
“Lepaskan! Jangan ambil tas milikku, aku tidak membawa uang banyak, aku hanya memiliki beberapa lembar saja untuk ongkos pulang,” teriak Uni agar si perampok itu tidak jadi mengambil tasnya. Namun, perampok itu kekeh
menarik tas Uni hingga mereka berdua terlibat adu tarik menarik tas.
Uni yang berhasil mempertahankan tasnya langsung berlari secepatnya sampai dia tidak sengaja hampir tertabrak mobil berwarna hitam.
“Argh!”teriaknya kaget.
“Shit! Apa dia tidak melihat ada mobil lewat?” umpat orang yang mengendarai mobil itu. Dia kemudian keluar dan menghampiri Uni yang masih tampak ketakutan. “Hei! Apa kamu tidak bisa melihat ada mobil sebesar ini melintas?” ucapnya marah.
“Maaf, bukannya aku tidak melihat, tapi tadi ada seseorang yang ingin merampok tasku.”
Orang itu melihat ke sekeliling tempat itu dan benar saja, dia melihat ada seorang pria dengan topi dan jaket hitam melihat ke arah gadis yang hampir di tabraknya, tapi saat melihat Uni ditolong seseorang, pria itu langsung lari dari sana.
“Orang itu sudah pergi.” Kemudian pandangan orang di dalam mobil tadi melihat Uni dari atas sampai bawah. Dia malah berpikiran jika gadis
di depannya ini sepertinya bukan gadis baik-baik karena melihat penampilan Uni dengan rok sepan di atas lututnya, seragam kerja yang Uni kenakan memang berupa rok sepan di atas lutut dan lengan pendek. Apalagi Uni masih di jalanan tengah malam begini. Apalagi kalau bukan gadis yang tidak benar.
“Kamu mau ke mana tengah malam begini?"
__ADS_1