
Mereka sambil menunggu Gentala selesai ujian segera mengambil foto bersama Gilang. Lebih tepat nya mereka hanya mengabadikan momen Gilang dan Andita saja karena kedua pasangan itu yang baru saja mengumumkan kedekatan mereka.
Setengah jam kemudian akhirnya Gentala bergabung dan mereka pun kembali mengambil foto bersama. Husna tentu saja ikut mengambil foto bersama juga.
Dari jauh Azzam dan Zahra berjalan beriringan menuju gedung fakultas. Azzam segera mempercepat langkah nya begitu melihat sang istri yang mengambil gambar bersama Gilang di sana.
Percaya lah rasa cemburu nya itu masih saja ada. Tidak akan hilang walaupun dia tahu dan paham bahwa saat ini Gilang sedang dekat dekat dengan Andita.
"Saya ikut juga." ucap Azzam segera berdiri di sisi Husna.
Husna yang melihat itu pun hanya tersenyum saja tanpa banyak bertanya karena dia tahu alasan suami nya melakukan itu.
Husna dan Azzam pun mengambil foto bersama di sana.
Sementara Gentala mendekati Zahra yang berdiri agak jauh dari nya.
"Betty ayo ambil foto kami." pinta Gentala.
__ADS_1
Betty pun menoleh dan tersenyum menatap Gentala dan Zahra bergantian.
"Jika memang ingin mengambil foto, bukan kah jarak kalian itu terlalu jauh. Lihat lah pak Azzam dan Husna. Tanpa jarak. Lihat lah juga pasangan Gilang dan Andita yang juga berdekatan." ucap Betty.
Gentala pun tersenyum dan segera mengikis jarak antara dia dan Zahra saat Zahra sendiri diam saja tak merespon ucapan Betty.
Betty yang melihat Gentala dan Zahra sudah berada di posisi yang benar. Dia segera mengambil gambar.
Mereka pun menikmati pengambilan gambar itu dengan bahagia sampai tiba-tiba Husna memijat kepala nya hingga mengalihkan perhatian semua orang.
Azzam segera menahan istri nya itu agar tidak jatuh dan tak lama dia segera menggendong Husna, "Kalian lanjutkan. Biar ini jadi urusan saya." Ucap Azzam sebelum meninggalkan mereka.
"Mas, turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri." pinta Husna.
"Azarine!" ucap Azzam dengan nada rendah nya.
Husna yang mendengar itu pun segera diam. Tidak bicara lagi karena paham saat suami nya susah memanggil nya dengan nada rendah seperti itu berarti dia tidak ingin di bantah.
__ADS_1
Husna pun menurut saja. Jujur saja dia bingung kenapa sering pusing akhir-akhir ini dan itu mencul secara tidak teratur.
Sementara di luar mereka khawatir akan keadaan Husna.
"Tidak perlu khawatir. Abang akan menjaga kakak ipar." Ujar Zahra saat tahu bahwa mereka mengkhawatirkan Husna.
"Dia terlihat pucat." ucap Ratna khawatir.
"Tenang kak Ratna. Abang tidak akan membiarkan kakak ipar kenapa-kenapa. Dia sangat menyayangi kakak ipar. Percaya lah bahwa kakak ipar akan baik-baik saja. Lebih baik sekarang kita lanjutkan apa yang kita lakukan." Ucap Zahra.
"Zahra benar. Kita harus percaya pak Azzam bisa menjaga Husna dengan baik. Bukankah pak Azzam adalah suami Husna." sambung Andita.
Akhirnya mereka pun mengangguk dan kembali melanjutkan pengambilan foto walaupun feel nya sudah hilang.
Tiba-tiba di tengah pengambilan gambar bersama ada mobil yang berhenti tepat di depan fakultas dan itu bukan mobil yang asing di mata mereka.
Mereka pun segera tertuju melihat siapa yang akan turun dari mobil hingga mereka pun saling menatap secara serempak begitu pengendara mobil turun.
__ADS_1
"Kalian kok di ke sini--"