
Via langsung terdiam memikirkan kata-kata saudara kembar Aro ini. Dia akan berusaha mendapatkan Aro bahkan kalau perlu dia akan melalukan cara apapun agar Aro bisa menjadi miliknya.
"Ayah, Mama, kalian sudah ada di sini."
"Sayang, kamu tadi keren sekali menyampaikan sambutan di atas panggung," puji Nala.
"Iya, kamu gagah sekali seperti ayah kamu, Akira," lanjut nenek Anjani.
"Tentu, saja, Bi. Diakan putraku satu-satunya."
"Aro, tadi Sifa menghubungi aku, kamu kenapa tidak mengajak dia ke sini melihat acara bazaar?"
"Aku takut nanti tidak bisa menemani dia terus karena aku di sini sangat sibuk."
"Kan, ada Uni, nanti dia bisa mengajak Sifa bicara."
"Uni kan sedang berjualan di sini, dia pasti sangat repot."
"Uni, Sifa itu siapa? Apa pacar Aro?" tanya Via sambil berbisik pada Uni. Uni mengangguk perlahan.
Tidak lama Rian yang baru saja tampil di atas panggung menuju ke stand Uni. "Uni, kamu mau tidak aku ajak jalan-jalan melihat-lihat suasana dan acara di sini?"
"Em ... aku--?"
"Eh! Kamu jangan mengajak Uni, kalau kamu ajak siapa yang menjaga stand di sini?" tanya Rendy tidak ikhlas.
"Kamu lah! Kan kamu bisa menjaga sebentar. Kasihan, Uni ke sini, tapi juga berdiri di sini tidak melihat indahnya dekorasi acara di sini."
"Aku sendiri tidak melihat."
"Itu urusan kamu," jawab Rian santai.
"Aku di sini saja tidak apa-apa."
"Kami juga belum berkeliling melihat suasana di sini," kata Nala.
"Tante, Om, kalau mau aku akan menemani kalian berkeliling melihat-lihat suasana di sini."
"Boleh."
__ADS_1
"Lalu aku sama siapa di sini?" tanya Rendy sambil kepalanya menoleh ke sana ke mari.
"Aku dan Mas David akan menemani kamu di sini. Mas David tidak keberatan kan?"
"Tentu saja, lagian ada banyak hal yang bisa kita bicarakan di sini, Ara."
"Ayo, Uni!" Rian seketika menggandeng tangan Uni dan langsung menariknya mengajak dia pergi.
Seketika kedua rahang Aro mengeras melihat hal itu dan Ara tau jika Aro tampak marah. "Aku akan pergi ke ruang panitia untuk meletakkan jasku dan melihat laporan acara hari ini."
Aro berjalan pergi dari sana. Kedua orang tua Aro dan nenek pergi dengan Via, sedangkan Rendy di temani Ara dan Mas David di stand Uni.
Aro melihat tangan Uni yang berjalan di depannya di gandeng oleh Rian. Uni mencoba melepaskan tangannya, tapi genggaman Rian lebih kuat.
"Rian, jangan mengandeng tanganku seperti ini."
Rian melepaskan tangannya. "Kenapa? Apa ada yang cemburu jika aku memegang tangan kamu?"
"Tidak ada, hanya saja aku tidak suka dipegang seperti itu, apalagi kita tidak ada hubungan apapun. Bisa saja di sini ada pacar kamu dan dia nanti salah paham."
"Kamu tenang saja, aku tidak punya kekasih di sini. Kamu kan masih jomlo dan aku juga. Apa kamu mau menjadi pacar aku. Uni?"
"Iya, kita pacaran, aku janji kalau kita jadian, aku akan memutuskan hubunganku dengan pacarku lainnya."
"Aku sudah bilang jika aku tidak ingin memikirkan masalah itu."
"Apa karena kamu takut aku malu jika pacaran sama kamu? Kamu tenang saja, aku tidak merasa malu pacaran dengan kamu yang seorang pembantu."
"Salah satunya itu, tapi memang aku tidak mau memikirkan masalah ini dulu. Aku mau fokus kuliah."
Rian malah mendekat pada Uni. Dia memegang kedua tangan Uni dan mereka saling menatap. Ada seseorang dari kegelapan memperhatikan mereka. Raut wajahnya tampak marah melihat hal itu, bahkan dia ingin sekali meremukkan dinding yang sedang dia pegagan.
Uni melepaskan tangannya. "Rian, maaf, aku tidak bisa menerimanya."
"Dasar playboy! Jangan mencoba mengakali gadis sepolos Uni." Tiba-tiba Aro yang ternyata dari tadi mengikuti mereka tidak tahan melihat tingkah Rian pada Uni.
"A-Aro?"
"Aro, kenapa kamu tiba-tiba ada di sini? Apa kamu memang sengaja mengikuti kita ke sini?"
__ADS_1
"Kalau iya memangnya kenapa? Aku harus mengawasi kamu mendekati Uni. Uni gadis baik-baik dan kamu jangan membuat dia tertipu oleh playboy seperti kamu."
Rian tersenyum miring. "Kamu takut dia tertipu olehku, atau kamu tidak mau kekasih kamu ini digoda oleh orang lain?"
Uni tampak bingung melihat pada Rian. Begitupun dengan Aro. "Apa maksud kamu?" tanya Aro penasaran.
"Sudahlah, Aro. Kamu jangan berbohong denganku. Aku sahabat kamu dari saat kita masih duduk di bangku SMU. Aku tau pasti sifat kamu. Kamu tidak akan mau bersikap lembut dengan seseorang jika kamu tidak ada feeling sama dia. Walaupun gadis itu yang mengejar kamu, kamu akan tetap dingin."
"Jangan berbelit-belit, Rian."
"Kamu dan Uni ada hubungan, Kan? Dan aku tau hubungan itu lebih dari sahabat. Ops lupa, kamu tidak suka bersahabat dengan cewek. Kalian pacaran ya?"
Deg!
Kenapa ini Rian bicara begitu? Kalau Via sampai Via tau bagaimana?"
"Maaf, aku sama Tuan Muda Aro tidak ada apa-apa, Rian. Hubungan kita hanya majikan dan pembantu."
"Iya. Kalian memang hanya majikan dan pembantu. Namun, di luar itu ada rasa cinta diantara kalian. Terutama Aro sama kamu. Kalian jangan menyangkal lagi."
"Rian, aku tidak ada hubungan dengan Aro. Tolong kamu jangan berasumsi sendiri." Uni tampak cemas.
"Aku melihat kamu dan Aro tadi di ruang ganti, kalian bukan seperti majikan dan pembantunya, hanya kamu sepertinya sedang mencoba menyangkal hal itu, Uni. Apa yang kamu takutkan?"
"A-aku tidak takut apapun."
"Aku dan Uni tidak ada hubungan apa-apa. Dia hanya pembantuku. Dan Uni tidak mencintaiku. Benarkan, Uni?" Aro melihat pada Uni.
"Maaf, aku mau pergi." Uni berlari dari sana pergi meninggalkan Aro dan Rian yang masih berdiri di temptnya. Rian berjalan mendekat pada Aro.
"Aku malah melihat cinta di mata gadis itu, hanya saja dia takut untuk mengakui perasaannya sama kamu. Ada sesuatu yang membuat dia seolah membatasi dirinya." Tangan Rian memegang pundak Aro.
"Apa kamu bisa menyimpan rahasia, Rian?"
"Tentu saja. Apa kamu lupa kalau aku sahabat kamu? Aku juga tadi tidak bermaksud menggoda Uni. Aku ingin tau saja reaksi kamu."
"Aku akan membuat dia mengakui perasaanya denganku, dan saat dia sudah mengakui semuanya, aku tidak akan pernah melepaskan dia sampai kapan pun." Aro menatap tajam pada tempat Uni berdiri tadi.
"Aku doakan semoga usaha kamu berhasil. Jujur saja aku senang kamu akhirnya menemukan cinta kamu, padahal dulu aku kira kamu tidak normal atau suka sama aku karena kamu sangat kaku jika didekati seorang gadis. Ternyata kamu bisa mencintai sangat dalam jika sudah jatuh cinta."
__ADS_1