
“Mas, ayo lihat skripsiku dulu. Sudah ku perbaiki.” Ucap Husna yang memang telah selesai memperbaiki skripsi nya itu.
Azzam juga yang baru saja kembali dari mengajar di kelas segera menerima laptop yang di berikan oleh istri nya itu.
“Hm .. sudah seperti itu sayang.” ucap Azzam.
Husna pun menerima nya dengan senang hati lalu dia tersenyum, “Okay, terima kasih suamiku sekaligus dosenku.” Ucap Husna.
Azzam pun tersenyum, “Aku akan segera mendaftar jika seperti itu sebelum nanti di tutup pendaftaran nya.” ucap Husna kemudian. Dia segera memprint semua dokumen skripsi nya dan tentu saja menggunakan printer yang ada di ruangan suami nya itu.
***
Sementara di sisi lain, kini Abrar sedang memilih pakaian yang akan dia pakai.
“Ck, aku tidak punya pakaian formal yang bisa ku pakai untuk ikut makan siang bersama tuan dan nona. Kenapa juga harus mengajakku ikut makan sih.” Gumam Abrar.
__ADS_1
Lalu kemudian dia kembali menatap pakaian nya yang kini sudah berpindah tempat dari lemari ke ranjang nya tapi tetap saja dia belum juga menemukan pakaian yang cocok.
Abrar memang tidak memiliki banyak setelan pakaian karena jika dia datang ke perusahaan Azzam maka hanya datang dengan pakaian santai nya. Dia lebih menyukai hal yang lebih santai dan tidak formal sehingga dia pun memutuskan untuk menghubungi Jalal meminta saran pakaian apa yang akan dia pakai untuk menghadiri sebuah makan siang bersama atasan.
Tuut … tuut …
Tepat deringan kedua langsung di jawab, “Iya .. ada apa? Katakan kau ada perlu apa kau menghubungiku? Jangan ganggu aku. Aku punya banyak kesibukkan yang harus segera aku selesaikan.” Ucap Jalal to the point menjawab panggilan Abrar itu. Hingga Abrar yang mendengar nya pun hanya bisa menganga karena ucapan panjang Jalal yang bahkan dia seolah tidak di berikan celah untuk sekedar mengucapkan salam atau pun basa basi lain nya.
“Ouh .. ayolah Bro. Santai. Kenapa kau jadi membosankan begitu.” Ucap Abrar.
“He’ehh jangan. Baiklah aku serius. Tolong beri aku saran pakaian yang cocok di gunakan untuk makan siang bersama atasan.” Potong Abrar cepat karena tidak ingin membuat Jalal itu memutuskan sambungan telepon di antara mereka.
Hening
Cukup lama hening tidak ada jawaban hingga Abrar pun sampai mengecek apa panggilan masih tersambung atau tidak, “Masih tersambung kok. Tapi ini kenapa tidak ada suara nya?” ucap Abrar bingung sendiri.
__ADS_1
“Halo .. Lal.” Panggil Abrar.
Tiba-tiba terdengar tawa dari seberang ponsel, “Jangan katakan bahwa kau di paksa nyonya muda kita untuk ikut makan siang bersama.” Ucap Jalal masih dengan suara khas tawa.
Abrar pun mendesis, “Ck, iya. Nona muda menjebakku hingga aku tidak punya alasan untuk menolak.” Jawab Abrar pasrah.
“Sama. Aku pun di paksa oleh nyonya muda untuk ikut. Maka nya sekarang aku sedang berusaha untuk menyelesaikan pekerjaanku.” Ucap Jalal.
“Wah, ternyata kita korban. Jika saja itu tuan muda yang mengajakkku maka aku bisa saja menolak tapi ini langsung nona muda. Aku segan pada nya.” ujar Abrar.
“Sama.” timpal Jalal.
“Ya sudah kalau begitu beri lah aku saran pakaian apa yang cocok aku gunakan untuk makan siang bersama mereka? Apa aku harus memakai pakaian formal atau pakaian santai saja.” ulang Abrar kembali ke tujuan nya menghubungi Jalal.
“Terserah!”
__ADS_1