My Secret Love

My Secret Love
107


__ADS_3

“Gen, apa kau sudah membaca pesan di grup kita?” tanya Gilang saat mereka juga baru saja keluar dari ruangan pendaftaran untuk proposal. Yah kedua laki-laki itu baru saja memenuhi persyaratan pengajuan ujian proposal.


Gentala bingung dengan mengangkat alis nya, “Emang ada apa di grup kita?” tanya Gentala.


“Pak Azzam dan Husna mengajak kita untuk makan siang bersama. Para cewek yang sudah membooking tempat nya.” ujar Gilang.


“Apa Zahra juga ikut?” tanya Gentala saat mendengar para cewek di sebut oleh Gilang.


“Kenapa kau tanya padaku soal itu? Kenapa tidak langsung menghubungi gadis kecil itu dan tanyakan pada nya apa dia ikut atau tidak.” Ujar Gilang.


“Ck … aku tidak berani menghubungi nya.” ucap Gentala lirih.


Gilang pun menoleh menatap sahabat sekaligus sepupu nya itu, “Kenapa? Apa kau ada masalah dengan nya?” tanya Gilang.


Gentala menggeleng dan mengangkat bahu nya, “Entah lah. Aku juga bingung. Hanya saja setelah makan siang waktu itu saat pesta pernikahan pak Azzam dan Husna dia bertingkah seolah menjauhiku.” Jawab Gentala.


“Lalu apa kau sudah menanyakan pada nya alasan nya melakukan hal itu?” tanya Gilang.


“Aku tidak berani menemui nya.” jawab Gentala.


Gilang yang mendengar itu pun segera menepuk bahu sepupu nya itu, “Temui dia dan tanyakan secara langsung kenapa dia menghindarimu. Ingat … jangan lakukan hal yang sama yang seperti yang ku lakukan. Jangan mengulangi kesalahanku. Jika kau menyukai nya maka ungkapkan. Jika tidak maka lepaskan lah dia untuk orang yang mungkin saja mencintai nya. Jangan egois dengan menahan nya tanpa kepastian.” Ucap Gilang bijak.


“Kenapa tiba-tiba kau mendadak bijak Lang. Kau seperti orang lain saja.” ucap Gentala dengan senyuman.


“Aku hanya tidak ingin apa yang terjadi padaku akan terjadi padamu. Belajar lah dari pengalamanku.” Ucap Gilang.


Gentala pun mengangguk, “Kau tenang saja. Aku juga tidak akan melakukan hal itu. Kau tahu bukan aku ini masih lebih pintar darimu jika dalam hal ini.” timpal Gentala.


“Sial!” umpat Gilang tidak terima.


Gentala pun tertawa melihat reaksi yang di berikan sepupu nya itu, “Tidak perlu memikirkan aku. Kau lebih baik pikirkan juga dirimu sendiri. Bukan kah kau tidak ingin gagal untuk kedua kali nya? Aku lihat hubunganmu dengan Andita belum ada perkembangan apapun. Jangan sampai hanya dirimu yang mengulangi kesalahan yang sama.” ucap Gentala.


Gilang yang mendengar ucapan sepupu nya itu pun menarik nafas panjang dan baru dia sadari bahwa dia pun sama dengan sepupu nya itu sedang dalam fase diam-diaman, “Aku bingung mau melakukan apa Gen. Aku takut di anggap hanya menjadikan nya sebagai pelampiasan atas rasa sakitku karena di tinggal nikah oleh Husna. Aku tidak ingin orang-orang menganggap nya seperti itu. Aku bingung harus apa?” ucap Gilang.


“Tidak perlu bingung begitu. Kau pastikan saja dulu semua perasaan di hatimu. Jika hatimu sudah yakin bahwa kau tidak memiliki perasaan cinta, suka atau pun kagum lagi kepada Husna maka kejar lah cintamu itu. Jangan sampai lepas dan lakukan dengan cepat.” Ucap Gentala menepuk bahu sepupu nya itu.


“Aku sudah mencoba untuk menyakin nya sendiri. Tapi aku ragu pada diriku sendiri. Aku masih mengagumi Husna, Gen.” ucap Gilang.


“Wah, kau parah. Dia itu sudah memiliki suami Lang. Sadar lah.” Ucap Gentala.


“Ck, aku juga tahu. Aku juga sudah rela melepaskan nya demi kebahagiaan nya itu. Tapi apakah menurutmu akan segampang itu melupakan cinta pertama.” Ucap Gilang.


“Aku gak tahu hal itu dan aku tidak mau tahu apalagi jika harus merasakan nya. Aku tidak ingin gagal dalam mencintai seseorang. Aku tidak ingin merasakan apa yang kau rasakan.” Balas Gentala datar tanpa rasa kasihan kepada sepupu nya itu yang sedang mengungkapkan rasa sedih nya.


Bagi Gentala, Gilang harus bisa segera move on jika memang ingin bahagia. Tidak boleh larut dalam kesedihan terlalu lama. Lagi pula seseorang yang sudah tidak bisa di gapai oleh kita memang harus di lepaskan. Bukan untuk melupakan kenangan bersama nya tapi itu semua di lakukan agar mental kita tetap sehat dan tetap terjaga.


“Ck, apa kau tidak pernah mencintai Kania hingga kau bisa mengatakan seperti itu Gen?” tanya Gilang keras.


“Kania? Oh iya dia bukan kah mantan kekasihku. Ingat lah aku melakukan hal itu atas perintahmu bukan. Untuk memata-matai rencana yang akan di lakukan Kirana pada Husna. Jadi aku tidak pernah memiliki rasa cinta pada nya. Mungkin sedikit suka ada tapi hanya sebatas itu saja. Tidak lebih.” Jawab Gentala.


“Lalu sekarang bagaimana?” tanya Gilang.

__ADS_1


“Apa nya yang sekarang?” tanya Gentala balik.


“Dasar bodoh. Tentu saja perasaanmu kepada Zahra. Apa hanya sekedar rasa suka biasa seperti kepada Kania atau tidak? Begitu saja tidak paham.” Ucap Gilang.


“Aku bukan tidak paham hanya saja topic yang kau bicarakan sedikit melenceng hingga aku jadi bingung sendiri.” Timpal Gentala.


“Baiklah maaf untuk itu. Tidak perlu di bahas lagi. Sekarang jawab pertanyaanku.” Ucap Gilang.


“Zahra? Perasaanku kepada Zahra? Dia manis, imut kecil dan manja. Dulu aku pernah memiliki impian untuk memiliki pacar atau mungkin calon istri yang dewasa dan tidak manja, yang bisa kemana-mana mandiri tanpa bantuanku. Tapi begitu aku bertemu dengan nya. Mengenal nya. Tipe calon istri idamanku berubah 180 derajat. Aku jadi menyukai nya dan menetapkan serta mengesahkan bahwa tipe istriku harus seperti diri nya.” ucap Gentala tertawa menertawakan diri nya karena tiba-tiba saja perkataan nya itu terdengar aneh di telinga nya.


“Menetapkan dan mengesahkan? Kau aneh. Sudah seperti undang-undang saja. Ternyata kau lebih aneh dariku. Aku yakin level patah hati kita nanti akan sangat jauh berbeda. Bisa saja kau akan lebih buruk nanti.” Ucap Gilang.


“Ck, jangan menyumpahiku. Aku tidak akan patah hati. Aku pastikan hal itu. Dan jika pun terjadi semoga saja apa yang sudah kau katakan itu tidak terkabul. Melihatmu patah hati saja aku sudah bergidik ngeri apalagi jika membayangkan aku ada di posisi seperti itu. Ih amit-amit.” Ucap Gentala.


Gilang pun tertawa keras melihat sepupu nya itu yang sudah seperti seorang gadis saja saat mengatakan kata amit-amit.


“Jangan mendoakanku yang buruk Lang. Aku tidak menyukai nya. Aku harus berhasil bisa mendapatkan apa yang ku inginkan.” Ucap Gentala.


“Aamiin. Semoga saja Allah mendengar doamu dan doaku juga.” Ucap Gilang.


“Apa kau juga sedang memohon untuk sesuatu?” tanya Gentala dengan seringai di bibir nya.


“Aku juga manusia yang tentu saja memiliki permohonan, Gen. Tidak perlu menertawaiku karena saat ini kita berada di fase yang sama. Tidak jauh berbeda.” Ucap Gilang.


“Tidak, kita berbeda.” Sahut Gentala cepat menolak ucapan sepupu nya yang mengatakan mereka berada di fase yang sama.


“Ck .. terserah padamu mau mengakui nya atau tidak. Tapi pada kenyataan nya itu lah yang memang sedang terjadi. Kau itu sedang dalam fase mengejar sama sepertiku.” Ucap Gilang.


“Tapi kau masih lebih baik dariku. Kau tidak memiliki masalalu yang berusaha untuk kau lupakan. Sementara aku … lihat lah aku masih berjuang untuk menghapus rasa itu di hatiku. Aku tidak ingin membawa masalaluku ke masa depan yang ingin ku rajut dengan baik agar tidak akan mudah bolong nanti.” Ucap Gilang.


“Seperti nya kita memang harus berjuang bersama untuk itu. Semoga saja kita bisa melakukan nya.” ucap Gentala.


“Kalian pasti bisa.” Ucap Husna yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang kedua pemuda itu. Hingga membuat Gilang dan Gentala saling memandang satu sama lain dan seolah saling bertanya apa Husna mendengar semua yang mereka katakan atau tidak.


“Eehh Na. Kau sudah berapa lama di sana?” tanya Gentala mencoba bersikap tenang.


Husna pun mendekati kedua teman nya itu dengan penuh senyum, “Sejak tadi. Aku sedikit mendengar apa yang kalian bicarakan. Aku juga sedikit paham siapa yang kalian bicarakan. Tapi tenang lah aku tidak akan menjadi ember bocor.” Ucap Husna menatap Gilang lalu dia tersenyum.


“Na, i-itu tadi tidak perlu--”


Husna menggeleng, “Aku tahu. Aku tidak akan memikirkan nya. Tenang lah. Lagi pula melupakan memang sesuatu yang sulit tidak semua mengedipkan mata atau pun membalikkan telapak tangan. Itu semua butuh proses. Dan aku justru bangga dengan apa yang kau ucapkan tadi yang tidak ingin membawa masalalu ke masa depan. Itu adalah keputusan yang bijak dan aku mendukung nya.” potong Husna.


“Tetap saja aku minta maaf Na.” ucap Gilang merasa bersalah kepada gadis yang selama hampir empat tahun ini mengisi hati nya.


“Tidak perlu meminta maaf. Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta karena kita juga memang tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta. Itu muncul dengan tiba-tiba dan akan sulit untuk di paksa menghilang. Tapi satu hal yang ingin aku katakan, Jangan sampai cinta yang kau punya akan membutakanmu hingga akan mengubahmu jadi orang lain atau mungkin jadi orang jahat.” Ucap Husna.


Gilang dan Gentala pun hanya diam saja mendengar ucapan Husna itu, “Sayang!” panggil Azzam.


Husna pun menoleh menatap suami nya itu, “Mas!” balas Husna.


Azzam segera mendekati istri nya itu dan tersenyum memandang dua teman pria istri nya itu, “Lang,

__ADS_1


Gen, apa kalian baru saja bimbingan?” tanya Azzam.


“Iya pak. Kami baru saja menyelesaikan pendaftaran proposal kami.” jawab Gentala mewakili.


Azzam pun mengangguk, “Wah .. bagus dong. Semoga saja kita bisa ujian sama-sama. Aku juga akan segera mendaftar ujian hasil.” Ucap Husna.


“Wah, selamat untukmu Na.” ucap Gentala.


“Thank you. Aku yakin kalian juga pasti bisa segera menyelesaikan kuliah kalian dengan baik dan nanti nya kalian akan jadi pengusaha yang sukses dan hebat.” Ucap Husna.


“Aamiin.” Balas kedua nya.


“Semoga jadwal kalian akan segera keluar dan semua di lancarkan. Jika kalian butuh bantuan datang saja kepada saya, saya siap membantu kalian.” ucap Azzam.


“Terima kasih pak. Kami akan mengingat nya.” kali ini Gilang yang bicara.


Azzam mengangguk, “Baiklah jika memang begitu. Kami pamit dulu ya. Ohiya kalian juga di undang makan kan oleh Betty dan Andita?” tanya Azzam.


“Di undang kok pak. Ini kami akan segera meluncur ke tempat nya karena kami juga ingin sedikit membantu di sana.” Jawab Gilang.


“Hum, baiklah jika memang begitu. Tolong ya sampaikan kepada para ciwi-ciwi itu bahwa kami akan sedikit terlambat datang ke sana. Kami masih mau ke suatu tempat dulu. Kalian juga tidak perlu menunggu kami jika memang sudah kelaparan. Tenang saja semua nya tetap akan jadi tanggung jawab kami. Tolong ya sampaikan itu kepada mereka.” ucap Husna.


“Baiklah. Kalian hati-hati.” Ucap Gentala dan Gilang bersamaan.


Azzam dan Husna pun mengangguk lalu mereka segera melangkah mendekati mobil, “Abang, kakak ipar!” tiba-tiba terdengar suara yang sangat mereka kenal. Siapa lagi coba jika bukan Zahra.


“Ada apa?” tanya Husna begitu adik ipar nya itu sudah berada di dekat nya.


“Gak ada apa-apa. Hanya saja aku mau ikut dengan kalian juga.” Ucap Zahra.


Husna yang mendengar itu pun segera menatap sang suami, “Terserah kepadamu saja sayang.” ucap Azzam menyerahkan keputusan kepada Husna.


Husna yang mendengar itu pun tersenyum, “Baiklah. Kamu bisa ikut.” Ucap Husna.


“Yeay! Kakak ipar memang terbaik.” Ucap Zahra senang sampai memberikan kecupan singkat di pipi kakak ipar nya itu.


“Jangan cium-cium istri abang dek.” protes Azzam.


“Ck, istri abang itu kakak iparku. Jadi aku juga berhak.” Ucap Zahra tidak mau kalah dan dia langsung masuk ke dalam mobil mengabaikan Azzam.


Husna pun terkekeh melihat wajah suami nya itu, “Sudah lah. Gak apa-apa mas. Aku ini hanya milikmu saja.” ucap Husna mengelus lengan suami nya.


“Abang jangan kayak anak kecil deh. Ngambekkan. Ayo kita jalan.” Ucap Zahra dari dalam mobil.


“Ck, iya-iya. Dasar bawel.” Balas Azzam kesal.


Husna pun tersenyum lalu dia segera masuk ke mobil begitu Azzam membukakan pintu mobil untuk nya. Azzam masuk ke dalam mobil begitu telah memastikan istri nya itu masuk dengan aman. Zahra yang melihat perlakukan abang nya kepada kakak ipar nya itu tersenyum dan berharap dia juga bisa merasakan hal itu nanti bersama pria yang dia cintai dan juga mencintai nya.


Tiba-tiba Zahra menoleh ke arah Gentala dan Gilang yang ternyata memperhatikan mereka sejak tadi, “Maafkan aku yang terkesan menghindar. Tapi seperti nya ini jalan yang terbaik untuk semua nya. Aku tidak ingin berbuat dosa yang nanti nya akan membuatku tidak fokus meraih apa yang ku inginkan. Aku ingin seperti kakak ipar yang sukses walaupun tanpa status dan identitas keluarga nya selama ini. Menjadi penulis terkenal dan berbakat yang karya nya selalu di nanti.” Batin Zahra.


“Gen, kenapa kau tidak menyapa nya?” tanya Gilang kepada sepupu nya itu begitu melihat mobil Azzam berlalu meninggalkan parkiran.

__ADS_1


“Untuk apa aku melakukan nya?”


__ADS_2