My Secret Love

My Secret Love
Kebahagiaan yang Belum Sempurna


__ADS_3

"Kenapa tidak mau menyelengrakan resepsi pernikahan kalian?"


"Ra, aku dan Akira memang sudah sah menjado suami istri, tapi kamu tau sendiri jika daddy Akira belum menerimaku." Wajah Nala seketika tampak sedih.


"Kamu sabar saja, Ya, Nala. Aku yakin jika nanti bayi kembar kalian lahir dia akan bisa menerima kamu nantinya."


"Semoga saja, mommy Kei juga memberi aku semangat seperti itu, aku bahagia mommy Kei sudah mau menerimaku."


Tidak lama ibu Rara masuk ke dalam kamarnya dan meminta Nala dan Rara untuk turun karena prosesi ijab qobul akan segera di laksanakan.


Nala dan Ibunya serta Rara turun perlahan-lahan. Tangan Rara meremas erat tangan Nala, sampai Nala meringis kesakitan.


"Nala, aku tambah takut ini," ucapnya lirih.


"Takut sih takut, tapi tangan aku sakit ini, Ra," ucap Nala kesal.


Sampai di bawah sudah banyak sekali orang-orang, dan saat berjalan kedua mata Rara menatap ke arah kursi yang di khususkan untuk keluarga. Rara terlihat kesal melihat ada tante Anita juga duduk di sana.


"Bu, kenapa wanita itu bisa ada di sini? Ayah benar-benar tidak mendengarkan aku."


"Ra, sudah! Ini hari pernikahan kamu, kamu jangan bersikap seperti ini. Ibu tidak mau kamu membuat keributan di sini," bisik ibunya pelan.


Rara duduk di samping Reno dan ada orang tua Reno serta Akira di sana. Ayah Rara pun ada di sana.


Prosesi ijab qobul berhasil walaupun Reno sampai mengulang dua kali, tapi akhirnya Reno dan Rara dinyatakan sah menjadi suami dan istri.


"Allhamdulillah, akhirnya Rara sah menjadi istri Reno, Bi." Nala sampai meneteskan air mata.


"Kamu kenapa menangis, Sayang? Kamu terharu melihat semua ini?"


"Iya, Akira. Akhirnya Rara menemukan kebahagiaan dengan Reno di tengah masalah yang sedang dia hadapi." Nala memeluk Akira.


Mereka berbaur dengan semua orang di pesta itu, semua tampak sangat bergembira. Tante Anita juga menghampiri Rara dengan memeluk lengan tangan ayah Rara.


"Selamat ya, Ra, kamu akhirnya sudah menikah dan sebentar lagi tante juga akan menyusul kamu. Iya, kan, Sayang."


"Terserah! Jika nanti tante menikah, maaf saja aku tidak bisa datang," ucap Rara ketus.


"Tidak masalah kalau kamu tidak datang karena yang tante undang adalah orang-orang penting saja," ucap Anita sombong.

__ADS_1


"Bangga sekali Tante dengan pernikahan Tante. Bagaimana jika mereka tau pernikahan yang terlihat bahagia itu ternyata harus Tante dapatkan dengan merusak kebahagiaan orang lain?"


"Jaga mulut kamu, Rara!"


"Rara! Sudah! Ibu tidak mau mendengar pertengkaran di hari bahagia ini."


"Apa yang kamu ajarkan sama anak kamu ini? Kenapa dia jadi bar-bar seperti ini?" T,atap Anita pada Ibunya Rara.


"Ibuku banyak mengajari hal baik untukku. Seharusnya Tante yang bertanya pada kedua orang tua Tante tentang apa yang diajarkan sama mereka sehingga Tante bisa menjadi pelakor," ucap Rara ketus.


"Kamu--." Tangan Anita sudah terangkat ke atas dan akan memukul Rara.


"Anita, hentikan! Sebaiknya kita pergi saja dari sini." Tangan ayah Rara mengajak Anita pergi, tapi sebelum pergi Anita memperingatan Rara jika dia bisa melakukan apa saja pada Rara jika Rara mencari masalah dengannya.


"Maaf, apa kamu tidak bisa tanpa mengancam seseorang? Bukannya aku mau ikut campur dengan masalah ini, tapi kamu sudah menghancurkan kebahagiaan Rara. Apa tidak cukup jika kamu tidak membuat dia dan ibunya bersedih lagi?" terang Akira.


"Kamu mau ikut campur dalam masalah ini, Akira?"


"Jika kamu membuat masalah dengan Rara, aku juga akan turun tangan. Sekarang silakan kamu pergi dari sini."


Anita dengan muka marahnya pergi dari pesta pernikahan Rara. Rara langsung memeluk Ibunya. "Maaf, Rara, Bu. Aku sangat membenci mereka berdua, Bu."


"Oh ya! Aku lupa mau memberi kalian berdua hadiah." Akira mengeluarakan sebuah tiket liburan dan sebuah kunci.


"Ini apa, Bos?" tanya Reno bingung.


"Buka dan lihat saja."


Reno dan Rara membaca tiket yang di berikan pada Reno. "Ini tiket untuk bulan madu ke Eropa? Dan ini kunci apa?"


"Kunci apartemen untuk kalian berdua, kalian bisa tinggal di sana setelah menikah."


"Apartemen?" Kedua mata membelalak. "Apartemen seperti punya kamu itu, Akira?"


"Iya, tentu saja, ibu kamu juga bisa kamu ajak tinggal di sana karena ada dua kamar di sana," jelas Akira.


"Biar mereka berdua tinggal di sana, Akira. Bibi akan tinggal di sini saja karena bagaimanapun bibi mau supaya Rara dan Reno bisa mandiri."


"Ibu ikut saja, biar rumah ini di tempati oleh ayah dan istri barunya itu."

__ADS_1


"Ayah kamu tidak mau mengambil rumah ini karena ayah kamu sudah memberikan rumah ini pada ibu."


"Ya sudah kalau itu keputusan ibu, tapi nanti setiap hari aku akan ke sini. Bolehkah, sayang?"


"Tentu saja boleh, aku akan mengantarkan kamu ke sini sebelum aku berangkat kerja."


Pesta akhirnya berakhir dengan bahagia. Reno dan Rara memutuskan tidur di rumah dalam beberapa hari dan langsung pergi berbulan madu setelahnya.


Beberapa bulan berlalu dengan baik, Kei sering datang mengunjungi Nala di rumah saat Addrian tidak ada di rumah. Bahkan Nala mengajak ibu mertuanya itu untuk ikut memeriksakan si kembar.


"Cucuku sudah terlihat, wajahnya mirip sekali dengan kamu dan Akira."


"Mereka berdua bayi yang sehat. Satu laki-laki dan satu perempuan," terang dokter yang memeriksa Nala.


Nala dan Kei akhirnya pulang ke rumah dan Kei di sana sangat memperhatikan Nala. Kei sangat senang karena sebentar lagi cucunya akan segera lahir hanya menunggu 2 bulan lagi."


"Sayang, besok hari libur aku akan mengajak kamu dan bibi pergi jalan-jalan, kita akan berbelanja kebutuhan bayi kita dan bibi bisa membeli barang - barang yang dibutuhkan di rumah dan bibi kamu."


"Apa tidak terlalu cepat?"


"Tidak, Sayang, kita akan belanja untuk ke dua anak kita. Aku juga sepertinya harus merenovasi rumah ini untuk menambah kamar satu lagi buat anak kita, aku tidak mengira jika akan diberi bayi kembar satu laki-laki dan satu perempuan."


"Ya Ampun! Kamu kenapa kebingungannya mengalahkan kecemasanku? Kamu yang paling rempong ternyata." Nala terkekeh.


"Aku kan ingin menjadi suami dan ayah siaga." Akira memeluk Nala. "Sayang, waktu kamu periksa ke dokter, apa kamu bertanya tentang hal itu sama dokter?"


"Tentang apa? Tentang anak kamu sehat apa tidak?"


"Dia sudah pasti sehat, tentang kesehatan ayahnya." Akira melirik pada Nala.


"Memangnya kamu sakit?" Tangan Nala menyentuh dahi Akira. Akakak! Ini istri tidak peka sama sekali.


"Bukan," ucap Akira malas.


"Lalu? Soal hal itu, bercinta sama kamu," ucap Akira cepat.


Bibi Anjani yang datang ke sana dengan membawa nampan berisi tiga cangkir langsung menahan tawanya. Nala langsung memerah wajahnya karena malu.


Maaf kemarin author sakit sampai gak bisa bangun, Kak.

__ADS_1


__ADS_2