My Secret Love

My Secret Love
74


__ADS_3

Akhirnya setelah menghabiskan waktu kurang lebih dua jam, mereka pun sudah selesai membantu Gilang dan Gentala dalam menyusun bab tiga proposal kedua pria itu.


“Terima kasih Husna, Dita, sudah membantu kami menyusun bab tiga kami itu. Jika tidak ada kalian mungkin kami sekarang masih pusing merevisi nya.” Ujar Gilang tulus.


“Semoga saja sudah seperti itu dan tidak perlu di revisi lagi.” Ucap Husna tersenyum.


“Aamiin …” ucap Gilang dan Gentala bersamaan.


Tiba-tiba ponsel Husna berdering. Husna pun mengambil ponsel nya itu dari tas yang dia bawa dan ternyata itu panggilan dari Zahra, “Halo, Assalamu’alaikum dek!” salam Husna.


“Wa’alaikum salam kak. Kakak di mana?” tanya Zahra dari seberang.


“Ada di kampus dek. Ada apa?” tanya Husna lembut.


“Aku bosan kak sendiri di kampus. Aku mau di temani. Kakak di mana biar aku samperin.” Ucap Zahra.


Husna pun melihat sekeliling dan ternyata dia mengenali adik ipar nya yang berada di parkiran, “Hum, kakak ada di sisi kirimu.” Ucap Husna.


Zahra yang mendengar ucapan Husna di ponsel nya pun segera melihat sisi kiri nya dan melihat Husna yang melambai. Zahra bisa melihat bahwa kakak ipar nya itu tidak sendiri melainkan bersama empat teman nya yang tentu saja di kenal.


“Ouh kakak sibuk ya. Ya udah gak usah deh kak. Aku gak jadi.” Ucap Zahra.


“Ee’ehh kenapa begitu? Ayo sini. Gak apa-apa. Kakak sudah selesai kok.” ucap Husna.


“Ya sudah aku ke sana.” Jawab Zahra. Lalu setelah itu sambungan telepon di antara mereka pun terputus.


Zahra pun segera melangkahkan kaki nya berjalan menuju arah Husna dan teman-teman nya berada. Percaya lah saat ini jantung nya berdetak kencang saat tahu bahwa ada seseorang di sana. Seseorang yang dia kagumi.


Zahra segera mendekati Husna dan tersenyum kepada kakak ipar nya itu. Zahra segera membungkukkan badan nya menghormati mereka sebagai bentuk hormat dari junior kepada senior nya. Walaupun itu terlihat sangat berlebihan.

__ADS_1


“Ayo, duduk lah dek.” ucap Husna mempersilahkan adik ipar nya itu duduk di samping nya.


“Siapa dia Na?” tanya Gentala.


“Ouh iya aku belum mengenalkan nya. Ini Zahra adik kelas kita. Saat ini dia semester lima. Dia adik iparku. Adik suamiku.” ucap Husna memperkenalkan Zahra kepada teman-teman nya itu terutama, Betty, Gilang dan Gentala yang memang belum tahu. Jika Andita dia sudah tahu karena mereka sudah sering bertemu di kediaman utama.


“Zahra!” ucap Zahra lembut.


“Cantik!” puji Gentala terang-terangan hingga membuat Zahra yang mendengar itu sedikit memerah wajah nya.


Gilang yang mendengar ucapan sepupu nya itu pun segera menyikut Gentala, “Jangan sembarangan membuat anak orang baper.” Ucap Gilang.


“Ck, aku bicara kenyataan nya Lang. Emang salah. Dia kan memang cantik.” timpal Gentala tidak mau kalah.


“Sudah. Kenapa kalian jadi bertengkar. Tidak perlu memperdebatkan hal yang tidak harus di perdebatkan. Semua pria tampann dan semua wanita cantik.” potong Husna lalu dia melihat ke depan sana di mana sang suami menatap nya.


“Apa sudah selesai?” tanya Azzam begitu dia sudah berada dekat dengan mereka dan tepat berada di belakang sang istri.


Husna pun menoleh dan mengangguk, “Sudah selesai.” Jawab Husna tersenyum.


Azzam pun tersenyum lalu mengambil laptop milik Gilang yang masih menyala. Dia memeriksa nya dan tersenyum karena menurut nya semua sudah bagus, “Bagus, semoga saja kau bisa segera maju ujian proposal.” Ucap Azzam lalu mengembalikan laptop Gilang itu.


“Terima kasih pak.” Balas Gilang dan Gentala.


Azzam pun mengangguk, “Ya sudah ayo kita pulang.” Ucap Azzam mengusap kepala sang istri.


Husna pun berdiri lalu mengangguk, “Pak, Husna, tidak bisa kah kita makan siang bersama dulu. Anggap saja ini sebagai penepatan janjimu padaku saat kita baru selesai KKN waktu itu. Pak Azzam bisa ikut. Tidak masalah.” Ucap Gilang.


Husna pun menatap suami nya itu lalu Azzam pun tersenyum, “Baiklah. Mari kita lakukan itu. Ini juga bisa di katakan sebagai sambutan atas kesembuhanmu. Saya yang traktir.” Ucap Azzam.

__ADS_1


“Ee’ehh gak usah pak. Biar saya saja karena saya yang mengajak.” Ucap Gilang menolak dengan penuh hormat.


“Baiklah. Ayo sayang. Zahra ayo. Ikut abang dan kakak iparmu.” Ajak Azzam kepada adik ipar nya itu.


“Ee’ehh abang sama kakak ipar saja. Aku gak ikut.” Tolak Zahra.


“Ikut saja. Gak apa-apa kok.” ucap Gentala di angguki oleh Gilang.


“Sudah … ikut saja dek.” ucap Betty.


“Ahh baiklah.” Jawab Zahra akhirnya.


Mereka pun segera menuju mobil masing-masing. Azzam bersama istri dan juga adik nya. Betty bersama Andita. Gilang tentu saja bersama Gentala. Saat mereka sudah tiba di kenderaan masing-masing tiba-tiba ada seseorang yang datang, “Apa aku bisa ikut bersama kalian?” tanya nya penuh harap.


Husna yang hendak masuk ke mobil pun menghentikan langkah nya begitu mendengar suara yang cukup dia kenal. Husna segera mendekati Andita yang kini menatap orang itu dengan tatapan sendu, “Ratna!” panggil Husna.


Ratna menatap Husna lalu tiba-tiba saja dia bersimpuh, “Maafkan aku Na! Maaf!” ucap nya.


Husna segera membantu Ratna berdiri, “Jangan begitu Ratna. Kau tidak salah padaku. Jangan melakukan hal seperti itu lagi. Ayo sini aku peluk!” ucap Husna merentangkan tangan nya itu. Ratna yang melihat itu pun tersenyum terharu dan segera memeluk Husna.


“Maafkan aku atas semua kesalahan yang sudah ku lakukan padamu Na. Aku terlalu sombong dan bangga akan apa yang ku miliki hingga semena-mena terhadap orang lain. Terima kasih sudah menyadarkan aku.” Ucap Ratna dalam pelukan Husna.


Husna pun hanya tersenyum. Dia tahu bahwa Ratna sudah berubah karena dia memang bisa melihat bahwa Ratna memiliki sisi baik nya sendiri yang tertutupi oleh sisi jahat nya yang terlihat selama ini. Untuk itu Husna meminta seseorang mengikuti Ratna semenjak dia keluar dari penjara dan orang itu pun melaporkan apa saja yang di lakukan Ratna. Salah satu nya yaitu melihat apa yang di lakukan oleh Andita dan diri nya.


“Aku senang kau sudah berubah. Aku harap kau tidak akan melakukan nya lagi pada orang lain.” Ucap Husna lalu melepas pelukan mereka itu.


Kini Ratna menatap Andita sekilas lalu dia menunduk karena tidak berani menatap Andita yang sudah dia lukai sedalam itu. Dia sudah sadar apa yang sudah dia perbuat kepada Andita itu sulit di maafkan. Dia kadang-kadang menyebut Andita sebagai peliharaan nya saja. Padahal jauh di lubuk hati nya dia menganggap Andita sebagai saudari nya. Dia iri saat Andita lebih mementingkan Husna dari diri nya. Untuk itu kebencian itu timbul.


“Kau tidak ingin memelukku? Kenapa hanya diam saja?”

__ADS_1


__ADS_2