
Tepat setengah delapan, Gentala sudah tiba di kediaman utama. Dia segera masuk begitu di persilahkan masuk oleh orang tua Husna yang memang berada di ruang tamu.
Husna dan Azzam yang baru saja melaksanakan sholat bersama di kamar mereka turun dan tersenyum begitu melihat Gentala sudah tiba dengan pakaian rapi nya.
“Dia sangat tampan kau suamiku?” tanya Husna tanpa sadar bahwa ucapan nya itu akan membuat boomerang untuk nya. Dia segera melangkah sedikit cepat hingga tidak menyadari bahwa Azzam sudah berhenti di belakang nya.
“Oh gitu jadi sekarang Gentala yang tampan, suamimu ini tidak.” Sindir Azzam.
Husna pun menghentikan langkah nya dan menoleh ke belakang di mana suami nya sudah berada jauh sekitar tiga meter dari nya.
Husna pun segera melangkah ke arah suami nya saat sadar telah salah bicara dan menimbulkan rasa cemburu pada suami nya yang super posesif itu. Dia lupa bahwa dia memiliki suami yang sangat posesif hingga tanpa sadar memuji pria lain. Padahal itu hanya pendapat secara refleks saja. Tidak berhubungan dengan perasaan nya. Pujian sesaat saja saat melihat seorang pria. Di hati nya hanya ada Azzam Faruq Munawwir saja, suami nya, satu-satu nya dan tak akan tergantikan oleh siapa pun. Walaupun di luar sana mungkin banyak yang lebih baik dari suami nya. Tapi untuk nya suami nya sudah paket sempurna. Jadi untuk apa dia berpaling pada pria lain jika suami nya saja sudah sempurna walaupun di dunia ini tak ada yang sempurna selain Allah tentu saja. Pencipta alam semesta. Namun bagi Husna, Azzam sudah sangat sempurna untuk nya. Azzam hanya punya satu kekurangan saja yaitu sangat posesif tapi dia tidak keberatan akan hal itu mengingat bahwa itu adalah ungkapan cinta dan kasih sayang dari suami nya. Selain itu, dia juga sudah terbiasa di posesifin seperti itu sejak dia kecil oleh orang tua nya.
“Mas, jangan cemburu. Maaf aku telah salah bicara. Refleks!” ucap Husna membujuk suami nya itu yang sudah menunjukkan ekspresi suram nya.
“Maka nya jangan memuji pria lain walaupun tidak di sertai dengan perasaan.” Ucap Azzam menyentil hidung istri nya itu gemas. Dia mana mungkin bisa marah jika istri nya itu sangat menggemaskan di mata nya.
Husna tersenyum lalu segera menggandeng lengan sang suami, “Ya sudah, ayo kita temui tamu nya. Ah bukan calon adik iparmu itu, mas.” Ucap Husna yang di balas senyuman oleh suami nya.
“Na, Pak Azzam.” Sapa Gentala begitu Azzam dan Husna ikut bergabung duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu.
“Zahra sedang bersiap. Mungkin sebentar lagi dia turun.” Ucap Husna.
Gentala pun mengangguk mengerti, “Nak, kamu akan mengajak nya kemana?” tanya Abi Syarif yang masih saja khawatir hingga ucapan abi Syarif itu mendapatkan sentilan di paha nya yang di lakukan oleh umi Balqis.
“Gen ingin mengajak nya keluar makan malam saja, abi.” Jawab Gentala karena memang abi Syarif dan umi Balqis meminta di panggil seperti itu oleh teman-teman Husna itu ketimbang tante atau om.
“Bi, kenapa juga harus mengajukan pertanyaan seperti itu. Na, kami percaya padamu akan menjaga Zahra dengan baik. Tidak akan melakukan hal buruk pada nya. Kau membawa nya dalam keadaan utuh maka sudah pasti kau memiliki kewajiban untuk mengembalikan nya dalam keadaan utuh juga. Bukan kah begitu?” ucap umi Balqis.
Gentala mengangguk, “Saya paham apa yang umi maksud. Saya janji akan memulangkan Zahra dalam keadaan utuh tanpa kurang sedikit pun. Kepercayaan yang sudah kalian berikan kepada saya tidak akan saya kecewakan. Gen juga paham apa yang abi khawatirkan. In Syaa Allah Gentala akan menjaga Zahra dengan baik, tidak akan berbuat buruk pada nya. Jika itu terjadi karena di luar kendali saya, saya bersedia menerima hukuman apapun yang akan abi atau pun kalian semua berikan untuk menghukum saya.” ucap Gentala tegas. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam perkataan nya. Hingga abi Syarif pun tersenyum mendengar ucapan tegas Gentala. Dia seperti pernah melihat ketegasan itu sebelum nya.
Yah, ketegasan yang sama saat Azzam meminta menikahi Husna. Anak itu datang dengan keyakinan nya dan hanya berbekal kepingan puzzle ingatan nya memberanikan diri melamar putri tunggal nya yang sudah beberapa kali menolak pria. Tapi berkat ketegasan Azzam, dia pun luluh dan mempercayakan kebahagiaan sang putri pada Azzam yang kini sudah jadi menantu nya dan sebentar lagi akan jadi ayah dari cucu nya kelak.
“Baiklah, abi percaya padamu. Tolong jaga Zahra dengan baik. Dia adalah bagian dari keluarga abi. Putri kedua abi. Jadi jika kau melukai nya sedikit pun maka kami akan memberikan hukuman untukmu. Hukuman yang mungkin saja akan melukai fisikmu.” Ucap Abi Syarif lembut. Tapi Gentala tahu di balik kelembutan itu adalah ancaman yang tersirat.
“Abi kau menakuti nya. Sudah lah, Gen. Abi dan umi hanya khawatir saja pada Zahra. Aku dan mas Azzam percaya bahwa kau laki-laki baik yang akan menjaga kehormatan kalian.” ucap Husna.
“Jika memang kau sudah tidak bisa menahan napsumu. Lebih baik menikah.” Ucap Abi Syarif.
“Abi!” ucap Umi Balqis tegas.
Abi Syarif pun tersenyum jengah, “Abi hanya memberikan saran untuk nya umi. Terserah dia mau mengikuti saran itu atau tidak. Bukan kah usia nya sudah cukup untuk menikah. Bukan kah lebih baik menikah saja dari pada merusak kehormatan seorang gadis dan berbuat dosa.” Ucap Abi Syarif.
“Jangan perlakukan Zahra sama seperti putri kita bi. Husna dan Zahra berbeda. Mereka memiliki kepribadian yang berbeda. Jika Husna tidak pernah menolak dan berkomentar akan apa yang kita lakukan pada nya mau itu larangan yang aneh sekali pun maka berbeda dengan Zahra. Dia adalah anak yang berbeda. Jangan samakan. Lagi pula menikah butuh persiapan. Bukan karena ingin saja lalu menikah. Finansial harus mencukupi karena menikah itu butuh makan untuk bertahan hidup. Cinta tidak akan membuat kenyang.” Ucap Umi Balqis yang tentu saja tidak ingin mengulang kesalahan yang sama yang di lakukan pada sang putri.
Jujur saja dia merasa bersalah karena larangan yang mereka buat untuk Husna saat putri mereka itu belum menikah. Kekhawatiran berlebihan hingga membuat mereka sangat protektif dan posesif pada putri mereka itu. Tapi untung lah Husna walaupun di larang ini itu tidak membuat nya tertinggal dari anak-anak lain di luaran sana. Husna tetap mampu menyesuaikan dengan lingkungan luar nya.
“Umi, jangan katakan itu lagi.” Ucap Husna yang memang tidak suka melihat orang tua nya menyalahkan diri mereka.
Walaupun memang harus dia akui bahwa apa yang di lakukan orang tua nya pada nya itu membuat nya kadang mengeluh tapi kembali lagi kini dia justru mendapatkan bahagia tiada tara berkat ketaatan nya pada orang tua nya.
“Biarkan mereka mengambil keputusan sendiri, bi. Kita tidak perlu ikut campur.” Ucap umi Balqis lagi.
Abi Syarif pun mengangguk saja karena dia tidak mungkin membantah ucapan sang istri apa bila istri nya itu sudah mengungkit sang putri. Kasih sayang yang berlebihan yang mereka miliki untuk sang putri yang mereka miliki setelah banyak usaha membuat nya sangat mengekang dan menjaga Husna layak nya burung dalam sangkar. Semua yang di lakukan sang putri harus mendapatkan persetujuan dari nya.
Pembicaraan itu terpotong saat mereka mendengar suara langkah dari lantai dua. Mereka segera menoleh ke arah tangga di mana di sana Zahra sudah siap dengan pakaian yang di berikan Husna untuk nya. Sangat cantik.
Husna dan Azzam pun tersenyum menatap Zahra begitu juga dengan Gentala yang terpana melihat gadis yang sudah mencuri hati nya itu hingga ke sudut terdalam. Dia sendiri tidak lagi bisa menemukan ruang agar bisa membuang sedikit ruang hati nya. Namun memang dia pun tak menginginkan perasaan cinta di hati nya itu menghilang untuk Zahra, gadis pertama yang sudah membuat nya jatuh cinta sedalam itu. Mungkin dia akan memikirkan saran dari abi Syarif terkait menikah.
Zahra yang di pandang oleh semua orang menjadi malu dan salah tingkah, apalagi dia di tatap sedalam itu oleh Gentala, laki-laki yang dia kagumi semenjak menjadi mahasiswa di kampus yang sama dengan sang kakak ipar.
Tapi kemudian dia ingat harus melakukan apa. Dia berjalan cepat mendekati Husna, “Kakak ipar, terbaik!” ucap nya dengan memeluk kakak ipar nya itu.
Husna pun tersenyum saja, “Sudah, sana Gentala sudah menunggu sejak tadi. Jangan membuat nya lagi menunggu lama. Lagi pula kau belum makan malam.” Ucap Husna melerai pelukan nya.
“Tetap saja aku harus mengucapkan terima kasih. Aku suka ini.” bisik nya lirih hingga hanya Husna dan Azzam yang bisa mendengar nya.
Husna pun tertawa, “Baiklah. Kakak menerima ucapan nya. Sekarang, ayo pergi. Jangan menyia-nyiakan waktu.” ucap Husna.
Setelah itu, Zahra dan Gentala pun pamit pergi.
“Abi, umi, Zahra pamit pergi bersama kak Gen ya. Zahra janji akan pulang cepat kok.” ucap Zahra meminta izin.
Abi Syarif pun tersenyum lalu mengangguk, “Hati-hati ya.” Ucap abi Syarif dengan lembut.
Zahra itu layak nya putri kedua bagi nya hingga kekhawatiran yang sama seperti menjaga Husna dia rasakan saat Zahra di ajak pria pergi walaupun dia tahu dan bisa menilai bahwa Gentala bukan lah orang bejat.
__ADS_1
“Nikmati waktumu, nak.” ucap umi Balqis memeluk Zahra.
“Terima kasih, umi.” Balas Zahra.
“Kakak ipar, abang!” panggil Zahra saat dia berpamitan pada Husna dan Azzam.
“Pergi lah. Nikmati waktumu.” Ucap Azzam.
Zahra pun mengangguk lalu mereka segera pamit ke depan dengan di antar Husna dan Azzam.
“Gen, jaga adikku. Hati-hati mengemudi.” Pesan Azzam saat Zahra dan Gentala sudah berada di mobil.
Gentala pun mengangguk dan membalas nya penuh hormat.
Setelah itu mobil Gentala pun segera berlalu dari kediaman utama dan menuju tempat yang sudah dia siapkan untuk menjadi tempat kencan mereka malam ini. Walaupun tidak ada status yang pasti dalam hubungan kedua nya tapi bagi Gentala ini adalah bagian dari kencan kedua nya.
“Aku harap dia senang, mas.” Ucap Husna.
“Tentu saja dia akan senang sayang. Memiliki kakak ipar sepertimu mana mungkin dia tidak senang dan bahagia. Bahkan sampai pakaian yang akan dia gunakan berkencan pun di siapkan olehmu padahal kau sedang hamil.” Ucap Azzam saat mereka kembali masuk ke dalam.
Husna dan Azzam kembali bergabung dengan kedua orang tua Husna itu. Jangan tanya kenapa hanya tinggal mereka berempat di sana. Karena Andita ikut Gilang dan ibu Diyah selepas makan malam dia sibuk mengemas barang yang akan dia bawa pergi besok.
“Umi, abi, Husna mau bicara sesuatu.” ucap Husna tiba-tiba hingga Azzam pun bertanya-tanya istri nya itu mau mengatakan apa.
“Iya, kamu mau bicara apa nak?” tanya umi Balqis.
“Husna dan mas Azzam ingin kembali menghuni kediaman mas Azzam sebelum nya. Husna--”
“Gak, kamu tingal lah di sini. Setidak nya selama kehamilanmu saja.” potong abi Syarif.
“Abi, kita dengarkan dulu penjelasan putri kita dan alasan nya kenapa memilih tinggal di sana. Jangan terlalu ikut campur dengan keputusan mereka. Ini adalah rumah tangga putri kita.” Ucap umi Balqis. Walaupun dia juga menginginkan hal yang sama dengan sang suami yaitu putri nya itu tinggal bersama mereka.
Jujur saja jauh dari Husna rasa nya kediaman utama itu sunyi padahal walau Husna ada pun putri mereka itu tidak heboh. Namun tetap saja ketika Husna tidak tinggal bersama mereka, entah kenapa terasa ada yang kurang dan hilang. Tapi kali ini dia tidak ingin egois dengan memaksa Husna tinggal bersama mereka.
“Tapi umi putri kita--”
“Abi, Husna paham apa yang abi khawatirkan. Husna hamil dan abi juga umi pasti ingin menjaga Husna dengan menahan Husna tinggal di sini. Husna bukan tidak suka tinggal bersama abi dan umi hanya saja Husna ingin membangun dan merasakan bagaimana menjalankan rumah tangga Husna sendiri. Husna harap umi dan abi mengerti apa keinginan Husna ini.” ucap Husna lembut dan menatap kedua orang tua nya itu dalam.
Memang menjadi anak tunggal itu ada enak dan tidak enak nya.Enak nya mungkin tidak akan ada yang berebut warisan dengan kita. Yah, bukan kah itu adalah pendapat orang kebanyakan di luar sana terkait anak tunggal. Tapi mereka tidak tahu tidak enak nya jadi anak tunggal yang tidak punya teman bicara, jadi harapan satu-satu nya, lalu bagian lain nya yah saat ini, saat berkeluarga akan sulit memilih tinggal di mana karena bingung mau meninggalkan orang tua sendiri dan membangun keluarga kecil sendiri atau tinggal bersama mereka. Itu hanya lah sebagian kecil dari tidak enak nya jadi anak tunggal.
Husna pun menoleh ke arah sang suami lalu diam, “Jika memang abi tidak mengizinkan maka kami akan tinggal di sini sedikit lebih lama lagi. Tapi jika nanti kandungan Husna di pastikan sehat maka tidak menutup kemungkinan Husna akan tetap pindah dari rumah ini. Husna harap abi paham.” Ucap Husna akhir nya.
Lagi-lagi dia tidak bisa melihat kedua orang tua nya itu sedih. Lagi-lagi dia kalah dengan perasaan nya.
Setelah itu, Husna dan Azzam pun segera pamit istirahat. Begitu juga dengan abi Syarif dan umi Balqis yang segera masuk ke kamar mereka.
“Abi, kita terlalu mengekang nya. Bagaimana pun dia sudah memiliki keluarga nya sendiri. Kita lagi-lagi telah bertindak egois pada nya.” ucap umi Balqis.
“Abi belum sanggup jika harus tinggal terpisah dari nya, mi. Umi tahu sendiri kan dia itu permata nya abi. Jika dia tidak tinggal bersama kita, abi layak nya cincin tanpa pertama. Tidak bersinar.” Ucap abi Syarif menghela nafas nya karena sadar lagi-lagi telah bertindak egois pada putri tunggal nya. Tapi mau bagaimana lagi jika dia memang tidak sanggup jika harus tinggal terpisah dengan sang putri.
“Umi juga ingin dia tinggal di sini tapi umi juga tahu apa yang dia rasakan yang ingin merasakan bagaimana mengelola keluarga nya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Kita memang tidak ikut campur dengan urusan rumah tangga nya terkait bagaimana dia melayani suami nya. Tapi tentu saja tinggal bersama akan membuat nya canggung walaupun ini adalah rumah kita, orang tua kandung nya. Selain itu, aku juga paham bahwa putri kita itu ingin berkreasi dengan masakan nya. Dia itu pintar memasak sedangkan di sini bersama kita dia jarang ke dapur apalagi kali ini di tambah dengan keadaan nya yang sedang hamil.” Ucap umi Balqis.
“Sudah lah, sekarang kita istirahat saja umi. Jangan di pikirkan lagi hal itu. Setidak nya Husna menunda kepergian nya sejenak. Kita akan memikirkan lagi ke depan nya bagaimana baik nya.” ucap abi Syarif.
Sementara di kamar Husna dan Azzam, kini sepasang suami istri itu berada di ranjang dengan Azzam yang memijat kaki Husna.
“Mas, maaf aku--”
Azzam menggeleng, “Jangan meminta maaf sayang. Aku tidak menyalahkanmu untuk ini. Lagi pula kau bicara ini dengan kedua orang tuamu tanpa bicara dulu padaku. Aku tidak menyangka kau akan mengatakan itu tadi. Umi dan abi tidak salah sayang. Mereka hanya terlalu mengkhawatirkanmu hingga tidak rela jika kau tinggal terpisah dari mereka.” ucap Azzam.
“Justru karena hal itu aku merasa bersalah padamu, mas. Aku—”
“Jangan mengatakan hal seperti itu sayang. Kau tahu apapun yang kau lakukan mas tidak akan pernah marah padamu. Mas juga paham kau adalah putri tunggal mereka satu-satu nya yang mereka miliki jadi tinggal bersamamu adalah keinginan mereka yang pasti nya tidak akan bisa mereka relakan walaupun kau sudah menikah. Mas juga sudah mempersiapkan diri untuk ini sebelum nya sebelum menikah denganmu. Itu adalah salah satu syarat yang harus mas penuhi saat melamarmu pada abi dan umi waktu itu. Jadi jangan terlalu di pikirkan.” ucap Azzam.
“Tapi kita jadi tidak memiliki privasi, mas. Aku jadi tidak memiliki kesempatan melayanimu.” Ucap Husna.
“Kata siapa kita tidak punya privasi sayang. Umi dan abi tidak pernah ikut campur dalam rumah tangga kita selain itu pindah rumah. Untuk hal lain nya mereka tidak ikut campur. Lalu kata siapa juga kau tidak melayaniku. Jika tidak mana mungkin saat ini kau sedang ha—” ucap Azzam tersenyum menggoda.
Husna pun tersenyum jengah, “Ck, bukan itu maksudku mas. Bukan melayanimu dalam hal ranjang. Tapi melayanimu dalam hal lain, seperti memasak untukmu dengan tanganku sendiri. Aku tidak bisa melakukan itu saat berada di sini karena semua makanan selalu di siapkan oleh pelayan. Padahal aku ingin membuatkanmu makanan yang di buat tanganku sendiri. Bakat memasakku kan jadi sia-sia jika begitu model nya.” ucap Husna.
Azzam pun terkekeh mendengar ucapan istri nya itu, “Tidak perlu memasak untukku sayang. Aku menikahimu bukan untuk menjadikan mu pembantu atau pelayan. Kau adalah istriku. Kita membangun rumah tangga bukan rumah makan. Jadi--”
“Ck, aku tahu itu mas. Namun tetap saja sekali-kali aku ingin memasak untukmu.” Ucap Husna.
“Jika itu mungkin bisa di bicarakan dengan umi dan abi sayang. Aku bukan tidak ingin kita pindah rumah ataupun tetap ingin tinggal di sini bersama abi dan umi. Hanya saja ini adalah cara terbaik yang bisa kita lakukan. Aku bisa membelikanmu rumah--”
__ADS_1
“Mas, aku tidak meragukanmu dalam hal itu. Rumah baru? Aku yakin kau bisa membelikan nya untukku. Tapi sekali lagi aku bosan tinggal di rumah yang besar. Kediamanmu bersama Zahra adalah kediaman yang ku sukai. Sederhana dan menyenangkan. Lagi pula kau pun juga tahu bahwa aku memiliki beberapa kediaman lain, bukan?” ucap Husna.
Azzam pun mengangguk, “Lalu bagaimana sekarang? Mas juga bingung.” Ucap Azzam.
“Aku akan bicarakan lagi dengan umi dan abi. Aku ingin kita tinggal berdua saja, mas. Bebas mau melakukan apapun.” Ucap Husna.
Azzam pun tersenyum mendengar ucapan istri nya itu. Dia sendiri pun menginginkan hal itu. Tinggal berdua saja. Tapi tidak mungkin dia egois saat kedua mertua nya menginginkan untuk tetap tinggal dengan putri mereka, mana mungkin dia akan memaksa untuk tinggal berdua saja.
“Kita harus bicarakan baik-baik dengan mereka sayang.” ucap Azzam masih memijat kaki Husna.
Husna mengangguk, “Cukup, mas. Terima kasih atas pijatan nya. Ayo temani ayo tidur. Aku mengantuk dan lelah. Pengen istirahat.” Ucap Husna mengajak suami nya itu segera berbaring.
Azzam pun segera menurut dan menemani istri nya itu berbaring di ranjang. Azzam segera memeluk istri nya dan kedua nya pun segera melakukan deep talk terkait bagaimana mendidik anak mereka nanti. Deep talk sebelum tidur memang menjadi rutinitas wajib di lakukan kedua nya sebelum tidur. Itu adalah cara kedua nya dalam mempererat hubungan.
***
Kita tinggalkan pasangan suami istri yang sedang bingung akan tinggal di mana, mari kita beralih pada pasangan yang akan melakukan kencan berdua tanpa status.
Gentala segera memarkirkan mobil nya di salah satu restoran elit. Dia segera turun dan membukakan pintu untuk Zahra lalu kedua nya segera berjalan berdampingan masuk ke dalam restoran.
Begitu masuk mereka segera di arahkan ke ruangan yang sudah di pesan oleh Gentala sebelum nya. Sebuah ruangan yang sudah di hiasi bunga hingga kesan romantis itu dapat. Ruangan yang di hiasi lilin di sekeling nya hingga menambah kesan romantis. Sungguh, ruangan itu membuat Zahra terpukau karena tidak menyangka Gentala bisa menyiapkan hal ini dalam waktu yang singkat.
“Silahkan duduk, tuan putriku.” Ucap Gentala menarik kursi untuk di duduki Zahra.
Zahra pun tersenyum lalu segera duduk dan meletakkan tas nya di meja, “Ini sangat indah. Aku menyukai nya.” puji Zahra. Itu sebenar nya bukan sekedar pujian biasa tapi memang dia suka tempat itu.
“Syukur lah kalau kau menyukai nya.” ucap Gentala segera mengambil tempat duduk berhadapan dengan Zahra.
“Kapan kakak menyiapkan ini? Bukan kah kita baru sepakat untuk jalan malam ini tadi sore?” tanya Zahra penasaran.
Gentala tersenyum mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Zahra, “Itu--”
“Apa aku harus menjelaskan nya secara detail?” tanya Gentala.
Zahra pun mengangkat bahu nya, “Terserah.” Jawab Zahra. Fiks, Zahra masih perawan karena jawaban terserah adalah jawaban khas gadis perawan. Itu lah yang sering dia dengar dari pembicaraan orang-orang padahal sering kali dia juga mendengar ada ibu-ibu yang sudah memiliki anak menjawab pertanyaan suami nya dengan kata terserah. Sudah lah dia tidak ingin memusingkan teori itu lagi. Teori tanpa penemu yang jelas.
“Sebenar nya aku memesan tempat ini juga dadakan dan Alhamdulillah hasil nya tidak mengecewakan.” Ujar Gentala.
“Itu berarti mereka memang professional hingga bisa menyulap tempat ini menjadi sangat indah.” Ucap Zahra.
“Itu benar. Ohiya, apa kita akan makan?” tanya Gentala.
Zahra pun mengangguk. Gentala yang melihat itu segera memberi kode kepada pramusaji untuk segera mengantarkan pesanan nya. Yah, sudah sampai makanan pun dia pesan. Sedetail itu ketika dia mempersiapkan sesuatu. Ini adalah kencan nya. Tentu saja harus perfect.
Tidak lama dua orang pramusaji pun segera mengantarkan pesanan mereka dan menata nya di meja. Zahra tersenyum saat melihat makanan yang di pesan Gentala itu rata-rata adalah makanan kesukaan nya.
“Ini--”
“Yah, ini adalah beberapa makanan favoritmu. Semoga kau menyukai nya. Jangan tanya dari mana aku mengetahui nya karena aku sudah bertanya pada abangmu. Aku harap aku tidak salah memesan.” Ucap Gentala.
Zahra menggeleng, “Ini perfect. Tapi kenapa hanya makanan favoritku saja yang di pesan. Lalu makanan favorit kakak?” tanya Zahra.
“Aku menyukai makanan favoritmu.” Jawab Gentala. Singkat tapi mampu membuat hati Zahra meleleh.
“Ah begitu. Baiklah. Jika memang begitu ayo makan.” Ucap Zahra hendak memotong steak.
“Biar aku lakukan.” Ucap Gentala.
Zahra pun tidak bisa menolak dan menunggu Gentala memotong steak dan memberikan nya untuk nya.
“Terima kasih!” ucap Zahra setelah Gentala selesai memotong steak dan memberikan nya pada nya.
Gentala pun tersenyum saja dan memotong milik nya. Setelah nya kedua nya pun menikmati menu makan malam itu dengan hikmat.
Kurang lebih setengah jam akhirnya sesi makan malam itu berakhir dengan di iringi music romantis di sudut ruangan.
“Kita pulang atau?” tanya Gentala.
“Terserah kakak. Bukan kah itu belum terlalu malam?” balas Zahra.
Gentala pun tersenyum lalu mengangguk, “Kita menonton?” tanya Gentala.
Zahra mengangguk, “Tapi tiket nya?” tanya Zahra balik.
“Ini--”
__ADS_1