My Secret Love

My Secret Love
Berkenalan,


__ADS_3

Ara berkenalan dengan pria bernama David. Dia adalah keponakan tante Maya yang masih ada hubungan saudara jauh dari Akira.


"Kalau di lihat dari wajah kamu, kamu sudah bekerja, Ya?"


"Memangnya wajahku terlihat tua, ya, Ara?"


Seketika Ara terkekeh mendengar ucapan David. "Bukan begitu maksud aku, David. Kamu terlihat lebih dewasa saja, jadi aku menduga kamu pasti bukan seorang mahasiswa."


"Iya, tidak apa-apa, aku memang sudah bekerja, aku bekerja di perusahaan ayahku. Kamu sendiri masih kuliah?"


"Iya, aku masih kuliah di salah satu kampus di sini."


"Rencananya setelah kuliah kamu mau melanjutkan S2 apa bekerja, Ara?"


"Aku inginnya bekerja saja, jujur saja aku bosan kalau harus di suruh mikir pelajaran lagi." Ara tersenyum kecil.


"Bagaimana kalau bekerja di perusahaanku saja. Sebentar lagi aku akan menggantikan posisi ayahku sebagai CEO di sana karena ayahku akan berhenti dan memilih tinggal di Hawai bersama dengan mamaku."


"Mereka memilih untuk menikmati hari tuanya di sana. Pasti menyenangkan bisa bersama dengan pasangan kita, berdua menikmati hari tua dengan tentram."


"Iya, aku juga ingin suatu saat seperti kedua orang tuaku, hidup bersama dengan orang yang aku cintai. Menikmati masa tua bersama." Pandangan mata David tertuju pada Ara.


Ara yang merasa diperhatikan dengan tatapan yang tidak biasa itu terlihat canggung. "David, aku permisi mau ke toilet sebentar."


"Apa mau aku antar? Kaki kamu tidak apa-apa?"


"Kakiku tidak apa-apa. Aku bisa sendiri kok." Ara beranjak dari tempatnya.


"Aku akan menunggu kamu di sini. Oh ya! Kamu mau minum apa? Aku mau mengambil minum sekalian?"


"Aku jus leci saja, terima kasih sebelumnya David."


Ara berjalan menuju toilet yang tidak terlalu jauh dari sana. Ara segera masuk ke dalam toilet dan tidak lama dia keluar setelah membersihkan kedua tangannya di wastafel.


Bruk!


Ara tidak sengaja ditabrak oleh seseorang. Saat melihatnya Ara agak terkejut melihat siapa yang ditabraknya.

__ADS_1


"Maaf, Ya?"


"Dean? Kamu kenapa bisa ada di sini?"


"Ara? Kamu, Ara?"


"Iya, aku Ara. Dean kamu kok bisa di acara ini?"


"Maaf, aku tadi tidak mengenali kamu karena penampilan kamu sangat cantik malam ini," puji Dean.


"Mm ... terima kasih pujiannya, Dean." Pipi Ara merona malu. "Dean, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi?"


"Aku di sini karena aku yang menjadi kepala catering di pesta ini. Memesan catering pada tempat nenekku dan aku yang mengurusnya di sini."


"Ya ampun! Tidak menyangka akan bertemu kamu di sini?"


"Kamu sendiri salah satu undangan di sini?"


"Iya, aku datang bersama kedua orang tuaku dan kedua oma, opaku. Dean, apa kamu mau bertemu dengan keluargaku di sana?"


"Tentu saja tidak apa-apa, lagian kamu di sini juga sedang bekerja."


Dean tersenyum pada Ara, dia kemudian mengambil sesuatu tidak jauh dari sana. "Untuk kamu, Ara karena malam ini aku benar-benar tidak mengenali kamu, kamu cantik sekali."


Kedua bola mata Ara mendelik melihat sekuntum bunga mawar merah yang menjadi hiasan di pesta itu di petik oleh Dean. "Dean, kamu tidak perlu melakukan ini, tapi terima kasih dengan bunga yang kamu berikan." Ara menerima bunga pemberian Dean.


Dean tanpa berkata lagi langsung berjalan pergi dari sana. Ara tampak memandangi punggung Dean. "Kenapa dia jadi bersikap romantis begini? Apa dia menyukaiku?" Ara terkekeh sendiri. "Ya ampun, Ara! Kamu jangan ke GR an dulu, siapa tau dia hanya menganggap kamu sebagai sahabat."


Ara berjalan kembali menuju mejanya tadi dan di sana dia melihat ada David sepertinya sedang menunggu dirinya.


"Hai, Ara! Kenapa lama sekali? Toiletnya antri?"


"Iya, agak antri." Ara duduk dan meminum jus leci yang ada di depannya.


"Kamu memetik bunga di sini, Ya? Kamu suka dengan bunga mawar?" David bertanya karena melihat tangan Ara membawa bunga mawar dari Dean.


"Iya, ini tadi aku dapat dari sana, dan aku memang suka sekali dengan bunga mawar." Ara menunjukkan senyum memaksanya.

__ADS_1


"Ara, mau berdansa denganku di sana?" David menunjuk pada area lantai dansa di mana ada beberapa orang berdansa di sana. Ini mereka sedang di bagian luar ruang pesta. Tepatnya berada di taman belakang yang tempatnya tidak kalah cantik di hias dengan banyak lampu dan bunga-bunga segar.


"Dansa? Aku tidak bisa berdansa, David."


"Aku ajari, dan aku akan hati-hati sama kamu, jadi tidak akan membuat kaki kamu sakit."


Ara berpikiran sejenak. Lalu dia mengangguk, Ara merasa David ini pria yang baik, apalagi dia juga sopan.


"Aku mau, tapi kalau saat kamu mengajariku dan aku tidak bisa, kamu tidak boleh memaksa, kita sudahi saja. Bagaimana?"


"Deal." David mengulurkan tangannya dan membantu Ara bangkit kemudian mereka berjalan menuju lantai dansa.


David mengarahkan dengan sabar dan telaten pada Ara, kemudian mereka berdansa pelan-pelan mengikuti irama serta apa yang di katakan oleh David.


"Kamu sering berdansa, David?"


"Ya, aku hanya belajar saja. Aku sering di undang dalam acara yang ada acara dansa sama-sama, dan aku melihat cara mereka melakukannya, dari situ aku belajar cara berdansa."


"Jadi, tidak ada yang mengajari kamu? Kamu hebat sekali."


"Biasa saja, Ara. Semua orang bisa melakukannya jika dia mau belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak pantang menyerah. Tidak hanya untuk berdansa, tapi bisa untuk hal lainnya."


"Wow! Kamu bijaksana sekali, aku jadi bisa banyak belajar sama kamu, David."


"Aku hanya menekankan prinsip dalam diriku, Ara. Ini juga sering di ajarkan oleh ayahku. Seperti halnya jika kita mencintai seseorang, belajarlah bersikap baik dan jangan membuat kamu melakukan kesalahan yang bisa membuat kamu kehilangan orang yang kamu cintai itu."


Ara hanya terdiam mendengar penjelasan David kali ini. "Dia kan belum pernah tau akan hal-hal tentang cinta begini.


Dari kejauhan keluarga Ara dan David melihat kedekatan antara mereka dan mereka tampak senang. "David itu anak yang baik, sopan, dan bertanggung jawab dengan hal yang dia lakukan. Aku senang dia akan meneruskan perusahaan milik ayahnya di sini."


"Dia masih sangat muda, tapi sukses menjalankan bisnis ayahnya," terang Oma.


Nala melihat jika baru kali ini putrinya bisa akrab dengan seorang cowok. Nala berharap Ara kelak mendapatkan seseorang yang sangay baik dan mengerti semua tentang putrinya itu.


"Dia menjalankan bisnis mengenai desain interior, ya? Bidang itu sangat disukai oleh putriku," lanjut Akira.


"Bagaimana jika kita jodohkan saja mereka berdua? Dan aku akan memberitahu pada kedua orang tua David, mereka pasti sangat setuju."

__ADS_1


__ADS_2