
Azzam diam mendengar ucapan lirih istri nya itu. Dia lebih memilih merangkul sang istri.
Halwa melepas rangkulan suami nya itu dan menatap Azzam lekat, “Mas tidak mau tanya apa yang ku maksud?” tanya Husna.
Azzam pun menatap istri nya itu lekat lalu kemudian menggeleng, “Untuk apa mas bertanya. Mas yakin jika kau ingin melakukan pengakuan maka pasti akan kau ceritakan semua nya. Tanpa harus mas paksa. Mas menunggu saja pengakuanmu itu.” balas Azzam.
Husna pun tersenyum lalu kembali meletakkan kepala nya di bahu sang suami, “Mas, bukan kah dulu saat hari pertama kita jadi pasangan suami istri saat di rooftop kediamanku saat itu. Aku pernah bertanya alasan mas memanggilku Azarine dan alasan mas saat itu adalah mas ingin jadi satu-satu nya orang yang memanggilku dengan nama depanku. Mas ingin memanggilku dengan nama yang tidak biasa di panggil oleh orang-orang di sekitarku.” Ucap Husna.
“Tapi mas juga ingat bukan apa jawabanku saat itu?” lanjut Husna bertanya.
“Kamu mengatakan bahwa sudah ada yang pernah memanggil mas saat itu. Mas bukan orang pertama.” Jawab Azzam yang memang tidak pernah lupa akan apa yang sudah dia lalui bersama istri nya itu. Dia mengingat semua nya setiap menit dan detik nya. Dia tidak ingin kehilangan kenangan lagi.
Husna pun mengangguk mendengar jawab suami nya itu, “Hum, benar. Apa mas tidak penasaran siapa orang itu? Kenapa mas tidak bertanya?” tanya Husna menatap suami nya.
“I-itu karena--”
“Stop. Jika mas hanya ingin mengatakan bahwa mas menunggu aku sendiri yang bercerita maka lebih baik tidak usah di katakan. Aku sudah hafal akan jawaban itu.” potong Husna saat menduga suami nya itu akan menjawab hal yang sama lagi.
Azzam pun terkekeh melihat apa yang di lakukan oleh istri nya itu, “Mas tahu. Dia adalah seseorang yang sangat berarti untukku. Aku menyayangi nya. Kami hidup bersama sejak kecil dan tidak pernah terpisahkan. Tapi suatu kejadian beberapa tahun lalu kami pun terpisah dan tidak akan bisa bertemu lagi satu sama lain. Dia pergi meninggalkanku sendiri dengan kejam nya dunia ini. Aku terkadang merindukan nya. Sangat rindu.” Ucap Husna.
“Aku hanya punya foto nya saja saat kami remaja karena memang kami tinggal di tempat yang berbeda. Padahal dia pergi tiga tahun lalu. Kami hanya saling menghubungi lewat ponsel saja. Itu pun bukan panggilan video jadi aku tidak pernah tahu seperti apa wajah nya saat itu hingga dia pergi. Aku tidak melihat nya sama sekali dan hanya bisa menyimpan foto nya.” Ucap Husna masih bercerita.
Azzam pun hanya mendengarkan saja dengan serius tidak menyela sama sekali.
“Mas tahu alasan aku menolak 10 pria yang sudah datang melamarmu sejak usiaku 19 tahun. Selain aku memang masih muda dan keinginanku untuk meraih cita-citaku dulu. Aku juga berharap dia masih hidup di dunia ini bersamaku. Aku ingin menunggu diri nya sampai kami bertemu karena hati kecilku berkata bahwa dia masih ada bersamaku di dunia ini setiap menatap foto itu. Hingga saat kita pertama kali bertemu di toko buku, melihat warna bola mata mas yang berwarna abu-abu membuatku teringat dia karena dia juga memiliki warna bola mata berwarna abu-abu seperti milikmu mas. Bahkan aku berharap bahwa kau adalah diri nya. Tapi mana mungkin itu terjadi. Dia sudah pergi dan bersama yang maha kuasa saat ini. Mana mungkin mas dan dia adalah orang yang sama. Maafkan aku mas karena ini.”
“Jika kau ingin menghukumku maka lakukan saja. Aku tidak akan menolak nya sama sekali. Aku menerima hukumanmu itu mas.” Ucap Husna mengakhiri pengakuan nya itu. Jujur saja setelah mengakui semua itu dia merasa lebih lega. Dia akan menerima semua konsekuensi nya nanti.
Azzam yang mendengar penuturan istri nya itu pun tersenyum lalu membawa Husna ke dalam pelukan nya dan menciumi puncak kepala sang istri lembut.
“Mas gak marah?” tanya Husna menatap suami nya itu.
Azzam tersenyum lalu menggeleng, “Untuk apa mas marah coba? Bukan kah dia hanya lah masa lalu? Yang terpenting sekarang adalah dirimu yang sudah mencintai mas.” Jawab Azzam.
“Ck, aku tetap merasa bersalah mas.” Ucap Husna.
“Kenapa merasa bersalah?” tanya Azzam menatap lekat istri nya itu.
“Siapa tahu aja mas merasa bahwa aku menerimamu dan mencintaimu hanya karena kau yang memiliki bola mata yang sama dengan nya.” Ucap Husna.
Azzam yang mendengar ucapan istri nya itu pun terkekeh, “Apa foto pria itu yang ada di laci kamarmu?” tanya Azzam.
__ADS_1
Husna yang mendengar pertanyaan suami nya pun kaget dan menatap suami nya itu lalu dia perlahan mengangguk, “Apa mas pernah melihat bingkai foto itu?” tanya Husna.
Azzam pun mengangguk, “Sejak kapan mas melihat nya?” tanya Husna lagi.
“Satu hari pernikahan kita kayak nya. Saat mas meminjam gunting kalau gak salah saat itu dan kau mengatakan ada di laci di sisi ranjang. Mas pun mencari nya di sana dan menemukan foto itu.” jawab Azzam.
“Ahh jadi mas sudah tahu sejak awal tentang foto itu? Kenapa mas tidak bertanya siapa itu?” tanya Husna.
“Untuk apa mas bertanya? Itu adalah hakmu bukan untuk menyembunyikan nya.” Ujar Azzam.
“Tapi tetap saja. Aku sudah menyembunyikan nya karena tidak ingin menyakitimu mas. Tapi ternyata kau sudah tahu dari awal. Ahh bodoh aku. Aku sudah menyakitimu sejak awal.” Ucap Husna sambil memukul kening nya tapi di cegah oleh Azzam.
“Jangan menyakiti dirimu sayang. Mas tidak rela. Biar saja mas yang sakit yang terpenting kamu tidak. Jangan terlalu di pikirkan hal itu. Mas tidak marah sama sekali karena memang itu tidak masalah untuk mas.” Ucap Azzam.
“Kenapa tidak masalah? Apa karena itu hanya masa laluku saja? Mas tidak memiliki perasaan cinta padaku ya?” tanya Husna.
“Pertanyaan macam apa itu sayang. Kau tahu mas sangat mencintaimu. Jangan ragukan hal itu.” jawab Azzam cepat.
“Lalu kenapa mas seperti nya menanggapi ucapanmu itu biasa saja. Tidak cemburu sama sekali.” Ucap Husna melihat ke arah lain. Dia kesal dengan suami nya itu.
Azzam pun terkekeh melihat istri nya yang merajuk, “Sayang, ayo lihat mas. Mas mau mengatakan sesuatu.” bujuk Azzam.
“Ouh ayo lah sayang.” ucap Azzam lalu segera menangkup wajah istri nya itu dengan kedua tangan nya dan membawa nya menatap nya. Husna pun mengerucutkan bibir nya tanda dia cemberut dan kesal.
“Dengar ucapan mas. Mas tidak akan mengulangi nya. Satu kali saja mas mengatakan nya.” Ucap Azzam.
Husna biasa saja dan tetap dengan merajuk nya. Azzam tersenyum tipis, “Kau tahu kenapa mas tidak cemburu?” tanya Azzam tapi Husna hanya mengerlingkan bola mata nya saja.
“Untuk apa mas cemburu jika foto itu adalah mas sendiri sayang.” ucap Azzam.
Husna yang memang tidak fokus dengan ucapan suami nya itu pun membutuhkan waktu lama untuk menerjemahkan ucapan suami nya. Seketika dia mengangkat wajah nya dari tangan suami nya dan menatap suami nya itu dengan tatapan terkejut bercambur penasaran dengan maksud ucapan suami nya.
“Apa maksud nya mas? A-aku--” ucap Husna masih tidak percaya dengan yang dia dengar itu.
Azzam pun tersenyum lalu membawa istri nya itu ke pelukan nya, “Itu benar sayang. Mas adalah laki-laki remaja dalam foto itu.” ucap Azzam lalu melepas pelukan nya.
Husna hendak bertanya tapi Azzam menggeleng dan meletakkan telunjuk nya itu di bibir sang istri tanda dia meminta istri nya itu untuk diam, “Biarkan mas yang bicara dan melakukan pengakuan. Kamu cukup dengarkan saja.” ucap Azzam.
“Tadi kamu yang melakukan pengakuan maka sekarang biarkan mas yang melakukan pengakuan itu.” lanjut Azzam.
Husna pun menurut dan mengangguk saja, “Mas adalah laki-laki yang ada dalam foto itu sayang. Tapi mungkin sekarang kau bertanya-tanya jika memang mas laki-laki yang ada dalam foto itu lalu kenapa saat kita bertemu pertama kali di toko buku itu mas tidak mengenalmu. Iya kan?” tanya Azzam.
__ADS_1
Husna pun mengangguk karena memang itu yang jadi pertanyaan besar dalam otak nya.
“Mas melupakanmu. Mas lupa kenangan kita hingga saat sebelum mas datang melamarmu mas di beri buku catatan oleh Zahra. Buku peninggalan mami dan papi yang dia titipkan kepada Zahra. Zahra baru memberikan nya karena dia juga baru menemukan nya saat dia mengatur buku-buku dari rumah lama kami.” jelas Azzam.
Flash back on
Azzam saat ini sedang ada di ruangan kerja nya sedang membaca dokumen tentang identitas diri Husna yang baru saja dia temukan setelah menyewa seseorang.
“Hm, dia sangat hebat menyimpan identitas nya. Aku harus mengakui bahwa dia hebat. Dia adalah gadis yang unik yang menyembunyikan identitas nya yang kaya di balik sikap dan penampilan nya yang sederhana. Aku semakin menyukai nya.” Gumam Azzam setelah membaca semua identitas Husna itu.
Lalu tiba-tiba Zahra masuk ke ruang kerja nya dengan tergesa-gesa bahkan tanpa mengetuk pintu atau mengucap salam terlebih dahulu.
“Abang!” panggil nya mendekati Azzam dengan salah satu buku usang di tangan nya yang penuh debu.
“Ada apa dek? Kenapa kau terlihat kaget begitu?” tanya Azzam khawatir.
“Lihat kak. Buku peninggalan mami dan papi untukmu. Aku baru menemukan nya.” Ucap Zahra langsung memberikan nya kepada Azzam.
Azzam pun menerima nya, “Kau tidak ingin ikut membaca nya bersama abang, dek?” tanya Azzam kepada adik nya itu.
Zahra menggeleng, “Aku tidak ingin mengetahui nya. Aku ingat saat mami memberikan buku ini padaku. Dia mengatakan hanya abang saja yang boleh membaca buku itu. Jadi abang baca sendiri saja. Aku yakin jika memang buku itu untukku maka pasti aku di perbolehkan membaca nya. Tapi mami melarangku maka itu berarti buku itu memang di siapkan untuk abang saja. Jadi baca saja sendiri bang. Aku mau melanjutkan mengatur buku. Siapa tahu aja aku menemukan buku atau surat yang memang di tinggalkan oleh mami dan papi untukku.” Jawab Zahra.
Setelah mengatakan itu Zahra pun keluar, “Selamat membaca abang. Semoga semua pertanyaan yang ada dalam otakmu itu terjawab setelah membaca buku itu. Daa … aku mau melanjutkan pekerjaanku dulu.” Lanjut Zahra lalu dia segera menutup pintu ruang kerja abang nya itu dan pergi dari sana.
Azzam pun membersihkan buku usang itu dan membuka nya perlahan. Buku tebal tapi hanya sedikit saja yang tertulis di sana. Azzam mulai membaca tulisan mami nya itu dengan serius.
Untuk Azzam putra mami yang hebat
Azzam, jika kau membaca buku ini mungkin saja mami dan papi sudah tiada. Entah lah kenapa mami bisa mengatakan kalimat perpisahan seperti itu. Tapi entah kenapa mami dan papi memiliki firasat bahwa kami tidak bisa membersamai kehidupan kalian lagi nak. Mami dan papi titip Zahra padamu. Dia adalah putri manja kami yang mungkin akan sedih dan terpuruk dalam kesedihan. Namun mami yakin kau mampu membuat nya tidak sedih lagi. Dia sangat menyayangimu. Jadi kesedihan nya pasti akan hilang karena dirimu. Mami percaya itu. Kau bisa menjaga adikmu dengan baik.
Mami dan papi punya tugas di luar kota yang tidak bisa di tinggalkan padahal kita sudah berencana untuk jalan-jalan akhir week end ini. Tapi papimu justru mendapat proyek di luar kota yang tidak bisa di tinggalkan. Mami sudah memiliki firasat bahwa ada sesuatu yang mungkin terjadi. Jadi jika ada sesuatu yang terjadi pada mami dan papi nanti saat pergi. Mami mohon jaga lah adikmu dengan baik dan perusahaan juga jaga lah dengan baik.
Kau tahu bukan pamanmu sangat ingin mengambil alih perusahaan papimu itu tapi hal itu tidak mungkin kami berikan pada nya. Itu adalah hak kalian nak sebagai anak kami. Beberapa hari lalu papi dan mami sudah pergi ke kantor pengacara dan mewariskan semua nya untukmu. Kami yakin kau mampu. Walaupun kami tahu kau lebih suka menjadi dosen. Tapi kau adalah putra kami. Jadi hanya kau yang bisa kami percayai untuk perusahaan itu nak. Tolong maafkan mami dan papi yang membebanimu dengan urusan ini. Perusahaan itu adalah hasil kerja papi dan mami nak, jadi kami mohon terima lah itu untukmu dan adikmu.
Azzam, maafkan mami dan papi yang entah kenapa sangat keras kepala dan egois tetap ingin keluar kota walaupun sudah mendapat firasat buruk seperti itu. Mami dan papi hanya bisa janjikan bahwa kehidupan kalian akan aman nanti. Paman kalian akan pergi bersama kami. Itu adalah janji yang bisa kami buat untukmu dan adikmu. Sekali lagi maafkan mami dan papi.
Azzam, ohiya satu lagi. Jika memang terjadi sesuatu kepada kami maka pergi lah dari tempat ini. Pindah lah ke kota lain tapi tetap jaga perusahaan untukmu dan adikmu. Kami percaya padamu. Sampai sini dulu ya.
Ohiya satu lagi Azzam, untuk surat dan keinginan lain mami dan papi untukmu kami simpan di salah satu brankas yang kita punya di kediaman kita di balik lukisan di kamar utama. Di sana ada surat untukmu dan Zahra. Kunci pass word nya tanggal pernikahan mami dan papi.
Sekali lagi maafkan mami dan papi yang egois dan tega meninggalkan kalian berdua!
__ADS_1