My Secret Love

My Secret Love
Rencana Pindah


__ADS_3

Ayu yang tiba di sana memeriksa keadaan Akira dan dia membalut luka Akira yang ternyata tidak terlalu serius.


"Malam ini biar Akira menginap saja di sini sampai dia pulih, Nala."


"Iya, bibi Sekar. Aku ucapkan banyak terima kasih dan maaf merepotkan bibi lagi."


"Kamu bicara apa, Nala? Kamu dan Akira sama sekali tidak menyusahkan bibi, bibi sangat senang sekali kalian bisa ada di sini."


"Iya, Nala. Aku juga ingin meminta maaf pada Akira karena tidak percaya dengan apa yang waktu itu dia katakan tentang Radit. Aku juga tidak percaya jika Radit bisa berbuat seperti itu, dia sangat mencintai kamu, tapi caranya sangat salah."


"Aku juga tidak menyangka jika Mas Radit bisa berbuat seperti itu," ucap Nala lirih.


"Rhein yang menyarankan aku untuk mengawasi pria itu, Nala."


Nala melihat pada Akira. "Rhein? Apa dia sudah ada di sini?"


"Iya, dia datang untuk melihat mommyku dan saat itu dia juga melihat aku sedang berdebat dengan daddyku karena aku mengira jika daddyku yang ada di balik dalang penculikan yang terjadi sama kamu."


"Oh Tuhan! jadi kamu dan daddy kamu bertengkar lagi?" Akira mengangguk.


"Maaf, ya Akira. Ini semua gara-gara bibi yang bercerita masalah pak Surya dan kecurigaan Bibi dengan daddy kamu sehingga kamu bertengkar dengan daddy kamu."


"Bibi!" Nala melihat tidak percaya pada bibinya.


"Apa yang Bibi kamu lakukan sudah benar, Nala. Bibi kamu hanya cemas dengan kamu." Akira memeluk Nala.


"Bagaimana keadaan mommy kamu, Akira?"


"Mommyku sudah lebih baik, bahkan mommyku ingin bertemu dengan kamu, Nala."


"Aku juga ingin bertemu dengan mommy kamu."


"Nala, aku mau tanya, bagaimana kamu bisa di culik oleh Radit?" tanya Seno penasaran.


Nala mengingat kejadian waktu itu. Waktu itu Nala ingin pergi ke pasar membeli kue yang dia inginkan, Nala izin pada Bibinya dan saat perjalanan menuju pasar, Nala melihat seorang wanita turun dari mobil dan ternyata wanita itu adalah Silvia, dia berjalan menemui seseroang yang sepertinya menunggu di sana.


"Kamu kenapa tidak mengatakan jika Nala adalah istri dari Akira pemilik kantor di mana aku bekerja. Aku di permalukan di sana."

__ADS_1


"Karena bagiku hal itu tidak penting, kamu aku bayar hanya untuk merayu Akira dan membuat hubungannya dengan istrinya retak, kamu berbuat di luar yang aku suruh."


Nala yang melihat hal itu sangat terkejut saat mengetahui jika mas Raditlah yang ada di balik semua ini.


"Sekarang rencanaku berantakan dan ini karena kamu!"


"Kamu kenapa susah-susah memakai cara ini? Nala juga tidak akan mau dengan kamu karena susah sekali membuat mereka berpisah. Malahan mereka sepertinya tau jika aku sengaja merayu Akira."


"Aku ingin membuat Akira dan Nala berpisah jika Nala mengetahui Akira selingkuh untuk kedua kalianya, setelah itu aku bisa mengajaknya menikah jika dia terluka sekali lagi."


"Sayangnya Nala tetap tidak akan tertarik sama kamu, Radit. Aku lihat Nala itu orangnya sangat setia dan susah jatuh cinta."


"Kalau cara itu tidak bisa, aku akan tetap berusaha memisahkan dengan Akira." Tatapan Radit menajam.


"Dengan cara apa?"


"Aku akan menculiknya," ucap Radit cepat.


Nala yang melihat dan mendengar hal itu sedikit kecewa. Saat dia mau pergi dari sana tidak ssngaja kakinya terantuk batu dan dia bersuara sehingga Radit mengetahui ada Nala di sana dan karena sudah ketahuan Nala di bawa oleh Radi pergi dari sana.


"Lalu bagaimana bisa ponsel kamu ada di rumah Radit?"


"Aku tidak tau, dia mengambil ponselku dan membawanya, aku hanya dengar jika dia akan pulang ke rumahnya untuk mengambil beberapa barangnya dan mengumpulkan barang-barang yang menunjukkan jika dia menginginkan aku selama ini untuk menghilangkan bukti."


"Oh pantas saja, dia menyimpan semua foto-foto kamu di kamarnya dan ponsel kamu. Mungkin dia nanti akan menyingkirkan semua itu."


"Sudah! Kita tidak perlu membahas ini. Nala, kamu ajak Akira istirahat di dalam kamar kamu biar besok keadaannya lebih baik."


"Iya, Bi."


"Orang-orangku akan mengurus Radit dan Silvia. Mereka berdua akan mendapat hukuman yang setimpal dari perbuatannya." Kedua rahang pria blasteran Jepang itu tampak mengeras menahan marah.


"Akira, ini cuma saran dari bibi. Sebaiknya kamu jangan menyiksa Radit dan Silvia karena hal itu tidak baik. Kamu dan Nala akan memiliki anak, jadi serahkan saja mereka pada pihak berwajib biar mereka yang menghukum Radit dan Silvia," terang bibi Anjani.


"Iya, Sayang. Kita serahkan saja mereka ke pihak yang berwajib."


"Baiklah! Tapi aku pastikan jika mereka tidak akan lolos begitu saja."

__ADS_1


Mereka semua hanya bisa terdiam dan apa yang di rasakan Akira memang sangat menyakitkan melihat istrinya diculik dan akan di bawa pergi.


Nala membawa Akira ke kamarnya dan Akira tidur di kamar Nala. Nala bersandar pada dada. Akira, dia menangis pelan. Namun, Akira merasakan jika Nala istrinya sedang menangis.


"Kamu kenapa menangis, Sayang?"


"Aku hanya takut saja membayangkan Mas Radit akan membawaku pergi jauh dari kamu."


"Itu tidak akan aku biarkan, tidak akan semudah itu memisahkan kamu dariku." Akira mengeratkan pelukannya pada Nala.


"Aku juga takut sekali saat melihat kamu di pukul dengan sangat keras oleh Radit waktu itu. Nyawaku seketika rasanya keluar dari tubuhku Akira." Nala menangis dengan lebih keras.


"Hei! Jangan menangis begitu? Nanti dikira aku berbuat apa-apa sama kamu di dalam kamar. Lagian kamu akan menjadi seorang ibu, apa tidak malu di dengar oleh bayi kita di dalam perut?"


"Biarkan saja mereka dengar, biar mereka tau jika ibunya sangat mencintai ayahnya."


"Ayahnya juga mencintai ibunya, tapi sayang ibunya tidak mau tinggal dengan ayahnya," celetuk Akira.


"Aku mau tinggal sama kamu, tapi bibi juga ikut dengan kita?"


"Tentu saja, kamu bisa mengajak bibi Anjani. Bagaimanapun juga bibi Anjani adalah orang tua kamu."


"Aku mau tinggal sama kamu."


Seminggu sebelum menjelang hari pernikahan Rara. Nala dan Bibinya meminta izin pada keluarga Seno bahwa mereka akan ikut Akira ke kota dan mereka akan tinggal dengan Akira, bagaimanapun juga Nala memang tidak sepatutnya tinggal terpisah dari Akira.


"Kalian jangan lupa sama kami di sini dan kalau bisa kalian selalu kirim kabar, apalagi saat nanti Nala melahirkan?" Bibi Sekar menangis.


"Iya, Bi. Nanti juga jangan lupa datang kalau aku mengundang kalian pada acara pernikahan aku dengan Ayu."


"Pasti Seno. Eh, tapi kamu sudah memutuskan kapan menikah dengan Ayu?" tanya Nala.


"Ya ... aku kan bilang nanti jika aku menikah, aku belum tau kapan."


"Kalau dia masih mengundur pernikahannya terus, aku nikahkan saja si Seno ini sama nenek -nenek kaya yang rumahnya tidak jauh dari sini," ucap Ibunya kesal.


Nala dan bibinya terkekeh pelan.

__ADS_1


__ADS_2