My Secret Love

My Secret Love
Sesuatu Hal


__ADS_3

Uni agak terkejut melihat siapa yang menyapanya, ternyata itu tante Uni.


"Tante, Tante kok ada di sini?"


"Uni, tante senang bisa bertemu kamu, tante mau minta maaf sama kamu atas semua kesalahan tante yang dulu." Tangan wanita itu seketika memegang tangan Uni.


"Lepaskan tangan Uni! Kamu mau menyakitinya lagi? Kamu benar-benar jahat sama Uni. Apa kamu tau?" ucap Aro ketus.


"Aro jangan begitu. Tanteku sudah minta maaf, dan semua orang pernah melakukan kesalahan."


"Tapi dia sudah sangat keterlaluan sama kamu, Uni! Dia itu tidak seharusnya berbuat jahat sama kamu, dia harusnya menjaga dan menyayangi kamu, apalagi dia tinggal di rumah kamu, tapi dia malah membuat kamu seolah kamu itu pembantunya." Aro menatap tajam pada wanita paruh baya di depannya.


"Uni, tante tau tante salah, tapi sekarang tante menyesal." Dan wanita itupun menangis.


"Tante, aku sudah memaafkan perbuatan Tante dan juga Selli. Aku tidak mau menyimpan dendam dengan siapapun."


"Kamu dengar apa yang dikatakan oleh keponakan kamu yang baik ini. Sekarang pergilah dari sini! Kamu mengganggu kencan makan siangku saja."


"Aro!" Uni berseru kesal dan mendelik pada Aro. "Kenapa kamu jadi sekasar itu pada orang yang lebih tua?"


"Dia memang orang yang lebih tua dari kita, tapi tidak bisa membuat dirinya agar dihormati oleh yang lebih muda. Apa yang dilakukan sama kamu masih aku ingat, dan aku tidak bisa memaafkan orang yang sudah berperilaku buruk dengan kekasihku."


"Uni, pacar kamu?"


"Iya, dan sekarang dia tidak akan ada yang menyakitinya. Aku pastikan itu," Aro menekankan kata-katanya.


"Tante, aku sudah tidak marah sama Tante. Tante jangan menangis lagi, Ya?"


Aro sama sekali tidak menunjukkan rasa kasihannya. "Uni, ayo kita pulang sekarang." Tangan Aro menarik tangan Uni mengajaknya pergi dari sana.


"Aro, kamu jangan begitu,mereka itu juga masih keluargaku yang aku punya."


"Kamu sudah memiliki keluarga yang menyayangi kamu dan memperlakukan kamu dengan sangat baik. Kamu memiliki keluargaku, Uni." Uni yang menurut saja berjalan dengan di gandeng tangannya oleh Aro.


Bruk!


Mereka tidak sengaja menabrak seseorang. "Maaf," ucap Uni.


"Uni!"

__ADS_1


"Selli!"


Uni memperhatikan selli yang ternyata perutnya membuncit. "Uni, kamu ada di sini?"


"Iya, kamu hamil, Sel?"


"Iya," ucapnya lirih sambil menahan rasa malu.


"Bukannya kamu belum menikah, lantas kenapa kamu bisa hamil?"


"Ini semua kesalahan aku, Uni. Kekasihku yang seorang pria beristri itu tidak mau bertanggung jawab dan meninggalkan aku begitu saja karena dia ternyata lebih mencintai istrinya." Selli tampak menangis.


"Selli."


"Mama." Ibu dan anak itu saling berpelukan. Aro dan Uni yang melihat tampak bingung.


Mungkin mereka sudah mendapat hukuman dari apa yang pernah di tuduhkan pada Uni waktu itu. "Uni, aku senang kamu tidak memilih kembali kepada keluarga kamu. Kamu tau? Setelah perusahaan itu berjalan lebih baik. Aku akan melamar kamu secepatnya. Aku akan bicara dengan ayahku."


"Apa kamu yakin akan menikah denganku?"


Cetak!


"Iya, tapi tidak perlu menjitakku, kan sakit?" Uni mengerucutkan bibirnya.


"Habisnya aku kesal sama kamu." Aro mengusap-usap kepala Uni dan menciumnya sampai akhirnya dia menurunkan ciumannya pada bibir Uni.


Mereka berciuman cukup lama di dalam mobil. Beberapa bulan kemudian, Aro dan Uni yang masih menyembunyikan hubungannya datang ke rumah Tante dan sepupu Uni karena Selli sudah melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan.


"Anak kamu lucu sekali ya, Sel. Mukanya mirip kamu."


"Dia juga mirip sama kamu karena dia tau jika Tantenya yang bernama Uni lah yang membantu ibunya membiayai semua pemeriksaan waktu hamil sampai melahirkan."


Uni tampak terdiam lalu meihat ke arah Aro. "Bagaimanapun juga dia juga keponakan aku, Selli. Aku senang kamu mau menerima bantuan aku yang tidak seberapa."


"Bantuan kamu sangat berharga Uni. Di saat cobaan sedang datang untukku, kamu yang sudah sering kami sakiti malah menjadi malaikat penolong."


"Aku bukan malaikat penolong. Aku hanya membantu karena kamu saudara aku juga. Kalian harus kuat menghadapi cobaan ini."


Uni dan Selli berpelukan. Aro baru tau jika Uni selama ini menggunakan uangnya untuk membantu Selli.

__ADS_1


"Kalian kapan menikah?"


Pertanyaan Selli sontak saja membuat Aro dan Uni saling menatap bingung. "Kita belum memikirkan sampai hal itu."


"Kamu jangan sampai melepaskan Uni, Aro. Dia gadis yang sangat baik, dan jika kalian menikah aku yakin kehidupan rumah tangga kalian akan bahagia."


"Tentu saja aku tidak akan melepaskan Uni." Aro menatap Uni dengan tatapan yang lembut.


Setelah makan malam di rumah Nala. Uni yang ada di dalam kamar Ara sedang di ajak curhat oleh calon adik iparnya itu.


"Kakak ipar, aku bingung sekali."


"Kakak ipar? Aku belum jadi kakak ipar kamu. Lagian kamu jangan memanggilku begitu, nanti kalau ayah kamu dengar bagaimana?"


"Biarkan saja, kamu kan memang calon kakak iparku. Aro sudah cerita sama aku jika dia ingin menikahi kamu."


"Kamu juga mau menikah juga, Kan?"


"Aku? Aku tidak tau," jawabnya malas.


"Kok tidak tau? Bukannya kamu dan Mas David sudah mengadakan pertemuan keluarga waktu itu? Lalu hasilnya kamu sama mas David apa jadi bertunangan?"


"Waktu itu hanya pertemuan biasa saja. Aku sebenarnya merasa bersalah, aku selama beberapa bulan ini jalan dengan Dean secara diam-diam."


"Apa? Kamu pacaran dengan dua orang?"


Ara mengangguk. "Aku benaran bingung, Uni. Aku mencintai Dean, tapi tidak bisa menyakiti mas David."


"Ara, apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan? Kalau sampai keluarga kamu tau kamu berpacaran dengan orang lain, bagaimana?


"Aku tidak bisa membohongi perasaan aku sama Dean, aku mencintai Dean, Uni. Walaupun nanti keluargaku akan marah padaku karena berpacaran dengan anak dari orang yang pernah bermasalah dengan kedua orang tuaku, tapi kita berdua tidak ada hubungannya dengan masa lalu kedua orang tua kita yang dulu."


"Huft! Aku benar-benar tidak tau harus berkata apa lagi sama kamu, Ara. Aku juga tau rasanya mencintai seseorang itu bagaimana, kadang akal dan pikiran kita akan tidak bisa diatur. Lalu, dengan hubungan kamu dan mas David? Mas David sangat baik sama kamu, tapi kamu malah--."


"Aku bingung ... Uni ...!"


"Aku juga bingung harus memberi kamu nasihat apa?"


Ara dan Uni saling terdiam, seketika kamar Ara juga menjadi hening. "Ara, kamu harus mengatakan yang sebenarnya pada mas David dan bilang kalau kamu mencintai orang lain, supaya mas David tidak terlalu menaruh harapan sama kamu. Anak orang bisa-bisa bunuh diri loh kalau sudah menyangkut soal cinta."

__ADS_1


"Uni, jangan nakutin begitu!" teriak Ara kesal.


__ADS_2