My Secret Love

My Secret Love
Hari Pertama Bekerja part 2


__ADS_3

"Iya, saya akan segera bersihkan, saya minta izin dulu ya, Ara, untuk membersihkannya?”


“Iya, Uni, tidak apa-apa, terima kasih ya.”


Uni sekarang melanjutkan pekerjaannya di kamar Ara dan setelah selesai Ara meminta tolong apa Uni bisa membantunya ke dalam kamar karena Ara ingin berbaring sebentar dan ada beberapa buku yang ingin Ara berikan pada Uni. Siapa tau Uni membutuhkannya untuk


kuliah.


Uni dengan senang hati membantu Ara berjalan ke dalam kamarnya dengan hati-hati. Nala dan Bibi Anjani yang melihatnya tampak senang karena Ara bisa langsung cepat akrab dengan Uni.


“Kamar kamu bagus sekali, Ara, tadi waktu aku masuk aku benar-benar takjub melihat kamar kamu.” Uni mendudukkan Ara di atas ranjang dan bersandar pada tepinya.


“Ini semua ibuku yang mendekorasinya. Kamar saudara kembar ku juga.”


“Iya, kamu memiliki saudara kembar, apa wajahnya mirip sekali sama kamu?”


“Wajahnya tidak terlalu mirip karena dia cowok, tapi dia tampan sekali, kalau nanti bertemu awas bisa jatuh cinta kamu sama saudara kembar ku,” goda Ara.


“Jatuh cinta? Aku tidak mungkin jatuh cinta sama anak majikan aku sendiri, aku sadar diri siapa diri aku, Ara.” Tiba-tiba Uni teringat akan ARO, Uni segera melupakannya karena dia tau ARO tidak akan menyukainya dan lagian Uni juga tidak mungkin menyukai cowok yang di


sukai oleh sahabatnya.


“Memangnya kenapa? Kalau jodohkan


kita tidak ada yang tau, Uni, tapi memang akan sangat sulit untuk meluluhkan hati saudara kembar ku itu, dia lebih cuek dan dingin dibandingkan aku.”


“Aku malah berharap semoga saudara kamu bisa menerimaku seperti kamu, Ara.


“Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, dia orangnya cuek, kamu tenang saja dan tidak akan mendapat masalah sama dia.”


Ara menyuruh Uni mengambilkan buku yang dimaksud akan di berikan pada Uni di atas meja belajar Ara. Uni agak terkejut melihat buku yang diambilnya.

__ADS_1


“Apa buku ini yang mau kamu berikan sama aku?”


“Iya. Kamu kenapa mukanya terkejut begitu?”


“Inikan buku yang aku mau beli, tapi aku harus menabung dulu karena harganya yang lumayan mahal dan kamu mau memberikan kepadaku?Apa kamu tidak salah, Ara?”


Ara menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tau kamu pasti membutuhkan buku itu, lagian aku punya dua buku itu,” ucap Ara santai.


“Punya dua?” Sekali lagi Uni mendelik. “Aku satu saja harus berjuang dulu agar bisa memilikinya, kamu malah punya dua.” Uni meringis lucu.


“Aku dibelikan oleh ayahku dan ternyata paman ORLAFku juga sudah punya. Jadi kalau kamu mau, bawa saja.”


“Jangan, Ara, buku ini sangat mahal, jangan memberikan begitu saja padaku, atau aku akan meminjamnya saja, aku janji akan menjaganya dengan baik, setelah selesai aku akan mengembalikannya sama kamu.”


“Tidak perlu, kamu bawa saja, aku juga buat apa memiliki buku itu sampai dua? Sudah kamu ambil saja.” Ara memaksa memberikan buku itu pada Uni.


Uni mengusap perlahan buku yang ada di tangannya, dia benar-benar tidak menyangka akan bisa memiliki buku itu. Dia kemarin sampai menerima uang tiga ratus ribu agar bisa menabung untuk membeli buku itu, dan sekarang dia malah bisa mendapatkan dengan cuma-cuma.


“Kamu tidak akan di marahi oleh orang tua kamu?”


“Aku semangat untuk kuliah, hanya saja yang aku khawatirkan jika tidak bisa membayar kuliah aku.”


“Kamu pasti bisa, kamu kan sudah memiliki pekerjaan di sini.” Ara tersenyum.


Malam itu Uni menyiapkan makan malam di bantu oleh Nala. Uni mencoba membuatkan beberapa menu masakan dan saat di coba oleh Nala, ternyata masakan buatan Uni lumayan enak dan Nala menyukainya. Semua makan malam di meja makan kecuali ARO, dia belum pulang dari kampusnya karena pekerjaannya belum selesai.


“Uni, kamu ikut makan juga bersama kami di sini?” Akira menyuruh Uni duduk di sana bersama dengan mereka.


“Tidak apa-apa, Tuan besar Akira, saya makan di dapur saja.” Akira sudah tau semua tentang Uni dari cerita Nala.


“Kamu jangan memanggilku Tuan Besar Akira, panggil saja ayah Akira, usia kamu seumuran dengan anakku, aku tidak keberatan jika kamu memanggilku begitu.”

__ADS_1


“Terima kasih Tu--. Em maksud saya Ayah Akira.”


“Ya sudah, sekarang kamu duduk di sini dan makan bersama dengan kami. Jangan membantah,” ucap tegas Akira.


Uni akhirnya duduk bersama dengan mereka. Uni hanya diam saja melihat makanan di atas meja. “Kenapa tidak makan, Uni? Ambil makanan yang kamu sukai,” ucap Ara.


Uni malah meneteskan air matanya dan mengusapnya dengan cepat. “Maaf,” ucapnya lirih.


“Kamu kenapa menangis, Uni?” tanya nenek Anjani.


“Saya hanya teringat dengan kedua orang tua saya, Nek. Andai mereka masih ada dan berkumpul bersamaku seperti ini, tapi hal itu tidak akan terjadi,” ucapnya dengan terisak. Nala dan Akira saling melihat. Begitupun dengan Ara melihat ke arah ke dua orang tuanya. “Saya minta maaf membuat makan malam ini jadi tidak enak. Saya makan di dapur saja.”


“Kamu makan di sini saja, Uni. Di dapur kamu makan sendirian. Di sini kamu bisa makan bersama kami dan anggap saja kita sekarang keluarga kamu jadi kamu seolah makan dengan ayah dan ibu kamu,” terang Ara mengusap tangan Uni.


“Kalian baru mengenal aku, tapi kalian benar-benar orang yang sangat baik.”


“Kamu gadis yang kuat dan hebat, aku saja tidak tau bagaimana jika berada di posisi kamu.” Ara tersenyum pada Uni.


“Apa tante dan keluarganya tidak bersikap baik sama kamu? Bukannya kamu tinggal sama tante dan anaknya serta om kamu?” tanya Akira.


“Mereka juga baik,” ucap Uni sedikit menutupi sesuatu.


“Ya sudah kita makan saja, selesai makan kamu bisa kembali ke rumah kamu. Pekerjaan kamu sudah selesai,” kata Nala.


Uni akhirnya  makan malam bersama mereka semua dan setelah selesai makan malam Uni membersihkan semuanya dengan bersih dan rapi. Nala sangat menyukai pekerjaan Uni yang memang rajin. Setelah itu Uni izin untuk pulang, di sini Uni tidak perlu sampai pulang larut lagi karena jam sembilan malam dia sudah pulang.


“Uni, ini untuk kamu.” Nala memberikan amplop putih.


“Apa ini, Ibu Nala.”


“Itu ada sedikit uang buat kamu. Kamu bisa menggunakannya.”

__ADS_1


“Uang, untuk apa? Saya baru bekerja sehari di sini, kenapa sudah mendapat uang? Apa saya akan di pecat?”


“Siapa yang memecat kamu, aku malah senang dengan pekerjaan kamu. Anggap saja ini bonus untuk kamu karena pekerjaan kamu hari ini sangat baik. Sudah! Ambil saja.” Nala menyerahkan uang itu pada tangan Uni.


__ADS_2