My Secret Love

My Secret Love
Keterkejutan Semua Orang?


__ADS_3

Rendy duduk terdiam di stand bazaar Uni dia sebenarnya ingin mengajak Uni berjalan-jalan di sana dan melihat-lihat suasana di sana, kalau bisa dengan bergandengan tangan.


"Eh, nama kamu tadi siapa?" tanya Ara pada Rendy.


"Namaku Rendy. Ada apa?"


"Kamu benar mantan pacarnya Uni?"


"Tentu saja, aku pacaran sama Uni, kan, kita satu kampus hanya beda kelas."


"Kalian lama pacarannya?"


"Cuma tiga bulan, sebenarnya bisa lama, tapi waktu itu Uni masih tinggal dengan tantenya yang jahat dan aku agak takut sama tantenya."


"Hah? Kamu takut sama tantenya dan akhirnya kamu memutuskan Uni?"


"Ya begitulah," ucapnya lirih.


Salah satu alis Ara naik. "Kamu sebenarnya serius mencintai Uni apa tidak sih? Kenapa hal begitu saja membuat kamu takut? Pria tidak gentle sama sekali." Ara melirik malas pada Rendy.


"Kamu tidak tau sih! Tante Uni itu orangnya menyeramkan, hantu saja kalah seram dari dia."


"Itu tetap namanya kamu bukan pria gentle. Kayak saudaraku dunk! Dia menyukai Uni dan selalu berusaha melindungi Uni, bahkan dia tidak takut pada tantenya Uni."


"Aku tau, saudara kamu itu bukan pacarnya Uni karena Uni hanya berpura-pura mengakui dia pacarnya karena tidak mau aku ganggu. Aku sudah tau semua, lagian kata Via, Aro juga tidak akan menyukai Uni yang hanya pembantunya."


Ara agak kesal mendengar apa yang di katakan oleh Rendy. "Memangnya kamu yakin kalau Aro tidak akan menyukai Uni? Aro itu tidak pernah melihat status seseorang."


"Tapi Uni kan memang hanya pembantu di rumah kalian, apa saudara kamu tidak mau berpacaran dengan seorang pembantu?"


"Ini orang kenapa mulutnya mengesalkan," gerutu Ara.


"Ara, biarkan saja." Mas David memegang lengan tangan Ara.


"Aku bisa minta tolong sama kalian tidak? Aku mau ke toilet sebentar." Rendy tau-tau menyelonong pergi, dia sebenarnya berbohong tidak pergi ke toilet melainkan dia pergi mencari Uni."


Tinggal Ara dan Mas David yang berada di sana. "Dia mengesalkan sekali menghina orang seenaknya. Memangnya salah jika Aro menyukai Uni?"


"Memangnya Aro benar menyukai Uni?"


Ara lupa jika hal ini adalah sebuah rahasia dan sekarang mas David mengetahuinya. "Em ... memangnya salah ya kalau Aro mencintai Uni?"


"Tidak salah sih, siapapun orang berhak mencintai dan dicintai terlepas dari siapa status mereka karena cinta itu tidak memandang apapun."


"Mas David tolong jangan memberitahu hal ini ya. Mereka memang ada hubungan, tapi Uni sudah memilih menghindari dari Aro. Ya lagi-lagi karena status sosial mereka. Uni tidak mau dikira jadi gadis melunjak dan matre karena menyukai anak majikannya."

__ADS_1


"Kasihan sekali."


"Pokoknya kisah mereka rumit."


"Lalu, apa kamu tidak punya kisah cinta seperti saudara kamu?"


Ara langsung melihat pada Mas David. "A-aku, tidak punya cerita apa-apa. Aku saja tidak pernah pacaran."


"Masak sih? Kamu itu gadis yang cantik dan baik. Apa tidak ada seorang pria yang menyukai kamu dan dekat dengan kamu?"


"Dulu ada, hanya saja aku yang selalu menghindar dan menutup diri dari mereka, aku masih takut dekat dengan mereka."


"Lalu, apa kamu tidak pernah menyukai seseorang?"


Ara tampak teringan akan Dean. "Aku tidak pernah mencintai siapapun," ucapnya lirih.


"Aku pernah mencintai seorang gadis, hanya saja kita tidak dapat bersama."


"Kenapa?"


"Karena dia harus pergi jauh menempuh pendidikannya ke luar negeri."


Alis Ara mengkerut. "Bukannya hal itu tidak jadi masalah? Mas David, kan, bisa dengan mudah kalau pergi ke luar negeri, apalagi dulu Mas David tinggal dan kuliah di luar negeri."


Mas David hanya tersenyum miring. "Kita tidak hanya berpisah karena hal itu, tapi dia ternyata mengkhianati aku dengan pria lain."


"Iya, itu benar, aku tidak menyalahkan dia, mungkin dia tidak nyaman jika berpacaran denganku jarak jauh. jadi dia mencari pria yang mungkin lebih baik dariku segalanya."


"Mas David tidak sakit hati? Trauma atau apa begitu?"


"Tidak, untuk apa trauma? Mungkin dia bukan jodohku. Mungkin jodohku ada dengan gadis lainnya." Mas David melihat pada Ara.


"Iya juga sih. Life must go on." Ara sebenarnya masih merasakan sakit hati saja sama Dean, tapi saat berbicara dengan Mas David, dia merasa lebih baik.


"Aku menunggu saja jodohku datang, atau dijodohkan nantinya."


"Dijodohkan? Mas David masih mengharapkan perjodohan kita?"


"Setiap orang kan harus selalu mempunyai harapan Ara. Apalagi jika harapan itu adalah harapan yang baik."


Ara memikirkan kata-kata Mas David. Mas David terlihat sangat serius sepertinya jika perjodohan itu memang terjadi.


Uni ternyata berada di sebuah taman yang agak sepi. Dia duduk sendirian sambil melihat suasana panggung dari taman, banyak sekali lampu-lampu yang menghiasi taman itu.


"Uni, kamu kenapa ada di sini?"

__ADS_1


Uni agak kaget mendengar ada Rendy di sana. "Rendy, kamu di sini? Lalu yang menjaga stand siapa?"


"Ada anak majikan kamu sama kekasihnya. Aku malas di sana, mereka berdua dan ketiganya aku menjadi setannya."


"Kalau begitu aku akan ke sana saja." Uni beranjak dari tempatnya dan dengan cepat Rendy memegang tangan Uni.


"Uni, aku mau bicara sama kamu sebentar."


"Mau bicara apa? Kalau soal kamu ingin bersama denganku, aku sudah katakan kalau aku tidak mau berpacaran dulu, aku masih mau fokus sama kuliahku."


"Aku tau akan hal itu."


"Lalu, kamu mau bicara apa?"


"Uni, apa kamu beneran menyukai Aro?"


Deg!


Ini kenapa Rendy mempertanyakan hal itu?


"Kamu kenapa tanya hal itu?"


Mereka berdua akhirnya mengobrol sangat lama dan sampai akhirnya semua kembali ke stand Uni.


"Loh, Uni di mana? Kenapa malah membiarkan kamu di sini menunggu stand?" tanya Via.


"Dia masih bersama dengan Rian, kan tadi Rian dengan Uni. Aku tidak keberatan jika menunggu di sini. Lagian aku juga bisa mengobrol banyak dengan Mas David."


"Terima kasih ya, Via. Kamu sudah sangat baik mengajak kami berkeliling."


"Sama-sama, Tante. Oh ya, Tante! Apa boleh aku kapan-kapan main ke rumah Tante? Aku juga bisa bertemu dengan Uni."


"Tentu saja boleh, Via."


"Iya, kapan-kapan kamu ikut kita makan bersama di rumah saat hari libur."


"Terima kasih, Nek."


Tidak lama Aro datang dengan Rian. "Loh! Uni mana Rian? Kenapa kamu sama Aro?" tanya Nala.


"Dia tadi izin pergi sebentar dan aku sedang di ruang panitia karena ada perlu. Apa Uni belum kembali?"


"Belum. Apa dia bertemu dengan Rendy dan mereka mengobrol?"


"Rendy," ucap Aro lirih.

__ADS_1


Tidak lama Uni dan Rendy datang, bahkan mereka datang dengan bergandengan tangan. Tentu saja semua orang di sana tampak terkejut melihat hal itu.


Jiah!


__ADS_2