My Secret Love

My Secret Love
Malah Bertemu


__ADS_3

Mereka yang tidak menemukan kunci


kotak tabungan Uni akhirnya membongkar paksa kotak itu dengan memotong gembok


yang menguncinya dan mereka agak terkejut melihat uang tabungan Uni.


“Banyak sekali, Ma.” Selli langsung menghitung uang tabungan Uni yang jumlahnya sekitar tiga juta rupiah terdiri dari beberapa lembar uang dua puluh ribuan dan lima puluh ribu, bahkan


uang yang kemarin di berikan oleh Nala juga sudah Uni masukkan di sana.


“Sudah! Kita ambil saja semua uangnya, biar dia tau rasa. Dia benar-benar mencoreng wajah mama dan ayah kamu dengan mencari uang secara tidak baik. Wajahnya saja yang terlihat lugu. Ternyata dia gadis yang tidak baik!” Tante Mira tampak kesal dan Selli malah tersenyum licik melihat hal itu.


“Ma, aku ambil untuk shopping dengan teman-temanku nanti, Ya? Dan ini sisanya untuk mama.” Selli memberikan beberapa lembar uang dan dia segera pergi dari kamar Uni.


Huft! Inginnya author menjitak mereka berdua, padahal itu uang kerja keras Uni. Mereka tega sekali.


Uni sudah sampai di rumah Nala, Bibi Anjani membukakan pintu rumah dan tersenyum melihat kedatangan Uni. “Nek, apa aku datang terlambat untuk menyiapkan makan pagi?” ucapnya cepat.


“Tidak. Kamu kenapa terlihat panik begitu?”


“Aku hanya takut saja telat membuatkan sarapan pagi, tadi angkutan umumnya juga penuh terus, apa karena ini hari Minggu?”


“Iya, bisa jadi. Ya sudah kamu masuk dan kita menyiapkan sarapan paginya.”


Nenek Anjani mengajak Uni menuju dapur, dan tidak lama Nala keluar dari kamar dan menuju dapurnya. “ Kamu sudah datang, Uni?”


“Iya, Bu Nala. Kebetulan ini hari Minggu dan saya libur kuliah, jadi  bisa bekerja dari pagi, lagipula ini juga tugas saya sekarang. Bu Nala, saya mau mengucapkan terima kasih atas pemberiannya kemarin, sudah saya masukkan tabungan di rumah.”


“Tidak apa-apa, kamu bisa menggunakannya untuk keperluan kuliah kamu.”


Mereka bertiga mulai mempersiapkan sarapan pagi di meja makan. Nala kemudian menyuruh Uni ke kamar Ara dan melihat apa Ara sudah bangun. Uni mengetuk pintu kamar Ara dan ternyata gadis cantik itu sudah bangun. Dia menyuruh Uni masuk.

__ADS_1


“Uni, kamu sudah datang?”


Uni melihat Ara duduk di atas kasur dan sedang menyisir rambutnya. “Mau aku bantu untuk menguncir rambut kamu?”


“Boleh.” Ara dengan senang hati memberikan sisirnya pada Uni. Uni kemudian menyisir rambut Ara perlahan-lahan.  “Aku dulu senang sekali menyisir rambut mainan barbie milikku, mengepangnya, kalau tidak mengucirnya


dengan banyak ikat rambut sampai benar-benar terlihat cantik.”


“Mainan barbie?” Uni terdiam sejenak.


Ara yang merasakan Uni sepertinya sedang melamun, memegang tangan Uni yang ada di atas kepala Ara. “Kamu kenapa, Uni?”


“Em! Tidak ada apa-apa, aku hanya teringat mainan barbie yang dulu di belikan oleh Ibuku, dan aku suka juga bermain dengan mereka, menyisir rambutnya dan menggantikan bajunya. Masa-masa itu sangat indah, andai aku tau bakal seperti ini, aku tidak ingin beranjak dewasa, aku ingin menjadi anak kecil terus saja agar dapat ditemani oleh kedua orang tuaku terus.”


“Kamu jangan berkata seperti itu, Uni. Kamu harus kuat dan mengikhlaskan semua yang sudah terjadi walaupun semua itu menyakitkan. Tuhan pasti memiliki rencana yang indah untuk kamu suatu hari nanti.


“Iya.” Uni kembali melanjutkan menguncir rambut Ara dan akhirnya selesai. “Sekarang  aku akan merapikan tempat tidur kamu.


sudah di sana.


Ara duduk di sofa kecil di sambil memperhatikan Uni membersihkan tempat tidurnya. Setelah itu Uni membantu Ara keluar dari kamar menuju meja makan. “ Uni, ayo duduk di sini dan makan pagi bersama dengan kita.” Ajak Nala.


“Saya nanti saja makannya, Bu Nala. Saya mau membuatkan kue untuk camilan, tadi sudah di ajari oleh nenek Anjani.”


“Kue camilan? Kamu tidak perlu membuat kue camilan karena kita mau pergi jalan-jalan hari ini,” terang Akira.


“Pergi jalan-jalan? Memangnya kamu mau mengajak kita ke mana, Sayang?” tanya Nala.


“Kita akan pergi ke Taman Dream Land. Tidak hanya kita, Uni juga akan ikut.”


“Hah? Saya Ayah Akira?” Uni langsung membulatkan kedua matanya lebar.

__ADS_1


“Iya, memangnya kenapa? Apa kamu tidak mau jalan-jalan dengan kami?”


Uni tampak bingung mau menjawab apa, dia hanya pernah mendengar tentang Taman Dream Land yang kata orang-orang tempatnya sangat indah, tapi tiket masuknya sangat mahal. Namun, memang sesuai sih dengan apa yang ada di dalam sana.


“Aku mau, Yah.Kita memang sudah lama tidak jalan-jalan bersama-sama, Tapi nanti jalanku bagaimana?” Tiba-tiba ekspresi wajah Ara sedih.


“Aku kan bisa membantu kamu,” jawab Uni cepat.


“Ayah sudah menyiapkan kursi dorong untuk kamu, Sayang, kamu tidak perlu khawatir.”


Mereka semua tampak bahagia. “Nala, putra kamu belum bangun, Ya? Apa dia juga mau kita ajak ikut jalan-jalan, diakan lebih suka berada di rumah atau pergi ke tempat yang dia memang inginkan.


“Ya ampun!” Nala memegang jidatnya. “Aku lupa kalau putraku itu belum bangun. Kalau begitu aku akan membangunkan dia.”


“Bu Nala, kalau boleh biar saya saja, dan sekalian nanti saya membersihkan kamarnya.”


“Ya sudah kalau begitu, sekalian kamu juga bisa berkenalan sama putraku itu.”


“Uni, kalau kamu melihat muka dingin dan judes saudaraku itu, kamu jangan memasukkannya dalam hati, anggap saja kamu melihat wajah si vampir tampan di dalam film, kan memang mukanya seperti itu.” Ara terkekeh pelan.


“Ara!” Nala melihat dengan agak melotot pada putrinya.


Uni berjalan menuju kamar di mana Aro yang masih tertidur. Uni melihat ada nama Naro di depan pintu kamar tepat di sebelah kamar Ara. Uni mengetuk beberapa kali pintu kamar Aro, tapi tidak ada jawaban sama sekali dari si empunya kamar.


“Tuan muda Naro,” panggil Uni. Namun, dia tetap tidak mendapat jawaban dari orang yang ada di dalam kamar. “Dia ini tidur apa pingsan sih? Kenapa tidak mendengar panggilanku?” gerutu Uni di depan pintu.


Tangan Uni yang mau mengetuk pintu itu lagi mendadak berhenti saat pemilik kamar itu membuka pintunya. Dan alangkah terkejutnya kedua orang tersebut melihat siapa yang sedang mereka tatap satu sama lain.


“Kamu?” mereka berdua saling bertanya kaget.


“Uni, kenapa bisa ada di sini? Dan tadi kamu memanggilku apa? Tuan Muda Naro?” Aro menatap penasaran pada Uni.

__ADS_1


“Itu--. Aku--?” Uni tampak bingung. “Aku bekerja di rumah kamu sebagai pelayan di sini.” Uni sebenarnya sangat sulit mengatakan hal itu, bukan karena dia malu, tapi dia memang sangat terkejut mengetahui jika Aro adalah anak dari majikannya.


__ADS_2