My Secret Love

My Secret Love
Bubur Kesukaan part 3


__ADS_3

Uni sudah tau pasti ini jawaban Aro. Uni yang tidak menyerah mengambil nampan itu dan membawanya ke dekat Aro. “Aro, coba dulu bubur ini, tadi dokter cantik itu bilang kalau kamu dalam beberapa hari ini harus makan


makanan yang  lembut.”


“Tapi aku tidak suka dengan bubur, Uni. Mamaku tau akan hal itu, bawa pergi lagi sana!”


Uni duduk terdiam di depan Aro melihat ke arah mangkuk bubur yang dibawanya. Aro yang melihat hal itu jadi merasa tidak enak.


"Uni, aku tidak suka makan bubur, melihatnya saja perutku sudah tidak enak."


"Tapi ini bubur buatan aku, kata dokter cantik itu kamu harus makan bubur karena ada sedikit gangguan pada lambung kamu. Apa kamu tidak mau sembuh?" Uni melihat dengan tatapan sayu pada Aro.


"Bubur buatan kamu? Jadi kamu yang membuatnya sendiri?" Uni mengangguk. "Kenapa bukan mamaku atau bisa membelinya saja."


"Kamu kan tidak suka makan bubur, aku cuma ingin belajar membuat bubur yang bagiku rasanya sangat enak, siapa tau kamu juga menyukainya. Ini baru pertama kali aku membuatnya, kalau tidak enak ya sudah kamu tidak perlu memakannya. Setidaknya hargai usaha aku yang membuatnya."


"Banyak bicara. Ya sudah! Sini buburnya kamu suapi aku. Kalau tidak enak jangan memaksaku lagi?"


"Ini. Kamu coba buburnya, kalau tidak enak kamu boleh membuangnya." Uni menyodorkan mangkuk berisi bubur pada Aro.

__ADS_1


"Aku kan bilang untuk menyuapi aku makan."


"Hah? Menyuapi kamu? Memangnya tangan kamu juga sakit?" Uni dengan polosnya memeriksa tangan Aro.


"Uni, cepat suapi! Atau aku berubah pikiran!" bentaknya yang akhirnya membuat Uni langsung menyendokkan bubur dan mengarahkan pada mulut Aro.


"Bagaimana? Enak tidak?" Uni terlihat penasaran.


"Coba lagi?"


Sekali lagi Uni menyuapi Aro dengan bubur ayam sampai tidak terasa bubur yang ada di dalam mangkuk itu habis.


"Iya, enak," jawab Aro singkat.


"Syukur kalau begitu, sekarang minum obat dan teh hangat kamu." Uni memberikan obat Aro dan segelas teh hangat.


"Sekarang apa lagi?"


"Kamu istirahat saja dulu." Uni mengambil buku yang ada di tangan Aro. "Membacanya nanti saja, apa kamu tidak capek dari tadi membaca?"

__ADS_1


"Habis tidak ada pekerjaan yang bisa aku lakukan. Mamaku menyuruhku tiduran di kamar."


"Ya sudah, kamu istirahat saja. Aku mau membersihkan peralatan makan ini."


Saat Uni akan beranjak dari tempatnya duduk, tiba-tiba tangannya di tarik oleh Aro sampai tubuhnya mendekat pada tubun Aro dan ...


Cup!


Kembali ciuman kilat terjadi untuk kedua kalinya, tapi kali ini Arolah yang memang sengaja melakukan hal itu.


"Ya sudah! Aku mau istirahat dulu, Uni." Aro seolah tidak terjadi apa-apa melorotkan tubuhnya kemudian berbaring membelakangi Uni yang masih tercengan dengan ciuman yang barusan Aro lakukan.


Uni melihat pada Aro yang malah santai tidur miring dengan mata terpejam. "A-aku pergi dulu kalau begitu."


Uni dengan gemetaran mengambil nampan yang berisi mangkuk bubur dan gelas. Terdengar pula bunyi gemeritik suara mangkuk dan gelas karena Uni membawanya dengan tangan bergetar.


Aro yang melihat Uni keluar dari dalam kamarnya tampak tersenyum tipis, kemudian dia melanjutkan tidurnya.


Uni segera menuju dapur dan mengambil segelas air putih kemudian menghabiskannya hanya dengan sekali teguk. Dia tampak mengatur napasnya yang naik turun.

__ADS_1


"Ya Tuhan! Kenapa jantungku berdetak sangat kencang seperti ini?" Uni memegangi dadanya berusaha membuat detakan jantunya tidak berdetak cepat.


__ADS_2