
Akira mengajak kembali kedua orang tuanya berkeliling di perusahan kecilnya, Mommy Kei tampak sangat senang melihat suasana di sana. “Sayang, ternyata perusahan kamu ini ternyata luas sekali, apalagi di kelilingi oleh pemandangan yang sangat indah, selain itu udarannya sangat sejuk dan nyaman, pantas saja kamu senang berada di sini.”
“Tidak hanya itu, ada sesuatu yang sangat indah di sini, Mom.” Yang di maksud oleh Akira adalah si Nala itu.
“Kamu kapan akan kembali ke kota dan melihat perusahaan kamu? Jangan terlalu fokus di sini sehingga kamu melupakan hal yang lebuh besar di sana.”
“Aku masih belum tau, Yah. Jika urusan aku sudah selesai di sini, aku akan kembali ke sana.”
“Urusan? Urusan apa? Bukannya kamu bisa memantau perusahan ini dari tempat kamu, jangan terlalu percayakan perusahaan besar kamu di sana dengan asisten kamu. Dia mau menikah bukan? Dia pasti akan sangat sibuk
nantinya.”
“Iya, Dad. Percayalah padaku, aku akan bisa mengurus semuanya dengan baik.
“Ya sudah kalau begitu kita kembali lagi ke dalam ruangan kamu, mommy sangat lelah dan mau istirahat sebentar di sana.”
“Ya sudah kalau begitu kita kembali ke ruangan aku, nanti aku akan antar Mommy dan Daddy ke hotel di mana aku menginap.”
“Iya, kita mau di sini dalam beberapa hari sekalian kami ingin melihat-lihat suasana di sini dan mommy kangen sama kamu.”
“Kenapa kalian tidak mengajak Orlaf?”
“Dia ingin pergi ke rumah Paman dan Bibi kamu dalam beberapa hari, lagian sekolahnya juga sedang liburan.”
“Ya sudah ayo kita ke ruanganku.” Akira mengajak mereka berdua kembali ke dalam ruangan Akira. Pada saat melewati meja Silvia, Silvia hanya tersenyum kecil ke arah kedua orang tua Akira, tapi Addrian sama sekali
tidak mereseponnya. Addrian berjalan tegas dan tampak dingin.
“Pak, ini—“
Tidak lama terdengar suara cangkir jatuh, keempat orang di sana sama-sama terkejutnya dan saling memandang. “Nala,” suara mommy Kei lirih.
“Maaf, biar saja bereskan dulu pecahannya.” Nala berjongkok perlahan dan mengambil pecahan cangkir yang barusan dia jatuhkan karena terkejut. “Auw!” Tangan Nala tidak sengaja terkena pecahan cangkir dan mengeluarkan darah.
“Hati-hati, Nala.” Akira mendekat dan duduk berjongkok karena ingin memeriksa tangan Nala yang terlukan. “Tangan kamu berdarah.” Akira reflek memasukkan jari Nala ke dalam mulutnya dan mencoba menghentikan darah
__ADS_1
Nala.
“Akira, ada kedua orang tua kamu,” ucap Nala lirih dan melihat ke arah kedua orang tua Akira yang sedang memandang mereka berdua.
“Akira, hentikan itu! Kamu tidak perlu melakukan hal itu,” kata Addrian tegas.
Akira akhirnya melepaskan jari tangan Nala dan menyuruh Nala tidak perlu membereskan semua itu biar office girl lainnya yang membersihkan. “Aku akan memanggilkan office girl lainnya untuk membersihkan itu, kamu obati dulu luka di tangan kamu.”
“Akira, kenapa gadis ini bisa bekerja di sini?” Addrian melihat Nala dari atas sampai bawah.
“Dad, Nala memang bekerja di sini.”
“Apa? Apa gadis ini sengaja ingin mendekati Rhein saat tau waktu itu Rhein berada di sini? Dan sekarang Rhein tidak di sini dia gantian
ingin mendekati kamu?”
“Dad, bukan seperti itu.”
“Em ... Akira, Addrian, apa perlu kita membahas hal itu di sini? Di luar masih banyak karyawan Akira dan tidak enak jika mendengar
keributan di sini. Tolong kita nanti bicarakan saja di hotel Akira. Addrian, aku mohon.” Tatap Kei memohon.
Mommy Kei melihat ke arah perut Nala yang mulai tampak membuncit, dan Kei tau jika di dalam perut Nala itu ada calon penerus keluarga Danner. Nala berjalan melewati kedua orang tua Akira atau meretuanya.
“Nala, kamu kenapa? Kena marah sama si tua yang berambut putih itu?” tanya Silvia pelan.
“Silvia, beliau itu orang tua dari Pak Akira. Jangan menyebutnya seperti itu.”
“Iya aku tau, tapi dia sangat angkuh dan dingin sekali. Lihat saja nanti kalau anaknya jatuh cinta padaku dia pasti terkena serangan
jantung. Aku kesal sekali dengan sikapnya itu.”
Nala tidak memperdulikan dia malah izin untuk pergi ke pantry. Di dalam pantry Nala meminta bantuan kepada temannya untuk membersihkan pecahan cangkir yang ada di ruangan Pak Akira karena tangan Nala sedang
terluka.
__ADS_1
“Kedua orang tua Akira ada di sini? Kenapa Akira tidak memberitahuku? Apa Akira sengaja memanggil mereka untuk datang ke sini?” Nala
berdialog sendiri. Nala melamun duduk dekat kabin yang ada di pantry.
“Nala, kamu kenapa melamun begitu? Apa kamu ada masalah?”
“Tidak apa-apa Mba Sari. Aku hanya sedang tidak enak badan saja.”
“Apa mau aku ambilkan jus? Atau kamu meminta izin pada Pak Akira untuk pulang lebih awal?”
“Aku tidak apa-apa.”
Mba Sari mengambilkan Nala minuman hangat dan memberikan pada Nala. “Minum dulu supaya kamu agak enakan. Aku dengar bisik-bisik dari karyawan di ruang utama tadi kalau ada kedua orang tua pak Akira datang ke sini
dan mereka terlihat sangat dingin terutama ayahnya, kalau ibunya sangat bersahabat.”
“Oh iya, tadi aku juga bertemu saat mengantarkan minuman untuk Pak Akira ke ruangannya.” Nala minum teh hangat buatan Mba Sari.
“Kalau kamu tidak enak badan sebaiknya izin pulang saja, kamu terlihat pucat begitu Nala. Pasti pak Akira akan mengizinkan kamu.”
Tentu saja Nala jadi pucat begitu, dia barusan bertemu dengan ayah mertuanya yang tidak menginginkan dia masuk ke dalam keluarganya. Apalagi dia tadi juga ceroboh lagi memecahkan cangkir minuman.
“Nala kenapa, Mba Sari?” tanya salah satu teman Nala yang barusan dari ruangan Akira untuk membersihkan cangkir yang pecah. Saat dia masuk, temannya itu melihat Nala sedang duduk menyandarkan kepalanya di atas meja.
“Nala sedang tidak enak badan, aku bilang agar meminta izin pada Pak Akira, pasti dia akan diperbolehkan pulang lebih awal."
“Wah! Sepertinya tidak bisa karena Pak Akira sudah pulang tadi sama kedua orang tuanya. Katanya dia akan pulang lebih awal dan
menyerahakan urusan kantor pada sekretarisnya.”
Nala langsung mengangkat kepalanya melihat ke arah temannya tadi. “Jadi Pak Akira sudah pulang dengan kedua orang tuanya?”
“Iya, tadi aku mendengar jika ibunya pak Akira mengajak mereka kembali ke tempat pak Akira menginap karena ada urusan penting dan pak
Akira bicara kepada sekretarisnya untuk mengurus semuanya di sini.”
__ADS_1
“Apa karena kedua orang tua Pak Akira tau jika pak Akira dan Silvia terlibat dalam foto waktu itu, makannya mereka datang ke sini?” tanya Mba Sariberbisik pada Nala.
“Aku tidak tau, Mba.” Nala yakin sebentar lagi Akira akan mendapat masalah besar setelah ini.