My Secret Love

My Secret Love
Majikan Vs Pelayan


__ADS_3

"Ibu tidak mengenal Nala, maka dari itu Ibu tidak menyukainya. Nala wanita yang beda dengan wanita lainnya."


"Bukannya dia hanya wanita matre yang menginginkan merubah nasibnya menjadi lebih baik dengan memacari pria-pria kaya, salah satunya kamu?"


Tersungging senyum miring pada bibir Radit. "Ibu mendapat info itu dari mana? Apa Om atau Tata yang mengatakannya?"


"Tentu saja om kamu yang mengatakan, bagaimanapun juga om kamu itu bos dari Nala, jadi dia tau segalanya tentang Nala."


"Om dari awal tidak suka dengan Nala karena om tau kalau aku menyukai Nala, dan dia menganggap Nala hanya mengincar hartaku dan karena aku juga pemilik cafe itu."


"Tapi buktinya Nala malah menikah dengan Akira, apa coba kalau memang wanita itu tidak mengincar pria kaya?"


"Nala sudah lama menikah dengan Akira dan secara diam-diam, dia bahkan tidak mau di ekspos jika dia istri Akira. Dia wanita yang baik, Bu. Oleh karena itu aku begitu jatuh cinta padanya."


"Tapi apa yang kamu dapat? Cintamu malah membawa kamu ke jeruji besi, kamu benar-benar dibutakan oleh cinta bodohmu itu dan sekarang putramu."


"Biarakan dia mendapatkan gadis yang di cintainya, aku malah akan membuat Akira menangis karena putrinya di sakiti."


Mereka berdua tampak menikmati kopinya dengan santai. Malam itu makan malam sudah disiapkan oleh Uni seperti biasa. Semua sudah berkumpul hanya Aro yang masih berada di kamarnya sehabis pulang dari luar.


"Uni, kamu tolong panggil Aro agar segera keluar dari kamarnya dan ikut makan bersama dengan kita," titah Nala.


Uni yang sedang menuangkan minuman ke dalam gelas Ara sontak agak kaget. "Oh iya."


Uni segera meletakkan tekonya dan pergi menuju kamar Aro. Uni mengetuk pintu dan memanggil nama Aro dari depan pintu kamar.


"Masuk," jawab si pemilik kamar.


Uni masuk dan melihat Aro sedang berdiri tanpa menggunakan atasan dan hanya memakai celana panjangnya. Dia berdiri di depan lemari bajunya yang terbuka, sepertinya dia sedang memilih baju yang ingin dia gunakan."


"Aro, kamu sedang ditunggu oleh keluarga lainnya untuk makan malam."


"Mulai sekarang panggil aku tuan muda Aro. Bukannya itu akan menjelaskan hubungan antara majikan dan pelayannya?"


Deg!


Seketika ada pisau yang menyayat pelan, tapi terasa sakit pada hati Uni. Dia menatap Aro dengan tatapan mencoba menahan air mata.

__ADS_1


"I-iya, Tuan Muda Aro," ucap Uni dengan bibir bergetar.


Aro mencoba menahan sesuatu dari dalam dirinya. Dia mencengkeram daun pintu lemari bajunya dengan kuat. Namun, Uni tidak melihat hal itu.


"Uni, kamu tolong pilihkan baju yang pantas buatku untuk aku pakai keluar dengan Sifa." Aro berjalan dan duduk pada tepi tempat tidurnya.


"Aku yang memilih?"


"Iya, memangnya ada orang lain di sini, lagian aku memanggil nama kamu. Cepat pilihkan, aku tidak mau membuat Sifa menunggu lama, apalagi ini kencan pertamaku."


"Kencan?"


"Iya. Apalagi kalau bukan kencan? Seorang pria dan wanita jalan berdua. Apalagi kalau namanya bukan kencan?"


Uni tidak mau membahas hal ini lama-lama, dia takut hatinya akan semakin terasa sakit, walaupun dia sendiri tidak tau kenapa rasanya seperti itu.


Uni berjalan menuju lemari baju milik Aro dan mulai memilih baju untuk Aro. Aro duduk menunggu di tepi ranjangnya memperhatikan Uni.


"Kalau pakai yang ini saja, apa kamu mau?" Uni menunjukkan sweater berwarna putih tulang dan tidak ada motifnya.


Uni mengerucutkan bibirnya meletakkan kembali baju yang diambilnya tadi. Kemudian dia tidak lama Uni menunjukkan lagi kemeja putih polos berlengan panjang kepada Aro.


"Bagaimana kalau ini saja, sesuai dengan celana yang sekarang kamu pakai?"


Aro beranjak dari tempatnya dan sekarang berdiri tepat di depan Uni. "Sekarang pakaikan baju itu untukku."


"Apa? Aku yang memakaikan baju ini sama kamu? Kenapa kamu tidak memakainya sendiri?"


"Apa kamu lupa pekerjaan kamu di sini? Aku memerintahkan kamu, Uni. Apa kamu tidak bisa tidak membantahku?" nada bicara Aro terdengar kesal.


Uni hanya terdiam dan dia akhirnya mau memakaikan baju itu pada tubuh Aro. Tampak wajah Uni yang sangat dekat dengan dada Aro, bahkan Uni dapat mencium aroma tubuh Aro. Uni sekarang mulai mengancingkan satu persatu kancing kemeja Aro dari bawah.


Aro menatap tidak lepas pada gadis di depannya itu. Dalam hatinya dia sangat kesal dengan Uni, dan ingin sekali mencium gadis itu dengan sangat liar untuk meluapkan kekesalannya pada Uni.


"Sudah selesai." Uni hanya menyisahkan dua buah kancing yang masih terbuka agar penampilan tidak terlalu formal.


"Aro, Uni, kalian sedang apa? Kenapa kalian lama sekali keluar dari kamar? Kita dari tadi sudah menunggu di meja makan."

__ADS_1


"Aku sedang menyuruh Uni mencarikan aku baju untuk aku pakai kencan dengan Sifa. Bagaimana menurut kamu dengan penampilan aku?"


"Kamu mau kencan dengan Sifa? Kamu serius Aro?"


"Menurut kamu? Kamu bilang sendiri aku harus sedikit membuka diri, jangan terlalu kaku dan dingin pada seorang gadis."


"Iya, tapi kamu dan Uni, kan?" Ara melihat ke arah Uni dan kemudian berganti pada Aro.


"Uni dan aku hanya sebatas majikan dan pelayan, tidak lebih. Benarkan itu, Uni?"


"I-iya, Ara."


"Kalian ini pasti sedang ada masalah, apa tidak bisa dibicarakan baik-baik tanpa harus bersikap saling menyakiti begini?"


"Kami tidak ada masalah apa-apa. Malahan ini yang diinginkan Uni dan membuat hatinya lebih lega dan tidak merasa dibawah tekananku."


Aro berjalan keluar dan membiarkan dua gadis itu saling melihat. "Uni, kamu benaran tidak mau memiliki hubungan dengan Aro? Dan kamu tidak mencintai Aro?"


"Aku tidak pantas mencintai Aro. Dia lebih pantas dengan orang lain." Uni berjalan keluar.


Ara menggaruk-garuk kepalanya bingung melihat mereka berdua. Ara kemudian keluar dari dalam kamar Aro juga dan bergabung makan malam dengan keluarganya.


"Aro, kamu mau ke mana?"


"Maaf, semua, aku tidak ikut makan malam dengan kalian karena aku mau pergi dengan Sifa teman Ara."


"Apa? Kamu serius, Aro?" Nenek Anjani tampak terkejut mendengar apa yang di katakan oleh cucunya barusan.


"Iya, Nek. Tadi Sifa mengajakku untuk pergi jalan-jalan ke Taman Gold yang baru di buka itu, makannya aku meminta tolong Uni untuk membantuku memilih pakaian yang sesuai."


"Oh ... jadi kamu mau tampil sempurna karena ini kencan pertama kamu dengan seorang gadis?"


"Ya ... bisa di bilang begitu. Kalau begitu aku akan pergi dulu."


"Aro, jangan mengajak seorang gadis pulang malam-malam, Ya?" Akira memberi nasihat dan Aro menganggukkan kepalanya.


Nanti author up lagi ya, ini masih rebahan bentar

__ADS_1


__ADS_2