My Secret Love

My Secret Love
Keterkejutan Ara


__ADS_3

"Aku tidak mau memaksakan apapun itu pada anak-anakku, biar mereka nanti yang memutuskan karena aku yakin mereka akan bisa bertanggung jawab pada apa yang mereka pilih," terang Nala.


"Tapi David itu pria yang baik dan pasti pantas buat Ara, Nala," ucap tante Maya.


"Iya, Tante, aku juga tadi berkenalan dengan David dan aku rasa dia memang anak yang baik dan sopan, tapi semua itu tetap tergantung Ara."


"Coba kamu bicara sama Ara, siapa tau dia juga menyukai David." Nala hanya mengangguk mendengar ucapan tante Maya.


Malam itu, Ara terlihat sangat menikmati berdansa dengan David. Ara tampak tersenyum senang dengan candaan yang di layangkan oleh David.


Mereka berdua tidak sadar jika dari kejauhan ada sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan yang dingin. "Siapa pria itu? Apa pria itu adalah pria yang akan di jodohkan dengan Ara?" dialognya sendiri.


Setelah hampir setengah jam lebih mereka berdansa, Ara ingin beristirahat dan David menawarkan akan mengambilkan Ara minuman.


"Jus leci?"


"Terima kasih, David."


David berjalan menuju stand minuman dan mencari jus leci untuk Ara. "Jus lecinya tidak ada?"


"Maaf, apa ada yang bisa saya bantu?" Tiba-tiba suara Dean ada di samping David.


"Oh itu, aku sedang mencari jus leci untuk temanku di sana." David menunjuk pada Ara yang duduk sendirian.


"Maaf, jus lecinya habis, dan di dalam juga stoknya sudah tidak ada."


"Oh begitu. Kamu siapa? Kenapa bisa tau tentang stok jus leci?"


"Saya kepala catering di sini, jadi saya tau tentang stok makanan di pesta ini."


"Wow! Kamu kepala catering di sini? Apa kamu juga pemiliknya?"


"Kebetulan nenek saya pemilik catering ini dan menyerahkan semua urusannya sama saya."


"Kamu masih muda dan aku percaya kamu pasti bisa memiliki bisnis di usia muda. Hebat sekali."


"Terima kasih. Oh ya! Ini saja berikan pada teman kamu, dia pasti menyukainya."


"Ini apa? Kenapa aku tidak melihat minuman ini di sini?"


"Ini memang tidak ada di menu makanan yang Tante Maya pesan, aku membuatnya sendiri di dalam tadi." Dean menyerahkan minuman berwarna coklat.

__ADS_1


"Ya sudah, aku berikan ini saja."


"Iya, aku yakin dia pasti suka." Dean berlalu pergi dari sana. David segera berjalan menuju di mana Ara menunggu.


"Ara, maaf, jus lecinya sudah habis, tapi ada ini. Siapa tau kamu menyukainya." David menyodorkan minuman yang tadi di berikan oleh Dean pada Ara.


"Ini apa?" Ara mencobanya dan seketika mukanya berubah senang, ada senyuman terlukis dari bibirnya. "Coklat hazelnut? Kamu dapat dari mana? Bukannya tadi di stand minuman tidak ada?"


"Kamu menyukainya?"


"Aku sangat suka sekali minuman ini." Ara dengan cepat mengabiskan langsung setengah gelasnya.


"Tadi ada seorang pria, dan dia bilang kalau dia kepala catering di sini, dan minuman itu tidak ada di menu, dia tadi barusan membuatnya sendiri." Ara terdiam sejenak dan dia tau siapa yang di maksud oleh David. Ara mengedarkan matanya mencari sosok Dean." Kamu sedang mencari siapa, Ara?"


"Em ... aku tidak mencari siapa-siapa, Kok. Terima kasih ya, David."


"Iya, sama-sama, aku senang ternyata kamu menyukainya."


Acara malam itupun berakhir dengan lancar. Ara pulang dengan keluarganya dan Dean melihat hal itu dari kejauhan.


Di depan mobilnya, David mendekat pada Ara dan keluarganya. "Tante Nala, apa boleh kapan-kapan aku main ke rumah, Tante?"


"Terima kasih kalau begitu. Ara senang berkenalan dengan kamu."


"Aku juga senang bisa berkenalan sama kamu, David." Ara memberikan senyumannya. Mereka pulang ke rumah.


Keesokan harinya, Uni sudah menyiapkan sarapan pagi untuk seluruh anggota keluarga Akira dan mereka makan bersama.


"Uni, ayo ikut makan dengan kita, setelah itu ayah akan mengantar kalian seperti biasa."


"Saya makan nanti saja di kampus, Ayah Akira. Saya biasa membawa bekal di kampus."


"Mulai sekarang kamu akan makan bersama dengan kita semua di sini. Kamu sudah kita anggap bagian dari keluarga ini," terang Akira.


"Terima kasih, Ayah Akira." Uni melihat pada Aro yang duduk menikmati makanannya.


"Sekarang kamu duduk di sini kalau begitu dan makan dengan kita semua." Ara bangkit dan pindah tempat duduk.


"Kenapa kamu pindah? Aku duduk dekat nenek saja."


"Tidak apa-apa, aku juga bosan duduk sebelah Aro terus, apalagi Aro membawa hawa dingin kalau di dekatnya." Ara terkekeh.

__ADS_1


"Memangnya aku kulkas?"


"Kamu tidak hanya kulkas, tapi kamu kutub utara," cibirnya.


Uni mau tidak mau akhirnya duduk di sebelah Aro dengan perasaan dag-dig-dug. Mereka kemudian melanjutkan makan paginya.


"Yah, apa boleh aku yang mengantarkan Ara dan Uni pergi ke kampus?"


"Apa keadaan kamu sudah baikkan, Aro?"


"Aku sudah tidak apa-apa, Ma. Uni sangat baik merawatku dan buburnya itu enak sekali. Dia malah lebih cerewet daripada Mama."


"Aku tidak cerewet," celetuk Uni mengerucutkan bibrinya.


Aro mendekat pada Uni. "Jangan mengerucutkan bibir kamu seperti itu," bisiknya.


Uni yang mendengar bisikan Aro seketika melihat sekelilingnya dan menetralkan bibirnya biasa.


"Ya sudah kalau kamu sudah sehat, kamu boleh mengantarkan mereka ke kampusnya," ucap Nala.


Selesai makan mereka bertiga berpamitan berangkat ke kampus. "Uni, kamu duduk di depan saja, biar aku duduk di belakang." Ara langsung masuk dan duduk di kursi belakang.


Uni tampak bingung dan dia akhirnya di minta Aro untuk duduk di depan. Di sepanjang perjalanan mereka hanya diam saja. Ara yang melihatnya tampak terkekeh dan terlintas ide jahil di benaknya.


Ara mendekat ke arah kursi mereka. "Aro, kalian kenapa tidak pacaran saja sama Uni? Kalian kelihatan cocok loh."


Uni mendelik melihat ke arah Ara yang ada di belakangnya. "Jangan bicara yang tidak-tidak, Ara."


"Aku tidak bicara yang tidak-tidak, aku setuju kalau kalian pacaran, yang satu dingin seperti es, yang satu lembut dan kalem. Perpaduan yang sempurna."


"Kita memang sudah pacaran," ucap Aro tegas tanpa menoleh pada Ara.


Uni mendelik sekali lagi mendengar apa yang di katakan oleh Aro. "Aro!"


"Apa? Kalian sudah berpacaran?" Ara melihat pada Aro kemudian gantian melihat pada Uni yang memandang Aro dari tadi.


"Ara, sebenarnya tidak begitu."


"Tidak begitu apanya? Bukannya semalam kita sudah jadian, kamu jangan menyangkal hal itu. Kita sekarang sudah berpacaran, Uni. Apa perlu aku mencium kamu di depan Ara agar lebih yakin?"


Uni seketika memundurkan tubuhnya dan menutup bibirnya dengan tangannya. "Hah? Kalian sudah pernah berciuman?" Ara sekali lagi terkejut mendengar apa yang di katakan oleh saudara kembarnya.

__ADS_1


__ADS_2