
"Sayang!!" teriak Azzam saat Husna hampir jatuh tapi untung nya dia masih bisa menahan beban tubuh sang istri.
Ratna, Andita dan Betty ketiga nya langsung bergeser saat Azzam segera menggendong Husna.
"Saya akan membawa nya ke rumah sakit. Tolong bawa pulang semua ini ke kediaman umi dan abi. Kalian tidak perlu khawatir. Dia memang sejak pagi sudah kurang enak badan." ucap Azzam setelah memindahkan Husna ke dalam mobil.
Semua orang yang ada di sana pun mengangguk mendengar ucapan Azzam.
"Pak, biar saya yang menyetir mobil." ucap Gilang saat Azzam hendak masuk ke mobil.
__ADS_1
Azzam pun memandang ke arah Gilang lalu dia mengangguk, "Dita kau ikut. Zahra tolong bantu Gauri membereskan ini." ucap Azzam kepada sang adik yang di balas anggukan oleh Zahra.
Tidak lama setelah itu mobil pun segera melaju meninggalkan gedung fakultas. Azzam menemani sang istri di belakang dengan terus menggenggam tangan Husna yang mendadak dingin.
Gilang sendiri bisa melihat kekhawatiran yang begitu besar di mata Azzam untuk Husna segera melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata mumpung juga kendaraan pagi menjelang siang itu lumayan sepi.
Hanya berselang kurang lebih sepuluh menitan saja akhirnya mobil tiba di rumah sakit. Azzam yang memang sudah menghubungi pihak rumah sakit pun begitu mereka tiba sudah ada pihak medis yang menunggu di depan.
Azzam segera di hentikan begitu tiba di pintu ruangan UGD. Azzam pun menurut dan hanya bisa melihat dari luar istri nya yang sedang di lakukan prosedur keselamatan. Dia berdoa agar istri nya itu baik-baik saja.
__ADS_1
"Saya yakin dia akan baik-baik saja pak. Dia wanita kuat." ucap Gilang mencoba menenangkan Azzam yang dia tahu sangat khawatir pada istri nya itu.
Kekhawatiran yang terlihat jelas hingga dia merasa bersalah sempat meragukan cinta Azzam untuk Husna hanya karena ego nya yang terluka. Tapi kini dia senang melihat Husna di cintai sebesar itu karena dia yakin dia mungkin tidak akan bisa mencintai Husna seperti cinta Azzam untuk Husna karena memang cinta nya sudah di takdirkan hanya di berikan untuk Andita. Gadis yang sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua nya serta gadis yang sudah menjadi penghubung hubungan nya dengan kedua orang tua nya walaupun itu terjadi tanpa di sengaja. Tapi bukan kah tak ada yang terjadi di dunia ini dengan kebetulan. Semua sudah di takdirkan dan kita hanya menjalani nya saja dan mencoba berusaha untuk mengubah takdir yang memang masih bisa di ubah.
Azzam pun yang mendengar ucapan Gilang itu tersenyum dan mengangguk, "Terima kasih untuk hari ini. Saya doakan semoga apa yang sudah kalian rencanakan untuk hubungan kalian bisa berjalan dengan lancar." balas Azzam.
Dia mungkin masih menyimpan rasa cemburu itu dalam diri nya untuk Gilang karena pernah menjadi salah satu pria yang mencintai istri nya tapi untuk saat ini dia sadar bukan waktu nya untuk cemburu. Saat ini yang paling penting adalah mengetahui kondisi istri nya.
Kenapa bisa istri nya itu pingsan dadakan? Apa ada masalah yang perlu di khawatirkan?
__ADS_1
Itu menjadi pertanyaan nya saat ini yang tentu saja butuh jawaban dan itu hanya bisa di jawab oleh dokter yang baru saja menyelesaikan pemeriksaan kepada sang istri dan kini keluar dari ruangan UGD.
Azzam segera mendekati dokter, "Bagaimana keadaan istri saya dokter?"