
Akira duduk di depan meja makan mini yang ada di sana, dia menikmati teh hangat buatan Nala , tidak lama pintu di ketuk kembali dari luar, Akira beranjak dan membukakan pintu.
“Pagi, Akira?,” sapa Silvi dengan baju rapinya menyapa Akira.
“Kamu, ada apa ke sini?”
“Maaf, aku mau mengajak kamu makan pagi bersama di restoran bawah. Aku mau mentraktir kamu sebagai ucapan terima kasih dan ini adalah hari pertama aku bekerja.”
Nala yang tadi mau keluar, tapi tidak jadi karena dia mendengar ada suara pegawai wanita yang Akira ceritakan, kalau dia keluar pasti nanti wanita itu tau jika Nala dan Akira punya hubungan, lebih baik dia masih bersembunyi di dalam kamar mandi.
“Maaf, Silvi, aku tidak bisa karena aku mau sarapan dengan istriku hari ini.”
“Istri?” Wajah Silvi tampak bingung nan kaget. “Kamu sudah menikah?”
“Aku sudah menikah.” Akira menunjukkan jari manisnya yang terdapat cincin pernikahannya dengan Nala.
“Kamu sedang tidak bercanda, Kan? Kalau kamu sudah menikah mana istri kamu? Kenapa kamu tinggal di sini tidak di rumah kalian?”
“Ceritanya panjang dan maaf bukan untuk di konsumsi orang lain. Aku sekarang bersama dengan istriku di sini, dia sedang berganti baju di kamar mandi.”
“Tapi--.”
“Sebaiknya kamu segera sarapan pagi dan berangkat ke kantor karena aku tidak suka dengan karyawanku yang datang terlambat.”
Silvi tampak kecewa mendengar ucapan Akira, akhirnya dia memohon diri untuk pergi. Akira menutup kembali pintunya. Silvi yang berjalan
sendirian di lorong menggerutu marah. “Istri?” Tertarik senyuman di sudut bibirnya. “Akan aku buat kamu melupakan istri kamu secepatnya, Pria Tampan.”
Nala tidak lama keluar dari kamar mandi setelah mendengar suara wanita itu tidak terdengar lagi. Nala sudah siap memakai baju seragamnya.
“Tadi ada wanita itu lagi, Ya?”
“Silvi, namanya Silvi. Dia ingin mengajakku makan pagi di restoran bawah, tapi aku mengatakan kalau aku tidak bisa karena aku mau makan bersama dengan istriku.” Akira mulai mendusel pada Nala.
__ADS_1
“Akira, jangan mulai. Ini ada bayi kembar kamu di dalam, jangan memancing dirimu sendiri.” Nala menjauhkan tubuh suaminya darinya.
Akira tertuduk lesu. “Kamu nanti tidak perlu berangkat bekerja, kita ke dokter dulu.”
“Aku tidak mau, aku sudah terlalu banyak bolos bekerja, nanti kalau aku di tanya alasannya kenapa aku sering tidak masuk kerja, aku
jawab apa?”
“Ya kamu jawab saja, kalau kamu menemani direktur utama di sana setiap hari karena kamu mencintainya.” Akira tersenyum devil sambil masuk ke dalam kamar mandi.
“Enak saja! Memanganya aku selingkuhan direktur utama di sana.” Nala cemberut. Nala menyiapkan baju untuk Akira dia membuka lemari baju di sana, tidak banyak baju Akira yang ada di sana karena dia tidak mungkin
membawa bajunya lebih banyak, Nala melihat juga kasihan. Nala mengambilkan setelah jas berwarna biru navy dengan kemeja berwarna putih.
Beberapa menit kemudian Akira keluar dari dalam kamar mandi, dia melihat bajunya sudah tersedia di atas tempat tidurnya dan Nala duduk menikmati teh hangatnya.
“Apa kamu yang menyiapkan bajuku?”
“Iya, siapa lagi di sini jika bukan aku yang menyiapkan?” Nala kembali menyeruput teh hangatnya.
“Justru aku bosnya, siapa yang berani memarahiku. Setelah ini kita akan sarapan pagi bersama di restoran bawah.” Akira seenaknya melepaskan handuk mandinya dan dengan santai berganti baju di sana. Nala sama sekali tidak menoleh ke arahnya, dia duduk
membelakangi Akira. Nala tidak mau rasa ingin bersama dengan Akira di atas ranjangnya kembali muncul seperti waktu itu.
“Akira, kita makan di sini saja, ya? Aku tidak mau kalau sampai Silvi tau kamu dan aku makan di restoran bawah, apalagi aku memakai baju seragam ini.”
“Memangnya kenapa? Kalau mau kamu bisa aku angkat menjadi sekretaris pribadiku di kantor menggantikan yang sudah ada.” Akira sudah selesai dengan pakaian lengkapnya hanya saja tidak menggunakan suitnya.
“Aku tidak mau, mana ada seorang office girl tau-tau menjadi sekertaris pribadi dalam waktu singkat? Bisa-bisa ada gosip jika aku menggoda kamu, bahkan aku di cap wanita selingkuh, dan lebih parahnya, aku dikira hamil
sama kamu.”
“Ahahahah!” Akira seketika tertawa mendengar ucapan Nala.
__ADS_1
“Kamu kok malah ketawa? Senang jika orang-orang mencap aku seperti itu?” Nala kembali mengerucutkan bibirnya.
“Kamu kenapa takut di cap seperti itu? Bukannya memang anak itu anakku? Kamu juga istriku, kita tinggal bilang saja.”
“Jangan, kita sembunyikan dulu masalah ini, lagian aku orang baru di sini biar mereka menganggap aku seperti apa yang mereka tau ceritaku dari awal masuk sini, aku merasa sangat senang dan tenang selama tinggal di sini, bahkan aku seolah ingin tinggal di sini.”
“Kalau kamu tinggal di sini akan susah semua fasilitasnya, lagian aku mau kamu bertemu dengan kdua orang tuaku, dan mengenalkan kamu kepada semua orang yang mengenalku.”
“Aku tidak gila akan ketenaran dan sanjungan orang-orang jika mereka tau aku istri kamu.”
Akira duduk di depan Nala. Tangannya mulai mengusap perlahan perut Nala yang tampak mulai membuncit. “Ibu kamu ini memang sederhana dan polos sekali ya, Sayang? Kalau kamu lahir besok ayah harap kamu memiliki sifat seperti ayah saja, jangan seperti ibu yang polos dan lugu, nanti yang ada kamu
malah gampang ditipu orang lain.”
“Orang lain? Hanya kamu yang menipuku,” sahut Nala.
“Aku tidak menipu kamu, malahan kamu yang menipuku sampai aku jatuh cinta sama kamu. Anakku besok meniru kamu sifat baik dan pekerja kerasnya saja, sifat sayang kamu yang hanya mencintai satu orang.”
“Lebih baik meniru aku saja, kalau seperti kamu pasti menyebalkan nantinya.”
“Ya sudah! Mirip kamu saja kalau begitu.” Akira mengecup pelan bibir Nala.
Akira memesankan sarapan untuk mereka dan mereka memilih untuk makan bersama di sana. Setelah makan bersama Akira membawa Nala berangkat ke kantor. Dan seperti biasa Nala meminta di turunkan di tempat yang para
karyawan lain tidak bisa melihatnya.
Mereka bersikap seperti biasa saja seolah-olah tidak ada hubungan. Nala segera pergi ke pantry dan membuatkan coklat hangat untuk Akira.
Akira yang sudah masuk ke dalam ruangannya melihat ada segelas cappuccino di atas mejanya. Kedua alisnya mengkerut melihat itu. “Ini siapa yang membuatkan? Nala tidak mungkin membuat ini, dia baru saja datang
denganku dan tidak mungkin dia membuatkan cappuccino ini?”
Nala datang ke dalam ruangan Akira dengan secangkir coklat hangat di tangannya. Akira membukakan pintu dan Nala masuk. Saat Nala akan meletakkan cangkirnya, dia terpaku melihat ada secangkir capuccino di atas meja
__ADS_1
Akira.
“Ada yang sudah membuatkan kamu minuman ini?"