My Secret Love

My Secret Love
Tidak Sengaja bertemu


__ADS_3

Bibi Anjani akhirnya memilih untuk tidak ikut bergabung dengan Nala. "Gara-gara kamu, Akira."


"Kenapa gara-gara aku? Memang aku salah apa?"


"Kenapa membahas hal itu begitu gamblang di sini, nanti di kamar kan bisa?"


"Aku kesal sama kamu, kenapa kamu tidak paham akan ucapan aku tentang hal itu?"


"Huft!"


"Boleh tidak?"


"Hah?" Nala sampai melongo kaget, ternyata suaminya ini benar-benar masih membahas masalah ini."


"Boleh, tapi hati-hati."


Terbitlah senyum pada sudut bibir Akira. Senyum yang Nala tau itu adalah senyuman kebahagiaan bagi Akira.


"Sudah malam, kamu tidak capek?" Akira mulai mendekat ke aran Nala.


"Jam berapa memangnya?" Nala malah sibuk mengganti channel televisinya.

__ADS_1


"Sudah malam. Jangan banyak nonton televis, tidak baik untuk kesehatan mata, lagian besok kita akan pergi jalan-jalan. Jadi kamu harus banyak istirahat." Akira mengambil remote televisi dan menggendong Nala ala bridal style masuk ke dalam kamar.


"Aku juga tidak mungkin istirahat di dalam kamar, aku tau maksud kamu, Sayang."


"Istri yang pintar.


Uda yah tau kan yang mereka lakukan, sedang membuka jalan buat kelahiran baby, biar lancar. Akakakak!


Keesokan harinya, setelah mereka makan pagi bersama, sesuai janji Akira, mereka akan pergi bersama-sama untuk berbelanja di pusat perbelanjaan yang besar.


Toko pertama yang mereka kunjungi adalah busana wanita. Di sana Nala mencari baju-baju untuk dirinya karena perutnya yang terlihat semakin besar dan baju yang waktu itu dibelikan oleh Akira sudah tidak muat.


"Bi, Bibi boleh mencari baju yang juga Bibi sukai."


"Tidak apa-apa, Bi. Bibi beli saja."


Nala membeli beberapa baju dan celana ibu hamil setelah mencobanya. "Akira, aku membeli ini saja, tidak perlu banyak-banyak, lagian kalau aku sudah melahirkan ini tidak akan dipakai lagi."


"Ya sudah, nanti setelah melahirkan aku akan membelikan kamu baju lagi."


"Untuk apa? Kalau aku melahirkan aku bisa memakai bajuku yang dulu."

__ADS_1


"Ada yang tidak kamu punyai. Lingerie kamu tidak ada, nanti kita beli itu juga. Tolong ingatkan aku," Akira berbisik pada Nala.


"Dasar! Kenapa masih bisa memikirkan hal itu? Aku setelah melahirkan tidak mau memiliki anak lagi dalam waktu dekat, aku kasihan kalau mereka belum dewasa sudah memiliki adik lagi."


"Aku malah suka memiliki banyak anak sama kamu, biar rumah kita ramai."


"Kamu saja yang melahirkan." Nala melengos pergi menuju kasir.


Setelah membayar, mereka sekarang menuju ke toko di mana menjual kebutuhan bayi dan banyak sekali khusus bayi.


"Wah! Di sini besar sekali tempatnya, dan banyak baju-baju bayi yang lucu." Nala segera berjalan masuk dan mulai melihat-lihat semunya.


"Nala, kamu hati-hati, jangan berlarian kecil begitu."


"Iya, Sayang."


Nala melihat semua yang ada di sana dengan bibi Anjani. Tidak lama ponsel Akira berdering dan dia lihat yang menghubunginya adalah orang yang diminta Akira mengawasi perusahaannya yang ada di kampung Seno.


"Nala, aku mau menerima telepon dulu, kalian berbelanjalah."


Nala mulai memilih baju-baju bayi, sedangkan Bibi Anjani melihat-lihat mainan dan botol bayi. Tidak lama pandangan Nala tertuju pada seseorang yang ada di luar jendela kaca di mana Nala sedang melihat bajunya.

__ADS_1


Nala keluar dari toko itu tanpa di ketahi oleh bibi dan suaminya. Nala mendekat ke arah orang yang ada di dekat eskalator.


__ADS_2