
Husna yang mendengar bisikkan suami nya itu pun tersenyum dan menyatukan kening nya dan juga kening suami nya. Tak dia bayangkan dia akan merasakan hal seperti ini di usia nya yang semuda ini.
“Mas, aku senang mendengar semua yang kau katakan. Semoga kita akan selalu rukun seperti ini. Selalu mencintai satu sama lain. Perasaan kita tidak akan pernah berubah untuk satu sama lain.” Ucap Husna.
Azzam pun tersenyum dan mengangguk, “Kita akan menjaga hal itu agar tetap seperti saat ini selalu. Tidak boleh ada yang berubah. Kita harus bisa melewati ujian ke depan nya nanti.” Balas Azzam yang tentu saja di angguki oleh Husna.
__ADS_1
lalu tiba-tiba Azzam berdiri dan menggendong istri nya itu ke ranjang mereka, “Ayo kita tidur sayang. Waktu untuk ulang tahunmu masih ada tiga jam lagi. Kita harus istirahat yang banyak karena besok kita akan menjalani hari yang panjang dan melelahkan. Kita harus menyiapkan energi yang cukup untuk itu agar tidak tumbang.” Ucap Azzam lembut dengan menatap lekat sang istri dan di akhiri dengan kecupan lembut di kening Husna.
Husna pun tentu saja menurut ucapan suami nya itu karena memang mereka akan ke hotel jam tiga pagi agar bisa siap-siap di sana untuk acara resepsi yang di laksana pukul sembilan pagi. Mereka kenapa tidak memutuskan langsung ke hotel saja agar tidak lelah nanti pergi sangat pagi karena tentu saja hal itu terkait kenyamanan kedua nya yang tidak begitu menyukai hotel untuk menginap. Kedua nya lebih nyaman berada di rumah di ranjang kesayangan mereka. Jadi memutuskan untuk sebelum subuh saja ke hotel. Lagi pula jarak kediaman utama dan hotel tidak terlalu jauh hanya memakan waktu kurang lebih seperempat jam saja.
Azzam dan Husna pun segera menutup mata kedua nya untuk istirahat sebentar. Kedua nya terlelap saling berpelukan satu sama lain. Memang baik Azzam maupun Husna sudah tidak ada lagi suasana canggung seperti hari pertama mereka menikah. Mereka sudah terbuka karena memang sudah saling tahu sama lain apalagi di tambah ternyata kedua nya adalah kekasih masa kecil yang saling mencari satu sama lain di tengah kepingan ingatan yang ada.
__ADS_1
Azzam menatap istri nya yang tidur dalam pelukan nya itu lalu tersenyum. Azzam melabuhkan kecupan di kening dengan lembut lalu perlahan dia turun dari ranjang untuk mengambil sesuatu yang sudah dia siapkan dan dia simpan. Tidak lama dia kembali tepat pukul 23.58, dua menit lagi. Azzam duduk di tepi ranjang menatap sang istri yang seperti nya terganggu juga dengan apa yang dia lakukan.
Mata Husna terbuka karena memang kedua nya memiliki kebiasaan tidur yang mudah terjaga. Mata Husna menyesuaikan dengan cahaya yang masuk lalu dia tersenyum setelah melihat apa yang ada di hadapan nya. Sebuah kue tart kecil yang jadi kesukaan nya karena dari bau nya saja sudah bisa di tebak itu rasa apa.
“Selamat ulang tahun sayang. Istriku!” ucap Azzam lembut dan penuh senyum.
__ADS_1
Husna pun bangun dari tidur nya dan tersenyum lalu memeluk suami nya itu, “Terima kasih mas.” Balas nya lalu dia segera memotong kue tart nya karena memang Azzam tidak menggunakan lilin. Kedua nya segera berbagi kue satu sama lain sebelum ada yang mengetuk pintu yang ternyata itu adalah keluarga yang membawa kue mereka juga untuk ulang tahun Husna. Pada akhirnya di tengah malam itu mereka berpesta kecil di kamar bersama keluarga di kediaman utama itu. Husna banyak menerima ucapan dan doa yang tentu saja di aminkan oleh semua nya.