
Ara tidak lupa menghubugi ayahnya lewat video call, Akira tampak senang karena putrinya memang sedang berada di gedung bioskop dan dia bersama teman-temannya, bahkan Ara menunjukkan tiket bioskop yang dia beli, yaitu film disney yang dari awal dia ingin lihat.
Bahkan Akira juga. berbicara dengan teman-teman Ara. "Ya sudah, Sayang, kamu bersenang-senanglah dengan teman-teman kamu dan nanti hati-hati kalau pulang, Ya?"
"Iya, Yah. Aku sayang Ayah." Ara mengakhiri panggilannya.
"Ayah kamu tampan sekali ya, Ra. Mirip sugar daddy di novel-novel yang aku baca itu," celetuk Marta.
"Sugar daddy?" Kedua alis Ara mengkerut. "Sugar daddy itu maksudnya seperti apa?"
"Ituloh, Ra. Om-om tampan mendekati sempurna, tapi sudah memiliki keluarga. Om-om itu suka mencari gadis-gadis muda yang nantinya bisa diajak bersenang-senang," jelas Sifa.
"Apa? Jadi gadis muda itu jadi selingkuhan om-om tadi?"
"Ya ... bisa di bilang begitu."
"Huft! Bacaan kamu serem begitu? Kamu mau memiliki sugar daddy, Marta?" tanya Ara.
Marta agak terkejut mendengar pertanyaan Ara. "Enggaklah! Bisa di bunuh aku sama ayahku."
"Syukur deh kalau sadar." Sifa, Tania malah terkekeh pelan.
"Kalau begitu kenalkan saja aku sama saudara kembar kamu yang tampan itu, Ra."
"Aro maksud kamu? Males ah!"
"Lah! Kenapa? Aku tidak jelek-jelek amat, atau dia sudah punya pacar?"
"Kenalan sendiri kalau berani. Aro itu orangnya gak gampang buat di kenal-kenalin sama cewek, dia beda. Kalau dia mau dengan seseorang, dia akan mencarinya bahkan mengejarnya sendiri. Pokoknya orangnya kaku dan kayak es."
"Hem ... susah sekali ya kalau mau dekat cowok-cowok tampan itu." Marta menghela napasnya pelan.
Tidak lama terdengar pemberitahuan jika pintu theater 1 sudah di buka. Mereka berempat segera masuk ke dalam ruangan bioskop karena film mereka sudah akan di mulai.
Hampir dua jam film diputar, kemudian mereka berempat keluar dari gedung bioskop. "Kalian lapar tidak? Mau aku traktir makan?" tanya Tania.
"Wih! Kamu serius mau mentraktir kita?" tanya Marta.
"Iya, aku lapar sekali soalnya."
"Iya, kita lupa kalau kamu anak sultan yang tidak pernah telat makan, tentu saja kita mau, Tania." Marta memeluk Tania.
__ADS_1
"Siapa yang bilang aku anak sultan? Aku anak biasa saja seperti kalian." Mereka berempat tertawa bersama.
Mereka menuju food court yang ada satu lantai di bawah gedung bioskop. Mereka bingung mau makan apa karena di sana banyak sekali stand makanan.
"Kita makan apa?"
"Nasi goreng saja, Tan. Minumnya kita pesan di sana saja, kelihatannya enak."
"Ya sudah aku akan memesan nasi gorengnya dan kamu Ara mau memesankan minuman di sana?"
"Tentu saja bisa, biar aku yang membayar minumannya, Tania. Kamu makanannya dan aku minumannya. Bagaiaman?"
"Terserah sih."
"Enak banget dikelilingi anak sultan seperti kalian berdua," sekali lagi celetuk Marta.
"Aku anakku ayahku, yaitu Akira Addriano Danner," ucap Ara tegas lalu pergi dari sana menuju stand minuman. Ara memesan beberapa minuman.
"Coklat hazelnutnya apa tidak ada, Kak?" tanya Ara.
"Maaf, Kak. Itu barusan habis tadi."
Ara membawa nampan berisi beberapa gelas plastik minuman menuju meja di mana teman-temannya menunggu.
Dia sangat berhati-hati membawanya karena takut jatuh. Empat gelas minuman ada di datangannya. Tiba-tiba ada anak kecil berlari dari menabraknya. Ara yang hampir jatuh dapat di pegangi oleh seseorang di sana.
“Ya ampun! Adik kecil itu bagaimana sih?” gerutunya kesal dan dia melihat di atas nampan gelas miliknya jatuh dan tinggal separuh, tapi tidak sampai mengenai bajunya.
“Kamu tidak apa-apa, Kan?” tanya pria yang menolongnya.
Seketika Ara melihat wajah pria yang masih memegangi dirinya dan nampannya. “Aku tidak apa-apa, terima kasih sudah menolongku.”
“Sini biar aku bantu membawa minuman kamu, kamu letakkan saja nampan itu di sana karena sudah kotor terdapat tumpahan minuman.” Tangan pria itu memegang tiga gelas yang masih tersisa dan Ara meletakkan nampan di
meja yang memang khusus nampan yang sudah tidak di gunakan. “Minuman kamu yang satu tinggal separuh.”
“Tidak apa-apa, aku tidak terlalu suka karena bukan ini minuman ini yang aku inginkan.” Ara berjalan bersama pria itu menuju mejanya
dan ternyata di sana ada beberapa anak-anak laki-laki lainnya.
“Ini Dean, kamu dari mana saja? Kenapa lama sekali?” Cowok yang ada di meja Ara melihat ke arah pria yang menolong Ara dengan memanggil namanya Dean.
__ADS_1
“Kalian siapa? Kok kenal dengan teman-temanku?” tanya Ara bingung.
“Kita ini ternyata satu kampus, Ara. Mereka ini juga satu kampus dengan kita hanya saja memang kita belum terlalu mengenal, tadi saat
Sifa memanggil Rio ini kita baru tau kalau kita teman satu kampus,” terang Marta.
“Oh begitu.” Ara melihat ke arah pria yang membantunya.
“Ara, kamu sudah kenalan sama Dean? Dia Dean cowok yang populer di kampus karena dia banyak di kejar-kejar cewek, hanya saja dia
terlalu cuek,” Marta melihat ke arah Dean.
“Aku tidak pernah merasa populer.”
“Apa kita boleh makan bersama kalian di sini?” tanya salah satu teman Dean.
“Tentu saja boleh, biar tambah rame, kalau begitu kalian pindahkan saja makanan kalian di sini.”
“Tapi setelah makan kita harus langsung pulang karena aku tidak bisa pulang malam-malam,” ucap Ara.
“Iya, Ara.”
Dean dan dua orang temannya mengambil makanan mereka kemudian berpindah di meja Ara dan teman-temannya. Ara duduk tepat di depan Dean. Ara mencoba mengingat nama Dean yang pernah dia kenal dulu.
“Ara, minuman kamu kok tinggal separuh?”
“Iya, tadi tumpah karena aku tadi di tabrak oleh anak kecil dan minumanku jatuh. Dean yang menolongku tadi membawakan sebagian minuman kalian.”
“Kamu minum saja punyaku, aku belum meminumnya sama sekali.” Dean memberikan minumannya dan mengambil minuman milik Ara.
“Coklat hazelnut? Kok ada? Tadi aku memesan ini, tapi kata kakak di sana sudah habis.”
“Iya, ini tadi sisa satu dan aku yang membelinya karena aku suka dengan rasa ini.”
“Kalau begitu tidak perlu tukar minuman, aku tidak apa-apa minum punyaku sendiri.” Dean tidak menanggapi malah dia sudah meminum green tea miliki Ara. Ara agak kaget melihatnya, tapi mau bagaimana lagi karena minumannya
sudah diminum Dean.
“Tidak apa Ara, kamu minum saja itu milik Dean, dia belum menyentuhnya sama sekali,” celetuk salah satu teman Dean yang bernama Rio.
Jangan lupa komen dan like ya kakak yang baik
__ADS_1