
Kembali ke ruangan Husna, di sana pengantin wanita itu sudah sangat cantik dengan gaun pengantin nya dan juga hijab nya yang mewah serta mahkota cantik yang terpasang di kepala nya. Dia terlihat bagaikan seorang putri raja yang akan di nobatkan menjadi putri mahkota.
Umi Balqis masuk ke ruangan putri nya itu untuk melihat apa Husna sudah siap. Umi Balqis pun terharu melihat putri nya yang sangat cantik dengan balutan gaun pengantin nya.
“Umi!” panggil Husna.
Umi Balqis pun mendekati putri nya itu lalu tersenyum, “Kau sangat cantik nak dengan gaun ini. Umi sampai pangling melihatmu. Umi pikir ini bukan putri umi yang keras kepala itu.” ujar umi Balqis tentu saja dengan perasaan bahagia nya.
Husna yang mendengar itu pun tersenyum, “Umi, jangan membongkar rahasiaku di depan orang dong.” Ujar Husna manja.
Umi Balqis pun terkekeh mendengar ucapan putri nya itu lalu dia menatap dua orang MUA yang sudah melaksanakan tugas nya dengan baik, “Terima kasih untuk kalian karena sudah menambah kecantikan putriku. Aku akan memberikan bintang enam nanti untuk kalian.” ujar umi Balqis.
“Bintang lima umi. Hanya sampai bintang lima saja.” timpal Husna.
“Yah, gak apa-apa. Itu karena umi sangat senang dengan hasil kerja mereka.” balas umi Balqis.
“Itu sudah menjadi pekerjaan kami nyonya. Kepuasan dan kenyamanan klien adalah prioritas utama untuk kami. Lagi pula nona Husna sudah sangat cantik sehingga mau di rias bagaimana pun akan tetap cantik.” ucap salah satu MUA itu mewakili.
Umi Balqis dan Husna yang mendengar itu pun saling memandang satu sama lain dan tersenyum, “Ohiya, di mana menantu umi?” tanya umi Balqis saat menyadari bahwa Azzam tidak ada di sana.
“Mas Azzam sudah tentu ada di ruangan sebelah umi. Tidak mungkin bukan dia berada di sini bergabung denganku yang sedang di rias.” Ujar Husna.
Umi Balqis pun mengangguk mengerti, “Ohiya, apa dia sudah siap?” tanya umi Balqis.
“Aku sudah siap umi.” Ujar Azzam yang masuk ke kamar istri nya itu dengan pakaian nya yang sudah seperti pangeran.
__ADS_1
Umi Balqis dan Husna yang mendengar suara Azzam pun dengan kompak menoleh lalu kedua nya tersenyum, “Mas, kau sangat tampan seperti pangeran.” Puji Husna tersenyum.
“Sayang, kau mengambil apa yang seharus nya ku katakan. Itu adalah perkataanku. Kau sangat cantik walaupun selama ini pun kau selalu cantik di mataku.” Balas Azzam.
“Mas, hentikan gombalan nya. Ini ada orang di sini. Ada umi lagi.” Ucap Husna tersenyum.
Azzam yang mendengar ucapan istri nya itu pun bukan nya berhenti justru mendekati sang istri, “Hum, umi pasti tidak akan keberatan karena dia pun pernah muda. Sementara dua mbak MUA pun pasti juga tidak akan keberatan.” Ujar Azzam.
Husna yang mendengar ucapan suami nya pun hanya tersenyum jengah, “Umi lihat lah menantumu ini seperti nya dia salah makan karena sudah berubah menjadi sangat narsis hari ini.” lapor Husna kepada sang umi yang justru di balas oleh umi nya itu dengan senyuman.
“Tidak masalah kok nak. Selama dia menyayangimu dan menjaga putri umi dengan baik maka apa pun yang dia lakukan itu tidak masalah.” Ujar umi Balqis.
Husna pun menghela nafas nya kasar, “Hum, mas seperti nya umi lebih mendukung menantu nya ketimbang putri nya sendiri.” Ucap Husna.
Husna dan Azzam pun tersenyum mendengar ucapan abi Syarif itu, “Abi memang terbaik deh.” Ujar Husna.
Abi Syarif pun tersenyum lalu mendekati sang putri yang memang sangat cantik hari ini. Lebih cantik saat akad pernikahan yang di laksanakan malam itu.
“Abi, apa tamu nya sudah banyak?” tanya Husna mengalihkan topic.
Abi Syarif pun mengangguk, “Hum, untuk itu lah abi ke sini menyusul umimu agar bisa menyambut para tamu.” Ujar abi Syarif.
“Kalian tetap di sini. Nanti akan ada yang memberikan kode kepada kalian untuk ke sana.” Sambung abi Syarif.
Husna pun mengangguk, “Husna tahu abi.” Balas Husna.
__ADS_1
“Abi hanya mengingatkan saja nak. Siapa tahu saja kamu sudah lupa karena berdiri di samping suamimu yang sudah seperti pangeran ini.” goda abi Syarif.
Azzam yang mendengar ucapan ayah mertua nya itu pun tersenyum, “Yang ada Azzam yang gugup abi karena dekat dengan putri abi yang sangat cantik ini.” ujar Azzam.
Abi Syarif dan umi Balqis pun tersenyum mendengar ucapan yang di keluarkan Azzam itu. Lalu setelah itu mereka pun segera pamit untuk lebih dulu ke ball room hotel menyambut para tamu undangan yang berdatangan.
Sepeninggal kepergian kedua orang tua Husna, Azzam pun segera menatap istri nya itu lekat hingga membuat kedua orang MUA itu keluar karena tidak ingin jadi pengganggu di antara suami istri itu. Mereka memang sudah di beritahu bahwa Azzam dan Husna sudah menikah. Ini tinggal lah pesta resepsi saja yang di rangkaikan dengan perayaan ulang tahun Husna yang ke 22 tahun.
“Mas, kenapa menatapku seperti itu? Aku jadi malu mas.” Ujar Husna menunduk.
Walaupun mereka sudah menjadi pasangan suami istri dalam beberapa waktu ini tetap saja jika suami nya itu menatap nya dalam seperti itu membuat nya deg degan sendiri.
Azzam pun tersenyum melihat istri nya itu yang malu seperti biasa jika di tatap seperti itu, “Jangan menunduk sayang. Aku ingin menatap kecantikan istriku ini.” ujar Azzam lembut.
Husna yang mendengar ucapan suami nya itu pun tersenyum lalu dia pun segera menatap sang suami hingga tatapan kedua nya beradu, “Kau sangat cantik sayang. Aku jadi tidak rela jika kau akan di lihat oleh orang-orang itu.” ujar Azzam posesif.
Husna yang mendengar ucapan suami nya itu pun tersenyum, “Kebiasaan. Apa mas ingin aku melepas gaun pengantin yang sudah sangat cantik ini. Tidak, untuk hari ini kau harus bisa menahan keposesifanmu itu.” ujar Husna.
Azzam pun ikut terkekeh mendengar ucapan istri nya, “Selamat ulang tahun sayang.” ujar Azzam.
“Ck, mas sudah mengatakan itu semalam. Sudah jadi orang pertama lagi yang mengucapkan nya. Jadi kenapa mengulangi nya lagi.” Ucap Husna.
Azzam pun tersenyum, “Mas hanya ingin mengucapkan nya lagi dan lagi. Ini adalah hari special di mana 22 tahun lalu istri mas ini di lahirkan. Jadi tentu saja untuk ulang tahun nya akan mas rayakan dengan special juga.” Ujar Azzam.
Husna pun tersenyum mendengar ucapan suami nya itu, “Lalu di mana hadiah untukku?”
__ADS_1