
Uni benar-benar dibuat malu oleh Aro dihadapan Ara. "Aro, cukup, jangan bicara yang tidak-tidak lagi, aku beneran malu jika kamu menceritakan semua ini pada Ara. Aku tidak mau nanti Ara salah paham. Apalagi keluarga kamu mengetahui hal ini."
"Tunggu. Kalian benaran pacaran?"
"Tidak!"
"Iya!"
Ara semakin bingung mendengar jawaban berbeda dari dua orang yang ada di depannya. "Aro! Kamu memaksa Uni agar mau pacaran dengan kamu?"
"Aku tidak memaksa, tapi dia harus mau jadi pacarku karena dia adalah gadis pertama yang mau mengambil ciumanku."
"Hah? Mengambil ciuman kamu? Kok bisa?" Sekarang Ara melihat ke arah Uni. Uni malah mengerucutkan bibirnya.
"Aku kan bilang minta maaf dan tidak sengaja melakukan hal itu. Lagian itu juga ciuman pertamaku, tapi aku tidak menuntut apa-apa sama kamu."
"Salah sendiri, kenapa tidak menuntut apa-apa denganku."
Ara semakin bingung dengan mereka berdua. "Cukup! Sekarang aku mau tanya. Apa kalian berdua sebenarnya ada perasaan cinta atau tidak?" Aro dan Uni saling melihat. "Lah! Kenapa malah saling lihat-lihatan?"
"Ara, aku tidak mau memikirkan hal tentang ini dulu, lagian ada gadis di kampus Aro yang sangat mencintainya, dan aku yakin Aro akan cocok sama dia."
"Siapa?" Kedua alis Aro mengkerut. "Apa Via maksud kamu?" Uni mengangguk. "Aku tidak memiliki perasaan apa-apa sama dia, tapi sama kamu ada sesuatu hal yang aku rasakan." Uni hanya bisa terdiam. Dia sendiri saja bingung dengan perasaanya pada Aro?
"Aku sih setuju saja kalian jadian, malah aku senang. Mungkin kedua orang tua kita juga nenek akan setuju juga."
"Ara, jangan bilang apa-apa sama mereka, aku tidak mau mereka sampai mengira aku dan Aro memang ada hubungan. Aku hanya pelayan di rumah kalian, dan kalian adalah majikan aku, aku tidak mau dianggap melunjak nantinya," terang Uni lirih.
"Baiklah! Tentang hubungan ini tidak akan ada yang tau, tapi mulai sekarang kamu dan aku adalah sepasang kekasih," ucap Aro tegas.
"Tapi, Aro--."
Belum selesai Uni berkata, Aro menghentikan mobilnya dan kemudian melepaskan sabuk pengamannya, dia menarik tubuh Uni dan menciumnya di depan Ara. Ara melongo melihat hal itu bahkan Ara sangat terlihat shock.
__ADS_1
"Aku cuma ingin mengingatkan jika kamu adalah pacarku sekarang," ucapnya santai.
Uni menutup mulutnya dan menatap kesal pada Aro. "Kenapa selalu mencium paksa aku?"
"K-kalian berciuman benaran? Ya ampun!"
"Ara, sudah sampai, kamu turun, nanti terlambat masuk kampus. Aku mau mengantar kekasihku."
Ara baru sadar dan melihat dia sudah ada di depan kampusnya. "Iya-iya, aku turun, aku tidak akan mengganggu kalian. Senangnya akhirnya aku mempunyai calon ipar yang baik. Bye Uni! Kamu harus sabar dalam menghadapi saudara kembarku ini." Ara keluar dari dalam mobil."
Aro kembali melanjutkan mobilnya dan Uni duduk dia di samping Aro. Dia benar-benar takut sekarang sama Aro, apalagi berdua begini. Aro walaupun dingin ternyata dia si pemaksa yang romantis.
Tidak lama mobil mereka sampai di depan gerbang kampus Uni dan saat Uni akan keluar, tangannya dipegang oleh Aro.
"Kamu kenapa diam-diam saja? Apa marah sama aku?"
"Aku tidak marah sama kamu, aku hanya kesal saja karena kenapa malah menciumku di depan Ara begitu?"
"Memangnya kenapa? Ara itu saudara kembarku, dia juga berhak tau tentang kita. Lagian dia juga lambat laun akan mengetahui masalah ini."
Cup!
Lagi-lagi Aro mengecup Uni tanpa assalammualaikum.
"Aro!" seru Uni kesal.
"Awas kalau kamu menyebut perbedaan antara kamu dan aku, aku tidak pernah menganggap kamu pembantu atau pelayan di rumahku. Kamu kekasihku. Uniku."
Uni tertegun mendengar apa yang barusan di katakan oleh Aro tentang dirinya. Uni merasa jika Aro terlihat serius ingin menjalin hubungan dengannya, walaupun terlihat dingin begitu.
"Aro, aku tidak tau harus menjawab apa? Yang jelas aku--?" Uni menunjukkan wajah bingungnya. "Kamu tidak seharusnya meminta aku untuk menjadi kekasih kamu."
"Aku sudah mengambil keputusan ini, kamu tidak perlu takut dan khawatir, aku akan bertanggung jawab atas semuanya."
__ADS_1
"Aro, apa aku boleh meminta sesuatu sama kamu?"
"Katakan?"
"Aro, aku harap tidak ada yang tau akan hal ini, keluarga kamu dan teman-teman kamu di kampus, apalagi Via. Jujur saja dia sangat menyukai kamu dan aku tidak mau dikira mengkhianatinya. Dia gadis yang sangat baik. Kenapa kamu tidak memilihnya saja, aku yakin dia akan--."
Sekali lagi Aro mengecup bibir Uni yang nyerocos saja, dan kali ini ciuman mereka agak lama. Uni bahkan menikmati lagi ciuman dari Aro.
Saat Aro melepaskan ciumannya, kedua dahi mereka masih menempel satu sama lainnya dan terlihat napas Uni yang naik turun.
"Jangan katakan apapun. Aku tidak mau kamu banyak berbicara hal yang penting. Sekarang kamu masuklah ke kelas." Aro mengusap lembut pipi Uni. Uni yang tidak bisa berkata apa-apa lagi turun dari mobil Aro dan berjalan dengan langkah berat tanpa menoleh lagi pada mobil Aro.
"Uni!" Tiba-tiba ada seorang cowok yang menghampiri Uni dan memegang pundak Uni dari samping. Uni yang kaget langsung menoleh dan mencoba menghindar dari tangan pria itu.
Aro yang di dalam mobil melihatnya seketika keluar dari dalam mobil dan berjalan menghampiri mereka.
"Bisa tidak kamu sopan dengan pacarku?" Tiba-tiba suara tegas dan mengintimidasi terdengar di belakang mereka.
"Aro?"
"Kamu siapa?"
"Aku pacarnya, kamu jangan kurang ajar dengan pacarku," ucapnya sekali lagi dengan nada ketus.
Pria itu melihat ke arah Uni dan mencoba mencari tau apa itu benar?
"Aro, kamu berangkatlah ke kampus sekarang, aku tidak mau kamu terlambat." Uni menggandeng tangan Aro dan menyuruhnya kembali ke mobil.
"Kamu masuklah dulu ke kelas kamu, dan baru aku akan pergi."
Uni akhirnya menurut dan pergi ke dalam kelasnya meninggalkan pria yang tadi menyapa Uni. Aro sekali menatap pria itu dengan tatapan dingin kemudian dia pergi dari sana.
Di dalam kelasnya Uni duduk sendirian memikirkan tentang hal tadi. Dia tersenyum sendirian. "Kenapa aku malah menikmati ciuman tadi? Aku kan sudah berjanji akan menghindarinya, tapi kenapa aku malah seolah semakin tidak bisa jauh darinya?"
__ADS_1
Uni sekali lagi menundukkan kepalanya di bawah meja. "Aku benar-benar menjadi teman yang jahat buat Via kalau seperti ini? Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa agar membuat Aro untuk tidak menjadikan aku pacarnya. Aro! Kenapa kamu membuatku dalam kesulitan seperti ini?"