
Aro masih berdiri di depan pintu kamarnya, salah satu tangannya menjulur menempel lurus pada daun pintu. Aro menundukkan kepalanya seolah dia sedang memikirkan banyak hal.
"Uni!" Aro langsung membuka kembali pintunya, tapi dia sudah tidak menemukan sosok Uni di hadapannya."
Aro mengedarkan pandangannya ingin mencari sosok gadis yang sebenarnya sangat dia cintai dan benci juga.
"Aku sebaiknya menghindarinya saja, aku masih sangat membencinya, jika aku terus mendekat padanya, bisa-bisa aku berbuat sesuatu hal di luar kendalinya melihat sikapnya." Aro berdialog sendiri. Dia kembali ke dalam kamar dan memilih tidur saja.
Sedangkan Uni malah menangis di ruangan belakang. Di benar-benar bingung dengan semua ini. "Ibu, Ayah, apa yang harus Uni lakukan? Kenapa waktu dulu ibu dan ayah meninggalkan Uni sendiri? Kenapa Uni tidak kalian ajak sekalia?" Uni berdialog sendiri.
"Tinggal dengan Tante malah membuat aku menyusahkan mereka. Di sini mereka, Ibu Nala dan ayah Akira sangat baik, tapi aku malah mencintai anak mereka yang seharusnya aku tidak melakukan hal itu. Apalagi sahabat baikku juga sangat mencintainya, kalau dia tau, dia pasti kecewa dan tidak akan memaafkan aku."
"Uni, kamu belum tidur?" Tiba-tiba ada suara Nala dari balik tembok ruang belakang.
Uni yang kaget dengan cepat membersihkan air matanya dan berdiri sejajar dengan Nala. "I-Ibu Nala, kenapa Ibu masih belum tidur?"
"Tadi Ibu sudah tidur, hanya saja ibu ingat kalau Aro belum pulang, jadi tadi ibu mengecek kamar Aro dan ternyata dia sudah pulang tertidur di kamarnya."
"Iya, tadi aku juga bertemu dengan Tuan Muda Aro di dapur sedang mengobati luka di tangannya."
"Iya, tadi aku melihat ada dua luka di tangannya dan dia tidur dengan tidak menggunakan atasan. Apa kamu tau kenapa bisa ada luka di tangan Aro? Aku tadi mau membangunkan dia, tapi aku lihat dia sangat nyenyak tertidur."
"Sebelumnya saya minta maaf, Ibu Nala karena luka di tangan Tuan Muda Aro di lengannya karena aku tidak sengaja mengenainya dengan gunting yang aku bawa."
"Kok bisa?"
Uni menceritakan kejadian tidak disengaja yang dia lakukan pada Aro waktu itu, dan luka di punggung tangannya sebelah kanan dia tidak tau.
"Saya sangat menyesal dengan hal itu, Ibu Nala." Uni kembali meneteskan air matanya.
"Kamu tidak perlu menangis, Aro itu kan putraku yang kuat dan dia pasti baik-baik saja. Lagian kamu sendiri tidak sengaja sama dia." Nala mencoba menenangkan Uni.
__ADS_1
"Saya tidak menyangka akan melukai orang yang sangat saya--." Uni terdiam tidak melanjutkan kata-katanya.
"Orang apa, Uni?"
"Orang yang sudah sangat baik pada saya. Tuan Muda Aro juga sangat baik pada saya."
"Ya sudah tidak apa-apa." Tangan Nala mengusap kepala Uni. "Kamu kenapa juga malam-malam mengerjakan pekerjaan ini, besok, kan bisa?"
"Tidak apa-apa, Ibu Nala. Aku sedang tidak bisa tidur, jadi lebih baik aku melakukan pekerjaan ini."
"Kenapa tidak bisa tidur? Apa karena tadi sangat bahagia kamu bisa jadian sama Rendy?" Uni menggeleng pelan. "Ibu hanya berpesan sama kamu. "Jika kamu memang tidak memiliki perasaan pada seseorang, kamu jangan memaksakan diri kamu menyukainya walaupun kamu memiliki alasan yang kuat karena hal itu akan menyakiti diri kamu sendiri bahkan orang lain."
"Maksud Ibu Nala?"
Nala tidak menjawab dan malah tersenyum. "Cepat selesaikan pekerjaan kamu dan pergi tidur sana. Ibu mau tidur lagi. Ngantuk." Nala berjalan pergi dari sana.
Uni masih bingung dengan kata-kata Nala, sebenarnya mudah dicerna kata-kata yang Nala berikan, hanya saja Uni sedang tidak fokus saja.
Tidak lama pria dengan tinggi 180 cm itu menuju dapur untuk mengambil air minum, entah kenapa dia tadi tiba-tiba terbangun dari tidurnya. "Uni? Kenapa dia malah tidur di sini? Bukannya kamarnya sudah jadi?"
Aro memandangi wajah polos Uni yang masih tertidur dia bahkan tidak bisa mengendalikan tangannya untuk tidak mengusap wajah Uni.
Aro mengusap perlahan wajah Uni-- gadis yanh dia sukai itu. Tidak lama Uni mengerjapkan kedua matanya merasakan ada sentuhan pada wajahnya. Aro yang tidak mau ketahuan langsung menarik tangannya dari wajah Uni, dia tidak mau sampai ketahuan oleh Uni.
"Aro, kamu kenapa ada di sini?" Uni malah bertanya bingung.
"Kamu yang kenapa malah tidur di sini? Bukannya kamu sudah mempunyai kamar sendiri yang sudah jadi?" Aro berdiri tegas di depan Uni.
"Em ... aku tadi ketiduran di sini. Ini sudah jam berapa ya?" Uni melihat pada jam dinding dan ternyata sudah menunjukkan pukul empat pagi lebih lima belas menit. "Aku harus menyiapkan makan pagi dulu."
Uni berdiri dari tempatnya seketika,tapi karena dia kurang fokus sehingga dia hampir jatuh jika Aro tidak memeganginya.
__ADS_1
"Uni, kamu kenapa?"
"Em ... aku tidak apa-apa, aku hanya masih mengantuk saja." Wajah Aro sangat dekat dengan Uni.
"Kalau masih mengantuk kamu tidur saja dulu."
"Tidur? Kalau tidur siapa yang membuatkan sarapan pagi?" Uni bergegas menuju dapur dan mengeluarkan isi kulkas yang akan dia masak.
"Aku akan membantu kamu kalau begitu?"
"Kamu mau membantuku? Apa tidak salah? Memangnya kamu bisa memasak?"
"Bisa kalau diajari."
"Kamu tidur saja lagi, biar aku yang memasak sendirian."
"Kamu ajari aku saja, siapa tau nanti aku bisa membuat masakan untuk Sifa. Kata orang, pria yang bisa memasak itu pria yang romantis, apalagi membuatkan masakan untuk kekasihnya."
Uni langsung terdiam di tempatnya. "Kamu sangat menyukai Sifa?"
"Dia gadis yang menyenangkan dan tidak suka berpura-pura, dia terbuka apa adanya. Bahkan dia dengan jujur mengatakan dia menyukaiku."
"Oh! Lalu, apa kalian sudah jadian?"
"Belum. Kita hanya masih saling pendekatan untuk mengetahui satu sama lain, jadi biar aku dikira tidak menekannya untuk jadian sama aku."
Uni tau jika Aro menyindirnya. "Lalu, apa kamu tidak suka pada Via sahabatku? Dia juga sangat baik dan tidak berpura-pura menyukai kamu."
"Via gadis yang baik dan memang dia menyukaiku, tapi aku belum mendapat feel dengannya, apalagi dia anaknya agak pendiam. Aku tidak mau dekat dengan banyak gadis, aku tidak mau di cap playboy."
Uni tampak tertunduk. Dia memikirkan nasib Via, kasihan sekali jika Aro malah jadian dengan gadis lain.
__ADS_1
"Aro, apa kamu tidak mau mencoba dekat dengan Via? Aku yakin kamu pasti bisa cocok dengannya." Aro terdiam mendengar ucapan Uni.