
“Jadi apa mas juga ingin segera memiliki anak?” lanjut Husna bertanya.
Azzam yang mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh istri nya itu pun segera menatap Husna dengan tatapan serius, “Kenapa mengajukan pertanyaan ini?” tanya Azzam balik.
Husna menggeleng, “Aku hanya ingin bertanya aja mas. Aku ingin tahu apa keinginan mas. Apa memang mas menginginkan aku untuk segera memiliki anak atau tidak.” Ujar Husna.
Azzam pun tersenyum mendengar ucapan istri nya itu lalu memeluk nya, “Emang kamu sudah siap untuk memiliki anak di usiamu yang semuda ini?” tanya Azzam lembut.
Husna pun menatap suami nya itu lalu tersenyum, “Bukankah setiap pasangan yang menikah memang harus segera memiliki anak. Aku sebagai seorang istri memiliki kewajiban itu kepadamu mas. Mau siap tak siap aku harus siap. Lagi pula umi dan abi sudah berumur yang pasti nya ingin melihat cucu mereka lahir.” ucap Husna.
Azzam menggeleng, “Azarine, dengar apa yang mas katakan. Mas mengakui bahwa mas memang ingin memiliki seorang anak segera tapi tidak dengan memaksamu. Mas ingin kau hamil karena memang keinginanmu sendiri. Hamil dan memiliki anak itu adalah keputusan yang besar dalam rumah tangga. Ingat juga yang hamil itu kau. Kau yang akan kemana-mana dengan membawa calon anak kita. Lalu kau juga yang bertaruh nyawa saat melahirkan. Lalu tidak sampai situ saja kau juga harus merawat mereka, mengasihi mereka, dan mendidik mereka. Mas mungkin memang membantu sekali-kali tapi tetap saja kau yang berada dengan mereka. Jadi untuk kehamilan dan memiliki anak nanti nya. Semua tergantung padamu sayang. Umi dan abi mungkin memang ingin segera memiliki cucu tapi mereka pasti akan mengerti dan menerima keputusan kita nanti. Kau masih muda sayang. Jadi kenapa kita harus terburu-buru untuk memiliki anak. Kita akan memiliki anak saat waktu nya sudah siap saja. Kita akan memiliki anak saat kita siap.” Ucap Azzam panjang lebar.
“Apa mas tidak ingin memiliki anak dariku?” tanya Husna.
Azzam menggeleng, “Kau salah memahami apa yang mas katakan sayang. Mana mungkin mas tidak ingin memiliki anak darimu. Mas sangat ingin memiliki anak darimu dan hanya padamu saja.” ucap Azzam lalu mengecup bibir istri nya itu sekilas.
“Jika memang begitu maka kita segera memiliki anak saja mas. Aku tidak ingin kita menunda nya. Aku takut jika kita menunda nanti akan berakibat buruk kepada kita. Aku takut juga jika aku akan lama hamil karena--”
“Sttss, jangan bicara begitu. Semua itu takdir Allah. Walaupun umi dan abi lama memilikimu sebagai anak mereka tapi lihat lah putri yang mereka dapatkan ini sangat begitu baik dan cantik.” ucap Azzam.
__ADS_1
Husna pun tersenyum lalu memeluk suami nya itu, “Jika begitu, aku ingin segera hamil mas. Aku tidak ingin menunda lagi. Aku ingin ketika anakku dewasa nanti aku belum terlalu tua dari nya. Aku tidak ingin di anggap sebagai nenek nya anakku saat kami berjalan bersama sama seperti aku ketika berjalan dengan umi. Aku tahu perasaan umi sakit pasti mendengar itu tapi dia menyembunyikan nya karena tidak ingin menyakiti hatiku sebagai putri nya. Jujur saja sejak saat itu aku tidak lagi mau jalan sama umi bukan karena tidak ingin tapi aku gak mau umiku di panggil seperti itu lagi oleh orang lain.” Ucap Husna dalam pelukan suami nya itu.
Azzam pun mengangguk, “Baiklah kita akan segera memiliki anak tapi tidak harus program. Kita jalani begini saja dulu yaa. Kita nikmati setiap proses nya.” Ucap Azzam.
Husna pun mengangguk, “Tapi apa kau siap untuk jadi seorang ibu? Bukan kah kau ingin lulus dulu lalu bekerja di perusahaan dan menulis lagi.” Ucap Azzam.
“Aku bisa menyerahkan tanggung jawab perusahaan kepadamu kan suamiku.” ucap Husna.
Azzam pun terkekeh, “Aku tidak semampu itu bisa menanggung tanggung jawab sebesar perusahaanmu sayang.” ucap Azzam.
“Tapi aku percaya pada suami ku bahwa dia pasti mampu melakukan nya. Suamiku pasti bisa.” Ucap Husna.
“Mas, aku ingin mengatakan sesuatu lagi. Aku ingin tahu orang tuamu. Maksudku tentang semua nya. Aku sudah melihat gambar mereka dan entah kenapa aku merasa bahwa mereka tidak asing. Tapi bukankah kita tidak saling mengenal sebelum nya. Jadi bagaimana mungkin aku mengenal mami dan papimu mas. Aku ingin di kenalkan kepada mereka. Aku ingin mengunjungi mereka. Menyapa mereka sebagai sebagai istrimu sebagai menantu mereka. Bisakah mas membawaku menemui mereka?” tanya Husna.
Azzam pun mengangguk, “Jujur saja beberapa terakhir ini mas juga memikirkan hal ini. Ingin mengenalkanmu pada mereka tapi mas pikir kau sedang sibuk. Jadi mas tidak ingin mengganggumu. Tapi syukur lah kau membicarakan ini. Nanti besok week end kita mengunjungi mereka ya.” Ucap Azzam.
Husna pun mengangguk, “Terima kasih mas.” Ucap Husna memeluk suami nya itu erat yang tentu saja di balas oleh Azzam juga tidak kalah erat.
Setelah itu sepasang suami istri itu pun akhirnya tertidur siang saling berpelukan satu sama lain dan baru terbangun saat pukul setengah empat.
__ADS_1
“Mas, bangun!” ucap Husna membangunkan suami nya itu yang masih terlelap.
Azzam pun segera membuka mata nya dan menatap istri nya itu tersenyum, “Ayo kita sholat mas. Di masjid seperti nya sudah selesai.” Ucap Husna segera turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.
Azzam pun yang di tinggalkan masih berbaring di ranjang mencoba bangun dan turun dari ranjang lalu dia merapikan ranjang mereka itu. Tidak lama setelah itu Azzam pun segera menuju kamar mandi untuk berwudhu.
***
“Mas, kita ke rumah umi dan abi yuk. Aku ingin menginap di sana.” Ucap Husna setelah mereka selesai melaksanakan sholat dan Husna sedang merapikan alat sholat mereka itu.
“Apa kau merindukan abi dan umi?” tanya Azzam.
Husna pun mengangguk, “Hum, aku merindukan mereka.” jawab Husna jujur.
“Ya sudah ayo kita siap-siap mau ke sana.” Ucap Azzam.
Husna pun tersenyum lalu segera mendekati suami nya itu dan memeluk nya, “Terima kasih mas. Aku menyayangimu.” Ucap Husna tersenyum senang lalu segera melepas pelukan nya itu dan berlari menuju walk in closet dan tidak lama kembali dia segera menuju kamar mandi.
Azzam pun hanya tersenyum melihat apa yang di lakukan istri nya itu, “Aku ingin mendengarmu mengatakan mencintaiku sayang. Itu ungkapan yang ingin aku dengar. Walaupun sikapmu penunjukkan penerimaan tapi aku juga ingin mendengar ungkapan cintamu. Aku memang egois tapi memang itu yang aku inginkan.” Gumam Azzam memandang pintu kamar mandi di mana sang istri berada di dalam sana.
__ADS_1