
"Pakai darah saya saja, pak!"
Suara itu berasal dadi belakang Azzam yang sedang menghubungi sang asisten. Suara yang tidak lain adalah milik Andita. Dua pasang langkah kaki berjalan mendekati Azzam.
Azzam segera menoleh dan menatap Andita dan Gilang secara bergantian.
"Ambil darah saya saja pak. Kami memiliki golongan darah yang sama. Saya juga baru saja memastikan bahwa saya bisa melakukam donor sekarang." ucap Andita.
Azzam pun terdiam lalu kembali menatap Andita, "Baiklah." ucap Azzam lalu dia segera memutuskan sambungan telepon dengan sang asisten.
"Kau yakin mau mendonorkan darahmu?" tanya Azzam memastikan.
Andita mengangguk yakin, "Dia adalah teman baik ku. Dia selalu ada untukku di saat aku susah dan sedih, pak. Lalu kenapa saat dia butuh bantuanku. Aku tidak membantu nya. Aku senang bisa membantu nya." jawab Andita.
__ADS_1
Gilang pun menggenggam tangan Andita yang bergetar karena sedih melihat Husna terbaring di ranjang pasien. Walaupun kondisi Husna tidak mengkhawatirkan tapi tetap saja dia yang tidak terbiasa melihat Husna di posisi seperti itu menjadi sedih. Dia tidak bisa hanya berdiam saja tanpa melakukan apapun.
"Terima saja pak bantuan nya. Dia sudah memastikan bahwa dia sehat." ucap Gilang.
Azzam menggeleng, "Saya tidak meragukan kesehatan nya Lang. Saya percaya dia sehat. Tapi mendonorkan darah juga ada resiko nya yang mungkin saja bisa pusing nanti setelah melakukan donor." ucap Azzam.
"Tidak masalah pak." ucap Andita.
Azzam pun akhirnya mengangguk saja karena tidak mungkin dia menghalangi Andita yang sudah mengajukan diri nya. Selain itu mana ada yang bisa menghalangi seorang teman dekat membantu teman nya.
Mereka pun segera menuju ruangan pendonoran dan di sana Andita segera melakukan semua prosedur pendonoran dengan di temani oleh Gilang di samping nya.
Jujur saja Gilang sendiri khawatir saat Andita memutuskan untuk mendonorkan darah nya saat mengetahui Husna butuh darah. Tapi kembali lagi dia bisa apa jika Andita sudah memutuskan membantu teman nya. Dia hanya bisa memastikan bahwa Andita akan tetap baik-baik saja setelah melakukan donor.
__ADS_1
Sementara Azzam segera mengunjungi istri nya yang saat ini sedang di jaga oleh kedua mertua nya. Dia berjalan cepat menuju salah satu ruangan perawatan kelas atas di rumah sakit itu.
Begitu tiba di depan ruangan, Azzam menghela nafas nya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk masuk menemui istri nya yang kini sedang berkembang buah cinta mereka di rahim istri nya itu.
Azzam segera mengucapkan salam dan di jawab serempak oleh orang yang berada di dalam ruangan, termasuk Husna yang juga sudah tersadar dan tersenyum menyambut kedatangan nya.
Azzam dengan senyum nya segera berjalan mendekati ranjang sang istri. Umi Balqis segera berdiri memberikan kesempatan untuk Azzam dekat dengan sang putri.
Azzam segera melabuhkan kecupan di kening istri nya itu. Kecupan yang lumayan lama hingga ke empat orang dewasa yang ada di ruangan itu pun hanya bisa saling menatap satu sama lain dan tersenyum saja.
"Terima kasih dan maaf!" ucap Azzam.
Husna pun tersenyum mendengar ucapan suami nya itu, "Tidak perlu meminta maaf mas. Aku baik-baik saja. Hanya butuh istirahat." ucap Husna.
__ADS_1
"Kebiasaan!"