
Kini Husna segera menyusul suami nya itu yang sudah berada di makan kedua orang tua nya. Makam yang bersih dan terawat itu karena memang di rawat dengan baik oleh para penjaga makam. Husna pun segera jongkok di hadapan kedua makam yang berdampingan itu. Di mana di sana tertulis dengan jelas nama mertua nya. Fitri Syafiya dan Haidar Munawir. Terdengar tidak asing di telinga nya tapi entah lah. Dia juga bingung.
Dia seperti seolah memiliki memori yang di hapus dan tidak bisa dia ingat. Hanya seperti ingatan samar-samar saja. Tapi hal itu juga tidak bisa dia buktikan apa memang benar ada ingatan nya yang di hapus atau tidak karena dia saja tidak ingat sama sekali pernah keluar dari rumah sakit untuk melakukan suatu pengobatan.
Azzam mulai menaburkan bunga di makan kedua orang tua nya itu. Husna pun ikut. Azzam dan Husna pun saling tersenyum satu sama lain. Setelah menaburkan bunga mereka pun memanjatkan doa bersama.
“Mih, Pih kenalkan aku putramu kini datang tidak sendiri lagi. Sudah ada seorang wanita yang datang bersamaku. Dia istriku. Dia wanita yang aku cintai.” Ucap Azzam kepada kedua makam di hadapan nya itu.
Husna yang mendengar ucapan suami nya itu pun tersenyum, “Mami … papi … ini Husna menantu kalian. Maaf baru bisa datang hari ini. Maaf tidak mengunjungi kalian lebih awal. Terima kasih sudah melahirkan seorang putra seperti mas Azzam. Dia adalah suami yang baik dan sangat bertanggung jawab. Aku menyayangi nya.” Ucap Husna.
Azzam pun tersenyum mendengar ucapan istri nya itu, “Mami … papi … dia adalah menantu impian kalian bukan. Aku sudah mewujudkan keinginan kalian. Aku menemukan nya dan menikahi nya. Dia sangat baik seperti saat itu. Dia tidak berubah sama sekali. Terima kasih sudah memilih nya untuk jadi istriku. Aku tahu ini bagian dari doa kalian juga sehingga aku bisa bertemu lagi dengan nya. Dia adalah istriku. Walaupun saat ini dia belum mencintaiku tapi aku yakin suatu saat nanti semua nya akan kembali.” Batin Azzam.
“Mih … Pih … aku baru pertama kali ini bertemu kalian dalam ingatanku. Tapi entah kenapa aku merasa sudah pernah bertemu kalian sebelum nya. Kalian terasa sangat akrab bagiku. Aku selalu melihat foto kalian di rumah dan aku merasa kita pernah bertemu sebelum nya. Apa itu memang benar bahwa kita pernah bertemu? Jika memang iya maka aku mohon tolong tuntun aku untuk menemukan kebenaran nya. Aku ingin tahu semua nya.” Batin Husna.
Azzam menyudahi pembicaraan batin nya itu lalu menatap sang istri yang seperti nya juga sedang khusyuk memanjatkan doa nya. Dia mengagumi istri nya itu yang tidak hanya cantik tapi juga memiliki tatapan lembut yang membuat nya jatuh hati sejatuh-jatuh nya. Hingga membuat nya sulit untuk berpaling dan mencari yang lain. Sungguh sulit
Husna membuka mata nya lalu dia menoleh ke arah suami nya yang juga menatap nya itu hingga tatapan kedua nya beradu. Husna yang malu di tatap oleh suami nya dengan lekat begitu pun segera mengarahkan tangan nya ke wajah suami nya itu.
“Mas … jangan menatapku begitu.” Ujar Husna malu.
Azzam pun terkekeh mendengar itu, “Apa sudah selesai doa nya?” tanya Azzam mengalihkan pembicaraan karena dia juga tidak ingin membuat istri nya itu semakin malu jika dia menggoda nya.
__ADS_1
Husna pun mengangguk, “Hum.” Gumam Husna.
Azzam pun mengangguk lalu dia segera meletakkan dua buket bunga itu di pusara kedua orang tua nya dan mereka pun pamit pergi.
“Mih … pih … aku janji akan menjaga menantu kalian ini dengan baik. Banyak rahasia di antara kami yang belum terungkap. Aku akan menceritakan nya pada nya nanti. Kalian jangan khawatir aku baik-baik saja. Zahra juga baik. Dia bahkan di sayangi oleh abi dan umi.” Batin Azzam.
Sementara Husna pun sama dia juga bicara dalam batin nya, “Mih … pih … aku akan menjaga putra kalian dengan baik. Dia suamiku dan aku akan mencintai nya. Aku tahu memang aku tidak bisa menukar rasa cinta dan sayang kalian untuk nya tapi setidak nya aku bisa menemani nya agar tidak kesepian.” batin Husna.
Azzam dan Husna pun segera menuju pintu keluar makam dan mereka kembali di sambut oleh penjaga makam itu.
“Sudah selesai nak?” tanya penjaga makam itu.
Azzam dan Husna pun mengangguk dengan kompak, “Iya pak. Terima kasih. Kami titip makan kedua orang tua kami itu lagi kepada bapak.” Ujar Azzam.
“Tetap saja kami berterima kasih pak.” Kali ini Husna yang bicara.
Penjaga makam itu pun akhir nya mengangguk dan tersenyum, “Baiklah nak Husna.” Ucap penjaga makam itu.
“Mas!” ucap Husna lirih.
Azzam pun segera mengerti dan mengambilkan beberapa lembar uang dari dompet nya itu dan memberikan nya kepada penjaga makam, “Pak, terima lah ini sedikit rezeki dari kami untuk para bapak sekalian.” Ucap Azzam.
__ADS_1
“I-ini kebanyakan den.” Ucap penjaga makam itu.
“Terima saja pak. Itu rezeki dari Allah.” Ujar Husna tersenyum.
Penjaga makam itu pun tersenyum dan mengucapkan banyak terima kasih. Dia mendoakan Azzam dan Husna.
***
Singkat cerita, kini Husna dan Azzam sudah tiba di kediaman Azzam. Mereka kembali ke sana lagi setelah tadi dalam perjalanan pulang sudah menghubungi kediaman utama dan mengatakan akan kembali tinggal di kediaman Azzam.
Husna sedang memasak di dapur untuk makan siang kedua nya. Pikiran nya melayang ke semua kejadian hari ini yang menurut nya memiliki banyak keanehan dan sesuatu yang misterius dan harus di pecahkan. Tapi dia sendiri bingung bagaimana cara mendapatkan semua jawaban atas banyak nya pertanyaan yang ada dalam otak nya itu.
Husna yang saking tidak fokus memasak pun akhirnya terluka, “Aish..” ucap Husna melihat jari nya yang mengeluarkan darah karena teriris pisau.
Azzam yang bertepatan ke dapur untuk melihat istri nya itu memasak pun begitu melihat jari Husna berdarah segera mendekat dan tanpa lama-lama dia segera memasukkan jari istri nya itu ke mulut nya.
Husna yang kaget dengan apa yang di lakukan suami nya itu pun hanya bisa melongo saja dan begitu tersadar dia segera menarik jari nya dari mulut sang suami, “Mas, apa yang kau lakukan. Gak apa-apa mas. Ini hanya luka kecil kok.” ucap Husna melihat luka nya itu.
“Luka kecil bagaimana? Lihat itu darah nya sangat banyak begitu. Kenapa tidak hati-hati sayang.” ucap Azzam lembut.
“Maaf!” ucap Husna merasa bersalah.
__ADS_1
Azzam pun menghela nafas nya saja lalu segera membawa istri nya itu menuju kotak P3K yang ada di sana. Dia segera mengobati nya.