My Secret Love

My Secret Love
Rahasia Kecil


__ADS_3

Uni teriam mekihatnoada Aro. "Ada apa, Tuan Muda Aro?"


"Temui aku di kamarku nanti."


"Aku tidak bisa, aku mau istirahat, lagian untuk apa aku malam-malam ke kamar kamu?"


"Ada hal yang perlu aku bicaraka sama kamu, Uni."


"Besok saja, ini sudah malam."


"Besok? Memang kamu ada waktu sekarang? Kamu


"Kamu saja berangkat kuliah diantar oleh pria itu." Uni terdiam. "Aro, bisa tidak kita tidak perlu terlalu dekat lagi? Kamu sudah memiliki seseorang dan aku juga. Kita bersikap biasa saja."


Aro terdiam melihat Uni berjalan pergi darinya. Uni masuk lebih dulu ke dalam rumah. "**** ... ****!" Aro marah-marah sendiri dengan kesal.


"Aku benar-benar tidak tahan dengan semua ini. Dia itu sebenarnya kenapa? Dia mencintaiku, tapi kenapa dia seolah takut bersamaku?"


Aro kesal dan masuk ke dalam kamarnya. Nala yang melihatnya tampak sangat bingung melihat wajah kusut putranya itu.


"Aro ... Aro!" panggilan Nala tidak di dengarkan oleh Aro yang sudah masuk ke dalam kamarnya. Nala masuk ke dalam kamar putranya.


"Ma, ada apa Mama ke sini?"


"Sayang, kamu kenapa? Kenapa kamu terlihat kesal seperti itu? Apa ada masalah?" Nala memegang pundak putranya.


"Aku tidak apa-apa, Ma. Aku baik-baik saja."


"Kamu jangan berbohong sama mama. Mama ini yang membesarkan kamu dari kecil, dan mama sangat tau tentang keadaan putraku."


Aro duduk di atas tempat tidurnya dan terdiam melihat ke arah depan masih dengan mendengus kesal.


"Mama jangan khawatir, aku tidak apa-apa."


"Apa semua ini karena Uni?"


Aro seketika melihat ke arah mamanya yang berdiri tepat di sampingnya.


"Mama kenapa bisa tau tentang Uni?"


Nala duduk di sebelah putranya dan dia memberikan senyum seolah Nala membuat putranya penasaran.


"Mama melihat kalian berdua di tempat pencucian saat kamu bersama dengan Uni malam itu."


"Apa? Jadi Mama melihatnya? Mama tau kalau aku dan Uni berciuaman?"


"Apa? Kamu dan Uni berciumana? Kamu mencium gadis itu?" Kedua alis Nala mengkerut

__ADS_1


"Sebenarnya dia duluan yang tidak sengaja menciumku, Ma. Sejak saat itu aku mulai jatuh cinta sama dia."


"Kamu mencintai gadis itu?"


"Iya, tapi dia tidak mau mengakui jika dia juga mencintaiku?"


"Kenapa?"


"Dia tidak mau dianggap lancang mencintai anak majikannya, dia juga minder dengan status yang hanya seorang pelayan."


"Oh." Nala ingat tentang dirinya dan Akira dulu."


"Dia juga tidak enak sama keluarga kita, dia merasa tidak pantas denganku. Padahal aku sangat mencintainya dan hal ini baru pertama aku rasakan."


"Sayang, kamu mau dengan suatu rahasia kecil tentang mama dan ayah kamu tidak?"


"Rahasia kecil tentang kalian? Rahasia apa?" Kedua alis Aro mengkerut.


"Sebenarnya kisah kamu dan Uni tidak jauh beda dengan kisah cinta mama dan ayah kamu."


"Maksudnya?"


"Mama dulu pernah bekerja di rumah keluarga besar ayah kamu, di mansion opah dan omah rambut putih kalian."


"Bekerja di sana?"


"Iya, sebagai pelayan dan sekaligus guru pengajar untuk Om kamu, Om Orlaf."


"Sebenarnya kami sudah kenal sebelum itu, bahkan kami sudah menikah waktu itu. Jadi mama bekerja sebagai pelayan di rumah ibu mertua mama dan sekaligus bekerja di rumah suami mama sendiri."


"Hah? Kenapa bisa begitu?"


"Cerita cinta mama dan ayah kamu bisa di bilang Unik dan aneh, tapi dari sana mama dan ayah akhirnya menjadi pasangan yang tidak terpisahkan sampai sekarang, bahkan memiliki kalian berdua."


"Jadi, apa Mama tidak masalah jika aku dan Uni memiliki hubungan?"


"Kalau mama tidak menyetujui kalian, sudah dari waktu aku melihat kamu dan Uni malah itu mama akan mengeluarkan Uni dari pekerjaan ini."


"Jadi? Mama setuju?" Nala mengangguk. "Serius, Ma?" tanya Aro sekali lagi tidak percaya.


"Iya, tapi kamu jangan memaksa Uni karena cinta itu tidak bisa di paksakan."


"Siapa yang memaksa?"


"Uni apa benar mencintai kamu dan yang kamu bilang semua itu benar? Jangan-jangan hanya perasaan kamu saja yang cinta sama Uni, tapi Uni tidak?"


"Huft! Dia itu mencintai aku, Ma. Lihat saja nanti akan aku buktikan sama Mama. Walaupun dia jadian sama pria bodoh itu."

__ADS_1


"Aro, jangan bicara seperti itu."


"Iya! Si Rendy. Walaupun dia jadian sama Rendy, dia tidak mencintainya, dia seperti terpaksa melakukan itu karena dia ingin aku bisa bersama dengan sahabatnya."


"Siapa? Via itu?"


"Iya, dia sangat menyayangi sahabat baikknya itu, Bu. Uni rela melakukan apapun untuk melihat kebahagiaan sahabatnya itu."


"Tapi Via juga gadis yang baik, dan dia memang yang selama ini menolong Uni."


"Aku tau, tapi apa Uni harus mengorbankan cinta dia sama aku hanya karena sahabatnya juga mencintai aku? Itukan benar-benar tidak adil buatku, Ma?"


"Memangnya kamu tidak menyukai gadis bernama Via itu?"


"Aku sudah lama satu kelas sama dia, tapi aku tidak pernah memiliki perasaan apa-apa sama dia, Ma. Aku hanya menyukai Uni. Gadis itu benar-benar membuatku kesal!"


Nala tersenyum melihat wajah putranya yang baru pertama dia lihat seperti itu.


"Hem ... Mama jadi bingung dengan kalian. Eh terus! Kamu dan Sifa itu apa?"


"Kita hanya dekat, dan dia malah mau membantuku untuk membuat Uni cemburu dan akhirnya mau mengakui perasaannya sama aku."


"Ya sudah kalau begitu. Mama akan selalu mendukung apa yang mau kamu lakukan untuk mendapatkan cinta kamu itu." Nala beranjak dari sana.


"Ma, jangan cerita sama ayah dulu, Ya?"


"Tenang saja. Selamat berjuang ya jagoan mama." Nala mengangkat salah satu tangannya dan menekuknya seolah menunjukkan ototnya. Nala itu sedang memberi semangat untuk putranya.


"Terima kasih, Mama."


Wanita cantik itu berjalan keluar dari dalam kamar putranya. Aro kembali termenung memikirkan agar dia secepatnya membuat Uni mengakui perasaannya.


Di luar rumah Nala, ada Ara dan Mas David yang baru saja tiba, ternyata mereka dari tadi pergi jalan-jalan sebentar untuk membeli sesuatu.


"Ara, ini untuk kamu."


"Hah? Untuk aku? Bukannya tadi Mas David bilang membeli ini untuk sepupu Mas David yang akan berulang tahun?"


"Aku berbohong." David terkekeh.


"Berbohong? Kenapa pakai acara berbohong? Aku kan paling tidak suka dibohongi, Mas David." Ara mengerucutkan bibirnya.


"Maaf, aku tidak bermaksud begitu sama kamu. Kalau seumpama aku bilang ingin membelikan kamu baju itu dan sepatu itu, apa kamu mau menerimanya?"


"Aku pasti menolaknya."


"Tuch kan benar! Berarti apa yang aku lakukan sama kamu tidak salah, kan?"

__ADS_1


"Tetap saja salah, namanya berbohong itu salah Mas David."


"Tapi, kan, aku berbohong demi kebaikan. Mau kan menerima ini dariku?" David menunjukkan wajah memelasnya. Ara langsung tertawa senang.


__ADS_2