My Secret Love

My Secret Love
Kecurigaan


__ADS_3

"Kalian sama seperti Aro dan Ara."


"Iya, Tante, hanya saja Ara enak ada saudaranya di rumah, sedangkan aku tidak ada, kakakku jarang sekali berkomunikasi, dia sangat sibuk dalam pekerjaannya. Temanku untuk berbagi ya hanya Uni." Via melihat pada Uni. Uni juga tersenyum padanya.


"Makanan di sini enak sekali, aku suka sekali." Rendy ini seolah sangat polos, makan saja dia sepertinya menikmati sekali.


Ara terkekeh pelan melihat tingkah Rendy. Dia sampai tidak sengaja menyenggol minumannya dan terkena pada baju Uni.


"Ups! Uni, Maaf. Aku tidak sengaja."


Uni berdiri dari tempatnya dan segera mengelap bajunya. "Tidak apa-apa, Ara."


"Kamu bersihkan dulu di kamar mandi saja, Uni."


"Iya, kalau begitu aku akan permisi ke kamar mandi sebentar."


"Kamu kenapa dari tadi ceroboh sekali? Tadi jaketku sekarang bajunya Uni," gerutu Rendy.


"Enak saja! Aku kan memang tidak sengaja, kenapa kamu marah-marah sendiri?" Ara mengerutkan alisnya.


"Uni, kamar mandinya ada di sebelah kiri setelah kamu keluar dari pintu ini. Nanti kalau tidak tau kamu tanya sama pelayan di sini."


"Iya, Ayah Akira."


Uni berjalan pergi dari sana dan dia mengikuti instruksi dari ayah Akiranya. Uni mencari di mana toilet berada.


Kembali ke meja makan, mereka kembali melanjutkan makan malamnya.


"David, tante dengar kalau kedua orang tua kamu akan datang ke sini? Apa itu benar?"


"Iya, Tante, bulan depan kedua orang tuaku akan datang ke sini. Mereka juga ingin bertemu dengan Ara."


"Ha? Bertemu denganku? Untuk apa Mas David?"


"Ya ... ingin mengenal kamu saja karena aku sering cerita tentang kamu sama mereka."


"Cerita tentang aku? Pasti cerita tentang aku yang manja dan kekanak-kanakan ya?"


"Ya itu salah satunya."


"Tuch kan! Kenapa cerita yang jelek tentang aku?"


"Itu bukan hal yang jelek tentang kamu, malahan mereka senang dengan sifat kamu yang apa adanya. Siapa tau mereka menyetujui kamu jadi calon mantunya." Mas David melirik sekilas pada Ara. Wajah Ara seketika terkejut.


"Memangnya kamu suka sama Ara? Ara itu masih sangat manja dan kadang ngalemnya minta ampun loh, David," jelas Nala.


"Saya tidak pernah mematok kriteria tentang gadis yang saya sukai, Tante. Asal saya nyaman sama dia dan dia sukai sama saya dan kita saling bisa menjaga kesetiaan itu saja sudah cukup bagi saya."


"Kalau begitu, Ara masuk kriteria kamu."


"Mama! Kenapa jadi bicaranya sampai ke sana-sana, aku saja belum lulus kuliah. Fokus kuliah dulu."

__ADS_1


"Iya-iya."


"Hei! Apa yang kamu lakukan?" terdengar suara keras dan tampak marah dari Aro.


"Aro, ada apa?" tanya Nala kaget.


"Pria ini tidak bisa makan dengan hati-hati. Lihat saja kemejaku sampai terciprat stik yang dia potong." Aro beranjak dari tempatnya dan segera keluar dari ruangan itu dengan wajah kesalnya.


"Rendy? Apa yang kamu lakukan?" Via tampak mendelik ke arah Rendy.


"Maaf, aku tidak sengaja, tadi aku mau memotong stiknya, tapi stiknya sepertinya tidak mau di potong dan akhirnya terlempar."


"Hem ... bilang saja kamu tidak bisa makan dengan pisau dan garpu?" celetuk Ara.


"Ara!" Nala mendelik pada Ara.


"Iya itu juga salah satu alasannya. Aku biasa memakai sendok dan tangan," jawab Rendy polos.


Di toilet Uni berpapasan dengan Aro yang wajahnya terlihat kesal. "Aro, kamu kenapa?"


"Lihat apa yang di perbuat oleh pacar bodoh kamu itu!" Aro menunjukkan bajunya yang kotor.


"Itu kenapa?"


"Dia tidak bisa makan bistik, kenapa juga memesannya yang ada di malah membuat bistik itu terlempar pada bajuku." Ini sebenarnya Aro tidak kesal karena bistik itu, dia kesal sama Rendy karena sikap Rendy tadi pada Uni, jadi masih ke bawa emosinya.


Uni mendekat dan mengambil tisu dari tasnya, dia membersihkan kemeja Aro. Aro hanya diam saja membiarkan Uni membersihkan kemejanya. "Maafkan dia, Aro. Rendy memang orangnya sangat polos dan lugu."


"Ah!" Uni sontak mendongak melihat ke arah Aro.


"Katakan? Kamu benaran sudah jatuh cinta sama dia?" Tangan Aro menggenggam tangan Uni yang sedang membersihkan baju Aro.


"Aku--."


"Lihat! Mereka pasangan serasi sekali," celetuk dua wanita yang sedang lewat dan memperhatikan mereka.


Uni menarik tangannya dari tangan Aro. "Aro, aku mau pergi dulu ke ruang makan."


"Uni, nanti malam aku ingin bicara sama kamu di kamar, cari alasan apapun agar kamu bisa bertemu denganku di dalam kamarku."


"Apa? Memangnya kamu mau bicara apa?"


"Nanti saja." Aro berjalan pergi dari sana dan masuk ke dalam toilet."


Uni menatap nanar punggung pria yang sangat dicintainya itu, tapi tidak bisa dia miliki."


Uni kembali ke ruang makan di mana semua orang ada di sana. "Uni, apa kamu tadi bertemu dengan Aro?" bisik Via.


"Iya, aku ketemu dan mukanya terlihat kesal."


"Iya, itu gara-gara si Rendy ini. Awas saja kalau sampai nanti membuat moof Aro berantakan." Via mendelik pada Rendy.

__ADS_1


"Aku kan tadi sudah minta maaf dan bilang tidak sengaja."


Tidak lama Aro kembali ke tempatnya dan dia memilih agar Uni dan Rendy bertukar tempat duduk.


"Kenapa harus bertukar tempat duduk?"


"Aku tidak mau dekat sama kamu lagi dan menunggu kamu melempar bistik itu ke muka aku?"


"Lah! Lalu aku yang kamu dekatkan dengan Rendy?" celetuk Ara. "Nanti dia gantian membuat bajuku kotor."


"Ya sudah, sini. Biar aku yang memotongkan bistiknya agar kamu mudah memakannya."


Mas David beranjak dari tempatnya dan mengambil bistik Rendy.


"Kamu duduk sana." usir Aro.


Nala dan Akira yang melihat hal itu hanya melihat dengan wajah tersenyum aneh. Makan malam kembali di laksanakan, sampai pada akhirnya jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam.


"Kita pulang sekarang saja supaya Via tidak pulang terlalu malam. Aro, kamu nanti antar Via sampai ke rumahnya."


"Iya, Ma.


"Om, Tante, sebelum pulang saya mau izin ke toilet sebentar ya? Bolehkan?"


"Tentu saja boleh."


"Uni, aku minta tolong antarkan aku ke toilet ya? Ini sudah malam soalnya. Aku takut."


"Iya, aku antarkan."


Uni dan Via berjalan menuju toilet, Uni menunggu Via di dalam sedang membersihkan tangannya di wastafel.


Tidak lama Via keluar. "Uni," panggil Via lirih.


"Ada apa?"


"Kenapa aku merasa Aro biasa saja denganku, ya?"


"Mungkin karena kalian baru dekat, apalagi Aro sudah dekat dengan gadis lain."


"Kamu mau bantu aku, kan?"


"Tentu saja, tapi aku juga tidak bisa janji. Aku kan sudah bilang kalau perasaan tidak bisa di paksakan."


"Uni." Via terdiam.


"Ada apa lagi?"


"Kenapa aku merasa Aro sangat perhatian sama kamu, ya?"


Deg!

__ADS_1


__ADS_2