
"Terima kasih Nyonya Kei.”
“Kenapa memanggilku seperti Nala? Kalian sudah tidak bekerja
lagi di rumahku. Mulai sekarang panggil aku Kei saja karena usiaku juga masih
muda.” Kei terkekeh pelan.
“Tidak apa-apa, Nyonya Kei. Biarkan saya memanggil dengan
sebutan Nyonya Kei.”
“Jangan, Bi, kita ini sudah menjadi keluarga, tidak ada
majikan dan bawahan. Jadi mulai sekarang jangan terlalu formal denganku.” Kei
tersenyum.
“Kalau begitu bagaimana kalau kita makan malam bersama, Mom?”
ajak Akira.
“Kebetulan, aku lapar sekali,” sahut Orlaf cepat.
__ADS_1
Mereka berlima makan malam bersama, dan setelah makan banyak
hal yang saling mereka ceritakan. Malam itu Nala sangat bahagia, walaupun dia
belum mendapat restu dari daddyny Akira. Nala berharap lambat laun akan bisa
melunak hatinya dan menerima kehadiran Nala dan kedua bayi kembarnya.
“Mom, apa Mommy keadaannya sudah baikkan?”
“Sudah, Akira. Mommy sudah sangat baik sekali, apalagi saat
ini. Mommy mau sehat karena
ini.” Kei melihat ke arah Nala dan Nala tersenyum pada Kei.
Setelah makan malam selesai, Kei izin untuk kembali ke rumah, dia sangat senang malam ini bisa berkumpul dengan keluarganya.
"Coba saja ada daddy dan kak Rhein, pasti akan sangat menyenangkan," celetuk Orlaf saat Akira mengantar mommynya ke mobil.
"Kamu sabar saja, Orlaf, keluarga kita akan kembali berkumpul seperti dulu, dan ada keponakan kembar kamu nantinya." Tangan Akira ngusap-usap kepala Orlaf.
"Mommy berharap juga begitu, Sayang. Mommy akan berusaha untuk membuat daddy kamu luluh hatinya dan mau menerima kakak kamu serta Nala dan kedua cucunya. Mau sampai kapan daddy kamu akan keras kepala seperti ini?" Wanita cantik itu memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
"Mommy jaga kesehatan, jangan karena masalah aku dan Akira membuat Mommy jadi sakit lagi."
"Iya, Nala. Kamu juga jaga kesehatan kamu dan cucuku. Jangan karena masalah ini membuat kamu jadi kepikiran. Addrian memang sangat keras kepala, tapi kamu memiliki mommy Kei yang akan membela dan mendukung kamu."
Tangan Kei mengusap pipi Nala dan Nala tersenyum padanya. Kei akhirnya izin pulang.
Satu bulan kemudian, Nala dan Akira serta bibi Anjani sudah bersiap-siap menghadiri pesta pernikahan Rara. Nala menemani Rara di kamar rias di rumah Rara.
"Nala, aku benar-benar takut."
"Takut apa? Kamu itu hanya akan duduk manis mendengarkan calon suami kamu ijab qobul, setelah Reno lancar mengucapkan ijab qobul dan kalian dinyatakan sebagai suami istri berarti sudah selesai."
"Terus, aku dan Reno malam pertama?"
Nala langsung terkekeh mendengar apa yang ditanyakan oleh Rara. "Terserah, kamu mau malam pertama langsung atau menundahnya atau tidak melakukannya juga tidak apa-apa." Sekali lagi Nala terkekeh.
"Kamu jangan menertawakan aku ya? Benar aku yang mengajari kamu waktu itu, tapi jujur saja aku sekarang yang takut. Huft! Kenapa aku jadi malah mikirin itu?"
"Sudah jangan di pikirkan, nikmati saja semuanya dan kamu akan menyukainya. Aku saja sangat menyukainya, dulu, sebelum aku hamil."
"Serius? Padahal aku kira kamu dulu tidak akan bisa menikmatinya."
"Kan tidak masalah dengan suami sendiri bukan dengan orang lain. Ra, aku bahagia sekali melihat acara pernikahan kamu yang begitu mewah ini, duduk di pelaminan." Nala mengusap perlahan baju pengantin indah yang dipakai Rara.
__ADS_1
"Kamu bilang saja pada Akira untuk menyelenggarkan resepsi pernikahan kalian." Nala menggeleng pelan.