
“Ini--” ucap Gentala sambil mengeluarkan dua buah tiket film yang sangat ingin di tonton oleh Zahra tapi belum sempat menonton nya karena kesibukkan yang tiada habis nya.
“Kenapa kakak bisa membeli tiket ini?” tanya Zahra sedikit kaget. Walaupun dia sudah menebak sebelum nya bahwa kemungkinan ini ada campur tangan dari kedua kakak nya. Azzam dan Husna itu memang totalitas membantu mendekatkan nya dengan orang yang dia cintai ini.
“Aku--”
“Ah tidak usah di jawab kak. Lebih baik sekarang kita segera pergi dan menonton nya. Aku menyukai film itu.” ucap Zahra.
Gentala pun mengangguk dan kedua nya segera melaju menuju bioskop.
Sekitar lima menit saja kedua nya sudha tiba di salah satu bioskop dan mereka yang memang sudah punya tiket dengan di pesan secara online tinggal menukar nya saja di bagian penjualan tiket menjadi tiket fisik.
“Kamu tunggu di sini, aku akan menukar tiket sebentar.” Ucap Gentala.
“Aku akan mengantri beli pop corn saja kak.” Balas Zahra.
“Kau menyukai pop corn?” tanya Gentala.
Zahra menggeleng ragu, “Sebenar nya cukup tidak menyukai nya sih. Hanya saja menonton tanpa pop corn itu tidak akan terasa lengkap. Membeli pop corn sudah sepaket saat menonton.” Jawab Zahra.
Gentala pun akhirnya mengangguk paham dan membiarkan Zahra untuk menunggu nya dengan membeli pop corn saja. Tapi tentu saja dia memberikan dompet nya itu kepada Zahra sebelum nya. Dia hanya mengambil dua lembar uang saja dari sana sebelum memberikan dompet nya kepada Zahra yang di terima gadis itu dengan bengong.
Yah, bagaimana tidak bengong coba jika Gentala memberikan nya tanpa mengatakan apapun dan langsung saja meletakkan di tangan nya yang mau tak mau di terima oleh Zahra.
“Apa maksud nya ini?” tanya Zahra bingung dengan menatap dompet milik Gentala di tangan nya. Dia menatap Gentala yang berada sedikit jauh di hadapan nya sekitar 10 meter sebelum dia memutuskan menuju tempat penjualan pop corn.
Ting
[Pakai uang yang ada di dompetku. Kau bebas mau menggunakan uang yang ada di sana untuk apa.] itu adalah pesan yang di kirimkan oleh Gentala hingga Zahra pun menoleh dan menatap Gentala yang tersenyum ke arah nya. Zahra pun hanya bisa membalas senyum pria itu tanpa mengatakan apapun lagi.
“Apa aku harus menggunakan nya?” tanya Zahra pada diri nya sendiri saat hendak membayar.
Setelah beberapa saat berperang dengan hati nya, akhirnya Zahra memutuskan membuka dompet Gentala dan mengambil uang selembar dari sana dan segera membayar pop corn yang dia beli.
“Yaa Allah, jika saja itu adalah uang suamiku maka aku pasti tidak akan ragu seperti ini menggunakan nya.” gumam Zahra setelah membayar pop corn dan mengamati Gentala yang juga sedang menyelesaikan pengurusan tiket nya.
Tidak lama Gentala datang dengan membawa dua tiket di tangan nya. Dia mendekati Zahra dengan wajah penuh senyum nya.
“Kak, ambil lah!” ucap Zahra begitu Gentala sudah berada di hadapan nya.
Zahra segera memberikan dompet Gentala beserta dengan sisa uang pembelian pop corn.
Gentala bukan segera mengambil dompet nya justru, “Simpan padamu dulu.” Ucap Gentala segera menarik lengan Zahra menuju studio karena memang film yang akan mereka tonton sebentar lagi akan segera di putar.
Zahra pun hanya bisa menurut saja dan segera menyimpan dompet Gentala itu di tas nya. Gentala yang melihat itu tersenyum karena memang itu yang dia inginkan. Dia ingin Zahra tidak ragu dengan nya dan takut mengelola uang nya padahal dompet nya itu tidak memiliki uang seperti abang Zahra dan juga kakak ipar Zahra yang nota bene nya adalah pewaris dari dua perusahaan besar.
Walaupun dompet Gentala sudah Zahra masukkan ke dalam tas yang dia bawa tetap saja pegangan tangan Gentala tidak dia lepaskan sampai mereka mencari tempat duduk kedua nya. Gentala tidak melepas pegangan nya dari lengan gadis yang dia cintai itu. Tidak akan dia lepaskan karena kemungkinan besar gadis itu akan dia tahan hingga tidak akan bisa terlepas. Pernikahan adalah rantai itu. Semoga saja semua nya akan berjalan dengan baik.
“Kak, apa kau tidak akan melepaskan tanganmu?” tanya Zahra saat mereka sudah duduk dan Gentala tak kunjung melepas pegangan ny justru mengganti nya dengan tangan nya yang lain.
Gentala menggeleng, “Tidak, aku menyukai nya. Apa kau keberatan?” tanya Gentala.
__ADS_1
“Hum, itu--”
“Apa takut karena kita bukan mahrom?” tebak Gentala tepat sasaran.
Zahra pun diam tidak menjawab karena takut Gentala tersinggung, “Lalu menurutmu apa yang bisa membuat kita agar bisa menjadi mahrom? Aku tidak ingin di halangi oleh kata mahrom itu. Jadi beritahu cara nya kepadaku untuk menghilangkan penghalang itu.” ucap Gentala lembut tapi Zahra bisa merasakan bahwa ada ketegasan berbalut keseriusan di balik kalimat yang di ucapkan oleh Gentala.
Zahra lagi-lagi hanya diam dan tidak menjawab karena dia sendiri pun bingung mau mengatakan apa. Semua orang paham dan tahu bahwa satu-satu nya cara untuk menghilangkan kata mahrom di antara dua lawan jenis yang tidak memiliki ikatan darah sebelum nya agar bisa menyatu yaitu pernikahan. Zahra sendiri yakin bahwa Gentala pasti tahu hal itu hanya saja pria itu pasti ingin mendengar jawaban versi nya. Sungguh menjebak tapi itu lah kenyataan nya.
“Apa kau tahu cara nya?” ulang Gentala saat tidak mendapatkan balasan atas kalimat nya.
Zahra pun menoleh menatap Gentala sekilas, “Aku yakin tanpa ku jawab pun kakak pasti sudah tahu apa cara nya. Tidak perlu menjebakku agar bisa mendapatkan jawab versiku.” Ucap Zahra lirih hanya bisa di dengar oleh mereka saja.
Gentala tersenyum mendengar jawaban yang di berikan Zahra, lagi-lagi dia harus mengakui bahwa Zahra adalah gadis yang cerdik yang tidak bisa di bodohi. Dia bangga pada kecerdasan yang di miliki gadis itu walaupun terkadang Zahra terlihat polos jika sedang bercanda. Sisi humoris yang di miliki nya menyembunyikan sisi nya yang cerdas. Jika orang baru pertama kali mengenal nya pasti akan menganggap Zahra orang polos dan mudah di bodohi tapi begitu semakin kenal dan dekat mereka pasti akan sadar bahwa gadis itu sangat cerdas. Itu lah yang terjadi pada nya saat awal mengenal Zahra. Penilaian polos itu dia sematkan untuk Zahra tapi segera sadar begitu kedua nya dekat dan mendapatkan keputusan yang di buat oleh Zahra. Keputusan yang terpaksa dia setujui karena memang apa yang di ucapkan Zahra demi kebaikan kedua nya. Tapi keputusan itu sangat bertolak belakang dengan keinginan hati kedua nya.
“Hum, kau benar dek. Aku sudah tahu apa cara nya hanya saja aku ingin mendengar jawaban itu keluar dari mulutmu.” Ucap Gentala.
“Jangan mengharapkan sesuatu yang tak bisa aku jawab kak. Aku sudah bisa memahami kemana lanjutan dari perkataanmu itu jika aku mengatakan jawabanku yang juga jawabanmu. Jadi lebih baik aku diam saja. Aku ingin mencari aman.” Balas Zahra tersenyum.
“Dek! Ayolah.” Bujuk Gentala.
Zahra menggeleng, “Stt, jangan ribuk kak. Aku ingin fokus menonton.” Ucap Zahra mengalihkan topic pembicaraan sambil tersenyum karena merasa menang dari Gentala.
Gentala pun hanya bisa menarik napas nya yang panjang dan segera diam mengikuti film yang sedang di setting di depan mereka. Menikmati film itu tentu saja dia lakukan karena jujur saja genre film yang di sukai oleh Zahra itu sama dengan genre film yang dia sukai juga. Mereka banyak memiliki kesamaan satu sama lain hingga Gentala merasa sangat klop bersama Zahra. Dari segi apapun semua yang di sukai Zahra, dia juga menyukai nya.
Apa itu berarti takdir memang mengatakan mereka memiliki garis takdir yang sama?
***
Kita beralih pada pasangan lain nya yang juga sama bucin nya dengan pasangan sebelum nya. Gilang dan Andita kedua nya kini berada di salah satu rooftop sebuah hotel.
Gilang membawa gadis itu ke sana setelah tadi dari kediaman milik orang tua Husna. Dia tidak ingin menunda apa yang dia katakan tadi kepada Andita terkait ajakan nya. Lamaran itu harus dia ulang dan harus sudah mendapatkan jawaban nya bukan. Tidak ingin di gantung terlalu lama karena dia bukan jemuran yang harus menunggu hingga jamuran.
Gilang menuntun Andita menuju tempat yang sudah dia siapkan hingga begitu kedua nya sudah berada di tengah, Gilang pun segera melepas penutup mata Andita.
Andita perlahan membuka mata nya dan tidak menyangka dengan apa yang dia lihat. Pemandangan kota saat malam yang begitu indah terus di tambah di sekeliling nya yang di dekorasi dengan hiasan indah hingga kesan romantis itu dapat.
Belum selesai Andita mengagumi tempat itu, tiba-tiba Gilang berlutut di hadapan nya hingga membuat nya terkejut kembali, “Lang, apa yang kamu laku--?” tanya Andita menggantung saat Gilang mengeluarkan sebuah cincin dari saku jas nya.
“Will you marry me?” ucap Gilang dengan serius nya. Tidak ada tanda bercanda di kalimat nya itu.
“Lang, ini--”
“Please jawab lah.” Ucap Gilang memohon.
Andita menarik napas terlebih dulu lalu menghembuskan nya. Jujur saja dia kaget dengan hal ini walaupun tadi sudah sempat mendengar ajakan yang sama. Dia pikir Gilang tidak akan mengulang kalimat nya itu dan hanya menganggap itu sebuah kesalahan dalam berkata saja. Namun kini pria di hadapan nya itu. Pria yang berstatus sebagai kekasih nya itu kembali menyuarakan sebuah kalimat ajakan menikah. Ajakan ke jenjang yang lebih tinggi lagi dan membutuhkan tanggung jawab yang besar juga.
Andita yang sudah kasihan dengan melihat Gilang yang masih berlutut di hadapan nya pun segera mengulurkan tangan nya yang juga tersemat sebuah cincin di sana. Cincin yang di berikan oleh Gilang saat mereka di pantai beberapa hari lalu.
Gilang pun tersenyum dan segera memasangkan cincin di jari yang sama dengan cincin yang sudah terpasang sebelum nya, “Aku tidak akan melepaskan cincin ini tapi menambah nya. Ini adalah bukti cinta kita.” Ucap Gilang lalu di akhiri mengecup punggung tangan Andita layak nya yang di lakukan oleh seorang pangeran kepada seorang tuan putri.
Gilang segera berdiri dan menggandeng Andita menuju meja yang sudah tersedia di sana.
__ADS_1
“Kita akan makan malam di sini.” Ucap Gilang.
Andita pun mengangguk dan diam saja saat tiba-tiba dua orang pelayan mengantarkan makanan dan menyajikan di hadapan mereka. Harus dia akui Gilang adalah perencana yang bagus hingga bisa menyiapkan ini dalam waktu yang singkat.
Kedua nya segera menikmati makan malam itu dengan hikmat sambil menikmati angin malam dan juga pemandangan malam kota yang tersaji di hadapan mereka. Sangat indah saat melihat lampu-lampu yang menerangi bangunan dari atas. Lalu juga di dukung dengan langit malam yang saat ini sedang cerah dengan banyak nya bintang yang bersinar.
Tepat setelah azan isya berkumandang, Gilang dan Andita selesai menikmati hidangan makan malam mereka itu. Pelayan segera membereskan semua nya.
“Apa kita pulang atau masih mau di sini?” tanya Gilang.
“Hum, sedikit lagi. Aku mau menikmati pemandangan ini lebih lama lagi.” Jawab Andita.
Gilang pun mengangguk dan tiba-tiba saja datang seorang fotografer untuk mengabadikan momen mereka itu. Sebenar nya fotografer itu sudah berada di sana sejak tadi. Dia sudah mengabadikan momen yang terjadi.
Gilang dan Andita pun segera mengambil beberapa foto hingga mereka puas.
“Lang, kita pulang.” Ajak Andita.
Gilang mengangguk dan kedua nya pun segera meninggalkan rooftop hotel itu menuju lantai dasar di mana mobil Gilang berada.
“Kita pulang ke rumahku dulu ya?” izin Gilang.
“Mau ngapain?” tanya Andita.
“Sholat.” Jawab Gilang singkat.
Andita pun mengangguk karena memang jarak ke kediaman Gilang tidak jauh dari sini.
Gilang pun tersenyum mendapatkan jawaban dari Andita. Dia pun segera melajukan mobil menuju kediaman orang tua nya.
Sekitar kurang dari sepuluh menit saja mereka sudah tiba di kediaman Gilang dan di sambut oleh orang di sana dengan penuh hormat.
Andita yang melihat itu entah kenapa tiba-tiba merasa ada yang aneh. Gilang segera membantu Andita membukakan pintu dan turun dari mobil lalu menggandeng Andita masuk ke dalam kediaman orang tua nya itu.
Andita hanya menuruti langkah kaki dari Gilang hingga begitu pintu utama kediaman Gilang terbuka dia pun terkejut dengan apa yang di lihat nya.
Andita menatap Gilang yang hanya tersenyum pada nya, “Nak!” sambut mami Ajeng segera mendekati Andita dan menggandeng gadis itu masuk.
“Apa ini calon menantumu?”
Mami Ajeng mengangguk, “Yah, cantik bukan?” tanya mami Ajeng balik.
“Cantik.”
“Kau mendapatkan gadis ini dari mana Gilang? Ajak lah Gentala juga agar dia bisa mendapatkan gadis yang baik yang tidak seperti kekasih nya sebelum nya.” ucap mami Riana, ibu nya Gentala yang juga saudari nya dari mami Ajeng.
“Iya nak. Kau kan dekat dengan nya. Jadi bantu lah dia.” Timpal papi Riko, ayah dari Gentala.
“Itu tidak perlu di lakukan lagi bibi, paman karena dia sudah punya bidikan nya sendiri.” Jawab Gilang.
“Siapa nak? Apa kau mengenal nya?”
__ADS_1