My Secret Love

My Secret Love
Backstreet


__ADS_3

Saat mereka sedang menikmati sarapan paginya. Tiba-tiba suara pintu di ketuk oleh seseorang.


"Biar aku yang membuka pintunya." Uni beranjak dari tempatnya dan membuka pintu.


"Haloo, Uni!" seru Via senang lalu memeluk Uni.


Deg!


Uni lupa jika dia belum memberitahu Via tentang pembatalan acara dia yang tidak jadi pindah.


"Via, silakan masuk." Uni menyuruh Via masuk ke dalam rumah. Via tampak senang bisa melihat Aro di sana. Hari ini kuliah mereka masih libur karena hari Minggu.


"Via, ayo ikut kita makan pagi di sini."


"Iya, terima kasih, Ibu Nala." Via duduk di sana tepat di samping Aro karena melihat sebelah Aro bangkunya kosong.


"Loh itukan tempat--."


"Ara, kamu mau orange jus tidak?" potong Uni dan dia memberi isyarat agar tidak perlu mempermasalahkan masalah tempat duduk di sana.


"Tidak Uni terima kasih."


Via akhirnya makan pagi bersama mereka dan mereka saling mengobrol banyak. Uni memilih duduk di sebelah Nala.


"Uni, setelah makan pagi kita langsung ke tempat di mana kost kamu berada karena aku tidak bisa lama-lama. Aku harus mengantar mamaku juga ke rumah nenekku."


Uni melihat agak bingung. "Via, sepertinya Uni tidak jadi pindah dari sini," terang Aro.


Via langsung meletakkan sendoknya dan melihat ke arah Uni. "Uni, tidak jadi pindah? Kenapa?"


"Karena aku tidak mengizinkan. Sejak Uni mendapat masalah karena aku dulu dan saat dia diusir oleh tantenya. Uni sudah menjadi tanggung jawabku, Via. Lagian keberadaan Uni di sini tidak mengganggu sama sekali."


"Nala." Akira memegang tangan istrinya.


"Akira, biarkan aku mengambil keputusan." Nala mencoba menyakinkan suaminya. Akira akhirnya membiarkan hal itu.


"Tapi, Uni kan ingin mandiri, Ibu Nala?"


"Iya, tapi tidak perlu pindah dari sini. Jujur saja aku sudah sangat menyayangi Uni seperti putriku sendiri."

__ADS_1


"Aku sudah memikirkan semuanya semalaman, Via, dan mungkin keputusan aku untuk pindah itu bukan keputusan yang benar."


Wajah Via tampak kecewa, tapi dia berusaha menyembunyikannya. "Ya sudah kalau memang itu keputusan kamu. Aku sebagai sahabat kamu hanya bisa mendukungnya." Via memaksakan senyumannya.


Uni mengantar Via sampai di depan pintu dan Uni meminta maaf pada Via. "Via, aku minta maaf sama kamu karena sudah menyusahkan kamu," ucapnya lirih.


"Aku heran saja sama kamu Uni. Kamu itu kenapa ingin sekali tinggal di sini? Padahal kamu di sini bukan keluarga mereka, dan kamu tidak malu merepotkan mereka?"


"Aku malah merasa bersalah jika meninggalkan rumah ini. Apalagi ayah Akiraku sudah membuatkan kamar untukku, dan sebenarnya aku berat pergi dari sini. Aku merasa memiliki keluarga di sini, Via."


"Terserah kamulah, Uni. Jujur saja aku kecewa sama kamu. Aku berusaha membantu kamu agar tidak menyusahkan orang lain. Eh! Kamu malah senang menyusahkan keluarga yang sangat baik sama kamu."


"Bukan begitu maksud aku, Via."


"Aku pulang dulu, kalau begitu." Via berjalan tidak peduli pada Uni dan dia pergi dari sana.


Sejak saat itu, Uni merasa Via menjauh darinya, Uni mencoba menghubungi Via bahkan menemui Via di kampusnya, tapi dia tidak pernah bertemu.


Hari itu adalah hari di mana Via selalu pulang sore karena ada kegiatan di perpustakaan.


"Via mana, Ya?" Uni berdiri di tengah-tengah lapangan mencari keberadaan Via.


Uni sangat terkejut saat tangannya malah di tarik oleh seseorang dan dia di bawa ke tempat yang agak sepi.


"Kamu sedang apa berada di sini?" Aro mengusap lembut pipi Uni.


"Aro, jangan begini. Aku tidak enak kalau ada yang melihat kita, apalagi Via." Uni melepaskan tangan Aro dan Uni celingukan melihat sekitarnya. Dia takut jika ada Via yang melihat mereka."


"Ck! Kamu itu kenapa takut dengan Via. Dia sudah saatnya harus tau tentang hubungan kita, Uni! Jadi kamu tidak perlu takut lagi."


"Belum saatnya, Aro. Dia saja marah denganku karena aku tidak jadi pindah."


Aro malah sekarang menarik pinggang Uni dan mendekatkan tubuh Uni pada dirinya. "Aku jadi merasa curiga pada Via."


Uni melihat aneh pada Aro. "Curiga tentang apa?"


"Sepertinya Via tau kalau kamu dan aku memiliki hubungan, dan dia sengaja mempengaruhi kamu agar kamu keluar dari rumahku karena dia tidak mau kamu dekat-dekat denganku."


"Dari mana kamu punya pikiran seperti itu? Via tidak tau tentang hal ini. Dia kemarin bilang kalau dia agak kecewa denganku karena aku yang ingin di tolongnya agar tidak menyusahkan keluarga kamu, jadi menyusahkan sekarang."

__ADS_1


"Kamu tidak menyusahkan. Malahan aku yang susah jika kamu berada jauh dariku." Aro mengecup pelan pucuk hidung Uni.


"Aro! Sudah aku bilang jangan berbuat hal yang tidak-tidak. Ini tempat umum dan di wilayah kampus kamu. Aku tidak mau kamu atau aku mendapat masalah."


"Kamu tenang saja. Ini ruangan pribadiku di sini. Tidak ada yang bisa main selonong masuk tanpa seizinku."


Uni melepaskan tangan Aro yang dari tadi memeluk pinggbibirnya.


"Aku mau mencari di mana Via dan ingin bicara empat mata sama dia."


"Dia sepertinya sudah pulang karena hari ini tidak ada jadwal untuk acara perpustakaan."


"Oh begitu." Uni mengerucutkan bibirnya.


"Jangan bertingkah menggemaskan begitu. Ayo! Kita pulang saja, dan aku akan mengajak kamu makan siang di cafe yang ada dessert yang enak." Aro menggandeng tangan Uni keluar dari ruangan Aro.


Mereka berdua tidak tau jika saat mereka keluar ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan sangat kesal dan menyala marah.


"Kamu benar- benar pengkhianat Uni! Tega-teganya kamu menyakitiku seperti ini. Padahal aku sangat menyayangi kamu sebagai sahabat, tapi kenapa kamu bisa menyukai pria yang sangat aku cintai. Aro juga, kenapa dia bisa menyukai Uni yang jauh jika dibandingkan denganku?" Tangan Via mengepal erat.


Aro dan Uni berada dalam satu mobil dan Aro mengajaknya pergi dari area kampusnya.


"Kita mau ke mana? Kita pulang saja sekarang saja, Aro. Aku masih banyak pekerjaan di rumah, tadi aku izin sebentar sama mama kamu kalau aku mau mencari Via di kampusnya."


Aro yang fokus mengemudi tidak menjawab perkataan Uni. Uni yang sebal malah makin cemberut.


"Dasar! Kenapa kamu ini sangat menyebalkan sekali sih, Aro?"


"Jangan menggangguku, aku sedang fokus menyetir, Sayang."


Uni seketika wajahnya tampak tersipu malu saat Aro memanggilnya sayang. Uni akhirnya diam saja membiarkan Aro fokus mengemudi.


Tidak lama mereka sampai pada sebuah cafe yang tidak terlalu besar, tapi tempatnya sangat nyaman dan cozy.


"Kita makan siang di sini, Uni. Di sini sangat enak dessert durian lumernya."


"Kamu suka durian?" tanya Uni heran.


"iya. Memangnya kenappunyaku.

__ADS_1


jangan lupa baca juga ini punyaku, baru netes semoga sukaaa



__ADS_2