
“Siapa nak? Apa kau mengenal nya?” tanya mami Riana penasaran.
“Ck, kenapa kau jadi bertanya calon menantumu kepada putraku, Ana. Ini adalah hari aku memperkenalkan calon menantuku padamu. Kenapa jadi ajang kau mencari tahu calon menantumu. Apalagi dengan cara harus memaksa putraku.” Ucap Mami Ajeng menunjukkan kesal nya walaupun itu hanya pura-pura saja.
Andita sendiri hanya tersenyum mendengar ucapan mami Ajeng itu.
“Kamu juga Lang. Kenapa berkata begitu pada bibimu. Dia jadi penasaran kan siapa yang dekat dengan Gen.” lanjut mami Ajeng menatap sang putra yang hanya bisa menyengir saja karena tidak tahu mau menjawab apa.
“Maaf, kak. Aku tidak akan membahas calon menantuku lagi. Ini memang acaramu. Bahagiamu. Tapi apakah salah aku juga ingin memiliki calon menantuku sendiri. Ingin merasakan bahagia yang sama dengan apa yang kau rasakan. Lang, setelah ini kau harus bicara dengan bibi, kau harus mengatakan siapa gadis yang di dekati oleh Gen. Bibi akan menyeleksi sendiri calon menantu bibi itu sebelum dia di bawa oleh Gen ke rumah. Kau tahu sendiri bukan bagaimana Giana itu sangat dekat dengan Gen. Dia pasti akan merasa keberatan jika kakak nya itu menikah. Apalagi jika harus menikah dengan gadis yang tidak menyayangi nya.” ucap mami Riana panjang.
Gilang pun hanya bisa mengangguk karena dia tidak punya pilihan lain. Salah nya sendiri keceplosan jadi harus mempertanggung jawabkan mulut ember nya itu. Dia menatap ke arah sang kekasih yang hanya tersenyum seolah mengasihani nya. Gilang pun hanya bisa menghela napas nya.
“Nak, siapa namamu?” tanya mami Riana kini beralih menatap Andita yang duduk di samping mami Ajeng.
“Ck, kenapa kau bertanya hal yang tidak penting Ana. Dia calon menantuku dan sudah melalui seleksiku. Jadi tidak perlu bertanya mengenai latar belakang nya. Aku meminta Gilang membawa nya ke rumah hari ini hanya dengan satu tujuan saja yaitu pamer padamu. Bukan kah kita dulu pernah berjanji akan bertanding mengenai hal ini. Saat Gilang dan Gen lahir kita bertaruh bahwa di masa depan nanti siapa yang lebih dulu memiliki menantu maka yang kalah harus memberi hadiah kepada yang menang. Kini aku sudah punya calon menantu jadi sudah di pastikan kau kalah.” Ucap mami Ajeng sombong.
Mami Riana pun mendesis, “Lang, kau harus segera mengatakan siapa gadis yang di sukai Gen. Lihat lah mamimu itu dia suka pamer.” Ucap mami Riana dengan wajah sedih nya karena merasa kalah dengan sang kakak.
“Tidak perlu bertengkar seperti itu, mih. Itu adalah janji masa lalu. Tidak perlu mewujudkan nya. Lagi pula memilih menantu bukan lah ajang perlombaan.” Ucap papi Riko.
“Yah, aku juga setuju denganmu. Tidak perlu sampai seperti itu mih. Andita adalah calon menantu kita bukan lah barang yang di menangkan dalam sebuah taruhan.” Timpal papi Basuki.
“Siapa juga yang menganggap Andita barang taruhan pih. Mami hanya sedang menggoda Ana saja. Nak, jangan tersinggung ya. Tanpa taruhan itu pun mami merestuimu untuk menjadi menantu mami satu-satu nya. Itu hanya sebuah taruhan yang sebenar nya tidak di wujudkan pun tak masalah. Hanya saja menjadi kesenangan tersendiri saat melihat orang lain kalah, bukan.” Ucap mami Ajeng melirik sang adik di sertai dengan senyum di wajah nya.
“Kakak!” ucap mami Riana.
Andita pun tertawa kecil melihat pertengkaran kecil yang ada di ruang tamu itu, “Dita tidak merasa tersinggung kok, mih. Dita paham apa yang mami maksud.” Ucap Andita.
“Kak, apa kalian sungguh akan pergi berlibur besok?” tanya mami Riana.
Mami Ajeng mengangguk, “Tentu saja. Apa aku harus berbohong padamu?” tanya mami Ajeng balik.
Mami Riana menggeleng, “Bukan begitu, kak. Aku hanya ingin ikut saja berlibur bersama kalian tapi kami masih punya urusan lain yang tidak bisa di tinggalkan lalu di tambah lagi dengan Gentala yang juga belum memilih kekasih seperti Gilang.” Ucap mami Riana.
“Dia sudah punya kok.” ucap Andita tiba-tiba.
Seketika tatapan mami Riana berbinar mendengar ucapan Andita yang tiba-tiba, “Kamu juga tahu nak siapa gadis itu?” tanya mami Riana menatap Andita dengan penasaran.
Andita mengangguk, “Dia adalah adik ipar dari Azarine Salsabila Husna, bi.” Jawab Gilang.
“Azarine Salsabila Husna? Siapa dia?” tanya mami Riana.
“Itu mih. Dia adalah pewaris tunggal perusahaan ASH Industries.” Jawab papi Riko.
“Ahh berarti dia sangat kaya dong nak. Tidak, Gentala tidak pantas untuk nya jika seperti itu. Kami tidak sekaya mereka.” ucap mami Riana. Bukan nya senang karena sang putra dekat dengan seorang gadis yang memiliki kedudukan sosial yang tinggi, mami Riana justru khawatir.
“Husna bukan orang seperti itu kok tante. Dia tidak pernah melihat orang lain berdasarkan status sosial nya.” ucap Andita.
“Selain itu juga, Zahra itu adalah adik dari suami nya. Selama Zahra bahagia dengan pilihan nya maka mereka pasti setuju. Itu semua tergantung kepada Gentala bagaimana usaha nya untuk bisa meraih hati Zahra. Jika Zahra setuju maka mereka pun akan setuju. Husna dan pak Azzam adalah orang-orang yang berpikiran terbuka.” Sambung Andita.
“Zahra? Nama nya cantik.” ucap mami Riana.
“Dia memang cantik seperti nama nya tante.” Jawab Andita.
“Aku jadi penasaran ingin melihat gadis itu.” ucap mami Riana kemudian.
“Huh, tadi khawatir. Kenapa sekarang penasaran dengan wajah gadis itu?” sindir mami Ajeng.
“Yah, maklum lah kak aku khawatir. Kami itu bukan lah orang yang berasal dari keluarga yang kaya seperti mereka.” ucap mami Riana.
“Nak, kalian punya foto gadis itu?” tanya papi Riko.
“Punya kok paman.” Jawab Gilang.
“Boleh kami lihat?” tanya papi Riko.
Gilang mengangguk dan segera mengambil ponsel nya dan memperlihatkan foto saat dia ujian proposal kemarin di mana ada foto mereka bersama di sana.
“Yang ini paman. Dia Zahra. Mahasiswa semester lima di jurusan yang sama dengan kami juga.” Ucap Gilang.
“Cantik!” puji mami Riana tersenyum.
“Seperti nya terlihat sangat lembut.” Sambung papi Riko.
“Hum, mami juga setuju dengan hal itu. Kita harus meminta Gen mengajak nya ke rumah. Giana harus bertemu dengan calon kakak ipar nya, bukan.” Ucap mami Riana.
“Hm, jadi sekarang sudah di restui jadi calon menantu. Tidak khawatir lagi?” celetuk mami Ajeng yang di balas cengesan oleh mami Riana.
Dia sudah jatuh cinta pada Zahra hanya dengan mendengar nama gadis itu. Terus di tambah dengan melihat foto Zahra dia semakin yakin bahwa Zahra memang baik dan cocok untuk di jadikan menantu.
“Mungkin mereka saat ini sedang kencan, bi.” Ucap Gilang setelah mengambil ponsel nya dan di serahkan kepada kedua orang tua nya karena mereka juga penasaran dengan sosok Zahra.
“Kencan? Tunggu? Maksudmu Gentala kencan dengan Zahra?” tanya mami Riana.
Gilang mengangguk, “Seperti itu lah. Tadi kami berbeque di kediaman Husna. Dan yang dari Gilang ketahui bahwa Gen mengajak gadis itu keluar. Bukan kah begitu sayang?” tanya Gilang meminta dukungan dari Andita.
Andita pun mengangguk dan tersenyum malu karena panggilan sayang yang Gilang sematkan untuk nya dan di sebut saat berada di depan keluarga pria itu.
“Wah, anak itu sudah nakal ya. Kenapa tidak mengatakan akan kencan. Aku harus menghubungi nya.” ucap mami Riana.
“Sudah. Jangan ganggu putra kita mih. Biarkan dia menikmati waktu nya di luar bersama gadis itu. Kita tunggu saja di rumah dan tanyai dia nanti.” Ucap papi Riko.
__ADS_1
Mami Riana pun mengangguk setuju karena dia sendiri pun sadar bahwa tidak asyik saat sedang kencan lalu tiba-tiba di telpon. Itu sangat mengganggu. Jadi untuk sekarang dia akan menahan rasa penasaran nya itu dulu sampai mereka pulang dan Gen pulang ke rumah baru lah menanyai nya.
“Apa ibumu sudah siap nak?” tanya mami Ajeng pada Andita.
“Sudah mih. Ibu sudah siap. Kami akan berangkat dari kediaman orang tua Husna nanti tepat pukul tujuh pagi menuju bandara.” Jawab Andita.
“Eh tidak perlu. Kami akan menjemput kalian sendiri ke sana. Hitung-hitung silahturahmi juga dengan pemilik perusahaan nomor satu. Jadi tunggu kami jemput. Jangan pergi sendiri ke bandara.” Ucap mami Ajeng.
“Tapi itu akan memutar, mih. Akan lama nanti.” Ucap Andita tidak enak.
“He’eh tidak masalah nak. Kenapa memutar? Tidak masalah jika itu di lakukan untuk keluarga. Tidak perlu tidak enak seperti itu pada kami nak. Kita akan menjadi keluarga nanti.” Ucap mami Ajeng.
Gilang sendiri tersenyum mendengar ucapan mami nya itu. Kali ini dia harus mengakui bahwa kedua orang tua yang selama ini dia ingin kembali dan menemani nya itu telah kembali bahkan kembali dalam versi terbaik mereka. Tidak ada orang tua nya yang suka menilai seseorang berdasarkan status sosial mereka atau mungkin kedua orang tua nya itu memang sudah seperti itu dari dulu hanya saja dia yang terlambat menyadari hal itu. Dia yang sudah berpikiran buruk pada kedua orang tua nya karena mereka yang memang tidak dekat. Tapi kini semua penderitaan dan rasa iri yang dia alami selama ini karena melihat anak dan orang tua nya yang akrab seolah menghilang dengan kembali nya kedua orang tua nya dan mencoba memperbaiki hubungan mereka. Apa yang mereka lakukan kepada Andita, penerimaan terhadap gadis yang sudah di pilih nya itu menjadi obat untuk nya hingga dia bisa merasakan bahagia seperti ini. Rasa bahagia yang meluap-luap karena merasa di sayangi kedua orang tua nya.
“Kau bahagia, nak?” tanya mami Riana berbisik pada keponakan nya itu.
Dia tahu bahwa pemandangan seperti ini yang di inginkan oleh keponakan nya itu sejak kecil. Yah, selama ini Gilang lebih dekat dengan nya ketimbang ibu kandung nya sendiri karena memang kakak nya itu yang tidak punya waktu untuk Gilang. Tapi kini seperti nya kakak dan kakak ipar nya itu mencoba menebus semua nya.
Gilang mengangguk, “Aku sudah memimpikan ini dari lama, bi. Tapi baru sekarang di kabulkan. Terima kasih selama ini sudah menjagaku dan mengganggapku seperti putramu sendiri. Memperlakukanku sama seperti Gen.” ucap Gilang menatap mami Riana dan papi Riko. Paman dan bibi nya yang selama ini lebih dekat dengan nya ketimbang mami dan papi nya yang sibuk.
“Bibi senang jika kau bahagia. Bibi ikut bahagia dengan apa yang kau dapatkan sekarang. Selain itu juga kau mendapatkan seorang gadis setulus itu. Dia menjadi perantara antara kau dan orang tuamu. Dia seolah menjadi jalan untukmu hingga bisa berdamai dengan kedua orang tuamu. Lihat lah mamimu itu sangat akrab pada nya. Terlihat sekali ibumu itu menyayangi dan menerima nya dengan tulus. Bibi bisa melihat ketulusan yang di tunjukkan ibumu itu adalah ketulusan yang sesungguh nya.” ucap mami Riana.
Gilang pun mengangguk dan tersenyum menatap kedua orang tua nya yang asyik bicara dengan Andita. Seperti nya memang benar apa yang di katakan oleh bibi nya itu bahwa Andita adalah orang yang di kirim Tuhan kepada nya untuk jadi obat dari semua luka dan duka yang dia alami selama ini. Keberadaan gadis itu bagaikan air di padang pasir. Sangat di butuhkan.
“Bibi, perlu kau tahu bahwa Zahra itu, gadis yang Gen sukai adalah gadis baik-baik. Dia adalah sosok penyayang dan Husna sendiri pun menyayangi gadis itu. Jadi langkah terberat Gen agar bisa mendapatkan gadis itu adalah meyakinkan Husna dan keluarga nya bahwa Zahra bahagia bersama Gen. Walaupun Husna hanya kakak ipar Zahra tapi Husna dan keluarga nya mengganggap Zahra adik dan putri.” Ucap Gilang.
“Apa itu adalah bocoran untuk kami nak?” tanya papi Riko.
“Aku ingin Gen bahagia. Dia bukan hanya sekedar sepupu untukmu. Dia adalah partner untukmu. Partner dalam segala hal. Tentu saja jika dia tidak bahagia, itu akan menggangguku dan akan berpengaruh dalam pekerjaan nya.” ucap Gilang.
“Dasar tsundere. Kenapa tidak mengatakan bahwa kau ingin balas budi pada kami. Kau tidak perlu melakukan itu. Kita ini adalah keluarga. Sudah kewajiban kami sebagai paman dan bibimu untuk menjagamu. Untuk Gentala sendiri kami menyerahkan keputusan pada nya. Jika memang dia memilih gadis itu kenapa kami sebagai orang tua tidak akan merestui nya. Kami akan menyayangi calon menantu kami nanti.” Ucap mami Riana.
“Aku yakin bibi pasti bisa melakukan nya.” ucap Gentala.
“Hey, Lang kenapa kau lebih akrab dengan bibimu itu? Mami iri.” Ucap mami Ajeng.
Gilang pun tersenyum, “Mami aku menyayangimu. Aku tidak mungkin mengganggu mami yang sedang bicara Andita. Jadi aku bicara dengan paman dan bibi.” Ucap Gilang.
“Tetap saja mami cemburu. Ana, kau selama ini yang menjaga Gilang. Jadi setidak nya kembalikan dia saat aku ingin menjaga nya.” ucap mami Ajeng.
“Mami, apa kau katakan. Kau adalah ibuku, mamiku. Satu-satu nya. Bibi adalah ibu kedua bagiku.” Ucap Gilang segera mendekati mami Ajeng dan berlutut di hadapan mami nya itu. Gilang segera meraih tangan mami nya dan mencium nya.
“Mami adalah ibuku. Itu tidak mengubah apapun. Aku menyayangi mami dan bibi. Kalian adalah ibu bagiku.” Ucap Gilang.
Mami Ajeng pun tersenyum dan memeluk putra nya itu. Dia senang dan bahagia. Lalu dia pun merasa tenang. Ketenangan yang selama ini tidak dia dapatkan walaupun menerima uang banyak dari sang suami. Seperti nya pilihan meninggalkan Gilang bersama baby sitter nya adalah pilihan salah dan keputusan yang akan dia sesali selama hidup nya. Jika saja bisa memutar waktu, dia ingin kembali ke masa di mana Gilang masih kecil. Dia akan mengambil keputusan merawat putra nya itu dan melihat tumbuh kembang nya. Tapi itu tidak mungkin di lakukan. Waktu terus berjalan dan tidak bisa kembali ke masa lalu. Apa yang terjadi di masa lalu hanya bisa di jadikan pembelajaran dan di usahakan untuk tidak kembali mengulangi nya di masa yang akan datang.
Setelah sesi mengharukan itu berakhir, mereka kembali bercerita. Membahas ini itu dengan Andita yang juga turut di dalam nya. Tidak ada kecanggungan di sana. Mereka bicara layak nya keluarga. Saling bercanda satu sama lain. Hingga tidak sadar waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan sudah waktu nya istirahat.
Mami Riana dan papi Riko segera pamit pulang. Sementara Gilang mengantar Andita pulang.
“Aku sedang bahagia. Kebahagiaan yang ku rasakan ini tidak bisa di lukiskan oleh apapun. Semua luka yang ku rasakan selama ini hilang tanpa bekas. Kedatanganmu menjadi obat untukku.” ucap Gilang.
Andita tersenyum, “Kau sudah sepatut nya mendapatkan kebahagiaan ini. Tidak ada kaitan nya denganku. Aku hanya lah orang yang ada di sampingmu saat kau bisa merasakan bahagiamu.” Ucap Andita.
Gilang pun mengangguk saja karena tidak ingin membantah.
Sekitar 15 menit kemudian, akhirnya mereka tiba di kediaman Husna. Mereka segera di izinkan masuk dan Gilang segera turun membukakan pintu untuk Andita.
“Kami akan menjemput kalian. Tunggu di sini.” Ucap Gilang.
Andita mengangguk, “Sana pergi lah istirahat agar besok fresh saat berangkat. Jangan lupa mimpiin aku ya.” Ucap Gilang kemudian.
“Dasar narsis.” Ucap Andita.
“Tidak masalah narsis sama calon istri.” Ucap Gilang.
Andita pun tersenyum, “Sudah ah sana pulang lah. Jangan menggombal lagi.” Ucap Andita tersipu. Jujur saja siapa coba yang tidak akan baper jika di perlakukan seperti itu oleh orang yang kita cintai.
“I love you, honey!” ucap Gilang.
“Stop! Jangan lakukan itu lagi.” Ucap Andita menutup wajah nya malu. Mungkin saja wajah nya itu memerah hanya saja tidak terlihat karena cahaya di halaman itu temaram.
“Baiklah. Aku akan pulang.” Ucap Gilang lalu mulai menghidupkan mobil nya.
“Hati-hati!” ucap Andita.
Gilang mengangguk, “Aku akan segera mengabari nanti begitu tiba di rumah. Tidak perlu khawatir.” Ucap Gilang.
Andita pun hanya tersenyum dan melambaikan tangan nya sampai mobil Gilang menghilang di balik gerbang.
Baru lah setelah itu dia masuk ke dalam.
“Seperti nya mereka sudah istirahat. Ini memang sudah waktu nya istirahat juga.” Ucap Andita lalu segera menuju kamar nya.
***
Di sisi lain, Gentala dan Zahra baru saja keluar dari studio setelah menyelesaikan film yang mereka tonton.
“Ending nya kurang memuaskan. Kenapa coba hanya menggantung seperti itu.” ucap Zahra begitu keluar.
Gentala yang mendengar ucapan Zahra pun tersenyum karena seperti biasa setiap gadis itu pasti akan berkomentar akan film yang dia tonton jika dia merasa tidak puas dengan jalan cerita film nya atau pun ending nya yang menggantung apalagi tragis.
__ADS_1
“Memang sudah seperti itu kehidupan.” Timpal Gentala.
“Tapi mengapa coba tidak berjodoh dengan pria yang dia cintai. Justru menikah dengan pria lain.” Ucap Zahra.
“Itu sudah ada sutradara yang mengatur nya, dek.” ucap Gentala.
“Tetap saja aku tidak puas dengan ending nya. Apa iya setiap gadis itu di takdirkan tidak bisa memilih? Harus patuh pada aturan keluarga? Ck, aku tidak suka hal seperti itu. Apalagi jika berpisah hanya karena status sosial yang tidak setara. Kenapa cinta harus di setarakan dengan status sosial.” Ucap Zahra.
Gentala pun diam tidak berkomentar lagi karena dia tidak tahu harus menjawab apa. Selain itu juga kisah film yang mereka tonton itu hampir mirip dengan apa yang terjadi pada nya saat ini. Status sosial nya dan Zahra sangat berbeda jauh. Zahra berasal dari keluarga yang status sosial nya tinggi terus di tambah dengan hubungan kekerabatan yang tercipta antara gadis itu dengan Husna yang note bene nya adalah pewaris tunggal perusahaan nomor satu. Jadi bukan kah kesenjangan dan status sosial di antara mereka semakin jauh.
“Kak, kenapa kau diam?” tanya Zahra menoleh ke arah Gentala.
Gentala menggeleng lalu tersenyum, “Kita pulang?” tanya Gentala.
Zahra melihat jam di tangan nya lalu mengangguk, “Itu sudah pukul sepuluh lewat. Kita pulang saja kak.” Ucap Zahra.
“Baiklah, ayo!” ajak Gentala.
Zahra mengangguk lalu kedua nya segera berjalan berdampingan menuju lift untuk turun ke lantai dasar.
Singkat cerita kini mereka sudah berada dalam mobil yang melaju menuju kediaman Husna. Mereka diam karena larut dalam pikiran masing-masing.
“Film itu memang sedikit tragis dan aku tidak ingin itu terjadi padaku. Walaupun status sosial kami berbeda tapi aku ingin berjodoh dengan nya. Aku akan berjuang hingga bisa setara dengan keluarga nya. Kalau pun tidak bisa setidak nya aku sudah bisa di hormati di anggap memiliki value tersendiri. Untuk gadis seperti Zahra apa yang tidak akan ku lakukan. Dia adalah gadis yang ku cintai dan hanya dia saja. Aku tidak ingin yang lain.” Batin Gentala melirik Zahra sekilas.
“Kenapa kakak menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajahku?” tanya Zahra bingung dan segera bercermin.
Gentala menggeleng lalu tersenyum, “Kau sempurna dek. Cantik.” puji Gentala.
“Ck, kakak berlebihan.” Balas Zahra malu.
“Zahra, jika aku tidak bisa menepati kesepakatan yang sudah kita buat bagaimana? Jujur saja aku tidak menyukai kesepakatan itu. Kesepakatan itu sangat bertolak belakang dengan keinginan hatiku. Bagaimana jika aku ingin menikah muda seperti kakak ipar dan abangmu?” ucap Gentala lirih.
Zahra diam karena jujur saja dia pun ingin kesepakatan itu tidak terjadi dan jika bisa di ulang dia tidak ingin bertindak mengambil keputusan terburu-buru seperti itu. Tapi apa boleh buat jika memang keputusan itu sudah di sepakati sebelum nya.
“Bukan kah apa yang kita lakukan malam ini memang sudah melanggar kesepakatan itu kak?” tanya Zahra balik.
Gentala mengangguk, “Jadi apakah kesepakatan itu masih berlaku? Bisa kah kesepakatan itu di ubah saja?” ucap Gentala.
“Di ubah? Maksud nya bagaimana kak?” tanya Zahra.
“Isi nya kita perbaharui dan nama nya menjadi kesepakatan pernikahan.” Jawab Gentala.
Hening
Hening
Jujur saja Zahra terdiam karena kaget dengan apa yang di katakan oleh Gentala. Pernikahan? Menikah dini? Memang kakak ipar nya menikah muda dan usia nya dengan Husna tidak terpaut jauh. Hanya setahun lebih beberapa bulan saja. Tapi jika harus mengikuti jejak menikah muda seperti nya dia belum siap.
“Kak, apa kau yakin dengan apa yang kau katakan itu?” tanya Zahra.
Gentala mengangguk, “Setelah ku pikirkan lagi aku memang yakin untuk melangkah ke sana. Tidak ada yang membuatku ragu menikah jika itu adalah dirimu. Kita akan belajar bersama membangun rumah tangga.” Ucap Gentala.
“Kak, menikah tidak semudah itu. Pikirkan lah dulu.” Ucap Zahra.
Gentala pun mengangguk, “Baiklah. Aku akan memikirkan nya kembali dan aku harap kau pun melakukan hal yang sama. Jujur saja aku tidak pernah seserius ini dan seyakin ini dengan keputusan yang pernah ku ambil sebelum nya. Aku tidak main-main dengan apa yang aku katakan dek.” ucap Gentala serius.
Zahra pun mengangguk, “Baiklah. Aku percaya padamu kak. Aku akan memikirkan nya juga.” Balas Zahra.
Setelah itu suasana dalam mobil kembali hening karena kedua nya kembali larut dalam pikiran masing-masing.
Zahra sendiri merasa pembahasan ini cukup menegangkan dan menguras otak. Dia harus beristirahat baru lah mengambil keputusan untuk masalah ini. Siapa coba yang tidak ingin menikah dengan orang yang kita cintai tapi tidak dengan keputusan terburu-buru juga.
Menikah adalah ibadah terpanjang. Jangan sampai menyesal nanti hanya karena keputusan yang di ambil terburu-buru. Dia hanya ingin menikah sekali saja dan itu hanya bisa di wujudkan dengan pria yang sama-sama memiliki visi yang sama.
Larut dalam suasana hening hingga membuat mereka tidak sadar bahwa mereka sudah tiba di kediaman Husna.
Gentala segera keluar dan membukakan pintu mobil untuk Zahra, “Terima kasih kak!” ucap Zahra.
Gentala mengangguk dan tersenyum, “Aku pulang?” tanya Gentala.
Zahra mengangguk, “Hati-hati pulang nya dan ka--” ucap Zahra terputus.
Gentala mengangguk, “Aku pasti akan mengabarimu.” Jawab Gentala.
Zahra pun tersenyum malu dengan jawaban Gentala, “Sana kau masuk lah. Istirahat. Besok apa ada mata kuliah?” tanya Gentala.
Zahra menggeleng, “Tetap saja sana istirahat. Itu sudah larut malam. Sampaikan permohonan maafku karena tidak mampir ke dalam.” Ucap Gentala.
Zahra mengangguk, “Hum, kakak juga istirahat begitu tiba.” Balas Zahra yang di angguki Gentala.
Setelah itu Gentala pun masuk kembali ke mobil nya dan segera pamit pulang.
Zahra melambaikan tangan nya sampai mobil Gentala menghilang di balik pintu gerbang. Setelah itu dia segera masuk ke dalam kediaman dengan berjalan pelan karena tidak ingin menimbulkan suara karena dia tahu semua orang di sana sudah beristirahat.
Tapi kemudian dia di kagetkan dengan Andita yang sedang duduk di ruang tengah menatap nya dengan penuh senyum.
“Ouh God kak Dita. Kau mengagetkanku saja. Kenapa bisa kau sendiri di sini.” Ucap Zahra pelan sambil mengelus dada nya.
“Aku sedang menunggumu.” Jawab Andita santai.
“Tapi tidak harus dengan menunggu seperti itu juga kak. Aku tahu nya semua sudah tidur hingga keberadaanmu membuatku kaget mana lampu nya tidak di hidupkan lagi.” Ucap Zahra lalu segera duduk di hadapan Andita.
__ADS_1
Andita hanya diam tidak menanggapi ucapan Zahra, justru tersenyum menatap gadis itu.
“Kak, apa kau baik-baik saja?”