
“Bukan kah mas sudah mendengar semua nya?”
Husna segera menatap suami nya itu juga lekat, “Kenapa ingin aku mengulangi nya lagi? Mas gak mimpi kok. Aku memang mengatakan nya tadi. Jadi jangan memintaku untuk mengulangi nya.” Ucap Husna.
Azzam pun tersenyum lalu dia semakin mengeratkan pelukan nya itu, “Mas, sesak tahu. Jangan erat-erat meluk nya.” Ucap Husna.
Azzam yang mendengar ucapan istri nya itu yang protes atas pelukan nya bukan nya melepaskan tapi tetap saja mempertahankan pelukan nya itu, “Mas gak akan melepaskan pelukan nya jika kau tidak kembali mengatakan nya lagi.” Ucap Azzam menggeleng.
Husna pun tersenyum lalu dia mencoba melepaskan pelukan erta suami nya itu yang menahan nya tetap berbaring dan berada di pelukan suami nya, “Untuk apa coba di ulangi lagi jika memang sudah dengar mas. Tidak ada yang berubah. Ucapan nya tetap sama. Aku tetap menyayangimu.” Ucap Husna.
“Gak, bukan ungkapan itu sayang yang mas minta untuk di ulang.” Ucap Azzam tanpa sadar melonggarkan sedikit pelukan nya itu.
Husna pun menggunakan kesempatan itu untuk lepas dari pelukan suami nya. Dia segera bangkit dari ranjang. Tidak lupa dia juga menjauh dari jangkauan suami nya itu.
“Sayang!”
Husna tetap hanya tersenyum melihat suami nya yang menatap nya dengan cemberut itu.
“Azarine!” panggil Azzam. Tapi Husna tetap saja berdiri jauh dari ranjang. Husna justru lebih memilih untuk pergi ke kamar mandi.
“Azarine Salsabila Husna. Berhenti di sana. Jangan masuk ke kamar mandi. Suamimu ini melarangmu.” Ucap Azzam dengan tegas.
__ADS_1
Husna pun segera menghentikan langkah nya dan berbalik menatap suami nya itu. Dia tahu dan paham jika suami nya itu sudah memanggil nya dengan nama lengkap nya maka itu berarti dia sedang serius dan menunjukkan kekuasaan nya sebagai suami. Husna sebagai istri pun merasa tidak bisa melawan hal itu.
Husna pun mendekati suami nya itu yang sudah duduk di tepi ranjang. Husna memilih duduk di pangkuan suami nya itu. Dia sudah tahu apa yang akan membuat suami nya itu luluh. Setidak nya itu yang dia pelajari setelah dua minggu lebih menjadi seorang istri.
Azzam hanya diam saja di posisi nya itu dan tidak merespon apapun. Dia pura-pura memasang wajah merajuk nya dan ingin tahu bagaimana istri nya itu membujuk nya. Emang hanya cewek saja yang bisa merajuk. Cowok juga bisa.
Husna tersenyum melihat suami nya itu yang seolah tidak peduli pada nya. Husna mendekatkan bibir nya di kening sang suami dan memberikan kecupan lembut di sana. Tidak lupa kedua pipi Azzam di kecup nya. Hanya bibir saja yang dia lewati karena jujur saja dia masih malu jika harus melakukan itu. Gengsi. Itu adalah sesuatu yang tidak pernah bisa lepas dari seorang perempuan bukan.
Husna mendekatkan wajah nya di telinga suami nya itu dan berbisik, “Aku mencintaimu suamiku. Sangat cinta. I Love You. Wo Ai Ni. Saranghae! Aishiteru.” Ucap Husna dengan lima bahasa yang dia tahu dan lumayan dia kuasai itu.
Azzam yang mendengar itu dengan sangat jelas pun tersenyum lalu memeluk istri nya itu erat. Sungguh ungkapan cinta dalam lima bahasa itu membuat nya sangat bahagia. Memang benar cinta tidak di ukur dari ungkapan cinta tapi dia tetap ingin mendengar ungkapan cinta itu dari istri nya.
“I Love You more and more baby.” Balas Azzam dengan memeluk erat istri nya itu.
Azzam melepas pelukan nya dan menatap manik mata istri nya yang membuat nya jatuh cinta dalam pesona istri nya. Mata amber kesukaan nya. Pemilik mata amber kesayangan nya. Cinta nya dan segala nya.
Azzam mengecup bibir istri nya itu dengan lembut dan kedua nya pun larut dalam ciuman penuh kelembutan dan perasaan satu sama lain. Kedua nya menghayati hal itu hingga larut dalam bunga-bunga cinta yang seperti nya sedang mengelilingi mereka. Kebahagiaan kedua nya.
Setelah beberapa saat Azzam pun menyudahi aktivitas mereka itu dan tidak lupa dia mengusap bekas saliva mereka yang tersisa di bibir sang istri. Dia mempertemukan kening kedua nya dan tersenyum.
Setelah itu dia segera menggendong istri nya itu menuju kamar mandi dan kedua nya pun mandi bersama. Memang mereka sudah beberapa kali mandi bersama. Jadi walaupun Husna masih canggung jika mandi bersama tapi dia mulai bisa menerima nya dan menganggap hal itu adalah hal yang biasa terjadi pada pasanagn suami istri pada umum nya.
__ADS_1
***
Singkat cerita, kini mereka selepas sholat ashar. Kedua nya bersantai di balkon kamar Azzam itu yang mengarah ke taman samping yang di tanami beberapa tanaman bunga di sana.
Husna dan Azzam bersantai di sana dengan di temani oleh dua gelas teh karena memang Azzam sendiri yang meminta untuk minum teh bersama istri nya itu. Bukan kah minum teh sore hari bersama pasangan halal itu menyenangkan. Hmm, memang sangat menyenangkan untuk di bayangkan. Author saja mau. Hehehe!
“Mas, aku mau menatap primrose di taman itu. Boleh gak?” tanya Husna menunjuk taman.
Azzam pun mengangguk, “Hum, nanti akan kita buat.” Jawab Azzam.
“Mas, aku ingin mengatakan sesuatu. Ahh bukan ini seperti sebuah pengakuan.” Ucap Husna.
Azzam pun tidak menyela ucapan istri nya itu. Dia diam saja dan menunggu istri nya itu melanjutkan perkataan nya, “Mas, aku sudah mengungkapkan perasaanku padamu. Aku mencintaimu tapi aku sedikit merasa bersalah karena tidak mengakui sesuatu padamu. Jadi kali ini aku akan mengakui sesuatu. Aku harap kau mau mendengar nya dan memaafkan aku jika nanti aku salah bicara nanti atau mungkin apa yang akan aku katakan nanti menyakiti hatimu.” Ucap Husna.
Azzam pun tersenyum, “Kamu seperti mau mengakui suatu dosa saja sayang. Kamu tidak perlu melakukan hal itu. Aku akan menerimamu apa ada nya. Aku tidak menuntutmu untuk sempurna walaupun pada kenyataan nya kau itu sudah nyaris sempurna.” Ucap Azzam.
“Mas, terlalu memujiku. Aku tidak se-perfect itu mas. Aku punya banyak kekurangan dan jadi istrimu aku merasa bahwa semua kekurangan yang aku miliki itu kau lengkapi mas. Kini aku mengerti dengan kata bahwa suami istri itu saling melengkapi.” Ucap Husna.
“Tapi memang benar mas bahwa pengakuan yang akan aku lakukan nanti seperti pengakuan sebuah dosa.” Ucap Husna.
Azzam menggeleng, “Mas gak percaya hal itu. Istri mas ini adalah yang terbaik.” Ucap Azzam.
__ADS_1
“Aku tidak sebaik itu mas. Mana ada wanita baik berstatus istri masih menyimpan foto laki-laki lain. Itu adalah tindakan tidak baik.” ujar Husna lirih.