
Uni masih terdiam di tempatnya. Pun Aro juga, mereka masih saling menatap satu sama lain.
"Sebenarnya itu juga ciuman pertamaku, Aro," ucap Uni lirih sambil menunduk.
"Benarkah? Jadi aku orang pertama yang mencium kamu?" Ada seringai samar pada sudut bibir Aro.
Uni mengangguk perlahan, dan dia tetap tidak berani menatap Aro. "Aro, jangan katakan hal ini pada siapun, Ya? Aku tidak mau mereka salah paham sama kita."
"Memangnya kenapa? Apa kamu malu pernah berciuman denganku? Atau kamu takut pacar kamu tau."
"Aku tidak punya pacar, Aro." Uni baru berani menatap Aro.
Tidak lama tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Aro dan masuklah nenek Anjani melihat mereka. "Ada apa, Nek?" kata Aro
"Apa buburnya sudah habis?"
"Aro belum memakannya, Nek," jelas Uni.
"Aro, kamu harus makan bubur itu terus minum obat, kamu jangan keras kepala, atau mau nenek suapi?"
"Iya, aku makan, Nenek tidak perlu menyuapi aku, lagian aku itu sudah dewasa."
"Ya sudah kalau begitu, jangan lama-lama menghabiskan, kasihan Uni harus menunggu kamu, dia kan juga butuh istirahat."
"Iya, Nek, aku juga mau habiskan, tapi jangan menyuruhku cepat-cepat."
"Uni, kalau kamu mau istirahat, kamu tidur saja, biar nenek yang nanti membereskan tempat makan Aro."
"Nenek saja yang tidur dulu, aku tidak apa-apa, setelah Aro makan, aku akan membereskan semua, baru aku istirahat."
"Ya sudah kalau begitu. Nenek mau ke kamar dulu untuk mengoleskan minyak pada kaki nenek."
"Nanti aku saja yang mengoleskan pada kaki Nenek, sekalian aku pijitin."
"Tidak perlu, kamu pasti capek." Nenek Anjani keluar dari dalam kamar Aro.
"Uni, cepat suapi aku lalu kamu bisa beristirahat," perintah Aro.
__ADS_1
"Kamu makan sendiri, bukannya kamu bilang kalau kamu sudah dewasa."
"Apa kamu mau membantahku?" Aro menaikkan salah satu alisnya. "Kamu ketagihan ciumanku, ya? Mau lagi?"
Uni langsung mendelik dan mengambil mangkuk bubur kemudian segera menyuapi Aro. "Cepat habiskan, aku mau ke kamar juga memijiti nenek Anjani."
"Uni, mulai sekarang kita pacaran saja. Kamu kan tidak punya pacar, dan kamu tidak boleh menolaknya karena aku tidak suka di tolak."
Seketika Uni yang dari tadi menyuapi Aro sampai terbatuk-batuk karena kaget. "Mi-minum."
Aro segera mengambilkan air yang ada di sebelah nakasnya dan memberikan pada Uni. "Kamu itu aneh, aku yang makan, kenapa kamu malah yang tersedak?"
Uni mencoba menetralkan dirinya. Dia melirik Aro sekilas. "Apa maksud kamu kita pacaran, Aro? Aku tidak mau mempunyai pacar, aku hanya ingin fokus pada kuliahku dulu."
"Kamu tenang saja, aku tidak akan mengganggu kuliah kamu, malahan kamu bisa minta ajari aku tentang pelajaran di kampus kamu."
"Tapi aku tetap tidak bisa, Aro."
"Aku tidak butuh alasan dari kamu, Uni. Aku mau kita pacaran karena kamu gadis yang mengambil ciumanku, dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika aku hanya akan berpacaran dengan gadis yang berciuman pertama kali denganku."
"Aku sudah bilang jika aku tidak menerima alasan apapun, Uni."
"Aro, kamu kan memiliki banyak teman yang cantik dan setara sama kamu, kenapa kamu tidak pacaran saja sama mereka?"
"Apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan tadi?" ucapnya tegas, membuat Uni langsung terbungkam.
Uni beranjak dari tempatnya dan membawa nampan dengan mangkuk dan gelas yang sudah kosong. "Aro, kamu minum obat kamu sebelum kamu istirahat lagi, aku mau membawa ini ke dapur."
"Jadi sekarang kita pacaran, aku harap kamu ingat itu dan aku tidak suka kalau sampai melihat kamu dekat-dekat dengan cowok lain di kampus. Ingat itu ya, Uni."
Uni hanya bisa menatap dengan tatapan sayu. Dia bingung harus menjawab apa, sekuat dia menolak juga Aro akan tetap menganggap Uni setuju. Uni sendiri entah kenapa perasaannya antara senang dan bingung.
Jujur saja, sejak mereka berciuman waktu pertama itu, ada perasaan yang membuat Uni seolah tidak bisa tenang dan selalu memikirkan Aro. Apalagi Aro ternyata pria kecil yang dari dulu dia sukai.
"Aro, apa hal itu tidak bisa di ralat saja, kalau kamu ingin memberi hukuman padaku karena sudah mencuri ciuman kamu, aku rela, asal tidak dengan kita pacaran."
"Aku tidak ingin menghukum kamu dengan hal lain. Hanya itu yang aku inginkan."
__ADS_1
Uni kembali terdiam. Lalu dia pergi dari kamar. Aro tanpa berkata lagi, putranya Akira ini malah duduk dengan santainya. "Aku tidak mau kalau sampai dia didekati oleh pria lain. Aku tidak akan menerima hal itu."
Sebenarnya dulu waktu kecil, Aro diam-diam suka memperhatikan Uni, hanya saja dia seolah-olah tidak peduli saat Uni sering memberinya bekal makanannya karena dia malu dengan teman-temannya. Aro pernah di ejek oleh teman-temannya karena sering dikejar oleh Sita saat ingin menawari bekalnya.
Uni yang selesai mencuci peralatan makan segera masuk ke dalam kamar nenek Anjani dan melihat nenek Anjani sudah tidur. Uni duduk di bawah kaki nenek dan mulai memijitnya pelan-pelan.
Nenek Anjani yang merasakan sesuatu pada kakinya membuka mata dan melihat Uni sedang memijitnya.
"Uni, kamu kenapa tidak tidur? Kamu pasti capek, jadi tidak perlu memijit kaki nenek. Istirahatlah."
"Tidak apa-apa, Nek. Aku kan sudah berjanji mau memijiti nenek setelah aku selesai melakukan tugasku."
"Nenek sudah tidak apa-apa, tadi sehabis di gosok sama minyak kaki nenek sudah enakan. Oh ya! Apa Aro sudah minum obat dan tidur?"
"Sudah, Nek."
"Kamu kenapa? Apa ada yang sedang kamu pikirkan?"
"Tidak ada kok, Nek."
"Apa Aro tadi menyakiti kamu dengan kata-katanya?" telisik nenek Anjani.
Uni menggeleng cepat. "Aro, tidak berkata kasar atau menyakitiku, Nek." Malahan Aro membuat Uni melayang dan menghempaskannya dalam kebingungan.
"Nenek kira dia menolak makan bubur dan berkata hal ketus yang membuat kamu sedih. Kalau begitu sekarang kamu tidur saja, besok pagi kamu kuliah."
"Iya, Nek." Uni berbaring di samping nenek Anjani.
Sebelumnya. Di pesta itu Ara duduk sendirian sambil melihtat suasana pesta di sana. Kedua orang tuanya dan kedua oma, opanya sedang berbincang dengan si pemilik pesta.
"Pesta dan dekorasinya sangat indah, tapi aku tidak ada yang kenal."
"Hai! Apa boleh aku duduk di sini?" Tiba-tiba ada suara di samping Ara. Ara mendongak dan melihat ada seseorang dengan tuksedo rapi berdiri di samping Ara.
"Kamu, kan, keponakan tante Maya yang tadi?"
"Iya, kamu, Ara, Kan?" Pria itu duduk di depan Ara.
__ADS_1