My Secret Love

My Secret Love
Kencan Yang Tidak Istimewah


__ADS_3

Aro berjalan pergi dari sana. Ara melihat kepada Uni yang sedang menatap Aro. Mereka akhirnya makan malam bersama.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika Aro akan pergi berkencan dengan seorang gadis." Nala sampai menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.


"Memangnya Sifa itu anaknya bagaimana, Ara?" tanya Akira.


"Dia baik, kok Yah, centil, cerewet dan ya menyenangkan begitu."


"Kalau keluarganya?" timpal nenek Anjani.


"Dia dari keluarga yang cukup berada, dia memiliki dua adik perempuan yang masih duduk di bangku SMU. Kedua orang tuanya sama-sama bekerja sebagai karyawan bank swasta," jelas Sifa.


"Lagian kenapa kita tanya detail soal Sifa? Toh! belum tentu Sifa akan menikah dengan Aro, mereka saja baru berkenalan."


"Kitakan juga harus tau tentang gadis yang di dekati Aro, Nala. Apalagi Aro baru pertama kali ini dekat dengan Sifa."


Unu hanya terdiam mendengar pembicaraan mereka, dia sadar, dia tidak akan bisa di bandingkan dengan Sifa. Siapa dia dan siapa Sifa, apalagi tadi Ara menjelaskan tentang Sifa.


"Uni, kamu kenapa diam saja? Apa kamu sedang sakit?" Pertanyaan Nala membuat Uni sadar dari lamunannya.


"Saya tidak apa-apa, Ibu Nala. Saya hanya memikirkan tentang ujian yang sebentar lagi akan dilaksanakan." Uni mencoba tersenyum meskipun tampak di paksakan.


"Kenapa kamu dari kemarin memikirkan ujian terus? Ibu Nala yakin kamu pasti bisa."


"Iya, saya akan belajar dengan sungguh-sungguh."


"Oh, Ya, Uni, kamu kan pernah bercerita tentang teman kamu yang juga menyukai Aro. Dia satu kampus juga sama Aro, Kan?"


"Iya, namanya Via dan besok dia yang akan mengajakku ke acara Bazar di kampus Aro itu."


"Via menurut kamu anaknya bagaimana?"


"Dia baik, dan cantik, juga pintar, kedua orang tuanya memiliki sebuah usaha yang sukses."


"Ibu kenapa bertanya soal Via? Apa Ibu mau menjodohkan Aro dengan Via?"


"Bukan menjodohkan, hanya saja Ibu ingin tau saja, tapi semua itu terserah Aro saja. Dia pasti bisa memilih mana yang baik dan nyaman untuknya."


Di taman Gold, di mana Sifa sudah menunggu kedatangan Aro. Tidak lama Aro datang dan dia menghampiri Sifa.

__ADS_1


"Aro, kamu datang juga akhirnya, aku kira kamu tidak jadi datang."


"Aku pasti datang, aku juga sedang jenuh di rumah."


"Ya sudah kalau begitu kita jalan-jalan saja sekarang, di sana ada danau yang sangat indah dan banyak lampion dengan cahaya yang pastinya sangat cantik. Apa kamu mau ke sana?"


Aro hanya mengangguk dan berjalan duluan di belakang Sifa. Wajah Sifa tiba-tiba ditekuk melihat sikap dingin Aro. Dia berlari kecil mengejar langkah Aro yang lebar.


"Aro, tunggu! Kamu kenapa berjalan lebih dulu? Harusnya kita berjalan berdua dan kalau perlu bergandengan tangan," celetuk Sifa yang memang dia sukanya blak-blakan.


Aro menatap Sifa. "Bergandengan tangan? Memangnya kita sepasang kekasih harus bergandengan tangan?"


"Em ... bukan sih! Tapi kita kan sedang berkencan?"


"Kita tidak sedang berkencan, Sifa. Aku hanya menerima permintaan kamu untuk jalan-jalan di luar sebagai itikad baikku menerima undangan kamu."


"Benar kata Ara, kamu memang pria yang sulit ditaklukkan, tapi aku senang kamu sudah mau menerima ajakan aku, Aro. Ceritakan, apa kamu pernah berkencan sebelumnya? Kamu bisa bercerita sesuatu denganku?


"Cerita? Cerita apa?"


"Terserah kamu. Eh! Kita duduk di sana saja sambil melihat danau, dan kita bisa saling bercerita."


"Kita mau apa sekarang?"


"Terserah, kamu mau kita saling diam sambil menatap danau, atau kamu mau kita saling bercerita, atau boleh juga aku bersandar di pundak kamu sambil kita berswan foto."


"Jangan mengharapkan hal yang terakhir." Aro tersenyum devil.


"Habisnya! Kamu beneran tidak pernah pacaran, Ya? Kalau menurutku sih memang begitu. Kamu kaku sekali, Aro."


"Aku memang tidak pernah berpacaran sebelumnya. Namun, apa itu hal yang salah?"


"Tidak salah, Sih! Tapi apa kamu pernah jatuh cinta pada seseorang?"


"Jatuh cinta?"


"Iya, jatuh cinta. Apa kamu juga tidak tau jatuh cinta pada seseorang?" Sifa melihat Aro dengan tatapan serius.


"Aku pernah berciuman dengan seorang gadis yang aku rasa aku jatuh cinta sama dia."

__ADS_1


"Se-ri-us? Kamu berciuman dengan seorang gadis? Kok bisa?"


"Waktu itu tidak sengaja dia menciumku, dan sejak saat itu entah kenapa aku menyukai rasa bibirnya dan aku sangat menyukainya, bahkan aku cemburu melihat dia dengan pria lain. Apa itu jatuh cinta?"


Sifa yang melongo mendengar cerita Aro langsung manggut-mangut. "Kamu bisa ternyata jatuh cinta bahkan melakukan ciuman dengan gadis itu. Enak sekali menjadi gadis itu."


"Tapi sayangnya dia sepertinya tidak merasakan hal yang sama yang aku rasakan padanya."


"What?!" Sifa tampak kaget setengah pingsan. "Dia menolak kamu? Menolak kamu, Aro?" ulangnya tidak percaya.


"Aku yakin dia tidak menolak aku, hanya saja aku merasa dia sengaja menghindariku. Padahal waktu itu dia pernah membalas ciuman aku dengan mesra."


"Keterlaluan! Kalau jadi dia aku akan langsung menyatakan bahwa aku juga mencintai kamu."


"Dia gadis yang berbeda, Sifa."


"Beda bagaimana? Sama uniknya seperti kamu begitu? Dia dicintai pria seperti kamu yang langka, eh malah di tolak."


"Kamu tidak mengerti."


"Baiklah! Kita tidak perlu membahas gadis kamu itu. Aku kok malah membayangkan bagaimana rasanya berciuman sama kamu?" celetuk Sifa ngasal sengasal-asalnya.


"Kamu tidak akan membayangkan bagaimana romantisnya diriku." Aro melirik pada Sifa.


"Hem ... ini orang malah membuat aku nanti malam tidak bisa tidur."


Aro kembali menatap danau yang sangat indah dengan ada lampion berbentuk ikan lumba-lumba dan kura-kura tepat di tengah danau. Dia membayangkan wajah Uni.


"Kamu sendiri apa belum pernah berciuman?"


"Pernah sih, berganti pacar juga pernah, barusan aku putus sama kekasihku karena di ketahuan berselingkuh dengan gadis lain. Sebenarnya aku tidak terlalu memperdulikan, aku kan tidak terlalu cinta sama dia, hanya saja biar terlihat drama begitu." Sifa malah terkekeh.


"Dasar kamu! Ternyata kamu orangnya menyenangkan, Ya? Apa kamu bisa di percaya untuk tidak mengatakan hal ini pada orang lain?"


Sifa menepuk pundak Aro. "Kamu tenang saja, aku bisa dipercaya, dan benar kata kamu, aku memang gadis yang menyenangkan. Apa sekarang kamu mau berubah pikiran untuk melupakan gadis kamu itu dan berpaling padaku, Aro?"


"Maaf, Sifa. Aku tidak bisa. Sekali aku mencintai seseorang, aku akan mencintainya sangat lama, bahkan sulit melupakan."


"Tapi, kalau dia tidak mencintai kamu, apa kamu akan tetap mengejarnya? Kamu jangan bodoh, Aro! Kamu tampan dan banyak pastinya gadis-gadis di luar sana menyukai kamu." Aro hanya terdiam di tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2