
Sekali lagi Dean mencium Ara dengan lembut, bahkan saat tangan Ara akan mendorongnya, Dean berhasil menangkisnya dan malah lebih dalam mencium Ara. Ara yang sebenarnya juga memiliki perasaan pada Dean akhirnya menikmati ciuman Dean.
Dean menarik bibirnya dan Ara coba mengambil napasnya perlahan-lahan. "Ara, aku minta maaf sama kamu. Aku benar-benar lepas kendali." Salah satu tangan Dean mengurung tubuh Ara.
"Kenapa aku melakukan kebodohan untuk kedua kalinya? Kenapa juga aku malah menikmati ciuman dari kamu? Padahal aku tau jika itu bukan untuk aku." Ara seketika meneteskan air matanya.
"Jangan menangis, Ara." Dean dengan lembut mengusap air mata Ara yang jatuh perlahan pada pipinya.
"Aku mau pergi saja. Anggap saja semua ini tidak pernah terjadi."
"Tunggu, Ara!" Tangan Ara di tahan oleh Dean.
"Apa lagi?"
"Ciuman itu memang untuk kamu, Ara. Aku mencintai kamu."
"Kamu jangan bercanda denganku, ini tidak lucu, Dean.
"Aku tidak berbohong sama kamu, Ara. Aku jujur mengatakan hal ini. Kamu tau? Sebenarnya aku meminjam buku waktu itu ingin aku gunakan untuk mengungkapkan perasaan aku sama kamu, Ara. Aku bohong tentang gadis lain yang aku sukai."
"Kamu pasti bohong. Kamu pasti di tolak oleh gadis yang kamu sukai itu, makannya kamu mencoba mendekati aku, apalagi kamu tau aku menyukai surat itu."
Sekali lagi tangan Dean menelungsup pada sela-sela rambuat Ara. "Percayalah sama aku, Ara. Gadis yang aku sukai hanya kamu. Bahkan dari kita masih kecil. Aku hanya menyukai kamu, hanya saja aku takut mengatakannya waktu itu dan ada alasan kuat kenapa aku takut mendekati kamu."
"Alasan kuat? Memangnya kenapa kamu takut mendekati aku?"
"Ini semua masih ada hubungan dengan masa lalu keluarga kita dulu, Ara."
"Apa maksud kamu?" Ara tampak sangat bingung.
"Aku ingin menjelaskan sama kamu, tapi aku masih mencari waktu yang tepat."
"Katakan padaku, Dean."
Saat Dean akan mengatakan sesuatu, tiba-tiba ponsel Ara berdering dan Ara melihat pada layar ponselanya ada nama Mas David. Ara segera keluar dari ruangan itu dengan memeriksa keadaan sekitar karena takut jika Mas David ada di sana. Saat di rasa sepi dan aman, Ara berjalan menuju depan dan diikuti oleh Dean.
"Ara, kamu kenapa lama sekali?"
__ADS_1
"Mas David, aku minta maaf, tadi aku mau balik ke sini, tapi aku malah salah masuk ruangan karena juga aku mendengar ada suara di tempat itu, jadi aku penasaran."
"Iya, tadi aku bertemu Ara di ruangan kerjaku yang dulu dan ruangan itu sudah lama tidak dipakai."
"Iya, lalu Dean mengajak aku keluar dan menunjukkan jalannya."
Tania memperhatikan face Ara dan Dean, dan dia merasa jika ada sesuatu yang mereka sembunyikan, secara Dean itu ada perasaan pada Ara.
"Kamu itu memang orang yang suka sekali penasaran sih, Ara. Sampai-sampai mendengar ruangan kosong kamu datangi. Seram, tau!" seru Marta.
"Tapi kamu tidak apa-apa, Kan, Ara?"
"Aku tidak apa-apa Mas David."
Tangan David memegang kedua tangan Ara. "Lain kali aku tidak akan membiarkan kamu sendirian karena sekarang kamu adalah tanggung jawabku."
"Wah! Kalian so sweet sekali."
"Ya sudah, sekarang kita lanjutkan kembali saja acaranya."
Mas David tidak tau jika Ara dan Dean saling melempar pandangan mereka.
"Aro mana, Uni? Kenapa dia tidak ada di sini?" Via mengedarkan pandangannya.
"Dia pasti sedang ada di kamar tidurnya, Via. Pasti dia sedang tidur."
"Kamu enak sekali ya, Uni."
"Enak kenapa?"
"Kamu bisa dekat sama Aro dan tau semua kegiatan Aro, bahkan kamu bisa keluar masuk kamar Aro."
"Aku kan memang menjadi pembantu di sini. Tidak hanya kamar Aro, kamar Ara juga."
"Apa kamu tidak pernah jatuh cinta pada Aro? Aro kan pria yang dingin, tapi mempesona, setiap gadis yang kenal dia atau bahkan hanya baru melihat pasti jatuh cinta pada Aro."
Uni terdiam. "Aku tidak berani mencintainya, Via. Aku sudah katakan beberapa kali sama kamu. Sudah! Via, jangan membahas ini."
__ADS_1
"Ya sudah, tapi hari libur nanti kamu akan secepatnya pindah ke tempat kost itu, kan?"
"Iya, aku akan segera pindah." Sebenarnya ini Uni merasa seolah-olah Via ingin sekali Uni segera keluar dari rumah Aro.
"Kalau begitu, aku akan membantu kamu berkemas nantinya."
"Iya, Via."
Via akhirnya izin pulang dan Uni kembali melakukan pekerjaannya.
Hari berlalu dengan cepat, Ara yang penasaran ingin mengetahui tentang apa yang ingin dikatakan oleh Dean waktu itu berusaha mencari cara agar dia bisa berbicara berdua dengan Dean, tapi masih belum ada kesempatan karena Mas David selalu membuat Ara sibuk dengan mengantar jemput Ara kuliah, bahkan sering mengajak Ara jalan-jalan.
"Uni, kamu bisa ke kamarku sebentar."
"Ada apa, Ara?"
Uni masuk ke dalam kamar Ara dan Ara menceritakan tentang semua yang terjadi saat pesta ulang tahun Mas David, bahkan sampai ciuman antara dirinya dan Mas David.
"Aku benaran bingung Uni, aku sangat merasa bersalah dalam hal ini."
"Menurutku kamu tidak boleh melakukan hal itu, Ara. Apa yang kamu lakukan pada Mas David itu adalah hal yang salah dan jahat menurutku. Mas David sudah sangat baik sama kamu, apalagi dia sekarang kekasih kamu, tapi kamu malah mengkhianati dia dengan orang lain."
"Uni, jangan malah memojokkan aku begitu. Aki tidak mau berbuat jahat dengan Mas David." Ara tampak sedih.
"Lalu apa kalau tidak jahat. Seharusnya kamu jangan menerima waktu Mas David menyatakan cintanya sama kamu, apalagi Mas David tampak serius sama kamu, bukan hanya main-main saja."
"Iya, juga sih! Sekarang bagaimana? Aku bingung, apalagi sebentar lagi kedua orang tua mas David akan datang."
"Kamu harus jujur sama Mas David. Kamu katakan semuanya sama dia tentang perasaan kamu sama Dean."
"Tapi Dean kemarin bilang jika dia sebenarnya mencintaiku dari kecil, tapi dia tidak berani mengakuinya karena ada sesuatu tentang masa lalu keluargaku dan dia."
"Hah? Ada apa memangnya?"
Ara menggedikkan bahunya pelan. "Aku sendiri tidak tau, Uni. Makannya aku ingin tau ada apa dengan keluargaku dan Dean sehingga dia takut untuk mengungkapkan cintanya."
"Hem ... bikin penasaran saja, kamu harus mengetahuinya Ara. Kalau sekiranya Dean tidak baik sama kamu, lupakan dia karena masih ada orang yang sangat baik mencintai kamu." Ara mengangguk perlahan.
__ADS_1
Malam itu selesai makan malam, Ara langsung izin masuk ke dalam kamarnya, dia ingin menghubungi Dean dan Ara nekat ingin membuat janji ketemuan sama Dean.
"Ara, maaf, apa aku mengganggu kamu?" Dean ternyata menghubungi Ara dulu.