My Secret Love

My Secret Love
180


__ADS_3

Kini Azzam dan Husna sudah berada di poli kandungan menunggu antrian.


“Mas, bagaimana jika--”


“Sayang, kita harus yakin. Bismillah semua akan seperti yang sudah di prediksikan oleh dokter Ridwan. Jika pun tidak kita bisa berusaha lagi untuk itu hanya saja kau tidak boleh kelelahan.” Potong Azzam.


Husna pun mengangguk ucapan suami nya itu.


Yah, sepasang suami itu memutuskan untuk ke poli kandungan sebelum pulang ke kediaman. Mereka ingin memastikan apa yang di katakan oleh dokter Ridwan itu benar atau tidak.


Husna mengusap perut rata nya sambil berdoa bahwa saat ini memang sedang tumbuh buah cinta nya bersama suami nya itu di rahim nya. Harapan ingin memiliki buah hati ternyata sudah berada di sudut hati Husna hingga dia tidak lagi memikirkan umur nya yang masih muda. Keinginan yang dulu nya ingin melanjutkan dan memajukan perusahaan keluarga setelah lulus kuliah itu kini berganti dengan keinginan memiliki buah hati.


Semua keinginan dan rencana yang sudah dia susun sebelum nya saat belum menikah dengan Azzam berubah. Dia ingin menjalani hidup nya seperti biasa saja, berjalan seperti biasa tanpa harus mengkhawatirkan apapun. Dia percaya bahwa suami nya itu pasti akan bisa dia andalkan untuk mengurus perusahaan keluarga yang di bebankan kepada nya. Tidak ada kekhawatiran di hati nya jika tidak mampu mengelola perusahaan karena kini ada Azzam di samping nya yang pasti akan membantu nya.


Saat ini keinginan terbesar nya adalah menjadi ibu saja. Menjadi istri untuk suami kesayangan nya. Suami yang juga sahabat nya.


“Nyonya Azarine Salsabila Husna!”


Azzam dan Husna pun segera masuk begitu di panggil giliran mereka. sebenar nya bisa saja mereka masuk lewat jalur khusus tanpa mengantri hanya saja Husna tidak ingin melakukan hal itu. Seperti yang sudah dia katakan tadi bahwa dia ingin semua nya berjalan seperti biasa tanpa harus ikut apa yang sudah di tetapkan. Dia ingin merasakan bagaimana mengantri saat memeriksa kandungan bersama para ibu dan ayah lain nya yang juga ikut mengantri.


“Nyonya Azarine?” tanya dokter kandungan terkenal di rumah sakit itu. Jangan lupakan bahwa dokter itu berjenis kelamin perempuan karena Azzam tidak mungkin setuju apabila dokter kandungan istri nya itu seorang pria mau sebaik dan seterkenal apapun dokter nya.


“Iya benar dokter.” Jawab Husna.


“Silahkan duduk nyonya, tuan.” Ucap dokter wanita itu mempersilahkan Azzam dan Husna untuk duduk. Panggil saja nama nya Aluna.


“Nyonya, apa--”


“Saya ingin memeriksa kandungan dokter. Dokter Ridwan mengatakan bahwa kemungkinan saya sedang mengandung. Kami datang ke sini ingin memastikan hal itu.” jelas Husna.


Dokter Aluna pun mengangguk, “Baiklah apa nyonya merasakan keluhan seperti mual atau tidak?” tanya dokter Aluna.


Husna pun mengangguk, “Beberapa hari terakhir ini saya mengalami nya dokter. Hanya saja saya pikir itu kelelahan dan masuk angin.” Jawab Husna.


“Menstruasi nya terakhir kapan?” tanya dokter Aluna sopan. Dia tahu bahwa dua orang di hadapan nya itu bukan orang sembarangan. Dia sempat melihat berita yang trending akhir-akhir ini.


“Sekitar hampir dua bulan lalu dokter.” Jawab Husna.


“Baiklah dari ciri-ciri nya bisa di pastikan bahwa anda sedang hamil. Tapi kita harus memastikan nya. Apa mau menggunakan tespeck atau langsung USG saja?” tanya dokter Aluna.


“Langsung USG saja dokter.” Jawab Azzam yang sejak tadi diam membiarkan istri nya itu yang bicara.


“USG saja dokter.” Lanjut Husna saat dokter Aluna menatap nya seolah menunggu persetujuan nya.


“Baiklah silahkan nyonya ikut saya ke ruangan pemeriksaan. Tuan bisa ikut juga.” Ucap dokter Aluna.


Husna dan Azzam pun segera mengikuti dokter Aluna ke ruangan pemeriksaan. Husna segera di minta untuk berbaring di ranjang pasien mengikuti semua prosedur USG.


Dokter Aluna segera mengoleskan jeli di perut Husna dan mulai melakukan USG.


Semua serius menatap layar monitor yang ada di hadapan mereka. Husna dan Azzam juga ikut serius melihat walaupun tidak memahami apa yang sedang mereka lihat.


Dokter Aluna tersenyum melihat apa yang berada di layar monitor lalu menatap sepasang suami istri itu, “Lihat tuan, nyonya itu yang yang seperti bulatan adalah kantung kehamilan. Usia kandungan nyonya sudah enam minggu.” Ucap dokter Aluna lalu kembali melakukan USG untuk memastikan kecurigaan nya.


“Jadi saya benar hamil dokter?” tanya Husna yang di angguki oleh dokter Aluna.

__ADS_1


Azzam dan Husna segera mengucap syukur bersama-sama. Azzam bahkan menggenggam erat tangan istri nya itu seolah menyuarakan betapa dia berterima kasih kepada sang istri.


“Dokter, kenapa kantung nya terlihat ada dua?” tanya Husna saat melihat di layar monitor ada dua bulatan.


“Itu karena nyonya hamil kembar.” Jawab dokter Aluna tersenyum senang.


“Kembar dokter?” tanya Azzam.


Dokter Aluna mengangguk, “Benar, tuan.” Jawab dokter Aluna.


“Sayang.” ucap Azzam menatap Husna.


“Mas!” balas Husna dengan air mata yang sudah menetes di pipi nya.


Sungguh dia tidak menyangka bahwa Allah begitu baik pada nya padahal dia sudah berprasangka buruk tadi di depan ruangan.


“Dokter, apa mereka baik-baik saja?” tanya Azzam.


“Mereka baik-baik saja, tuan. Tumbuh dengan sehat dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kecuali nyonya harus mengonsumsi makanan yang bisa menambah darah karena di sini tekanan darah nyonya sedikit di bawah normal.” Jelas dokter Aluna segera menyudahi pekerjaan nya itu dengan membersihkan gel di perut Husna.


“Iya, dia baru saja menerima transfusi dokter karena Hb nya di bawah normal. Tapi barusan di periksa semua sudah normal. Apa itu tidak mempengaruhi bayi nya?” tanya Azzam.


Dokter Aluna tersenyum mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Azzam. Dia bisa merasakan bahwa Azzam adalah tipe suami penyayang. Sangat antusias dengan kehamilan istri nya.


“Memang Hb di bawah normal bisa mempengaruhi bayi dalam kandungan hanya saja dalam kondisi nyonya Azarine itu tidak terjadi karena langsung mendapatkan pertolongan. Untuk itu saya menyarankan agar nyonya Azarine mengonsumsi makanan yang bisa menambah darah agar Hb nya bisa naik begitu juga dengan tekanan darah nya. Memang benar tekanan darah yang tinggi juga berbahaya untuk bayi dalam kandungan hanya saja rendah juga berbahaya jadi semua nya harus normal.” Jawab dokter Aluna.


Azzam pun mengangguk. Dia kembali mengajukan beragam pertanyaan seputar kehamilan dan di jawab oleh dokter Aluna dengan sabar. Selain itu adalah tugas nya sebagai dokter, dia juga senang saat seorang suami antusias dengan kandungan istri nya apalagi sampai memperhatikan makanan dan minuman yang boleh atau pun tidak boleh di konsumsi oleh ibu yang sedang mengandung.


Sekitar setengah jam mereka berkonsultasi terkait topic seputar kehamilan. Setelah Azzam dan Husna merasa puas baru lah mereka pamit pulang.


***


Husna sendiri hanya bisa diam tanpa protes dengan segala bentuk protektif dan posesif yang di lakukan suami nya itu. Dia memaklumi nya sebagai bentuk kasih sayang untuk nya dan kedua calon buah hati mereka yang kini berkembang di rahim nya.


Sungguh, dia masih tidak menyangka bahwa bisa mengandung kembar padahal dalam keluarga nya tidak memiliki silsilah kembar.


“Mas, apa di keluargamu ada yang pernah melahirkan kembar?” tanya Husna karena jujur saja pertanyaan itu yang kini berputar dalam otak nya.


Azzam menggeleng, “Gak ada sayang atau mungkin pernah ada tapi mas gak mengetahui nya. Kau juga tahu bahwa mas tidak begitu tahu dan kenal silsilah keluarga mas sendiri.” Jawab Azzam.


Husna pun akhirnya mengangguk saja, “Kenapa sayang?” tanya Azzam dengan tetap fokus mengemudi.


Husna menggeleng, “Gak, aku hanya tidak menyangka mengandung kembar. Padahal di keluarga kami tidak yang pernah melahirkan kembar. Jadi ku pikir mungkin saja di keluarga mas ada tapi ternyata aku hanya membuka luka lama nya mas.” Ucap Husna merasa bersalah.


Azzam yang mendengar perkataan istri nya itu segera menepikan mobil dan segera menatap sang istri, “Hey, mas tidak masalah sayang. Kau jangan merasa bersalah begitu. Mas menyayangimu. Jadi jangan sungkan begitu. Mas tidak akan sedih lagi karena memang itu yang sudah terjadi sejak dulu. Mas saat ini hanya ingin berbahagia bersamamu dan keluarga kecil kita nanti dengan mengawasi dan mengawal kebahagiaan Zahra. Itu saja yang saat ini dalam pikiran mas. Untuk hal lain nya tidak jadi permasalahan lagi.” Ucap Azzam dengan lembut nya.


Husna yang mendengar ucapan suami nya itu pun meleleh, “Mas, aku menyayangi. Twins pasti senang dan bangga akan memiliki ayah sepertimu.” Ucap Husna.


Azzam pun tersenyum lalu mengecup kening istri nya itu, “Jangan sedih lagi atau pun merasa bersalah lagi ya sayang. Kamu itu segala nya untuk mas. Kita sekarang pulang mengatakan ini kepada umi dan abi yang mengkhawatirkanmu.” Ucap Azzam.


Husna pun mengangguk dan mobil mereka pun kembali berjalan dengan kecepatan yang sudah di tetapkan Azzam aman untuk ibu hamil.


***


Sekitar setengah jam kemudian akhirnya, Azzam dan Husna tiba di kediaman utama.

__ADS_1


Azzam segera turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk istri nya itu. Azzam memapah sang istri berjalan hingga Husna merasa menjadi orang paling lemah saja.


“Mas, aku bisa sen--”


“Mas papah atau mas gendong?” potong Azzam.


Husna pun hanya bisa menarik napas panjang lalu memilih menurut saja di papah oleh suami nya itu dari pada di gendong nanti.


“Nak, kau sudah kembali. Ayo masuk.” Sambut umi Balqis segera menggandeng putri nya itu.


“Duduk sayang.” ucap Azzam.


Husna pun menurut perkataan suami nya itu hingga membuat beberapa pasang mata menatap heran dengan apa yang di lakukan Azzam pada sang istri.


“Kamu baik-baik saja kan, nak?” tanya abi Syarif memastikan bahwa putri nya itu memang sudah baik-baik saja. Jujur saja dia mengkhawatirkan putri nya itu hanya saja dia menahan nya mengingat bahwa putri nya itu sudah memiliki suami.


Husna mengangguk, “Aku sudah baik-baik saja kok abi. Tidak perlu khawatir.” Jawab Husna.


“Kakak ipar!” ucap Zahra sedikit keras dengan berlari dari lantai dua menuju ruang tengah di mana Husna berada.


“Berhenti, dek!” ucap Azzam menghalangi adik nya itu yang ingin berhambur ke pelukan Husna.


Zahra, Abi Syarif dan umi Balqis pun segera menatap Azzam bersamaan.


“Ada apa sih bang?” tanya Zahra dengan polos nya.


“Sudah. Ayo sini kakak peluk? Kamu butuh pelukan?” ucap Husna segera menurunkan tangan suami nya yang menghalangi Zahra.


“Pelan-pelan.” Ucap Azzam.


Zahra pun segera memeluk Husna, “Kakak ipar, aku merindukanmu. Tapi abang justru menahanku yang ingin segera memelukmu.” Bisik Zahra. Husna yang mendengar itu pun hanya menyunggingkan senyum nya.


“Kakak, apa kau sudah baik-baik saja? Aku dengar dari kak Gauri bahwa kau sampai melakukan transfusi.” Ucap Zahra dengan polos nya tanpa sadar bahwa dia membuka rahasia yang di tutupi dari umi Balqis dan abi Syarif.


“Nak, apa kau benar sampai di transfusi?” tanya umi Balqis segera menatap putri nya itu begitu sadar dari keterkejutan nya mendengar ucapan Zahra.


Husna dan Azzam pun diam dan hanya saling menatap satu sama lain. Sementara Zahra dia pun ikut diam karena baru sadar bahwa telah salah bicara padahal Gauri sudah memperingatkan nya untuk tidak mengatakan hal ini. Jangan sampai bocor pada umi Balqis dan abi Syarif. Tapi kini dengan polos nya dan kebodohan nya itu sudah membongkar semua nya.


“Maaf, umi!” ucap Husna menatap umi nya.


“Jangan salahkan Azarine umi, abi. Ini adalah keputusan Azzam yang memang tidak mengatakan hal ini kepada kalian. Azzam tidak ingin membuat kalian khawatir dengan keadaan nya hingga Azzam menyembunyikan hal ini dari kalian.” ucap Azzam.


“Nak, kenapa kau melakukan nya. Husna adalah anak kami. Putri kami. Kau tahu kan kami hanya memiliki nya saja di dunia ini sebagai putri kami dan anak kami satu-satu nya. Kami harus tahu semua kondisi nya walaupun kau adalah suami nya.” ucap umi Balqis.


“Umi … mas Azzam tidak salah. Dia hanya tidak ingin membuat kalian khawatir. Selain itu juga aku setuju dengan apa yang di ambil mas Azzam. Aku pun tidak ingin membuat kalian khawatir. Lagi pula sekarang aku sudah baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.” Ucap Husna segera menggenggam tangan umi nya dengan lembut.


Umi Balqis pun berkaca-kaca mendengar perkataan putri nya itu, “Kau sudah dewasa ya, nak. Umi pikir putri umi ini masih putri umi yang kecil yang selalu ikut umi kemana saja. Tidak tahu nya sekarang kamu sudah bisa membela orang lain.” Ucap umi Balqis.


“Dia bukan orang lain, umi. Dia adalah suamiku.” ucap Husna.


“Yah suamimu. Suami yang hampir kau tolak bukan jika saja saat itu abi tidak memaksamu.” Timpal abi Syarif.


“Abi!” panggil Husna manja.


“Jangan lakukan itu nak. Suamimu itu akan cemburu nanti pada abi.” Ucap abi Syarif.

__ADS_1


“Dia tidak akan marah pada abi karena sebentar lagi dia pun akan memiliki gelar yang sama dengan abi.” Ucap Husna penuh senyum.


“Maksud nya?”


__ADS_2