My Secret Love

My Secret Love
Keusilan Aro


__ADS_3

Uni tampak terkejut mendengar ucapan Via. "Maksud kamu apa sih, Via? Aro itu tidak mungkin akan menyukaiku, kamu tau sendiri aku siapa. Dia melakukan hal itu karena memang rasa kemanusiaan Aro sangat besar, dan mungkin dia menganggap aku seperti saudaranya."


"Kamu, kan, lama bekerja di sana dan setiap hari selalu melayani Aro. Apa kamu tidak pernah menunjukkan tanda-tanda menyukai Aro?"


Uni tampak terdiam mendengar semua perkataan Via. "Aku sadar diri dengan diriku, Via. Aku menyukai Aro? Apa aku mau bermimpi di siang bolong?"


"Iya, juga sih. Maaf ya aku bicara seperti itu, tapi memang aku agak takut jika kamu sering bersama dengan Aro, bisa saja dia menyukai kamu nantinya."


"Hihihihi! Kamu lucu sekali, walaupun kita sering bersama, tapi ya lihat aku dan dia sebagai apa? Aku pembantu dan dia majikan aku."


Uni berjalan pergi dari sana dan diikuti oleh Via.


"Uni, tunggu!" teriak Via.


Mereka pulang menuju rumah. Aro mengantarkan Via pulang dulu ke rumahnya.


"Aro, terima kasih untuk undangan makan malamnya."


"Terima kasih, tapi itu yang mengundang adalah kedua orang tuaku."


"Sama saja. Aro, apa kamu tidak mau mampir ke rumah aku sebentar?"


"Maaf, bukannya tidak mau, tapi ini sudah malam, aku tidak enak jika malam-malam bertamu ke rumah seseorang, apalagi itu rumah seorang cewek."


"Tapi lain kali kamu mau ya aku undang makan malam di rumahku dengan keluargaku?"


"Tentu saja, jika ada waktu senggang."

__ADS_1


"Uni, Rendy, aku pulang dulu. Kalian tampak serasi sekali malam ini." Via tersenyum dan keluar dari dalam mobil Aro.


Aro menoleh ke arah belakang dan menaikkan salah satu alisnya ke atas.


"Kalian salah satu duduk di depan, aku tidak mau dianggap supir oleh orang yang melihat hal ini."


"Memangnya siapa yang akan melihat kita, Aro? Ini kan sudah malam."


"Kenapa banyak omong? Kamu mau pindah tidak?"


"Kalau aku pindah, aku kasihan Uni duduk sendiri. Lagian tidak apa-apakan aku merasakan duduk di belakang begini, seolah aku sedang bersama dengan kekasihku dan di sup--."


"Rendy!" potong Uni kesal.


Uni keluar dari dalam mobil dan duduk di samping Aro.


"Cukup! Kamu duduk saja. Aku capek mau istirahat."


Aro dengan cepat menjalankan mobilnya dan membelokkan mobilnya kasar, sampai Rendy yang duduk di belakang terjungkal.


Bahkan Uni yang duduk di depan juga ikut terjatuh di samping Aro. Aro dan Uni saling melihat.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Kamu tidak bisa menyetir, Ya? Aku sampai kaget."


"Aku tidak apa-apa, Aro."

__ADS_1


Aro kembali menjalankan mobilnya dan pergi dari sana. Beberapa menit kemudian, mobil Aro sampai di depan rumah dan Rendy langsung turun. Aro membukakan pintu untuk Uni.


"Uni, bisa kita bicara sebentar?" tanya Rendy.


"Hei! Apa kamu tidak melihat ini jam berapa? Uni harus segera masuk ke dalam dan istirahat."


"Aku kan hanya ingin mengajak bicara sebentar, apa tidak boleh? lagian dia itu kekasih aku."


"Masih kekasih, bukan istri kamu, jadi jangan sok-sokan seolah-olah mengikat Uni. Uni masuk ke dalam."


"Kamu kenapa sih? kamu cemburu?"


Aro berjalan mendekat dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Uni yang melihatnya tampak takut. Takut kalau Aro dan Rendy bertengkar.


"Rendy, kamu pulang saja, bukannya besok kita bisa bicara di kampus, lagian ini sudah malam dan aku juga sudah capek."


"Kamu dengar dia bicara apa pria bodoh," ucap Aro.


Rendy yang rada ngeri sebenarnya melihat wajah Aro langsung menuju motornya. "Uni, kalau begitu aku pulang dulu, ini jaket milikku."


"Kamu bawa saja, jangan menyuruh Uni mencucinya. Kamu jangan menambah beban buat Uni."


"Tapi--. Ya sudahlah! Aku tidak akan menambah beban Uni. Aku akan membawanya pulang."


Aro berdiri di sana menunggu Rendy pergi dari sana. "Tuan Muda Aro. Aku masuk dulu."


"Tunggu!" Tangan Aro menarik tangan Uni.

__ADS_1


__ADS_2