My Secret Love

My Secret Love
183


__ADS_3

Setelah suasana haru yang menyelimuti kediaman utama berkat berita kehamioan Husna. Lima orang dewasa di ruangan itu pun kembali bercengkrama terutama membahas kehamilan Husna.


"Umi, di mana Dita dan ibu nya? Kenapa aku tidak melihat mereka sejak tadi? Apa mereka di toko bunga?" Tanya Husna saat beri menyadari bahwa dia tidak melihat teman nya itu.


Umi Balqis tersenyum mendengar pertanyaan yang di akukan putri nya, "Mereka bukan ke toko bunga nak. Mereka sedang pergi ke luar sebentar untuk menyiapkan kepergian mereka besok. Dita mengajak ibu nya untuk belanja." Jawab umi Balqis.


"Belanja? Untuk apa? Lalu tadi apa? Kepergjan? Memang nya Dita dan ibu Diyah mau pergi kemana? Kenapa aku baru sehari tidak tinggal di sini sudah ketinggalan berita penting seperti ini?" Tanya Husna beruntung karena saking penasaran nya.


Umi Balqis dan Abi Syarif pun saling menatap satu sama lain dan tersenyum mendengar pertanyaan begitu banyak yang di ajukan oleh sang putri. Zahra sendiri pun yang sudah tahu ikut tersenyum mendengar pertanyaan kakak ipar nya itu. Ternyata kakak ipar nya itu menyimpan sisi cerewet nya seperti ini. Jarang di tunjukkan tapi begitu di tunjukkan maka orang yang menjawab nya akan gelagapan.


"Kak Dita dan ibu Diyah pergi keluar untuk belanja karena besok mereka akan pergi ke kota B. Mereka di ajak oleh kak Gilang dan orang tua nya berlibur bersama." Jelas Zahra.


Husna yang mendengar jawaban itu pun mengangguk mengerti, "Kenapa aku tidak tahu hal ini?" Tanya Husna.


"Itu karena kakak ipar sedang ada di rumah sakit." Jawab Zahra.


"Iya aku tahu. Aku sedang ada di rumah sakit tapi kenapa Dita tidak pernah membahas hal ini sebelum nya denganku. Apa aku sudah tak dia anggap teman lagi?" Tanya Husna.


Ke empat orang dewasa di ruangan itu pun saling menatap satu sama lain lalu menggelengkan kepala mereka mendengar ucapan Husna.


"Sayang, mungkin saja rencana itu dadakan. Bukan karena Dita tidak lagi menganggapmu teman nya." Ucap Azzam lembut.


"Apa iya begitu? Kenapa aku merasakan Dita menjauhiku setelah dekat dengan Gilang?" Tanya Husna lagi.

__ADS_1


Kali ini Azzam menarik nafas panjang, "Ya Tuhan apa ini pengaruh hormon kehamilan nya? Kenapa istriku itu berubah jadi seperti itu? Tidak masalah aku tetap mencintai nya." Batin Azzam.


"Itu hanya perasaanmu saja sayang. Bukan kah selama ini dia selalu bicara padamu apapun masalah nya." Balas Azzam masih dengan lembut karena memang tidak pernah dia bicara keras kepada istri nya itu.


"Baiklah aku percaya karena mas yang mengatakan nya. Tapi aku tetap harus bicara dengan Dita saat dia kembali nanti. Aku juga mau menanyakan kenapa dia mendonorkan darah nya padaku tanpa mengatakan apapun. Ini adalah ulahmu juga suamiku. Aku akan menghukummu karena berani menyembunyikan hal ini dariku. Umi ... Abi ... Biar aku yang akan mewakili kalian menghukum suamiku ini karena sudah menyembunyikan keadaanku yang sebenar nya dari kalian lalu juga menyembunyikan siapa pendonor untukku." Ucap Husna panjang.


"Baiklah. Mas akan terima apapun hukuman nya." Ucap Azzam.


Husna yang mendengar ucapan suami nya itu pun tersenyum, "Baiklah aku pun tidak akan sungkan." Balas Husna yang mendapatkan kekehan dari kedua orang tua nya dan juga Zahra.


Husna memang kadang bertingkah manja layak nya seorang anak tunggal kaya raya pada umum nya yang di manjakan. Tapi terkadang juga dia akan menjadi seorang keras kepala yang tidak bisa di atur oleh siapapun dan sangat mandiri tidak butuh bantuan yang lain.


"Nak, kau mau makan apa?" Tanya umi Balqis.


"Tapi itu tidak baik untuk kandunganmu nak." Ucap umi Balqis pelan.


"Sekali saja. Please! Aku janji setelah ini tidak akan makan lagi hal itu." Bujuk Husna.


"Ah baiklah. Ini seperti nya permintaan kedua cucuku untuk pertama kali nya. Jadi aku sebagai calon seorang nenek akan menuruti mereka. Sekali ini saja Azzam biarkan dia menikmati makanan yang dia inginkan." Ucap umi Balqis menatap sang menantu karena dia tahu menantu nya itu lebih protektif dan posesif pada sang putri.


Azzam pun hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Dia tidak bisa menolak jika memang itu adalah keinginan istri nya. Apalagi saat ini istri nya itu sedang mengandung buah hati mereka.


"Terima kasih, mas. Aku janji akan makan sedikit saja. Aku juga menyayangi calon anak kita. Aku tidak akan membahayakan mereka." Ucap Husna senang.

__ADS_1


Umi Balqis segera turun sendiri untuk membuat makan siang sesuai permintaan putri nya itu. Kebahagiaan akan menjadi seorang nenek me jadi semangat baru untuk nya.


"Nak, kau istirahat lah dulu di kamarmu. Azzam antarkan dia ke kamar nak." Ucap abi Syarif.


Azzam pun mengangguk karena sebenar nya memang itu yang ingin dia lakukan.


"Abang biar aku saja yang mengantar kakak ipar ke kamar. Aku ingin bicara sesuatu dengan kakak ipar." Ujar Zahra.


Husna pun mengangkat kening nya bingung mendengar ucapan adik ipar nya itu tapi lebih memilih menurut saat Zahra memapah nya menuju lift sesuai dengan perintah abi nya yang melarang menggunakan tangga padahal dia baik-baik saja jika menggunakan tangga. Namun, dia memang sudah tidak asing lagi dengan segala bentuk sikap protektif seperti ini. Jadi tidak masalah bagi nya segala bentuk penjagaan berlebihan yang di lakukan oleh kedua orang tua nya dan juga suami tercinta nya itu.


Azzam sendiri di bawah memilih bicara dengan abi Syarif mengenai perkembangan perusahaan nya dan juga membahas perkembangan perusahaan abi Syarif serta membahas pengelolaan perusahaan ke depan nya seperti apa.


"Dek, kau mau bicara apa?" Tanya Husna begitu dia duduk di ranjang nya.


Zahra menggeleng lalu mengambil duduk di sofa yang tidak jauh dari ranjang berada hingga kini posisi mereka berhadapan.


"Itu hanya alasan saja kak. Aku memang hanya ingin mengantarmu saja." Ucap Zahra.


Husna pun diam dan lebih memilih memandangi wajah adik ipar nya itu dengan seksama.


"Kak, kenapa kau menatapku seperti itu? Sudah ayo kau istirahat. Aku akan menemaniku di sini sampai kau tertidur." Ucap Zahra segera membantu Husna berbaring.


Husna pun menurut saja berbaring tapi begitu Zahra hendak beranjak kembali ke sofa dia menahan tangan adik ipar nya itu.

__ADS_1


"Katakan!"


__ADS_2